Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lautan api
Suara sirene peringatan tempur melengking di seluruh koridor The Leviathan, memecahkan keheningan mewah di ruang makan. Cahaya lampu kristal yang tadinya tenang kini berkedip-kedip seiring dengan getaran mesin kapal yang dipacu hingga batas maksimal. Nikolai Brine telah menghilang di balik pintu baja, meninggalkan Clara Marine dalam kesunyian yang mencekam.
Clara tidak bisa hanya duduk diam seperti yang diperintahkan. Ia berdiri, meski lututnya masih sedikit lemas. Ia berjalan menuju jendela bundar dan melihat ke arah laut. Di kegelapan malam, ia melihat kilatan cahaya dari arah cakrawala—api dari moncong senjata mesin. Tiga kapal cepat meluncur membelah ombak, mendekat dengan kecepatan yang mengerikan.
Duar!
Ledakan pertama menghantam lambung kapal bagian belakang. Guncangan itu begitu hebat hingga Clara terlempar ke lantai, bahunya menghantam kaki meja kayu ek yang keras. Rasa sakit menjalar di lengannya, namun adrenalin menghapus rasa takutnya untuk sementara. Ia tahu ini bukan sekadar upaya penyelamatan. Tembakan itu ditujukan untuk melumpuhkan kapal, tanpa peduli siapa yang ada di dalamnya.
Di dek utama, Nikolai berdiri di balik barikade baja, memegang teropong malam. Di sampingnya, beberapa anak buahnya sudah mulai membalas tembakan dengan senapan serbu otomatis.
"Mereka menggunakan peluncur roket!" teriak salah satu awak kapal.
Nikolai mengumpat dalam bahasa Rusia. Ia melihat melalui teropongnya dan mengenali taktik serangan itu. Ini bukan taktik polisi air atau tentara resmi. Ini adalah gaya tentara bayaran elit. Silas telah menghabiskan banyak uang untuk mengirim orang-orang ini.
"Tuan, mereka mencoba merapat di sisi kanan!" Sebastian Reef muncul, tertatih dengan kruknya, berusaha memberikan laporan radar dari tablet yang ia pegang dengan tangan gemetar.
"Sebastian, kembali ke ruang kontrol! Pastikan sistem pemadam api berfungsi!" perintah Nikolai tanpa menoleh. "Dan kau," ia menunjuk seorang pengawal muda, "pergi ke ruang makan. Bawa Clara ke ruang perlindungan di bawah dek. Sekarang!"
Namun, sebelum pengawal itu sempat bergerak, sebuah ledakan kembali menghantam bagian atas kapal. Ruang navigasi terbakar, dan serpihan logam berterbangan di udara. Nikolai merunduk, merasakan hawa panas ledakan menyapu kulit wajahnya. Ia menyadari satu hal: Silas tidak berusaha menyelamatkan Clara. Silas berusaha menenggelamkan semua saksi, termasuk adiknya sendiri.
Clara berusaha merangkak keluar dari ruang makan yang kini dipenuhi asap hitam pekat. Langit-langit ruangan itu mulai runtuh. Ia terbatuk-batuk, menutupi hidungnya dengan sobekan kain dari taplak meja. Di tengah kekacauan itu, ia melihat pintu baja ruang makan terbuka.
Bukan Nikolai yang masuk, melainkan dua pria bertopeng dengan seragam taktis hitam tanpa atribut. Mereka bukan anak buah Nikolai.
"Target ditemukan. Wanita itu ada di sini," salah satu dari mereka bicara melalui radio di pundaknya.
Clara mundur, tangannya meraba-raba mencari apa saja yang bisa digunakan untuk membela diri. Ia menemukan sebuah pisau pemotong daging yang terjatuh dari meja saji.
"Jangan mendekat!" ancam Clara dengan tangan gemetar.
Pria itu tertawa dingin di balik maskernya. "Maaf, Nona Marine. Perintah Tuan Silas sangat jelas. Jika kami tidak bisa membawamu pulang, kau tidak boleh jatuh ke tangan Brine hidup-hidup."
Pria itu mengangkat senjatanya. Clara memejamkan mata, bersiap untuk hal terburuk. Namun, suara tembakan yang terdengar bukan berasal dari senjata pria di depannya.
Dor! Dor!
Dua peluru menembus kepala dan dada pria bertopeng itu. Tubuhnya jatuh berdebum di depan Clara. Di ambang pintu, Nikolai berdiri dengan napas terengah-engah, pistolnya masih berasap. Wajahnya terkena percikan darah, dan kemeja hitamnya kotor oleh debu ledakan.
Nikolai segera berlari menghampiri Clara, menariknya bangun dengan kasar dan memeluknya erat untuk sesaat sebelum menariknya lari. "Sudah kubilang tetap di tempat, bodoh!"
"Mereka bilang Silas yang mengirim mereka untuk membunuhku!" teriak Clara di tengah kebisingan tembakan.
"Aku sudah tahu!" balas Nikolai. Ia menembak satu orang lagi yang mencoba menghalangi jalan mereka di lorong. "Kakakmu lebih mencintai rahasia keluarganya daripada nyawamu. Selamat datang di dunia nyata, Clara."
Nikolai membawa Clara menuju sebuah tangga kecil yang menuju ke bagian paling bawah kapal, tempat sekoci penyelamat darurat disembunyikan. Di sana, Sebastian sudah menunggu dengan napas pendek.
"Tuan, kapal ini tidak akan bertahan lama. Ruang mesin sudah mulai terendam air," lapor Sebastian.
Nikolai menatap kapal-kapal cepat yang terus memberondong The Leviathan. Kapal kargonya yang perkasa kini perlahan mulai miring ke kanan.
"Gunakan sekoci nomor empat. Itu yang paling cepat dan memiliki pelindung radar," perintah Nikolai. Ia mendorong Clara masuk ke dalam sekoci kecil yang lebih mirip kapal selam mini itu.
"Kau tidak ikut?" tanya Clara, ada nada cemas yang tak bisa ia sembunyikan.
Nikolai menatap ke arah dek atas, di mana anak buahnya masih bertempur mati-matian. "Aku tidak meninggalkan orang-orangku mati sendirian. Sebastian, bawa dia pergi dari sini. Koordinat 4.2. Menuju pulau rahasia di Selat Malaka. Aku akan menyusul jika aku masih hidup."
"Nikolai, tunggu!" Clara menahan lengan pria itu.
Nikolai berhenti, menatap Clara dalam diam. Ia menarik kepala Clara dan mencium keningnya dengan cepat—sebuah tindakan yang terasa sangat asing bagi pria sekeras dirinya.
"Jika aku tidak sampai ke pulau itu dalam dua puluh empat jam, gunakan kode yang kuberikan di laci sekoci. Itu akan membawamu ke Dubai, ke orang-orang yang bisa melindungimu dari Silas," bisik Nikolai.
Nikolai kemudian menekan tombol peluncuran. Sekoci itu meluncur jatuh ke permukaan laut yang bergolak. Dari jendela kecil sekoci, Clara melihat The Leviathan terbakar hebat di tengah kegelapan samudera. Dan di atas dek yang terbakar itu, ia melihat bayangan Nikolai Brine yang kembali ke tengah medan tempur, berdiri tegak menantang maut.
Saat sekoci itu menjauh di bawah permukaan air, Clara menyadari bahwa musuh yang sesungguhnya bukanlah pria yang menculiknya, melainkan darah dagingnya sendiri yang sedang menunggunya di balik bayang-bayang kekuasaan di Belanda.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...