Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Puing-Puing Obsesi
Kilas balik itu menghantam seperti badai salju di tengah gurun. Lima tahun yang lalu, Matthew von Eisenberg bukanlah Jenderal Agung yang tenang dan penuh perhitungan. Di usianya yang kedua puluh dua tahun, ia adalah seorang Perwira muda yang baru saja mencicipi kemenangan pertamanya di perbatasan. Ia pulang ke kediaman utama keluarganya dengan seragam yang gagah dan ego yang sedang mekar-mekarnya.
Di sanalah ia pertama kali melihatnya.
Gadis itu bernama Maira. Ia baru berusia tujuh belas tahun, keponakan dari kepala pelayan setia keluarga Eisenberg. Maira memiliki kecantikan yang tidak biasa, rambutnya berwarna cokelat kemerahan lembut (auburn) yang bergelombang, dan matanya berwarna abu-abu terang secerah langit setelah badai. Ia tampak seperti makhluk rapuh yang tersesat di kemegahan kastel batu itu.
Bagi Matthew yang baru saja meledak hormon pubertasnya dan selalu mendapatkan apa pun yang ia mau, Maira adalah tantangan sekaligus pelarian. Matthew mulai memperhatikan setiap gerak-gerik Maira. Ketertarikan yang awalnya hanya rasa penasaran, berubah menjadi dorongan posesif yang liar sampai usia Matthew yang kedua puluh empat tahun.
"Kau tidak boleh pergi keluar tanpa izin dariku," ucap Matthew muda suatu sore, mencengkeram lengan Maira di lorong paviliun yang sepi.
Maira menatapnya dengan mata abu-abunya yang berkaca-kaca, tubuhnya gemetar. "Tuan Muda, saya hanya ingin menemui Bibi..."
"Bibimu ada di sini, dan kau adalah milik rumah ini. Milikku," jawab Matthew dengan suara rendah yang mengancam.
Matthew tidak tahu cara mencintai dengan benar. Ia dibesarkan untuk menaklukkan, bukan untuk membujuk. Baginya, memiliki Maira adalah sebuah kemenangan mutlak. Namun, ia tahu Maira mencintai pria lain—seorang dokter muda dari keluarga bangsawan rendah yang merupakan cinta pertamanya. Kecemburuan Matthew membakar logikanya. Di usia dua puluh empat tahun yang masih labil, ia memberikan ancaman yang keji.
"Jika kau melarikan diri, atau jika kau berani menatap dokter itu lagi," Matthew berbisik tepat di telinga Maira yang pucat, "Aku akan memastikan bibimu—satu-satunya keluargamu yang tersisa—akan membusuk di penjara bawah tanah karena tuduhan pencurian yang kubuat-buat. Atau mungkin, dia tidak akan pernah bangun lagi besok pagi."
Ancaman itu berhasil mengurung Maira selama berbulan-bulan dalam ketakutan. Maira hanya bisa memohon dan menangis setiap kali Matthew mendekat. Matthew merasa puas melihat air mata itu, ia mengira rasa takut adalah bentuk kepatuhan, dan kepatuhan adalah bentuk cinta.
Hingga tiba saatnya Matthew harus berangkat berperang selama satu tahun. Itu adalah celah yang ditunggu-tunggu. Sang Bibi, yang merasa hancur melihat keponakannya seperti burung dalam sangkar emas yang menyiksa, akhirnya bertindak. Sebelum Matthew pulang, Sang Bibi membantu Maira melarikan diri bersama dokter muda itu ke tempat yang tak terjangkau oleh kekuasaan Eisenberg. Mereka menghilang ditelan bumi tepat sebelum Matthew menginjakkan kaki di rumah.
Kemarahan Matthew saat itu mengguncang seluruh kediaman. Ia mengamuk, menghancurkan perabotan, dan mengirim mata-mata ke seluruh penjuru kerajaan. Namun, Maira telah pergi. Ia telah memilih hidup sederhana namun bebas bersama pria yang ia cintai, daripada hidup dalam kemewahan namun penuh ancaman bersama Matthew.
Satu-satunya orang luar yang melihat kehancuran itu adalah Beatrice. Saat itu, Beatrice adalah tunangan resmi Matthew yang terus diabaikan. Beatrice melihat bagaimana Matthew menghancurkan diri demi seorang pelayan. Itulah alasan Beatrice mundur—bukan karena tidak cinta, tapi karena ia sadar Matthew adalah pria yang tidak waras jika sudah terobsesi. Kini, Beatrice bahagia dengan suaminya yang hanya seorang perwira, namun setidaknya ia dihargai sebagai manusia.
