NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Jahat Menentang Langit

Perjalanan Dewa Jahat Menentang Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.

Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Aku menantangmu bertarung!

Bagian pinggiran Sekte Qingyun.

Tempat itu sunyi.

Tidak banyak murid yang berani mendekat, bukan karena dilarang, namun karena aura di sana terasa berbeda. Lebih padat. Lebih berat. Energi spiritual di udara begitu kental hingga membuat napas terasa sedikit dalam tanpa disadari.

Pepohonan tumbuh lebat, saling menutupi langit, hanya menyisakan celah-celah kecil tempat cahaya masuk. Angin yang berhembus pun terdengar lebih dalam, seperti bergema di antara batang-batang tua.

Di tengah semua itu—

berdiri sebuah bangunan.

Menara Huayun.

Tinggi, kokoh, dengan dinding batu yang dipenuhi ukiran formasi kuno. Aura spiritual mengalir di sekelilingnya seperti kabut tipis yang terus bergerak. Dari luar saja sudah terasa tekanannya.

Di dalamnya—

Yun Zhu duduk tepat di pusat.

Tubuhnya tegak.

Tak bergerak.

Namun energi di sekitarnya tidak demikian.

Energi spiritual yang melimpah di dalam menara itu tersedot ke arahnya seperti badai yang berpusat pada satu titik. Masuk ke dalam tubuhnya, disaring, dimurnikan, lalu mengalir mengikuti jalur meridian yang sudah ia buka.

Cepat.

Namun tetap stabil.

Kedua tangannya terangkat di depan dada.

Membentuk segel.

Jari-jarinya bergerak halus, menyusun pola-pola kuno yang ia pelajari. Setiap perubahan kecil pada segel itu langsung memengaruhi aliran Qi di dalam tubuhnya.

Lalu—

tekanan pertama datang.

Dari dalam.

Energi spiritual yang terkumpul tiba-tiba melonjak, mendorong keluar dengan kekuatan besar.

BOOM!

Getaran kuat menyebar dari menara.

Udara di sekitarnya bergetar.

Pepohonan bergoyang hebat, dedaunan berjatuhan seperti hujan hijau.

Di atas langit—

awan terbelah.

Energi itu menembus ke atas, membentuk cahaya kemerahan yang mencolok, membelah langit biru seperti luka yang terbuka.

Fenomena itu tidak bisa disembunyikan.

Seluruh sekte—

merasakannya.

Di berbagai sudut, para murid berhenti dari aktivitas mereka. Kepala mereka serempak menoleh ke arah pinggiran sekte.

"Lihat!"

Suara itu pecah di antara kerumunan.

"Apakah itu fenomena Foundation Establishment?!"

Nada terkejut, bahkan ada yang sedikit gemetar.

"Gila! Siapa yang sedang menerobos alam!"

Bisik-bisik langsung menyebar.

Cepat.

Seperti api yang menjalar.

Semua mata tertuju ke arah Menara Huayun.

"Apa jangan-jangan itu Senior Tian Peng? Kudengar akhir-akhir ini dia telah mencapai puncak Qi Refining!"

"Atau mungkin, Senior Yuan?"

Nama-nama mulai disebut.

Semua mengarah pada satu hal.

Jenius.

Hanya mereka yang dianggap luar biasa yang mungkin bisa menimbulkan fenomena sebesar itu.

Tidak ada satu pun—

yang menyebut nama Yun Zhu.

Di dalam menara—

Yun Zhu masih duduk.

Matanya terpejam.

Namun alisnya sedikit berkerut.

Tekanan itu belum selesai.

Itu baru awal.

Energi di dalam tubuhnya terus meningkat, menekan batas yang selama ini mengurungnya.

"Foundation Establishment... aku datang."

Suara itu tidak keluar dari mulut Yun Zhu.

Namun bergema jelas di dalam dirinya.

Dalam sekejap—

BOOM!

Getaran kedua meledak.

Lebih kuat.

Lebih dalam.

Gelombang energi spiritual menyebar keluar dari Menara Huayun seperti riak besar di permukaan danau yang tenang. Udara berdesir keras, dedaunan tersapu hingga beterbangan liar, bahkan tanah di sekitar menara bergetar halus.

Gelombang itu meluas.

Mencapai area tengah sekte.

Para murid yang masih memperhatikan langsung merasakan tekanannya.

Beberapa dari mereka refleks mengangkat tangan, Qi mengalir keluar dari tubuh mereka, membentuk lapisan pelindung tipis di depan diri masing-masing.

Angin menabrak.

Tekanan menghantam.

Beberapa mundur setengah langkah, wajah mereka menegang menahan dorongan itu.

Namun—

tidak ada yang terluka.

"Hati-hati, pasti akan ada gelombang energi spiritual lagi nanti!" salah satu dari mereka memperingatkan.

Suaranya cukup keras untuk menembus keramaian.

Yang lain langsung mengangguk, ekspresi mereka berubah serius.

Fenomena ini—

belum selesai.

Sementara itu, jauh lebih dekat ke sumbernya, di salah satu cabang pohon tinggi yang menghadap langsung ke Menara Huayun...

