"Pe-periksa Hadiah Aktivasi Sistem…" kata Liam dengan sedikit keraguan dalam suaranya.
Ding!
[Selamat telah berhasil memperoleh Sistem Tamparan Wajah. Berikut adalah hadiah aktivasi satu kali]
[1.000.000 Dolar (Silakan periksa sakumu untuk detailnya)]
Liam, seorang mahasiswa miskin yang hidup sederhana dan sering dipandang rendah oleh orang lain. Hidupnya berubah drastis setelah ia dikhianati oleh pacarnya, Bella, yang memilih pria kaya dan berkuasa. Dalam kondisi hancur dan putus asa, Liam tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem misterius yang memberinya kekuatan untuk membalas hinaan orang lain dengan cara mempermalukan mereka.
Dengan bantuan sistem tersebut, Liam memperoleh kekayaan, kekuatan, dan berbagai kemampuan luar biasa. Dari seorang pemuda lemah yang diremehkan, ia perlahan bangkit menjadi sosok yang percaya diri, kuat, dan bertekad untuk mengubah nasibnya serta membalas semua orang yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Siapa Bilang Dia Yang Membayarnya
"8.999 Dolar? Mahal sekali?"
Liam tidak bisa menahan diri untuk berseru kaget begitu melihat harga jam tangan Patek Philippe Aquanaut tersebut.
Ini adalah pertama kalinya dia melihat sebuah barang yang begitu mahal hingga bisa dengan mudah membeli sebuah rumah kecil.
Mungkin, hal tersebut disebabkan oleh mentalitasnya yang dulu hidup hemat dan irit, meskipun sekarang dia sudah memiliki Jutaan Dolar di bank, dia tetap ragu apakah harus membeli jam tangan semahal itu.
Di sisi lain, ketika karyawan pria itu mendengar suara keterkejutannya, dia tidak bisa menahan senyum penuh ejekan.
Dia melangkah mendekati Liam dan berkata dengan nada merendahkan, "Bodoh. Tentu saja mahal. Patek Philippe adalah salah satu merek jam mewah terbaik di dunia, apa kau pikir harganya akan murah? “
"Dan lagi. Sebagai pengawal, kau sudah sangat beruntung karena Nona Sylvie mau membelikanmu jam mewah. Berani-beraninya kau memanfaatkan kebaikannya dan memilih salah satu dari lima jam termahal di toko ini?"
Setelah mengatakan itu, karyawan pria tersebut merasa puas. Dia pikir dia sudah mendapatkan perhatian Nona Sylvie karena mencegah pengawal ini memanfaatkan kebaikannya.
Pada saat yang sama, dia semakin yakin bahwa Nona Sylvie memang berasal dari keluarga kaya. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia mampu membelikan pengawal-nya jam semahal itu?
Sedangkan kemungkinan bahwa Liam bisa membayar jam itu sendiri bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya. Pada titik ini, dia sudah seratus persen yakin bahwa Liam, yang berpakaian sederhana, hanyalah seorang pengawal dan tidak lebih.
Di sisi lain, mendengar tuduhan tanpa dasar dari karyawan pria itu, Sylvie tidak bisa menahan diri untuk mengerutkan kening. Saat ini, dia sudah merasa tidak senang dengan sikap karyawan tersebut. Namun karena Liam belum berkata apa-apa, dia memilih untuk tidak ikut campur.
Di sisi lain, dia juga mulai memiliki sedikit ragu tentang identitas Liam sebagai seseorang dengan latar belakang misterius.
‘Apakah uang 1000 Dolar itu satu-satunya yang dia miliki? Apakah asumsiku tentang dia salah?’ Pikiran seperti itu mulai muncul di benaknya, diiringi rasa kecewa.
Dia benar-benar mengira bahwa dia akhirnya menemukan orang yang selama ini ingin dia temui. Namun ternyata itu hanya kesalahpahaman?