Kekecewaan dan rasa dikhianati itulah yang mengubah Matthew menjadi pria kaku yang menutup rapat hatinya. Ia bersumpah tidak akan pernah membiarkan dirinya merasakan sesuatu lagi, karena perasaan hanya akan membuatnya terlihat bodoh.
Kembali ke Masa Kini (Glanzwald).
Daisy duduk diam di depan meja riasnya setelah kembali dari rumah orang tuanya. Ia menatap pantulan dirinya. Rambut hitam legam, mata cokelat madu. Ia sangat berbeda dengan deskripsi Maira yang berambut merah cokelat dan bermata abu-abu.
"Jadi, dia mencarinya selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menyerah dan menikahiku," bisik Daisy pada cermin.
Ibu dan Nenek Matthew menyetujui pernikahan dengan Daisy bukan hanya karena statusnya setara, tapi karena mereka butuh pembersih nama baik. Daisy adalah keponakan kesayangan Raja. Pernikahan ini adalah tameng diplomatik yang sempurna. Jika Matthew menikah dengan Daisy, dunia akan lupa bahwa dia pernah gila karena seorang pelayan.
Namun, yang tidak disadari Matthew dan juga Daisy adalah: Matthew mulai merasakan dorongan yang berbeda terhadap Daisy.
Jika Maira dulu selalu menangis dan memohon, Daisy tidak pernah melakukannya. Daisy terlalu formal, terlalu anggun, dan memiliki harga diri yang setinggi langit. Meski Daisy pemalu dan tidak berani menatap mata Matthew terlalu lama, ada keberanian yang tenang di balik tatapannya. Daisy tidak bisa dikendalikan dengan ancaman, dia adalah wanita mandiri yang karyanya dipuja dunia.
Tiga tahun setelah benar-benar kehilangan jejak Maira, Matthew mulai merasa penasaran dengan sosok istrinya sendiri, yang ia nikahi satu tahun yang lalu. Ketidakhadiran balasan surat dari Daisy selama sebulan terakhir ini justru membangkitkan insting pemburu di dalam diri Matthew—insting yang dulu ia gunakan untuk mengejar Maira, namun kini sasarannya adalah istrinya sendiri yang jauh lebih berkelas.
"Apakah kau juga akan melarikan diri, Daisy?" Matthew bertanya-tanya di markas militernya saat menatap surat-suratnya yang tak berbalas.
Ia mulai membandingkan. Maira adalah masa muda yang labil dan penuh obsesi yang merusak. Sedangkan Daisy... Daisy adalah wanita yang kehadirannya di Glanzwald memberikan ketenangan yang belum pernah ia rasakan. Ia mulai menyadari bahwa ia tidak ingin Daisy menangis seperti Maira. Ia ingin Daisy menatapnya—meski hanya sesaat—dengan binar yang sama seperti saat Daisy menatap hasil karyanya.
Namun, Daisy kini sudah tahu. Cerita dari Beatrice telah meracuni segalanya.
Daisy berdiri dari meja riasnya, mengambil pita hitam usang yang ia temukan di kotak kayu Matthew. Ia meremasnya.
"Kau menghancurkan hidup seorang gadis karena kau tidak tahu cara mencintai, Matthew," gumam Daisy dengan air mata yang ia tahan di sudut matanya. "Dan sekarang kau ingin mencobanya padaku? Aku bukan Maira yang lemah. Aku tidak akan menangis memohon padamu."
Daisy melempar pita itu kembali ke dalam kotak. Ia merasa muak. Rasa kecewanya bukan lagi karena ia merasa sebagai pajangan, tapi karena ia menyadari bahwa pria yang mulai ia cintai memiliki sisi gelap yang begitu mengerikan. Ia merasa seolah-olah sedang jatuh cinta pada seorang monster yang sedang mencoba memakai topeng manusia.
"Biarkan saja dia penasaran," Daisy memutuskan. "Biarkan dia merasa kehilangan lagi. Kali ini, dia tidak akan bisa mengejarku dengan ancaman, karena aku memiliki dunia di belakangku."
Keheningan di Glanzwald malam itu terasa begitu berat. Di satu sisi, ada seorang Jenderal yang mulai belajar merindu secara tulus namun terhambat masa lalu militannya. Di sisi lain, ada seorang istri jenius yang sedang membangun dinding es lebih tinggi dari sebelumnya.
Kisah ini bukan lagi tentang rasa malu-malu, melainkan tentang pertempuran antara luka lama dan harapan baru yang hampir pupuk.