NovelToon NovelToon
Layu Sebelum Mewangi

Layu Sebelum Mewangi

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Single Mom / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: miss tiii

" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.

Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persalinan Di Ambang Sunyi

Lorong puskesmas itu terasa dingin dan berbau karbol yang tajam. Arumi terbaring di brankar, keringat dingin membasahi keningnya. Kontraksi yang datang setiap lima menit terasa seperti tubuhnya sedang dipatahkan perlahan. Di luar pintu kamar bersalin, suasana riuh. Ada Ayah dan Ibu Arumi yang tak henti merapal doa, juga orang tua Baskara yang datang jauh-jauh dari desa.

Baskara? Ia duduk di bangku panjang deretan paling ujung. Diam. Menatap layar ponselnya yang retak, sesekali menguap seolah jam dua pagi adalah beban yang sangat berat baginya.

"Baskara! Masuk! Istrimu sedang berjuang di dalam!" Ibu Arumi berseru, suaranya parau karena cemas.

Baskara mendongak, wajahnya yang berusia tiga puluh sembilan tahun itu tampak kuyu. "Iya, Bu. Nanti kalau sudah pembukaan lengkap saja. Saya mengantuk."

"Baskara!" Ayah Baskara—seorang pria tua yang tampak malu dengan kelakuan anaknya—menghampiri dan menarik lengan baju Baskara. "Kamu ini manusia atau bukan? Itu istrimu! Itu anakmu! Masuk sekarang!"

Dengan langkah malas, Baskara masuk ke ruang persalinan. Ia berdiri di samping tempat tidur Arumi, tapi ia tidak memegang tangan istrinya. Ia hanya berdiri di sana seperti tiang listrik yang kaku.

"Sakit, Mas..." rintih Arumi, jemarinya mencengkeram pinggiran besi tempat tidur sampai memutih. "Pegang tanganku, Mas... tolong..."

Baskara memberikan tangannya, tapi lemas. Tidak ada remasan balik, tidak ada kecupan di kening, tidak ada kata-kata penguat.

"Sabar saja, Rum. Semua perempuan juga lewat ini," gumam Baskara datar.

Arumi menoleh, menatap suaminya dengan mata yang menyala di tengah rasa sakit. "Semua perempuan... tapi tidak semua perempuan punya suami yang hatinya sudah mati seperti kamu!"

Satu jam kemudian, tangisan bayi memecah kesunyian malam. Seorang bayi perempuan lahir ke dunia, merah dan mungil. Perawat meletakkan bayi itu di dada Arumi. Di saat itulah, pintu terbuka dan kedua pasang orang tua mereka masuk dengan wajah penuh syukur.

"Cucuku..." Ibu Baskara menangis haru, ia mendekat dan mengelus kepala Arumi. "Terima kasih, Arumi. Terima kasih sudah kuat. Maafkan anak Ibu yang tidak berguna ini."

Ibu Arumi mencium kening anaknya. "Kamu hebat, Rum. Kamu mekar dengan caramu sendiri."

Baskara hanya berdiri di sudut ruangan, melihat bayinya dari jauh. Ia tidak mendekat untuk mengadzani, tidak juga menangis bahagia.

"Baskara, adzani anakmu," perintah Ayahnya dengan nada mengancam.

Baskara melangkah maju, ia berbisik di telinga bayi itu seadanya, seolah sedang menjalankan prosedur yang membosankan. Setelah selesai, ia langsung menjauh lagi.

"Biaya administrasinya bagaimana, Bas?" tanya Ayah Arumi pelan di sudut ruangan.

Baskara diam sebentar, lalu merogoh kantong celananya yang kosong. "Saya belum pegang uang, Yah. Mungkin Ayah bisa talangi dulu?"

Ayah Arumi memejamkan mata, menahan amarah yang hampir meledak di depan bayi yang baru lahir. Sementara itu, Arumi yang masih lemas di atas kasur, menatap bayinya dengan tatapan yang sangat jernih.

Ia menyadari satu hal: Bayi ini adalah satu-satunya alasan baginya untuk benar-benar pergi. Ia tidak akan membiarkan anak ini tumbuh melihat seorang laki-laki yang hanya menjadi beban bagi ibunya. Ia tidak akan membiarkan anak ini menganggap bahwa "diam dan tidak mau usaha" adalah sifat seorang pria.

"Namanya siapa, Rum?" tanya Ibu Baskara lembut.

"Namanya Kinan, Bu," jawab Arumi tegas. "Hanya Kinan. Tanpa nama belakang ayahnya."

Suasana ruangan mendadak senyap. Baskara membuka matanya, menatap Arumi dengan bingung, tapi seperti biasa—ia tidak protes. Ia tidak berjuang untuk namanya sendiri. Ia kembali menutup mata, membiarkan Arumi memutus ikatan itu tepat di hari kelahiran anaknya.

#udah lahiran ajaaa , next chapter ga nii

1
Diana Bellusi
bagus ceritanya q suka💪
miss tiii: halooo kakk, jangan lupa vote yaaa , salam kenalll🙏🤭
total 1 replies
Emily
dah baskara gak usah harap Arumi lagi pigi kerja jadi kuli buat ngisi perutmu
Emily
kerja baskara jangan ngintipin arumi aja
Emily
lha baskara itu pernah berjuang apa
Emily
nah gitu dong Rumi
Emily
ah ngomong aja kau Rumi..makin banyak kau ngomong makin mentiko lakikmu
Emily
si Arumi kan udah pernah ngomong begitu jgn sampe berkali kali ngomong begitu tapi tetap masih mengharap laki mokondo
Emily
lha Arumi di tinggal saja laki begitu..malah balik lagi
Emily
baskara kerja apa kok modelnya begitu.. bpak nya Arumi juga salah kenapa menjodohkan anaknya dgn leleki gak jelas
Emily
semangat
Yuli Yanti
sbetulnya nama anaknya Bayu apa Kinan. bingung aku
miss tiii: Kinan Buu , episode berapa yg masih nama Bayu biar saya ganti , makasihh atas komentarnya 🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!