Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak Takdir di Ruang Privasi
Riuh rendah suara lampu flash kamera dan teriakan wartawan perlahan meredup saat pintu lift khusus CEO tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam ruang sempit yang bergerak naik menuju lantai 88. Di dalam lift, suasana terasa lebih panas daripada ledakan vila semalam.
Lin Diya berdiri mematung, matanya menatap angka lantai yang terus berganti, sementara tangannya masih digenggam erat—sangat erat—oleh Feng Yan.
"Tuan Feng," suara Diya akhirnya keluar, meski sedikit bergetar. "Lepaskan. Tangan. Saya. Sekarang."
Feng Yan tidak menoleh. Ia justru semakin mempererat genggamannya, menyalurkan aliran energi Qi hangat yang membuat bulu kuduk Diya meremang. "Secara logika hukum yang kau agung-agungkan itu, Diya... seorang tunangan tidak seharusnya meminta pasangannya melepaskan tangan di saat-saat emosional seperti ini."
"TUNANGAN?!" Diya berbalik, menatap wajah narsis di sampingnya dengan mata melotot. "Kapan saya setuju? Itu tadi cuma pengumuman sepihak! Itu penipuan publik! Saya bisa menuntut Anda atas pencemaran nama baik dan manipulasi status sipil!"
TING!
Pintu lift terbuka tepat di lantai paling atas. Feng Yan menarik Diya keluar menuju ruang kantornya yang sangat luas, dengan dinding kaca transparan yang memperlihatkan seluruh pemandangan kota Kulai dari ketinggian. Ia baru melepaskan tangan Diya setelah mereka berada di tengah ruangan.
Feng Yan berjalan santai menuju kursi kebesarannya, lalu duduk dengan gaya angkuh yang sangat menyebalkan namun entah kenapa terlihat sangat tampan. "Tuntutlah. Tapi ingat, pengacara terbaik di kota ini sekarang sedang berdiri di depanku, dan dia adalah tunanganku. Kau mau menuntut dirimu sendiri?"
"Anda benar-benar sakit jiwa!" Diya melempar map kulit hitamnya ke atas meja kerja Feng Yan yang terbuat dari marmer hitam. "Kita punya kesepakatan untuk menjatuhkan Feng Yao, bukan untuk membuat drama pernikahan nasional! Apa tujuan Anda sebenarnya, Feng Yan?"
Feng Yan terdiam sejenak. Tatapan matanya yang tadi jenaka berubah menjadi sangat dalam dan gelap, persis seperti samudera di malam hari. Ia berdiri, berjalan perlahan mendekati Diya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma parfum kayu cendana dan sedikit bau asap sisa ledakan dari tubuh Feng Yan menyerang indra penciuman Diya.
"Tujuanku?" suara Feng Yan merendah, berat dan penuh penekanan. "Logikanya sederhana, Diya. Musuh-musuhku tidak akan berhenti hanya karena Feng Yao masuk penjara. Mereka akan mengincar titik lemahku. Dan semalam, saat kau menarikku keluar dari kobaran api dengan gaun merahmu yang sobek itu... aku sadar satu hal."
Feng Yan mengangkat tangannya, merapikan anak rambut Diya yang berantakan dengan gerakan yang sangat lembut—berbanding terbalik dengan kekuatannya saat menghajar penjaga tadi.
"Kau bukan lagi sekadar pengacara bagiku. Kau adalah satu-satunya orang yang memegang kunci akses ke sistem pertahananku. Menjadikanmu tunanganku adalah cara tercepat untuk memberitahu dunia: Sentuh dia, maka aku akan meratakan kotamu."
Diya tertegun. Jantungnya berkhianat lagi, berdetak kencang menabrak rusuknya. "Tapi saya bukan barang yang bisa Anda jadikan tameng atau simbol kekuasaan, Tuan Feng."
"Aku tahu," Feng Yan tersenyum miring, senyum yang membuat Diya ingin marah tapi sekaligus ingin... ah, lupakan. "Itulah sebabnya aku tidak memintamu menjadi tameng. Aku memintamu menjadi penguasa hukum di sampingku. Aku yang akan menjadi pedangnya, dan kau yang akan menjadi otaknya. Bukankah itu kolaborasi yang logis?"
Tiba-tiba, pintu kantor terbuka tanpa diketuk. Reyhan masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya tampak panik meski masih terlihat keren dengan seragam taktisnya.
"Yan! Kita punya masalah!" Reyhan berhenti mendadak saat melihat posisi Feng Yan dan Diya yang sangat dekat. "E-eh... maaf, apa aku mengganggu waktu 'akses langit' kalian?"
Diya langsung menjauh tiga langkah dari Feng Yan, wajahnya merah padam. "Tidak! Tidak ada apa-apa! Ada apa, Inspektur Reyhan?"
Reyhan berdeham, mencoba kembali serius. "Feng Yao memang sudah di tangan kami, tapi Sekretaris Han menghilang. Dan yang lebih gila lagi... gudang penyimpanan Mandala Group yang baru saja kau akuisisi, Yan... baru saja dibobol. Bukan oleh manusia."
Feng Yan menyipitkan matanya. Kilatan emas muncul sesaat di manik matanya. "Bukan manusia?"
"CCTV menunjukkan bayangan hitam yang bergerak seperti asap. Mereka mengambil 'Proyek Pandora' yang kau simpan di sana," lapor Reyhan sambil menyodorkan tablet digital.
Feng Yan melihat rekaman itu, lalu ia menoleh ke arah Diya yang juga tampak bingung. "Sepertinya waktu bulan madu kita harus ditunda, Sayang. Tikus-tikus yang lebih besar mulai keluar dari lubangnya."
Diya menghela napas panjang, merapikan gaun merahnya yang kusam. "Jangan panggil saya 'Sayang'! Dan secara hukum, jika proyek itu hilang di bawah pengawasan Mandala, maka saya sebagai pengacaranya harus ikut bertanggung jawab menyelidikinya."
Feng Yan tertawa bangga. "Itulah calon permaisuriku. Galak, teliti, dan tidak mau kalah."
Feng Yan mengambil kacamata hitamnya, kembali ke mode CEO sakti yang mematikan. "Reyhan, siapkan tim. Diya, kau ikut di mobilku. Kita akan tunjukkan pada 'bayangan' itu, apa jadinya jika mereka mencuri barang milik Feng Yan."
Diya hanya bisa mengurut keningnya. Menjadi pendamping hidup pria ini ternyata jauh lebih melelahkan daripada menghadapi sepuluh sidang korupsi sekaligus. Tapi di dalam hatinya, ada percikan adrenalin yang mulai membara.
"Baiklah, Tuan Feng. Tapi ingat, biaya lembur saya untuk kasus 'makhluk asap' ini akan saya tagih sepuluh kali lipat!"
"Ambil seluruh sahamku jika kau mau, Mutiara," sahut Feng Yan santai sambil menarik tangan Diya menuju pintu keluar.
Babak baru telah dimulai. Puncak tahta tidak lagi hanya soal uang dan saham, tapi soal misteri yang melampaui batas nalar manusia. Dan duo detektif—sang CEO sakti dan pengacara galak—siap untuk mengguncang dunia sekali lagi.