Tianqiong duduk santai.

Satu kakinya menjuntai ringan, yang lain ditekuk di atas cabang. Tubuhnya bersandar sedikit pada batang pohon, seolah tempat ini hanyalah lokasi hiburan baginya.

Rambut hitamnya tertiup angin.

Helai-helainya bergerak lembut, sesekali menyentuh pipinya.

Ia menarik napas pelan.

Dada dan bahunya sedikit terangkat.

Energi spiritual di sekitarnya begitu padat hingga terasa hampir seperti kabut. Ia tidak menyerapnya secara aktif, namun tetap saja sebagian kecil mengalir masuk ke dalam tubuhnya secara alami.

"Meski sedikit menyesakkan, tapi ini tempat yang sangat cocok," gumamnya.

Matanya menyipit tipis.

Menikmati.

Namun perhatiannya tidak hanya tertuju pada menara.

Kesadaran ilahi-nya menyebar luas, menyentuh area sekte yang lebih jauh.

Lalu—

ia menemukan sesuatu.

Di bagian tengah sekte.

Wang Chen.

Dan rombongannya.

Mereka berdiri di antara kerumunan murid, menatap ke arah fenomena dengan ekspresi tegang dan penasaran.

Tianqiong mengangkat alisnya sedikit.

Bibirnya melengkung.

"Untungnya Yun Zhu tidak berada di luar. Jadi bocah Wang Chen ini tidak akan bisa melihatnya, ini akan menarik... akan jadi kejutan besar untuknya nanti."

Tangannya terangkat.

Jemarinya menyapu rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan halus.

Gerakan sederhana.

Namun dipenuhi keanggunan alami.

Senyumnya perlahan terbentuk.

Manis.

Namun di baliknya—

ada sesuatu yang tajam.

Licik.

"Hahaha!"

Tawanya ringan.

Pendek.

Hanya untuk dirinya sendiri.

Tidak ada yang mendengar.

Tidak ada yang tahu.

Matanya kembali terangkat.

Menatap langit yang mulai berubah oleh fenomena di atas menara.

Awan berputar perlahan.

Warna kemerahan masih membelah langit.

"Tidak lama lagi untukku kembali ke Planet Heavenly Fortune. Saat itu nanti... mungkin ajari Yun Zhu menggunakan penelan inti jiwa."

Suaranya pelan.

Hampir seperti bisikan.

Namun penuh keyakinan.

Ia menarik napas dalam.

Lalu menghembuskannya perlahan.

Senyumnya masih bertahan.

Sementara itu—

di dalam Menara Huayun—

tekanan terus meningkat.

Dan Yun Zhu—

sedang berdiri tepat di ambang perubahan besar dalam hidupnya.

Yun Zhu bergerak.

Perlahan.

Namun setiap gerakannya membawa tekanan.

"Langkah terakhir."

Tangannya terangkat.

Jari-jarinya menggenggam kuat.

Otot di lengannya menegang, Qi di dalam tubuhnya berkumpul liar menuju satu titik.

Lalu

BUGH!

Tinju itu menghantam dadanya sendiri.

Tepat di jantung.

Dalam sekejap

segala sesuatu meledak.

Gelombang energi spiritual terakhir keluar tanpa bisa dibendung. Menyapu keluar dari menara seperti badai yang baru saja terlepas dari belenggu.

BOOOOM!!

Tanah bergetar.

Udara berdesir keras.

Langit di atas Sekte Qingyun bergetar hebat, awan yang sebelumnya terbelah kini berputar liar, cahaya kemerahan memancar semakin terang sebelum akhirnya

retak.

Pecah.

Lalu perlahan mereda.

Gelombang itu menjalar hingga ke tengah sekte.

Para murid yang sudah bersiap langsung menahan.

Qi mereka mengeras di depan tubuh, kaki mereka mencengkeram tanah agar tidak terdorong mundur.

Beberapa terhuyung.

Namun tetap bertahan.

Dan saat gelombang itu akhirnya menghilang

hening.

Sunyi yang berat menyelimuti seluruh sekte.

Semua mata mengarah ke satu titik.

Menara Huayun.

"Sudah berakhir, kan? Orang itu berhasil menerobos?"

Suara lirih memecah keheningan.

"Kelihatannya benar-benar berhasil."

"Kira-kira siapakah dia?"

Bisik-bisik mulai menyebar lagi.

Namun kali ini

penuh tekanan.

Penuh rasa ingin tahu.

Lalu

udara di atas mereka bergetar.

Empat sosok muncul.

Bukan berjalan.

Bukan datang dari jauh.

Namun muncul begitu saja, seperti menembus ruang.

Para tetua.

Mereka berdiri di udara, tubuh mereka tegak tanpa bantuan apapun. Jubah mereka berkibar pelan meski tidak ada angin yang kuat.

Aura mereka menekan.

Membuat murid-murid di bawah tanpa sadar menunduk.

"Tetua sudah tiba!"

"Empat tetua sekaligus?! Tetua Sun, Tetua Meng, Tetua Jiang, dan... Tetua Ning yang cantik!"

