NovelToon NovelToon
Pernikahan Perawan Tua

Pernikahan Perawan Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Berondong
Popularitas:30.3k
Nilai: 5
Nama Author: Franciarie

"Pantesan jadi perawan tua, kaku banget, sih!"

Komentar senada sudah menjadi makanan harian Prita. Tapi, Prita nggak punya energi lebih untuk membalas kata-kata jahat itu. Pada akhirnya, Prita selalu diam dan memahami bahwa memang kenyataan sepahit ini. Di usianya yang sudah 35 tahun, pernikahan masih terasa jauh dari bayangan. Jangankan menikah, pacar pun Prita nggak punya.

Tapi, permintaan ayahnya yang sedang sakit kanker, membuat Prita mulai memikirkan pernikahan. Haruskah dia menikah dengan sembarang orang demi melihat sang ayah bahagia di detik-detik terakhir hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franciarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ledakan Tertahan

"Anak gue pulang sambil nangis. Katanya, dipukul Cia." Bu Bambang menurunkan tangan anaknya yang sejak tadi menutupi pipi kiri. "Sebentar, Dek! Tunjukkin pipinya biar mereka tahu seberapa sadis anaknya. Enak aja gampar anak orang. Gue aja nggak pernah mukul anak gue. Ini malah ada anak setan seenaknya main nampar aja." Suaranya sama sekali nggak merendah, padahal aku sudah berusaha memintanya tenang. Kata-katanya semakin pedas dan kejam.

Aku nggak bisa tersenyum ramah lagi saat melihat pipi Dea yang merah. Tenaga Cia luar biasa banget sampai menyisakan bekas telapak tangannya di pipi Dea.

"Mbak," bisik Ibu lirih sambil mencengkeram tanganku.

Aku mengusap punggung tangan Ibu. Nggak ada yang kukatakan karena aku sendiri bingung. Lebih baik menghadapi Tama yang tertangkap polisi daripada aku harus berurusan dengan bocah seumuran Cia yang menangis kesakitan begini. Ini baru pertama kali dan aku nggak punya bayangan gimana cara menghadapinya.

Aku menarik napas dalam. "Maaf, Bu Bambang. Apa benar ini ulah Cia?" tanyaku secara perlahan.

"Maksudnya apa?" sahut Bu Bambang dengan lantang. "Lo nuduh anak gue bohong? Ngapain dia bohong sampai ngelukain diri sendiri gini? Lihat! Emangnya nggak sakit ditampar sampai berbekas gini? Mana itu bocah? Suruh keluar! Biar gue bales sekarang juga! Biar dia juga ngerasain sakitnya."

"Tenang dulu, Bu!" pintaku sambil mengangkat dua tangan yang membuka di depan dada. "Kita bicarakan ini baik-baik."

Mata Bu Bambang menyipit. Dia tersenyum sinis. "Bicara baik-baik apa? Belum-belum lo udah nuduh anak gue bohong. Di sini, anak gue yang jadi korban. Bisa-bisanya malah lo fitnah gini."

Aku mendorong gelas berisi es sirup lebih mendekat ke Bu Bambang. Aku tahu amarahnya sedang tinggi banget. Aku cuma perlu mendengarkan tanpa membantah apa pun. Tapi, aku juga harus mencari tahu seperti apa kejadian yang sebenarnya.

Selama ini, Cia nggak pernah membuat ulah. Dia anak yang cukup pendiam. Cia lebih suka bermain bersama boneka-bonekanya daripada keluar rumah dan bertemu teman-teman seusianya. Tapi, dia memang sesekali bermain bersama tetangga di sekitar rumah.

Selama puluhan tahun tinggal di sini dan selama delapan tahun usia Cia, nggak pernah ada yang melaporkan Cia berbuat nakal. Tetangga justru memuji sikap tenang Cia yang berbeda dari anak-anak lain. Di saat anak lain berteriak dan berlarian tanpa sopan-santun, Cia bisa duduk tenang cuma memperhatikan.

Aku juga nggak pernah mendengar keluhan keluar dari bibir tipis Cia. Ketenangannya membuatku lebih santai dan mengabaikannya. Aku punya banyak hal yang perlu kupikirkan jalan keluarnya. Cia berhasil meringankan bebanku sedikit dengan nggak membuat ulah.

Tapi, kenapa dia bisa bersikap kasar begini, padahal biasanya selalu tenang?

"Saya minta maaf." Aku memandang Bu Bambang tepat di matanya. Aku beralih memandang Dea yang tangisnya mulai reda. "Boleh saya tahu gimana ceritanya?" tanyaku dengan nada yang lebih lembut.

Isakan Dea masih terdengar. Dia mengusap hidungnya yang basah dan merah. Mulutnya membuka, tapi dia kesulitan bercerita.

Aku mendorong minuman untuk Dea. "Diminum dulu biar tenang," kataku sambil tersenyum untuk meredam kegelisahan Dea.

"Halah! Nggak usah!" Bu Bambang mendorong kasar gelas itu sampai isinya berceceran di meja. "Anak saya udah disiksa masih disuruh cerita. Mikir yang bener!" Amarah Bu Bambang sama sekali nggak berkurang, padahal aku sudah bersikap semanis mungkin.

"Tapi, saya perlu tahu, Bu." Aku berusaha keras nggak terpancing emosi. Posisinya sekarang, aku menjadi tim yang salah. Aku yang harus mengalah dan nggak boleh menyerang sama sekali.

Bu Bambang menunjuk ruangan di belakang kami. Dari ruang tamu, nggak ada yang terlihat ada apa saja di balik dinding itu. Tapi, aku sudah meminta Tama menjaga Cia di sana.

