NovelToon NovelToon
SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

SENI TRANSMUTASI TULANG PURBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: 秋天(Qiūtiān)

Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: BADAI PERAK DI LERENG ES

Angin kencang menderu di lereng Gunung Salju Abadi, membawa butiran es yang tajam bagaikan ribuan jarum. Suhu di ketinggian ini sanggup membekukan darah manusia fana dalam hitungan menit, namun bagi empat puluh kultivator yang sedang mendaki, dingin bukanlah hambatan. Mereka adalah pasukan gabungan: sepuluh murid elit penegak hukum Klan Han dan tiga puluh tentara bayaran dari Sekte Gagak Hitam. Di depan mereka, memimpin dengan jubah bulu serigala, adalah Tetua Ketiga Klan Han, Han Zong—seorang ahli tahap Pusaran Bumi tingkat sembilan yang terkenal kejam.

"Tetua, jejaknya menghilang di sini," lapor seorang pramuka, napasnya beruap tebal di udara dingin. "Pilar cahaya perak itu berasal dari puncak, tapi sejak itu, tidak ada tanda-tanda kehidupan."

Han Zong mendengus, matanya yang kecil dan licik memindai kabut salju. "Bocah itu tidak punya dantian. Seberapa kuat pun sihir yang dia gunakan, tubuhnya pasti sudah mencapai batasnya setelah memicu fenomena langit sebesar itu. Dia pasti sedang bersembunyi di suatu tempat, gemetar karena kehabisan tenaga. Temukan dia! Siapa pun yang membawa kepalanya akan mendapatkan seratus batu energi tingkat menengah!"

Sorakan penuh keserakahan membahana, menyaingi suara badai. Namun, sorakan itu terhenti seketika saat sebuah suara datar dan dingin memotong angin.

"Kalian mencari kepala yang salah."

Semua orang tersentak. Mereka berbalik serentak ke arah sumber suara. Di atas sebuah bongkahan es raksasa, berdiri seorang pemuda. Han Jian tidak lagi memakai baju atas, menyingkapkan tubuh yang seolah-olah dipahat dari logam mulia. Kulitnya tidak memucat karena kedinginan; sebaliknya, uap tipis keluar dari pori-porinya saat panas dari sumsum tulang peraknya bersentuhan dengan udara beku.

"Han Jian!" Han Zong berteriak, matanya berkilat serakah melihat perubahan fisik keponakannya. "Kau benar-benar beruntung mendapatkan warisan di atas sana. Serahkan teknik itu, dan aku akan membiarkanmu mati sebagai anggota klan."

Han Jian melompat turun dari bongkahan es, mendarat di atas salju tanpa menimbulkan suara sedikit pun—sebuah kontrol berat tubuh yang sempurna. "Klan Han sudah mati bagiku saat kalian meracuni ibuku dan mengkhianati ayahku. Hari ini, kalian bukan sedang menangkap buronan. Kalian sedang memasuki kuburan kalian sendiri."

"Sombong! Serang dia!" perintah Han Zong.

Dua belas tentara bayaran dari Sekte Gagak Hitam merangsek maju. Mereka menggunakan rantai pengait yang ujungnya berlumuran racun. Rantai-rantai itu melesat seperti ular, mencoba melilit kaki dan tangan Han Jian.

Han Jian hanya tersenyum tipis. Ini adalah saat pertama ia menguji Langkah Bayangan Tulang.

Syuut!

Dalam sekejap, tubuh Han Jian menghilang. Para tentara bayaran itu hanya melihat bayangan perak yang samar. Sebelum mereka sempat menarik kembali rantai mereka, Han Jian sudah berada di tengah-tengah mereka.

"Terlalu lambat," bisik Han Jian.

Ia mengayunkan lengannya secara horizontal. Gerakan itu begitu cepat hingga menciptakan bilah udara tajam yang diperkuat oleh frekuensi perak dari tulangnya.

SLASH!

Lima kepala terpisah dari tubuhnya seketika, bahkan sebelum setetes darah pun sempat membeku. Han Jian tidak berhenti. Ia bergerak di antara kerumunan seperti hantu. Setiap pukulan yang ia lepaskan tidak lagi hanya menghancurkan daging, tapi mengirimkan gelombang kejut yang merambat langsung ke kerangka lawan, menghancurkan tulang mereka menjadi serpihan dari dalam.