Dia lalu teringat bahwa dialah yang merekomendasikan jam tangan itu, yang pada akhirnya membuat Liam berada dalam situasi memalukan ini. Dia pun berniat untuk membantunya keluar dari situasi tersebut.
Namun, tepat saat dia hendak berbicara, Liam tiba-tiba memotong.
"Hah? Bukankah harganya hanya 8.999 Dolar?”
"Sombong. Apa maksudmu ‘hanya’? Aku yakin kau bahkan tidak mampu membeli jam termurah di sini. Bersyukurlah ada yang mau membelikanmu," balas karyawan pria itu setelah mendengar kata-kata Liam.
Menurutnya, Liam sudah sangat beruntung ada Nona Sylvie yang mau membelikannya sesuatu. Namun orang ini malah memilih Patek Philippe Aquanaut. Bahkan jika itu direkomendasikan oleh Sylvie sendiri, sebagai pengawal yang baik, dia seharusnya menolak dan memilih jam yang lebih murah.
Mendengar itu, alih-alih kesal seperti sebelumnya, Liam hanya tersenyum misterius dan berkata dengan nada ambigu, "Dan siapa yang bilang dia akan membayar untukku?"
"Kalau begitu siapa yang akan bayar? Kau?" Karyawan pria itu terkejut.
Dia kembali mengamati Liam, dan setelah melihat penampilannya yang sederhana, dia menghela napas lega lalu berkata, "Kau bahkan tidak mampu membeli pakaian bermerek, bagaimana mungkin kau bisa membeli Patek Philippe Aquanaut? Bermimpi itu memang gratis, tapi harus ada batasnya, mengerti?"
"Dan siapa yang bilang aku tidak mampu membeli jam ini?" jawab Liam, masih dengan senyum yang sama.
Bahkan sebelum karyawan pria itu sempat membalas lagi, Liam sudah mengeluarkan dompet barunya.
Dia membuka dompet itu lalu memasang ekspresi panik.
"Oh tidak! Aku tidak membawa uang tunai."
"Hah, sudah kuduga. Jangan pakai trik itu padaku, akui saja kau tidak punya uang."
Melihat ekspresi paniknya, karyawan pria itu langsung berseru senang.
Namun pada detik berikutnya, Liam tiba-tiba mengeluarkan sebuah benda hitam dari dompetnya dengan gerakan cepat.
Dijepit di antara dua jarinya, Liam memutar kartu atm hitam itu beberapa kali seperti kartu permainan sebelum kembali menatap karyawan pria tersebut.
"Oh tidak! Aku tidak membawa uang tunai, bisakah kau menggesek kartu VIP Flyers Bank ini untukku?"
Karyawan pria: (O_O;)
Sylvie: w(°o°)w
Pada saat yang sama, layar sistem muncul di depan mata Liam.
Ding!
[Kau berhasil mempermalukan seseorang: +10 Poin Sistem]
[Kau berhasil mempermalukan seseorang dengan satu penonton: +5 Poin Sistem]
Ding!
[Kau berhasil mempermalukan seseorang secara diam-diam: +10 Poin Sistem]
Melihat dua layar muncul bersamaan, Liam tidak bisa menahan rasa kaget.
‘Ada lagi yang dipermalukan? Siapa?’ pikirnya sambil melihat ke sekeliling, mencari orang kedua.
Namun satu-satunya orang di dalam toko ini hanyalah mereka bertiga serta karyawan lain yang berada agak jauh. Seharusnya bukan mereka, karena mereka tidak mendengar percakapan tadi.
‘Jangan-jangan,’ Liam segera menoleh ke arah Sylvie.
Pada saat itu, dia memastikan bahwa memang Sylvie yang terkena secara diam-diam.
Alasannya? Karena wajahnya saat ini sangat merah, seolah-olah benar-benar baru saja dipermalukan.
Namun, pada detik berikutnya Liam justru merasa bingung.
Dengan wajah merah, dia malah menunjukkan senyum yang terlihat senang?
‘Hah? Kenapa kau malah terlihat senang? Hei, hei! Bukannya kau seharusnya malu?’