Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Sabotase ROI
"Enak saja nyuruh balik ke kantor! Ini waktu santai, Pak!" tolak Aluna tegas. Tangannya mencengkeram ponsel bututnya kuat-kuat. "Jam kerja sudah habis dari tadi sore. Ingat aturan departemen tenaga kerja, Pak! Lembur dadakan tanpa pemberitahuan itu pelanggaran hak asasi karyawan!"
"Aluna, selisih dua ribu ini..."
"Dua ribu perak tidak akan bikin Diwantara Group gulung tikar besok pagi!" potong Aluna cepat, napasnya memburu menahan kesal. "Aku lagi sibuk urusan pribadi, Pak. Bapak jangan merusak selera makanku dengan membahas uang parkir! Sudah ya, Pak. Daging wagyu (daging sapi premium) gratisanku keburu gosong nih. Assalamualaikum!"
Aluna langsung menekan tombol merah di layar ponselnya tanpa menunggu balasan sang bos besar. Dia menghela napas panjang, lalu meletakkan ponsel itu dengan posisi tengkurap di atas meja.
Dika yang duduk di seberang meja menatap Aluna dengan alis terangkat tinggi. Mulutnya sedikit terbuka. "Itu tadi Pak Elvano? Bos kamu yang terkenal super galak itu?"
"Iya, Mas. Maaf ya jadi ganggu suasana," Aluna tersenyum canggung sambil buru-buru membalik daging di atas panggangan. "Bosku itu memang tidak punya hati nurani. Hitungannya lebih kejam dari rentenir pasar. Bayangkan saja, sekarang dia meributkan selisih nota dua ribu perak di jam istirahat. Benar-benar gila kerja."
Dika tertawa kecil, menggelengkan kepalanya pelan. "Kamu hebat juga berani mematikan telepon bos besar seperti itu. Aku kalau jadi kamu pasti sudah gemetar ketakutan."
"Ah, biarkan saja. Lama-lama juga capek sendiri dia," sahut Aluna santai. "Ayo, Mas Dika, makan lagi dagingnya. Jangan sampai kita rugi bandar di tempat all you can eat (makan sepuasnya) ini."
Baru saja Aluna memasukkan sepotong daging berlapis saus ke dalam mulutnya, ponsel bututnya yang tengkurap kembali bergetar. Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali tanpa henti. Layar retaknya memantulkan cahaya berkedip ke meja.
Ting! Ting! Ting! Ting!
Aluna mengunyah dagingnya dengan rahang mengeras. Dia mengabaikan notifikasi itu selama satu menit penuh. Tapi ponselnya terus menjerit minta diperhatikan seolah mau meledak.
"Coba dilihat dulu, Aluna. Siapa tahu memang ada keadaan darurat di kantor," bujuk Dika merasa tidak enak hati melihat ponsel itu bergetar heboh.
Dengan wajah berlipat parah, Aluna membalik ponselnya. Matanya melotot membaca rentetan pesan obrolan dari nomor Elvano yang masuk bertubi-tubi.
[Rincian nota fotokopi bulan lalu mana?]
[Kenapa pemakaian tinta pencetak divisi marketing boros sekali? Pasti dipakai untuk cetak dokumen pribadi!]
[Kertas putih bekas rapat direksi kemarin dibuang atau didaur ulang?]
[Aluna, balas pesan ini.]
[Jelaskan rincian biaya galon air mineral lantai tiga. Kenapa harganya beda lima ratus rupiah dari lantai dua?]
[Kamu membaca pesanku?]
[Angkat teleponnya sekarang atau aku potong gajimu.]
Aluna memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Pertanyaan-pertanyaan itu sama sekali tidak penting dan tidak darurat! Elvano jelas sengaja menerornya dengan hal remeh-temeh hanya karena egonya terluka lantaran teleponnya dimatikan paksa.
"Ada masalah besar?" tanya Dika khawatir.
"Masalah besar dari Hongkong!" gerutu Aluna kesal. Jari-jarinya langsung menari cepat di atas layar retaknya, mengetik balasan dengan penuh emosi membara.
[Pak Bos yang terhormat, ini waktu santai. Libur! Pertanyaan Bapak soal galon dan kertas bekas itu bisa dijawab hari Senin! Tolong hargai waktu pribadi karyawan Bapak!]
Hanya butuh dua detik bagi Elvano untuk membalas pesan tersebut.
[Ini mendesak. Dokumen audit harus selesai sekarang. Balik ke kantor atau surat peringatan pertama menunggumu di meja besok pagi.]
Aluna mendengus kasar. Ancaman surat peringatan selalu jadi senjata andalan bos kulkas itu. Darah Aluna mendidih sampai ke ubun-ubun. Dia melirik piringnya yang masih penuh dengan daging mentah siap panggang. Dia tidak akan menyerahkan makan malam gratis ini begitu saja!
[Kalau memang mendesak banget, Bapak saja yang ke mari bawa berkasnya! Aku lagi makan daging gratis! Titik!]
Aluna menekan tombol kirim, lalu langsung mematikan daya ponselnya. Layar hitam seketika. Selesai. Tidak akan ada lagi teror menyebalkan malam ini.
"Sudah beres, Mas Dika," ucap Aluna sambil tersenyum lebar seolah baru saja memenangkan lotre miliaran rupiah. "Mari kita lanjutkan pesta daging ini!"
Dika hanya bisa meringis melihat keberanian luar biasa dari gadis di depannya ini. Mereka berdua kembali fokus membolak-balik daging di atas panggangan.
Waktu terus berlalu. Sekitar sepuluh menit kemudian, suasana restoran yang cukup ramai itu mendadak dipecahkan oleh suara bising dari luar jalan raya.
Ciiiittt!
Suara rem ban mobil berdecit sangat keras, bergesekan dengan aspal jalan tepat di depan restoran kaca tempat Aluna dan Dika duduk. Suaranya memekakkan telinga.
Beberapa pengunjung langsung menoleh ke arah jendela besar itu karena terkejut. Tukang parkir restoran sampai melompat mundur ketakutan melihat mobil berhenti mendadak tanpa aba-aba.
Aluna ikut menoleh dengan sumpit masih menggantung di depan mulut.
Sebuah mobil sport berwarna hitam legam yang sangat mewah dan mengkilap terparkir asal-asalan, memakan separuh jalan masuk restoran. Pintu pengemudi terbuka ke atas dengan gaya sayap burung.
Sesosok pria jangkung berbalut kemeja hitam yang lengannya digulung paksa, turun dari mobil itu dengan wajah segelap badai. Rahangnya mengeras tajam, matanya menyorot langsung menembus kaca restoran, mencari targetnya. Di tangan kanannya, pria itu menenteng sebuah map tebal berwarna biru.
Sumpit kayu di tangan Aluna meluncur jatuh ke atas meja. Matanya membulat sempurna melihat pria yang baru saja turun dari mobil mahal tersebut.
Bos kulkasnya benar-benar datang membawa berkas.