Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Jebakan Batman Berkedok "Matre"
Malam itu, Gisel sedang duduk santai di karpet bulu kamar Dewa—yang sekarang aromanya sudah full white tea dan jeruk segar. Ia memakai daster satin tipis bertali satu yang memperlihatkan bahunya yang mulus. Di sampingnya, Raka sedang sibuk menghitung sisa hutang panti asuhan di tabletnya.
"Udah, Mbak Cantik kirim pesan sekarang ke Papa," bisik Raka, masih agak kaku memanggil sebutan itu.
Gisel menyeringai nakal. Ia langsung melakukan video call ke nomor Dewa. Di Amerika saat itu masih pagi buta. Tak butuh waktu lama, wajah tampan Dewa (35 thn) muncul di layar. Ia masih memakai kaus dalam putih, rambut hitamnya berantakan, dan kacamata baca bertengger di hidungnya.
"Gisel? Ada apa? Ini jam lima pagi di sini," suara Dewa berat khas bangun tidur, sangat seksi hingga membuat Gisel sempat terpaku.
"Aduh, Mas CEO... bangun tidur aja udah kayak pangeran ya. Kenapa? Kangen suara aku yang merdu ini?" goda Gisel sambil sengaja membetulkan tali dasternya di depan kamera.
Dewa berdehem, matanya sedikit membelalak melihat pakaian Gisel yang sangat minim. "Jangan bicara macam-macam. Ada apa?"
"Gini, Mas Sayang... aku butuh uang. Banyak. Dua ratus juta, kalau bisa sekarang ditransfer ke rekening aku," ucap Gisel tanpa basabasi.
Dewa terdiam. Ekspresi wajahnya yang tadi sedikit melunak langsung berubah menjadi sangat dingin dan kecewa. "Dua ratus juta? Untuk apa? Bukankah kartu kredit yang saya berikan limitnya sudah besar?"
"Kurang, Mas. Aku mau beli... sesuatu yang sangat penting. Pokoknya butuh cash sekarang. Mas nggak pelit kan sama istri sendiri?" Gisel mengedipkan mata, mencoba menutupi kegugupannya karena melihat rahang Dewa yang mengeras.
Dewa menghela napas tajam, ia melepas kacamatanya dengan kasar. "Baru satu minggu saya pergi, kamu sudah menunjukkan sifat asli kamu? Saya pikir kamu berbeda, Gisel. Ternyata kamu sama saja dengan wanita lain yang hanya melihat angka di rekening saya."
Hati Gisel sedikit mencelos mendengar itu, tapi ia menahan diri demi rahasia panti asuhan Raka. "Duh, Mas. Jangan baper gitu dong. Kasih aja kenapa sih? Anggap aja DP buat 'pelayanan' aku pas Mas pulang nanti."
"Cukup, Gisel! Saya akan kirim uangnya. Tapi jangan harap saya akan percaya pada kata-kata 'tulus' kamu lagi. Jangan ganggu saya, saya ada rapat," Dewa langsung mematikan sambungan secara sepihak.
Layar ponsel menjadi gelap. Gisel menatap layar itu dengan perasaan campur aduk. Di sampingnya, Raka tampak merasa bersalah. "Gisel... lo nggak apa-apa? Papa kayaknya marah besar."
Gisel langsung tersenyum lebar, kembali ke mode positive vibes-nya meskipun matanya sedikit berkaca-kaca. "Nggak apa-apa, Raka! Yang penting duitnya cair. Biarin aja dia pikir aku matre, nanti kalau dia tahu yang sebenernya, dia bakal sujud-sujud minta maaf ke aku sambil bawa berlian segede gaban!"
Raka menatap Gisel dengan tatapan kagum yang baru. Ia tahu, Gisel baru saja mengorbankan "harga dirinya" di depan ayahnya demi menolong masa lalu Raka.
Di kantor cabangnya di Amerika, Dewa (35 thn) tidak bisa fokus pada laporan keuangan di depannya. Kacamata bacanya sudah ia lepas berkali-kali. Pikirannya terus tertuju pada permintaan 200 juta Gisel semalam.
"Gisel, Gisel... apa benar kamu cuma wanita matre yang pandai bersandiwara?" gumam Dewa. Dadanya terasa sesak, ada rasa kecewa yang lebih besar daripada rasa rugi materinya.
Dewa segera menekan nomor orang kepercayaannya di Indonesia, Hadi. "Hadi, pantau Gisel hari ini. Cari tahu ke mana uang 200 juta itu mengalir. Jika dia bertemu dengan seorang pria... ambil fotonya."
Sementara itu di Jakarta, Gisel (23 thn) sedang bersenandung riang di dalam mobil SUV. Aroma white tea-nya memenuhi kabin, membuat Raka (17 thn) yang duduk di sampingnya merasa jauh lebih tenang. Mereka tidak sadar, sebuah mobil sedan hitam milik Hadi sudah membuntuti mereka sejak keluar dari gerbang rumah.
"Mbak Cantik, beneran nggak apa-apa Papa marah?" tanya Raka, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya.
Gisel menoleh dan mengedipkan mata bulatnya. "Santai, Raka! Marahnya Mas Dewa itu ibarat bumbu penyedap. Nanti kalau dia tahu kita ke panti, dia bakal ngerasa jadi pria paling berdosa sedunia karena udah suudzon sama istrinya yang imut ini."
Mereka sampai di sebuah kawasan pinggiran yang asri. Gisel dan Raka turun, lalu masuk ke sebuah bangunan tua yang bertuliskan "Panti Asuhan Kasih Arumi".
Hadi, yang mengintip dari kejauhan, segera membidikkan kameranya. Namun, dari sudut pandang Hadi, ia hanya melihat Gisel masuk ke dalam bangunan bersama seorang pria muda jangkung (Raka yang memakai jaket motor dan helm). Hadi tidak bisa melihat wajah Raka dengan jelas karena jarak dan sudut pengambilan foto.
Klik! Klik!
Hadi langsung mengirimkan foto-foto itu ke Dewa. Di Amerika, ponsel Dewa bergetar. Ia membuka pesan dari Hadi dan seketika rahangnya mengeras. Foto itu memperlihatkan Gisel yang sedang tertawa sambil menggandeng lengan pria muda berjaket hitam itu masuk ke sebuah bangunan.
Dewa tidak tahu itu Raka. Yang dia lihat adalah istrinya sedang berkencan dengan pria lain menggunakan uangnya.
"Kurang ajar," desis Dewa. Bahu lebarnya menegang hebat. Emosinya meledak. "Berani-beraninya kamu bermain di belakang saya, Gisel!"
Tanpa pikir panjang, Dewa langsung menelepon Gisel saat itu juga.
Drrrtt... Drrrtt...
Gisel mengangkatnya di tengah riuh rendah suara anak-anak panti. "Halo, Mas Dewa Sayang! Tumben telepon lagi? Kangen ya liat muka aku yang segar bugar ini?"
"Di mana kamu?!" suara Dewa terdengar sangat rendah dan berbahaya, persis seperti gunung api yang mau meletus.
"Lagi di luar, Mas. Cari angin segar biar nggak suntuk nungguin kamu pulang. Kenapa? Mas mau nitip oleh-oleh?" jawab Gisel ceplas-ceplos, tidak sadar kalau suaminya sedang menahan ledakan amarah di seberang sana.