NovelToon NovelToon
Mr. Cold & My Sunny Wife

Mr. Cold & My Sunny Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: nia nuraeni

Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.


Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Jebakan Batman Berkedok "Matre"

Malam itu, Gisel sedang duduk santai di karpet bulu kamar Dewa—yang sekarang aromanya sudah full white tea dan jeruk segar. Ia memakai daster satin tipis bertali satu yang memperlihatkan bahunya yang mulus. Di sampingnya, Raka sedang sibuk menghitung sisa hutang panti asuhan di tabletnya.

"Udah, Mbak Cantik kirim pesan sekarang ke Papa," bisik Raka, masih agak kaku memanggil sebutan itu.

Gisel menyeringai nakal. Ia langsung melakukan video call ke nomor Dewa. Di Amerika saat itu masih pagi buta. Tak butuh waktu lama, wajah tampan Dewa (35 thn) muncul di layar. Ia masih memakai kaus dalam putih, rambut hitamnya berantakan, dan kacamata baca bertengger di hidungnya.

"Gisel? Ada apa? Ini jam lima pagi di sini," suara Dewa berat khas bangun tidur, sangat seksi hingga membuat Gisel sempat terpaku.

"Aduh, Mas CEO... bangun tidur aja udah kayak pangeran ya. Kenapa? Kangen suara aku yang merdu ini?" goda Gisel sambil sengaja membetulkan tali dasternya di depan kamera.

Dewa berdehem, matanya sedikit membelalak melihat pakaian Gisel yang sangat minim. "Jangan bicara macam-macam. Ada apa?"

"Gini, Mas Sayang... aku butuh uang. Banyak. Dua ratus juta, kalau bisa sekarang ditransfer ke rekening aku," ucap Gisel tanpa basabasi.

Dewa terdiam. Ekspresi wajahnya yang tadi sedikit melunak langsung berubah menjadi sangat dingin dan kecewa. "Dua ratus juta? Untuk apa? Bukankah kartu kredit yang saya berikan limitnya sudah besar?"

"Kurang, Mas. Aku mau beli... sesuatu yang sangat penting. Pokoknya butuh cash sekarang. Mas nggak pelit kan sama istri sendiri?" Gisel mengedipkan mata, mencoba menutupi kegugupannya karena melihat rahang Dewa yang mengeras.

Dewa menghela napas tajam, ia melepas kacamatanya dengan kasar. "Baru satu minggu saya pergi, kamu sudah menunjukkan sifat asli kamu? Saya pikir kamu berbeda, Gisel. Ternyata kamu sama saja dengan wanita lain yang hanya melihat angka di rekening saya."

Hati Gisel sedikit mencelos mendengar itu, tapi ia menahan diri demi rahasia panti asuhan Raka. "Duh, Mas. Jangan baper gitu dong. Kasih aja kenapa sih? Anggap aja DP buat 'pelayanan' aku pas Mas pulang nanti."

"Cukup, Gisel! Saya akan kirim uangnya. Tapi jangan harap saya akan percaya pada kata-kata 'tulus' kamu lagi. Jangan ganggu saya, saya ada rapat," Dewa langsung mematikan sambungan secara sepihak.

Layar ponsel menjadi gelap. Gisel menatap layar itu dengan perasaan campur aduk. Di sampingnya, Raka tampak merasa bersalah. "Gisel... lo nggak apa-apa? Papa kayaknya marah besar."

Gisel langsung tersenyum lebar, kembali ke mode positive vibes-nya meskipun matanya sedikit berkaca-kaca. "Nggak apa-apa, Raka! Yang penting duitnya cair. Biarin aja dia pikir aku matre, nanti kalau dia tahu yang sebenernya, dia bakal sujud-sujud minta maaf ke aku sambil bawa berlian segede gaban!"

Raka menatap Gisel dengan tatapan kagum yang baru. Ia tahu, Gisel baru saja mengorbankan "harga dirinya" di depan ayahnya demi menolong masa lalu Raka.

Di kantor cabangnya di Amerika, Dewa (35 thn) tidak bisa fokus pada laporan keuangan di depannya. Kacamata bacanya sudah ia lepas berkali-kali. Pikirannya terus tertuju pada permintaan 200 juta Gisel semalam.

"Gisel, Gisel... apa benar kamu cuma wanita matre yang pandai bersandiwara?" gumam Dewa. Dadanya terasa sesak, ada rasa kecewa yang lebih besar daripada rasa rugi materinya.

Dewa segera menekan nomor orang kepercayaannya di Indonesia, Hadi. "Hadi, pantau Gisel hari ini. Cari tahu ke mana uang 200 juta itu mengalir. Jika dia bertemu dengan seorang pria... ambil fotonya."

Sementara itu di Jakarta, Gisel (23 thn) sedang bersenandung riang di dalam mobil SUV. Aroma white tea-nya memenuhi kabin, membuat Raka (17 thn) yang duduk di sampingnya merasa jauh lebih tenang. Mereka tidak sadar, sebuah mobil sedan hitam milik Hadi sudah membuntuti mereka sejak keluar dari gerbang rumah.

"Mbak Cantik, beneran nggak apa-apa Papa marah?" tanya Raka, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya.

Gisel menoleh dan mengedipkan mata bulatnya. "Santai, Raka! Marahnya Mas Dewa itu ibarat bumbu penyedap. Nanti kalau dia tahu kita ke panti, dia bakal ngerasa jadi pria paling berdosa sedunia karena udah suudzon sama istrinya yang imut ini."

