Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Fajar di Jakarta biasanya membawa harapan, namun pagi ini, cahaya matahari yang menyelinap lewat jendela-jendela yang pecah hanya menelanjangi kehancuran. Rumah Ibu Sekar tampak seperti medan perang antara dua ekosistem yang saling benci.
Lantai ubin yang retak ditumbuhi akar putih yang bercahaya redup, sementara sisa-sisa lumpur hitam dari sosok 'Ibu' mulai mengering dan berbau seperti bangkai binatang yang membusuk di tengah hutan.
Nirmala masih terduduk di tepi ranjang. Matanya kosong, menatap lengannya yang kini dihiasi "jahitan kayu" yang melingkar. Ia mencoba menyentuh bekas luka itu. Rasanya tidak sakit secara fisik, namun ada sensasi aneh seperti ada sesuatu yang berdenyut di bawah permukaan kayu itu. Sesuatu yang hidup, sesuatu yang bukan darah.
"Jangan ditekan, Nir. Kau hanya akan membuatnya semakin 'bangun'."
Nirmala tersentak. Ia menoleh ke arah pintu. Arka berdiri di sana, bersandar pada kusen pintu yang sudah miring. Kain kafan putih masih membalut matanya, namun rembesan darah hitamnya sudah mulai mengering, meninggalkan noda gelap yang kontras. Meski buta, Arka menghadap tepat ke arah Nirmala, seolah-olah ia bisa melihat setiap helai rambut gadis itu.
"Arka... bagaimana kau bisa tahu aku sedang menyentuhnya?" bisik Nirmala, suaranya parau.
Arka tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat menyakitkan di wajahnya yang pucat. "Aku tidak melihat kulitmu, Nir. Aku melihat aliran energinya. Di mataku yang sekarang, kau tampak seperti kumpulan cahaya putih yang terjerat oleh benang-benang hitam. Saat kau menyentuh jahitan itu, benang hitamnya bergetar. Seperti senar gitar yang dipetik."
Nirmala merinding. "Apa yang terjadi pada kita, Arka? Kenapa pengorbananmu tidak menyembuhkanku? Kenapa kayu ini tetap ada?"
Arka melangkah masuk ke kamar. Gerakannya tidak lagi ragu-ragu. Ia berjalan menghindari pecahan kaca di lantai seolah-olah ia memiliki radar di dalam kepalanya. Ia duduk di kursi rotan di sudut kamar, menghela napas panjang yang terdengar seperti gesekan dahan kering.
"Karena 'Biji Purba' itu bukan obat, Nir. Dia adalah jangkar. Dia menahanmu agar tidak ditarik sepenuhnya ke Sandiwayang, tapi dia tidak bisa menghapus apa yang sudah menyatu dengan jiwamu. Kau sekarang adalah jembatan. Antara yang hidup dan yang tumbuh."
Tiba-tiba, suara rintihan terdengar dari ruang tamu. Ibu Sekar mulai sadar. Nirmala dan Arka segera keluar dari kamar.
Ibu Sekar duduk bersandar di dinding, wajahnya masih sangat pucat dengan bekas lilitan akar yang membiru di lehernya. Saat ia melihat Arka dengan mata tertutup kain kafan berdarah, ia menjerit kecil dan menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar.
"Arka... matamu... Ya Allah, apa yang kau lakukan?" tangis Ibu Sekar pecah. Ia merangkak mendekati anaknya, memeluk kaki Arka dengan rasa bersalah yang teramat sangat.
"Ini bukan salah Ibu." Arka mengelus rambut ibunya dengan lembut. "Ini adalah harga yang harus dibayar untuk memutus kontrak palsu itu. Ibu sudah menjaga Nirmala dengan sangat baik. Tanpa doa Ibu, rumah ini sudah rata dengan tanah sebelum aku sampai."
Ibu Sekar mendongak, menatap Nirmala yang berdiri di belakang Arka. Matanya tertuju pada lengan Nirmala yang terjahit kayu. "Nak... dengarkan Ibu. Aki pernah bercerita pada ayah Arka dulu. Jika Biji Purba sudah dikeluarkan, artinya perang yang sebenarnya baru dimulai. Randu Alas di Sandiwayang tidak akan berhenti. Dia telah menandaimu dengan jahitan itu agar dia bisa melacakmu ke mana pun kau pergi."
