"Kamu Kriminal" Ucap gadis itu ketus dengan tangan diikat.
" Saya bukan kriminal." Ucap Pria itu tegas.
Mereka saling bertatapan dalam situasi hening dan penuh ketegangan. Alih - alih merasa takut, Gadis itu terus menatapnya tajam.
"Kau monster." Celetuknya.
Senyum menyeringai. " Aku bukan monster,... Aku Vampir." Ucap pria itu pelan berbisik ditelinga gadis yang ia sekap.
Bukannya jeritan rasa takut yang didengar, Pria itu merasa heran gadis dihadapannya malah tertawa puas.
Kesal tak kunjung percaya, Pria itu menunjukan taring dan mata merahnya.
Sontak gadis itu terdiam mematung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon laliza_xiexie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf Aku Mengganggumu.
Akhirnya Kiara terbangun, Ia duduk hatinya mulai tidak sabar untuk membalaskan dendam. Namun sekarang menunjukan jam sepuluh malam, Ia merasa lapar dan pergi ke dapur sembari berjalan perlahan menyusuri tembok.
Saat membuka pintu Kiara terkejut melihat Edward yang tidur disofa, Hatinya tersentuh. Edward rela – rela menjaganya didepan kamar sedangkan Dia sendiri masih terluka dan butuh istirahat.
Kiara berjalan perlahan agar tidak membangunkan Edward, namun karena badannya yang lemas Ia tidak sengaja menyenggol guci kayu yang ada disampingnya hingga terguling dan membangunkan Edward.
“ Kiara Kamu mau kemana?” Tanya Edward cemas berdiri dihadapan Kiara.
“ Maaf Edward Aku mengganggumu, Aku hanya ingin kedapur mengambil makan.” Jawab Kiara santai.
Edward menggendong Kiara membawanya ke kamar dan mendudukannya di Kasur.
“ Kamu diam jangan banyak gerak biar Aku bawakan.” Ucap Edward lembut langsung pergi ke dapur.
Kiara merasa tersentuh dengan perlakuan dan perhatian Edward, Ia senang sikap Edward berubah tidak menyebalkan.
Tidak lama kemudian Edward datang membawa sepiring nasi dengan lauk pauk.
“ Makanlah.” Ucap Edward duduk dihadapan Kiara menyuapinya.
“ Kamu harus cepet sembuh ya.” Ucap Edward lembut terus menyuapi Kiara.
“ Bukankah Kamu juga harus sembuh untuk menemaniku berperang?” Tanya Kiara lembut sembari mengambil alih sendok dan menyuapi Edward.
Edward terdiam bahagia disuapi Kiara, Ia tersenyum hatinya tampak berbunga – bunga dan jantungnya berdetak begitu cepat.
“ Edward kendalikan perasaanmu, bunyi detak jantungmu yang cepat itu membuat telingaku sakit.” Ucap Kiara santai membuat Edward terkejut.
“ A – apa? Ma – mana mungkin, Aku baik – baik saja dan jantungku berdetak normal.” Ucap Edward terbata – bata.
Kiara hanya tersenyum dan melanjutkan makannya sendiri.
Setelah selesai Edward ke dapur menyimpan piring kotor dan kembali ke kamar Kiara.
“ Kiara sekarang Kamu istirahat, kondisi Kamu masih lemah.” Ucap Edward lembut membantu Kiara memakai selimut.
Tapi Kiara malah menggenggam tangan Edward dan membuatnya terkejut.
“ Edward Kamu terlalu mencemaskanku, bukankah Kamu juga masih lemah dan terluka karena insiden tadi siang? Kamu juga harus istirahat dan tidur ditempat nyaman agar cepat pulih. Jangan disofa.” Ucap Kiara cemas.
Edward menghela nafas dan duduk dihadapan Kiara sembari menggenggam balik tangan gadis dihadapannya.
“ Aku sudah sangat baikan, Kamu tidak perlu menghawatirkanku. Aku akan tidur di sofa dan menjagamu.” Ucap Edward lembut.
“ Dasar keras kepala! Baiklah jika Kamu tetap memaksa, Aku ingin Kamu tidur disampingku. Jangan salah paham, Aku tidak ingin Kamu tambah sakit dan menyalahkanku.” Ucap Kiara jutek sembari menyimpan guling dan bantal ditengah kasur sebagai pembatas.
Edward yang melihat tampak tercengang tak percaya, Ia tidak menyiakan momen ini. Edward dengan cuek menyetujui dan tidur disamping Kiara.
Mereka nampak tidur saling membelakangi, Edward tersenyum bahagia sedangkan Kiara hanya diam saja dan tertidur.
Pagi hari Rui datang ke Penginapan menemui Edward yang tidak datang Ke Kantor, namun ruangan nampak dikunci. Rui terus menyalakan bel ruangan dan menelepon Edward namun tidak ada respon. Untung saja Eyden datang.
“ Sedang apa Kamu disini? Tidak masuk?” Tanya Eyden santai.
Mereka cukup akrab karena Rui adalah sahabat Edward dari kecil dan mereka selalu bertemu.
“ Aku sudah berusaha menghubungi Edward dan menyalakan bel tapi tidak ada respon.” Jawab Rui lembut.
Eyden mencoba terus menekan bel dan menelepon Kiara namun sama tidak bisa dihubungi.
Eyden cemas takut terjadi penyerangan kembali dan tidak ada yang tau.
Eyden segera memanggil pelayan dan meminta kunci cadangan, untung saja pelayan mengenali Eyden itu siapa dan tanpa ragu memberikan kuncinya lalu pergi.
Eyden segera membukanya, terlihat pintu kamar Kiara terbuka. Eyden dan Rui bertatapan dan langsung berjalan mendekati kamar Kiara.
Mereka berdiri tepat di depan Kamar Kiara dan sangat terkejut saat melihat Kiara yang nampak tidur berpelukan dengan Edward. Eyden yang melihat semua itu hanya diam, wajahnya menunjukan kekecewaan begitu juga dengan Rui Ia tampak hancur namun enggan menunjukkannya dihadapan Eyden.
“ Mereka tampak tertidur nyenyak, Aku tidak ingin mengganggu. Aku akan kembali saja Ke Kantor banyak yang harus Aku urus, Apa mau berangkat bareng?” Tanya Ruinitha santai.
Eyden hanya diam sembari terus melihat Kiara yang tertidur nyenyak.
Rui yang memperhatikan Eyden, paham dan tanpa bertanya lagi Ia pergi meninggalkan Eyden dengan menahan rasa sakit dihatinya.
Eyden yang melihat Rui pergi, Ia memutuskan duduk di sofa menunggu mereka bangun.