"Apa yang terjadi?! Gunakan Formasi Perisai!" teriak Han Zong panik.

Para murid Klan Han segera berkumpul, menyatukan Qi mereka untuk membentuk perisai energi berwarna biru pucat. Namun, Han Jian justru berlari lurus ke arah perisai itu. Ia mengepalkan tangan kanannya, dan cahaya perak di lengannya berkumpul di ujung tinjunya, membentuk titik cahaya yang sangat padat.

"Seni Tulang: Palu Penghancur Langit!"

BOOOOOMM!

Hantaman itu menciptakan ledakan sonik yang menyapu salju di sekitar mereka hingga menyingkap tanah berbatu di bawahnya. Perisai Qi yang seharusnya bisa menahan serangan tingkat Pusaran Bumi puncak itu hancur berkeping-keping seperti porselen. Sepuluh murid yang menopang perisai itu terlempar ke segala arah, tulang rusuk mereka remuk seketika karena recoil energi yang luar biasa.

Dalam waktu kurang dari lima menit, empat puluh orang yang tadinya sombong kini tinggal satu yang berdiri: Han Zong.

Tetua Ketiga itu gemetar hebat. Pedang di tangannya berdenting karena tangannya yang tak terkendali. "Kau... kau bukan manusia... Kau monster! Tidak mungkin kekuatan fisik bisa melampaui Qi!"

Han Jian berjalan mendekat, langkahnya meninggalkan lubang di tanah berbatu. Aura peraknya kini meluap, menciptakan tekanan gravitasi yang membuat Han Zong jatuh berlutut.

"Kalian menyebutku sampah karena aku tidak memiliki wadah untuk menampung Qi," ucap Han Jian, suaranya terdengar seperti lonceng kematian. "Tapi kalian lupa bahwa wadah memiliki batas. Sedangkan tulangku... tulangku adalah fondasi yang menopang dunia ini."

Han Jian mencengkeram leher Han Zong dan mengangkatnya ke udara dengan satu tangan.

"Jangan bunuh aku... aku hanya mengikuti perintah Tetua Agung..." rengek Han Zong, wajahnya membiru.

Han Jian menatap mata pria itu dengan tatapan peraknya yang hampa. "Aku tidak akan membunuhmu di sini, Paman. Itu terlalu mudah."

Han Jian menyalurkan energi peraknya yang tajam ke dalam empat persendian utama Han Zong—bahu dan pangkal paha. Suara krak yang mengerikan bergema di lereng gunung saat Han Jian secara sistematis menghancurkan sendi-sendi itu hingga tak mungkin bisa dipulihkan, bahkan dengan pil dewa sekalipun.

Ia melempar tubuh Han Zong yang kini lunglai seperti boneka kain ke atas salju.

"Kembalilah ke klan. Merangkaklah jika perlu," kata Han Jian dingin. "Katakan pada Tetua Agung untuk mencuci lehernya dan menyiapkan peti mati untuk setiap anggota klan yang masih setia padanya. Dalam tujuh hari, aku akan sampai di gerbang utama. Dan hari itu, matahari tidak akan terbit untuk Klan Han."

Han Jian berbalik, jubah peraknya (yang terbentuk dari energi murni) berkibar. Ia menghilang ke dalam badai salju, meninggalkan Han Zong yang menjerit dalam penderitaan dan kehinaan di tengah tumpukan mayat rekan-rekannya.

Han Jian tahu bahwa dengan membiarkan Han Zong hidup, ia telah memulai perang psikologis. Ketakutan adalah racun yang lebih mematikan daripada pedang mana pun. Sekarang, tujuannya hanya satu: menyerap sisa-sisa esensi perak di dalam tubuhnya dan mempersiapkan diri untuk konfrontasi terakhir di markas besar klan.

Dunia mungkin mengenalnya sebagai pemuda tanpa dantian, tapi segera, mereka akan mengenalnya sebagai orang yang meruntuhkan langit hanya dengan kekuatan tulang.

1
Malik Junjung
critanya trlalu ringkas...
Malik Junjung
yach... mnurut sy sich drpd ikut ujian kdewasaan mnding klwr dri klan... drod pmer kekuatn....
angin kelana
bab selanjutnya semoga lebih seru lg..
秋天(Qiūtiān): di tunggu ya teman teman
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!