Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Membalikkan keadaan.
Ya, itu benar. Bahkan sejak Anda menjabat dua tahun lalu, sekolah ini tidak pernah mengalami kemajuan sama sekali!" bentak seorang guru paruh baya sambil menggebrak meja keras.
Di depannya, Kepala Sekolah Nandra Alexa menggertakkan rahang, tangannya mengepal kuat menahan amarah.
"Sepertinya kasus ini semakin rumit," ujar Pak Evan, polisi itu, dengan nada datar
.
Pak Sento Mahendra tersenyum lebar. "Pak Evan, mumpung Bapak sudah di sini, saya ingin Anda menjadi saksi resmi."
"Saya tidak keberatan, Pak Mahendra," jawab Evan tenang.
Dengan suara lantang, Sento menunjuk langsung ke wajah Nandra.
"Saya tuntut Nandra Alexa atas penyalahgunaan wewenang! Dia merekrut siswa bermasalah dan melakukan korupsi yang merugikan sekolah ini!"
Brakkh!
Nandra berdiri dengan kasar hingga kursinya hampir terjungkal. "Apa maksudmu, Sento?!"
"Asal kau tahu, selama menjabat, aku tidak pernah mengambil gaji sepeser pun! Semuanya kuberikan untuk biaya siswa-siswa yang kesulitan. Korupsi? Untuk apa aku melakukannya, hah?!" bentak Nandra, suaranya penuh amarah.
Sento tertawa sinis. "Kau kira aku bicara tanpa bukti?" Ia melirik ke belakang. "Arif, berikan kepadaku!"
Seorang guru maju dan menyerahkan beberapa lembar kertas. Dengan gerakan dramatis, Sento melempar berkas itu ke wajah Nandra.
"Lihat dengan mata kepalamu sendiri!"
Tangan Nandra bergetar saat mengambil kertas tersebut. Nota-nota dana keluar atas namanya tertera jelas di sana.
"Ini… ini palsu," gumam Nandra, wajahnya memucat.
Pak Evan mengangguk setelah membaca salinan yang diberikan Sento. "Ini sudah cukup sebagai bukti awal. Bahkan bisa langsung diproses secara hukum."
Sento tersenyum semakin lebar. "Tapi saya punya jalan keluar yang lebih manusiawi, hitung-hitung sebagai penghargaan atas jasa Anda selama ini."
"Apa maksudmu?" tanya Nandra dingin.
"Cukup ganti kerugian dana itu, lalu mundur dari jabatan Kepala Sekolah. Selesai." Ucap Sento berkata santai.
"Yah, itu cukup dermawan, Pak Mahendra," timpal Evan.
Alvaro yang sejak tadi diam tak tahan lagi. Ia maju selangkah, suaranya tegas meski tubuhnya masih sakit.
"Jadi begini caranya? Memfitnah, memeras, lalu mengusir orang yang benar-benar peduli sekolah ini? Bapak tidak malu?" Ucapnya tak tahan.
Sento melirik Alvaro dengan jijik. "Diam kau, anak bermasalah. Kau sendiri sebentar lagi ikut dibawa ke kantor polisi!."
"Aku belum selesai," lanjut Sento sambil tertawa.
"Semua siswa yang masuk lewat jalur rekomendasi dan beasiswa akan dikeluarkan. Termasuk bocah ini yang pasti akan menjalani pidana!" Tambahnya lagi dengan senyum penuh kemenangan.
Nandra terdiam. Wajahnya pucat. Ia memikirkan nasib ratusan siswa yang selama ini ia perjuangkan.
"Tu-tunggu…" ucap Nandra dengan suara parau.
"Kalau aku mundur dan mengganti dana itu… jangan ganggu siswa-siswa beasiswa. Mereka tidak ada hubungannya dengan ini." Ucapnya putus asa.
Alvaro menatap kepala sekolah dengan mata memanas.
"Pak… Bapak tidak perlu berkorban seperti ini. Ini semua jebakan!"
Sento tertawa puas. "Hoh, Anda ternyata berhati besar. Baiklah, bisa saya pertimbangkan. Tapi tidak untuk anak ini. Dia sudah berani melukai putra saya."
Pak Evan melangkah mendekati Alvaro, siap memborgolnya.
Namun tiba-tiba pintu ruangan dibuka keras.
"TUNGGUUUU!!!" Terdengar suara seorang siswi sambil membuka pintu ruangan dengan cepat.
Semua kepala langsung menoleh. Nampak seorang siswi berambut kelabu yang tak lain adalah Nadine berdiri di ambang pintu sambil terengah-engah, rambutnya acak-acakan.
Di belakangnya menyusul Ervando, siswa berkacamata tipis dengan laptop di tangannya dan Tiga orang polisi lain yang berwajah tegas.