Nirmala merasa lututnya lemas. "Lalu apa yang harus kami lakukan, Bu? Kami tidak bisa tinggal di sini. Tetangga akan mulai bertanya, dan polisi mungkin akan datang melihat rumah yang hancur ini."
Ibu Sekar mengusap air matanya, ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi sangat serius, seolah-olah ia baru saja mengingat sebuah instruksi lama yang tersimpan di balik ingatannya.
"Kalian harus kembali." kata Ibu Sekar tegas.
"Kembali ke Sandiwayang?" Nirmala memekik. "Itu sama saja dengan menyerahkan diri!"
"Tidak." sela Arka, suaranya berat. "Ibu benar. Kita harus kembali, tapi bukan sebagai tumbal. Kita harus kembali untuk menanam sisa dari Biji Purba ini di 'Ulu Akar' pusat jantung pohon Randu itu. Hanya dengan begitu, energi purba ini bisa 'memakan' Randu Alas dari dalam. Jika kita diam di sini, jahitan di tubuhmu akan terus merambat sampai ke jantungmu, Nir. Dalam tiga hari, kau akan menjadi patung kayu yang bernapas."
Nirmala menatap tangannya. Benar saja, ia melihat serat kayu itu perlahan, sangat perlahan, merayap satu milimeter lebih dekat ke arah bahunya. Kengerian itu kini memiliki jam detik yang terus berdetak di dalam dagingnya sendiri.
Mereka tidak punya banyak waktu. Ibu Sekar memberikan tas berisi perlengkapan darurat: botol-botol air yang sudah dirajah, garam krosok, dan kain mori hitam.
"Pakai ini, Nirmala," Ibu Sekar menyerahkan sebuah selendang hitam panjang. "Tutup jahitan itu. Jangan biarkan sinar matahari langsung mengenainya, karena itu akan mempercepat pertumbuhannya."
Nirmala melilitkan selendang itu ke lengannya, menutupi kengerian yang tersembunyi di sana. Ia melihat Arka yang sedang bersiap. Arka mengganti kain kafan di matanya dengan kain hitam yang lebih bersih, membuatnya tampak seperti seorang pendekar buta dari zaman kuno. Namun, Nirmala tahu, di balik kain itu ada luka yang tidak akan pernah sembuh.
Saat mereka hendak keluar dari pintu rumah yang sudah hancur, Arka tiba-tiba berhenti. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Nirmala diam.
"Ada apa, Arka?" bisik Nirmala.
"Mereka sudah mengirim 'mata-mata' di luar," Arka menunjuk ke arah pohon mangga yang tumbuh di depan rumah tetangga.
Nirmala melihat ke arah pohon itu. Awalnya tidak ada yang aneh, namun saat ia memperhatikan lebih teliti, ia melihat ribuan ulat kayu berwarna putih pucat sedang berkumpul di dahan pohon tersebut. Ulat-ulat itu tidak memakan daun. Mereka semua menghadap ke arah rumah Ibu Sekar, dengan kepala yang bergerak-gerak seolah-olah sedang merekam setiap gerakan mereka.
"Mereka adalah mata dan telinga Sandiwayang," Arka bergumam. "Setiap langkah kita sekarang akan diketahui oleh pohon itu. Kita harus pergi lewat jalur belakang."
Ibu Sekar memeluk mereka berdua untuk terakhir kalinya di depan pintu dapur. "Pergilah. Ibu akan tetap di sini untuk menyesatkan mereka dengan doa. Jika ada yang datang mencari kalian, Ibu akan bilang kalian sudah pergi ke arah laut."
"Jaga diri Ibu baik-baik." Arka mencium tangan ibunya.
Mereka pun melangkah keluar, menembus gang-gang sempit yang masih gelap sebelum matahari benar-benar tinggi. Jakarta yang biasanya terasa ramai kini terasa seperti labirin yang penuh dengan jebakan. Bagi Arka, setiap pohon di pinggir jalan kini tampak seperti menara pengawas yang mengancam.
Mereka menggunakan mobil sewaan agar tidak mencolok. Arka duduk di kursi penumpang, kepalanya sedikit mendongak, matanya yang tertutup kain hitam seolah memindai udara di depan mereka. Nirmala yang menyetir, tangannya yang normal mencengkeram kemudi dengan kuat, sementara tangannya yang terjahit kayu terasa berat dan dingin di pangkuannya.