Suasana langsung berubah.

Antara kagum.

Dan tegang.

"Murid mana yang tiba-tiba menerobos?" ucap Tetua Jiang, matanya menyapu ke arah menara.

"Tidak tahu. Kalau itu murid senior bukankah mereka akan mengatakannya dulu pada kita?" Tetua Meng membalas, nada suaranya rendah.

Tetua Sun melangkah sedikit ke depan.

Tatapannya tajam.

"Kita tunggu sebentar. Sebentar lagi... kelihatannya ia akan keluar."

Di sampingnya, Tetua Ning hanya berdiri diam. Rambutnya bergerak pelan tertiup angin, wajahnya tenang tanpa ekspresi.

Namun matanya mengamati.

Di bawah

di antara kerumunan murid

Wang Chen berdiri.

Bibirnya terangkat.

Senyumnya licik.

"Pasti salah satu Seniorku telah menerobos!" suaranya bergema dalam hati. "Dengan ini... aku punya dukungan lebih besar, hahahaha!"

Ia menyilangkan tangan.

Dada dibusungkan.

Seolah sudah mendapatkan kekuatan yang bukan miliknya.

Namun

beberapa detik kemudian

udara di depannya berubah.

Halus.

Namun nyata.

Bulu kuduk Wang Chen berdiri.

Senyumnya membeku.

"Apa—"

Retakan kecil muncul di udara.

Seperti kaca yang pecah.

KRAK.

Dan dalam satu kedipan

sesosok muncul.

Yun Zhu.

Tepat di hadapannya.

Tanpa suara.

Tanpa peringatan.

Namun membawa tekanan yang berbeda.

Lebih dalam.

Lebih tajam.

Sebelum siapa pun sempat bereaksi

pedang sudah terangkat.

Kilatan hijau melintas.

Ujungnya berhenti tepat di leher Wang Chen.

Hanya sejengkal.

Sedikit saja bergerak darah akan mengalir.

Semua orang terdiam.

Mata mereka melebar.

Napas mereka tertahan.

Bahkan para tetua di udara

baru menyadarinya.

Terlambat.

Wang Chen menegang.

Tubuhnya kaku.

Keringat dingin langsung muncul di pelipisnya.

"I-itu kau!"

Matanya menatap Yun Zhu.

Tidak percaya.

Tidak memahami.

Tidak menerima.

Namun pedang di lehernya

terlalu nyata untuk disangkal.

Angin berhembus pelan.

Membuat ujung rambut Yun Zhu bergerak sedikit.

Tatapannya dingin.

Tenang.

Tanpa emosi berlebih.

"Wang Chen, aku menantangmu bertarung!"

Suara itu menggema.

Jelas.

Kuat.

Menusuk ke dalam keheningan.

Tidak ada yang tertawa.

Tidak ada yang meremehkan.

Tidak ada yang berani bersuara.

Karena semua orang

akhirnya menyadari satu hal.

Orang yang mereka anggap sampah

baru saja muncul dari pusat fenomena itu.

Dan sekarang berdiri di hadapan mereka.

Dengan pedang di leher seseorang.​

1
Huo Ling'er
LANJUTTT~
Huo Ling'er
akhirnya dia naik golden coree🔥🔥🔥🔥🔥
Huo Ling'er
/Determined//Determined/
Fajar Fathur rizky
di tunggu bantai tuan muda Qin dan klan Qin juga thor
Cecilia: klan qin keluarga besar weh, mc blum ada dendam ma keluarga mereka, jdi ngapain
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
thor cepat bantai klan wang dengan cara paling kejam thor terutama wangchen bikin sekte itu ketakutan
Chen Xi
nextt~/Determined//Determined/
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Cantik, pingin lihat versi mominya/Doge/
Cecilia: eithhh
total 1 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Wah, saking cantiknya sampai deskripsinya sepanjang ini😌
Cecilia: beda bangun kalau deskripsiin cwo🗿
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
thor cepat bantai klan wang
Fajar Fathur rizky
thor cepat bantai klan wang dengan cara paling kejam termasuk wangchen
Cecilia: sip, sedang ditulis🔥🔥
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
thor istri mcnya berapa
Cecilia: dua yg paling disayangi, satu tianqiong, satunya udh muncul cuma blum interaksi. sisanya cuma tambahan aja
total 3 replies
Fajar Fathur rizky
habis klan wang bantai juga klan Qin thor ambil sumber daya mereka
Huo Ling'er
upp
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
kayak milih suami aja🤣
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Saatnya memerah sapi, eh, keuntungan maksudnya /Pray//Doge/
Cecilia: yep, tpi lama sih
total 5 replies
Nadia Annazwa
/Determined//Determined//Determined/
Nadia Annazwa
alamakkk bahaya nihh
Chen Xi
nextt~
Fajar Fathur rizky
thor cepat naikin ranah kultivasi mcnya habis itu bantai klan wang
Cecilia: udh kutulis kok, tinggal up aja, nunggu waktunya
total 1 replies
Chen Xi
nexttt/Determined//Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!