"Detektif Edo, apa yang anda lakukan bersama bawahan anda kemari?" tanya Pak Evan mengerutkan kening.
Nadine melangkah masuk dengan berani.
"Sebelumnya maaf menyela, saya Nadine sebagai ketua OSIS dan ini Ervando. Kami membawa bukti yang sebenarnya!"
Ervando meletakkan laptopnya di meja rapat dengan cepat, menghubungkannya ke proyektor ruangan.
Layar lebar langsung menyala.
"Maaf terlambat," kata Ervando sambil mendorong kacamatanya.
"Saya telah meretas dan memulihkan rekaman CCTV yang sudah diedit, saya mengumpulkan nya cukup lama selama ini untuk membuktikan tindak kekerasan dan pemerasan yang dilakukan Rudi serta antek anteknya.
Juga melacak aliran dana sekolah yang dipalsukan." Ucapnya tegas
Ruangan langsung hening, dibawah tatapan tak percaya Sento, Rudi dan beberapa oknum guru ekaman CCTV mulai diputar.
Terlihat jelas: Rudi dan empat temannya yang mengeroyok Alvaro secara sadis, serta adegan dimana Rudi menggunakan senjata tumpul untuk memukul kepala Alvaro hingga berdarah.
Tayangan lain terlihat Rudi dan teman temannya mengganggu seorang siswi, namun karena berkali kali ditolak Rudi dan teman temannya melakukan tindak pelanggaran seksual bahkan pemukulan.
bahkan ada adegan dimana seorang siswi di tangga yang nampak di jegal secara sengaja oleh salah satu anak buah Rudi hingga membuatnya tak sadarkan diri, saat adegan itu diputar nampak Ervando meremas tangannya kuat kuat serta menggerakkan giginya.
Semua orang terkejut. Wajah Rudi langsung memucat.
"Tidak… itu… itu editan!" teriak Rudi panik.
Ervando memotong ucapan Rudi dengan tegas. "Bukan hanya itu. Saya juga menemukan bukti transfer dana beasiswa dan dana sekolah yang dialihkan ke rekening atas nama palsu. Semuanya berakhir ke rekening atas nama SENTO MAHENDRA."
Ia menampilkan bukti transfer di layar. Nomor rekening dan nama Sento terpampang jelas.
Pak Sento mundur selangkah, wajahnya berubah drastis.
Salah satu polisi yang datang bersama Nadine maju. "Pak Sento Mahendra, Bapak ditangkap atas tuduhan pemalsuan dokumen, korupsi, dan konspirasi fitnah. Bapak berhak diam atau apa pun yang Bapak katakan bisa digunakan sebagai bukti di pengadilan."
Dua polisi lain langsung memborgol Sento dan Rudi. Beberapa guru yang terlibat juga ikut dibawa keluar ruangan.
Pak Evan yang tadinya akrab dengan Sento sekarang berdiri kaku, wajahnya pucat.
"Dan pak Evan anda juga akan dimintai keterangan." Ucap salah satu polisi yang tadi di panggil Detektif Edo.
"Ta-tapi pak saya hanya datang karena dipanggil." Sanggah Pak Evan.
Namun nampak dua polisi lain masuk ke dalam dan langsung memborgol tangannya.
"Ini bukanlah wilayah kewenangan anda, anda bisa menjelaskan nya kepada pimpinan secara langsung." Ucap Detektif Edo lagi lalu menyuruh dua polisi itu membawa pak Evan.
...----------------...
Hanya dalam waktu singkat, kegemparan menyebar seperti api di ladang kering.
Berita penangkapan Wakil Kepala Sekolah beserta anaknya langsung menjadi buah bibir seluruh sekolah.
Murid-murid pun dipulangkan lebih awal untuk mencegah kerusuhan.
Namun sia-sia.
Keesokan harinya, gerbang Sekolah Negeri Astra sudah dipadati ratusan siswa dan orang tua yang turun ke jalan.
Mereka membawa spanduk dan meneriakkan tuntutan agar Sento Mahendra, Rudi, serta semua pelaku diadili seadil-adilnya.
Para jurnalis dan reporter dari berbagai media menyergap lokasi.
Kamera terus merekam, mikrofon menyorot, dan berita itu pun meledak menjadi headline utama di berbagai stasiun televisi dan portal berita.
Dampaknya jauh lebih besar dari yang diduga.
Satu pertanyaan besar kini menggantung di benak publik:
...Bagaimana sistem pendidikan di negeri ini bisa sedemikian rusak, hingga para remaja berani memanfaatkan undang-undang perlindungan anak untuk melakukan kekerasan dan kejahatan tanpa takut hukuman?...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
kritik dan saran boleh kokk