"Arka, apa yang kau lihat sekarang?" tanya Nirmala untuk memecah kesunyian yang menyesakkan.
"Aku melihat 'urat-urat' bumi, Nir." jawab Arka pelan. "Jalan raya yang kita lewati ini... di bawahnya ada jalur-jalur hitam yang mengalir menuju arah yang sama dengan kita. Sandiwayang sedang menarik semua energi kembali ke pusatnya. Semakin dekat kita ke sana, semakin kuat tarikannya."
"Kau menyesal, Arka? Kau kehilangan matamu karena aku."
Arka terdiam sejenak. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca mobil. "Menyesal? Tidak. Aku justru merasa lebih 'melihat' sekarang. Selama ini, mata manusiaku tertipu oleh kulit dan wajah yang cantik. Sekarang, aku melihat kebenaran. Aku melihat ketakutanmu yang berwarna biru pucat, dan aku melihat keberanianmu yang mulai tumbuh dengan warna merah redup."
Nirmala tertegun. Ia tidak pernah mengira ketakutan bisa memiliki warna.
"Tapi ada satu hal yang mengkhawatirkanku, Nir." lanjut Arka, suaranya merendah. "Jantungmu. Bunyi detaknya semakin tidak teratur. Setiap kali kau merasa takut, denyut 'kayu' itu mencoba menyamai detak jantung manusiamu. Jangan biarkan mereka selaras. Jika detak jantungmu dan detak kayu itu berdenyut bersamaan, maka raga manusia milikmu akan menyerah."
Nirmala mencoba mengatur napasnya. Ia mengingat kata-kata Ibu Sekar: "Selama kau bisa merasakan sakit, kau tetaplah manusia."
Saat mereka keluar dari wilayah Jakarta dan memasuki perbatasan Jawa Barat menuju arah Jawa Tengah, kabut mulai turun. Bukan kabut pegunungan yang segar, melainkan kabut yang berbau seperti getah Randu yang dibakar.
Jalanan yang tadinya ramai dengan truk dan bus kini perlahan-lahan menjadi sunyi. Satu per satu kendaraan lain menghilang, seolah-olah mobil mereka telah memasuki sebuah dimensi yang berbeda. Sinyal ponsel Nirmala hilang total. GPS di layar dasbor mobil mulai berputar-putar tidak menentu sebelum akhirnya mati dengan suara statis yang berisik.
"Kita sudah masuk ke wilayah pengaruhnya." Arka memperingatkan. tangannya memegang botol air dari Ibu Sekar. "Nir, apa pun yang kau lihat di tengah jalan nanti, jangan berhenti. Jangan injak rem meskipun kau merasa menabrak seseorang."
Nirmala menelan ludah. "Apa maksudmu?"
Belum sempat Arka menjawab, di depan mobil mereka, di tengah kabut yang pekat, muncul sesosok anak kecil yang berdiri diam. Anak itu mengenakan baju compang-camping dan membelakangi mobil. Saat mobil semakin dekat, anak itu berbalik perlahan.
Wajah anak itu tidak memiliki hidung atau mulut. Di wajahnya hanya ada lubang-lubang kecil tempat tunas-tunas kayu baru saja mekar.
"JANGAN MENGEREM, NIR! TABRAK!" teriak Arka.
Nirmala memejamkan mata, menginjak pedal gas lebih dalam.
DUAK!
Tidak ada suara benturan logam dengan daging. Yang terdengar adalah suara dahan kering yang patah dan suara tawa anak kecil yang melengking di dalam kabin mobil, seolah-olah suara itu datang dari bawah jok mereka.
Nirmala gemetar hebat, namun ia terus memacu mobilnya. Di kaca spion, ia melihat anak itu hancur menjadi tumpukan serbuk gergaji yang diterbangkan angin kabut.
"Itu baru permulaan, Nir." bisik Arka, tangannya meraba lengan Nirmala yang terjahit kayu. "Mereka tahu kita membawa Biji Purba. Dan mereka tidak akan membiarkan kita sampai ke gerbang Sandiwayang dalam keadaan waras."
Pola jahitan di lengan Nirmala tiba-tiba berdenyut kencang. Untuk pertama kalinya, Nirmala merasakan sebuah bisikan langsung di dalam otaknya, suara yang berat dan purba, suara dari sang Randu Alas itu sendiri:
"Anakku yang hilang... selamat datang di rumah."