Mereka sampai di sebuah kawasan pinggiran yang asri. Gisel dan Raka turun, lalu masuk ke sebuah bangunan tua yang bertuliskan "Panti Asuhan Kasih Arumi".

Hadi, yang mengintip dari kejauhan, segera membidikkan kameranya. Namun, dari sudut pandang Hadi, ia hanya melihat Gisel masuk ke dalam bangunan bersama seorang pria muda jangkung (Raka yang memakai jaket motor dan helm). Hadi tidak bisa melihat wajah Raka dengan jelas karena jarak dan sudut pengambilan foto.

Klik! Klik!

Hadi langsung mengirimkan foto-foto itu ke Dewa. Di Amerika, ponsel Dewa bergetar. Ia membuka pesan dari Hadi dan seketika rahangnya mengeras. Foto itu memperlihatkan Gisel yang sedang tertawa sambil menggandeng lengan pria muda berjaket hitam itu masuk ke sebuah bangunan.

Dewa tidak tahu itu Raka. Yang dia lihat adalah istrinya sedang berkencan dengan pria lain menggunakan uangnya.

"Kurang ajar," desis Dewa. Bahu lebarnya menegang hebat. Emosinya meledak. "Berani-beraninya kamu bermain di belakang saya, Gisel!"

Tanpa pikir panjang, Dewa langsung menelepon Gisel saat itu juga.

Drrrtt... Drrrtt...

Gisel mengangkatnya di tengah riuh rendah suara anak-anak panti. "Halo, Mas Dewa Sayang! Tumben telepon lagi? Kangen ya liat muka aku yang segar bugar ini?"

"Di mana kamu?!" suara Dewa terdengar sangat rendah dan berbahaya, persis seperti gunung api yang mau meletus.

"Lagi di luar, Mas. Cari angin segar biar nggak suntuk nungguin kamu pulang. Kenapa? Mas mau nitip oleh-oleh?" jawab Gisel ceplas-ceplos, tidak sadar kalau suaminya sedang menahan ledakan amarah di seberang sana.

1
merry
pergi menjauh lh sel tgu ank mu lhr dluu,, raka dikit dikit marahh
aku
berharap gisel sm adit, bahagya lah mereka 😭
merry
wa Dr pd kmu sibuk curiga,, emosiin gaje cemburu buta gt,, bgss carii tau tuu pergrtaknn silumann ularr sm nenek sihirr mrkk lg ngrimm org buat celakaiin calon ank mu,,
merry
kyk bpkmu sifatt mu raka pentinginn emosii tnp cri kbnrann yaa
aku
mudahan adit diatas nya dewa. dr cinta smpe ekonomi. biar nyahok!!
Gaishan Ahzar
terlalu sakit jdi Gisel...mending nyari kebahagian lain jgn balik ma Dewa,
merry
gk tegas bgtt,, gmpng bgt tuduh org pdhl dewa tau gisel orgy kyk gmnn,, lgian ngpn cb kesini sm Bianca,, moga 3 ank y hncur krn ulh nenek y hncur bukn dlm hal yg ngk baik ya,, mksdy jdi dingin Pemberontak biar mm y dewa wlpun Bianca jdi ibu mrk tdk ank bisa tahlukin anky dewa
merry
pergi ajj sel biar 3 cucu y jdi pembangkang ank y dewa tmbh dingin dan juga kejam
merry
secara logika y si org tu mn mau pyn mantu kyk hana dan cucu tri Dr ank y ha a dan kakak tiri ya itu resikko berat bisa jdi bhn gossip org org mngkin bisa buat perusahan dewa hilng kepercyaa Dr klien y,, tp krn in menyankut Cinta mau gk mau dewa ngalahh biar raka gk di hasut Bianca
Gaishan Ahzar
kecewa berat ma Dewa ga pernah benar2 perjuangin Gisel,katanya CEO tapi kok bodoh...dah lah Gisel move on aja,lelah berjuang dan mencintai sendirian....
Gaishan Ahzar
udah ckup Gisel nangisin Dewa...
merry
biar kn hana menata hdp y dulu hilngin truma y dulu sukses dulu br dech mkrinn nikh🙏🙏🙏biar kn raka tau sel biar JDI Keputusann raka klo gk diksh tau tar raka mengira xlian dh bhongin dia lohh
merry
hrs y ka kak tri y Dilaporinn dgn kasus Pemerkosaa enk bgtt ud hncurin hana trs nikh sm cwe lainn,, Dan laporinn jugaa mm tri y yg jhtt bgtuu juga bpk yg gk bisa ksh keadlinn buat ank kndung y sndrii,, bantuuin sel hana ya kirim dia ke luar ngrii gt,,,
Lilik Lailiyah
😄😄😄
merry
Ayo raka ajkk mmu yg bar bar itu cari tau knp Hana di perlakuknn seperti itu,, psti mm tri y klo ngk Bibi y Hana tuu
merry
raka juara 3 kt y encer knp cm juara tiga,, itu gisel heboh bgtt ud kyk juara 1sjjjj🤣🤣🤣🤣🤣
Mudahlia Fitha
bner" udah kyak rombongan telur ceplok 😂😂😂😅
Mudahlia Fitha
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ada aja buat jawab
Mudahlia Fitha
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/semprul udah kyak sepeda yg remnya blong
merry
ternyta Ada batu sandungann jugaa perjlnn gisel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!