"Suruh preman kecil itu keluar! Biar dia yang cerita! Gue nggak mau anak gue dituduh bohong lagi." Bu Bambang terus meledak, seperti petasan yang nggak ada habisnya.

Ibu menggenggam pergelangan tanganku lebih erat saat aku berniat berdiri. Wajah cemasnya nyata. Aku cuma mengangguk dan tetap berdiri.

"Saya panggil Cia dulu," kataku ke Bu Bambang.

Mata Bu Bambang terus menatapku tajam, seakan aku ini musuh paling berbahaya. "Buruan!" bentaknya.

Aku segera melangkah masuk. Tapi, Bu Bambang justru melanjutkan omelannya. "Dikira gue nggak ada kerjaan apa? Kalau bukan anak gue yang jadi korban, males gue mampir ke rumah ini. Bisa kena sial gue seumur hidup! Yang tinggal di rumah ini aja nggak ada yang bener kelakuannya."

Saat sudah berdiri di balik dinding, aku bersandar sambil memejamkan mata. Kuambil napas dalam-dalam, tapi sia-sia. Kata-kata Bu Bambang melesat seperti rentetan peluru yang menembus tubuhku. Rasa sakitnya nggak bisa kutahan, tapi tetap saja aku harus bertahan.

"Mbak," panggil Tama yang sudah berdiri di sampingku. "Mbak nggak apa-apa?"

Aku membuka mata. Wajah cemas Tama menjadi pemandangan yang menyebalkan. Pertanyaan bocah ini juga nggak masuk akal.

Gimana mungkin aku bisa nggak apa-apa kalau harus menyelesaikan semua masalah keluarga ini tanpa bantuan siapa pun?

Aku mengabaikan Tama. Kakiku melangkah ke meja makan. Di salah satu kursi yang menghadap kamar mandi, Cia duduk menunduk. Wajahnya datar, seolah nggak ada penyesalan sama sekali.

"Keluar dulu, Dek. Jelasin semuanya! Mbak mau denger," perintahku pada Cia tegas. "Tam, jagain Ayah. Tutup pintu kamar Ayah biar nggak terlalu denger apa-apa."

Cia memandangku dalam. Nggak ada ucapan, tapi aku yakin dia sedang bernegosiasi denganku.

"Keluar sekarang!" pintaku tanpa mau dibantah. Aku mendahului Cia berjalan keluar. Kalau dia nggak mau bergerak sama sekali dari kursi itu, aku akan menariknya. Walau masih kecil, aku nggak mau dia lepas dari tanggung jawab.

"Nah ini bocahnya." Bu Bambang berdiri. Tangannya menjulur cepat, mencoba menarik kaus Cia.

Aku berdiri di depan Cia. Kutepis tangan Bu Bambang. "Tenang, Bu!" pintaku tegas. "Kita selesaikan baik-baik."

"Gimana bisa tenang?" bentak Bu Bambang. "Anak gue luka gara-gara adek lo. Lo pikir anak gue nggak apa-apa? Dia nggak cuma luka pipinya. Anak gue bisa trauma. Ngerti nggak, sih?"

"Bu Bambang duduk dulu. Kita bahas dengan kekeluargaan." Ibu yang sejak tadi diam akhirnya mulai bersuara. Ibu menarik tubuh Cia dan memeluknya.

Aku menunjuk kursi di samping Dea. "Duduk dulu, Bu. Kita dengar ceritanya dari Cia gimana. Kalau adek saya salah, kami akan bertanggung jawab."

"Udah jelas adek lo salah, kok." Bu Bambang sama sekali nggak bisa bersikap sedikit lebih tenang. Matanya yang bulat terus melotot. Nada suaranya tinggi, seakan kami sedang berada di konser metal.

"Iya, kita cari jalan keluarnya bersama." Aku masih mencoba berpikir jernih walau sudah lelah banget. Aku mendahului duduk agar semua orang ikut duduk.

Ibu yang terus memeluk Cia duduk di sampingku. Dengan sayang, Ibu mengusap kepala Cia. Sayangnya, sikap Ibu justru membuatku semakin kesal. Bukan gitu caranya bersikap pada anak yang baru saja melakukan kesalahan.

"Dek," panggilku sambil memandang Cia. "Ceritain kenapa Adek bisa nampar Dea!" Sengaja aku berbicara tegas untuk menunjukkan kesungguhan pada Bu Bambang. Aku nggak akan lepas dari tanggung jawab selama Cia memang bersalah.

"Dea du--"

"Cia tau-tau nampar aku, padahal kami cuma main boneka." Dea memotong cerita Cia dengan cepat. "Aku cuma pinjem bonekanya doang. Tapi, dia marah. Udah aku balikin bonekanya, dia malah nampar aku." Tangis Dea terdengar kembali.

"Dek," panggilku lagi. Kupandangi Cia yang menatap Dea dengan tajam. "Bener gitu?"

Aku lelah banget. Tenagaku habis. Kesabaranku semakin menipis. Aku nggak akan kuat tetap bersikap tenang kalau masalah ini nggak segera berakhir.

Aku memejamkan mata rapat-rapat. Sayangnya, semuanya tetap harus aku yang menyelesaikan. Harus aku yang mengambil tindakan untuk kenalakan Cia.

Cia menunduk tanpa mengatakan apa pun. Diamnya menjadi jawaban yang sudah jelas artinya.

Sumbu di dalam dadaku nyalanya semakin pendek. Sebentar lagi, amarahku meledak.

"Saya minta maaf untuk kesalahan yang sudah Cia lakukan ke Dea," kataku. "Saya akan bayar ganti rugi untuk pengobatan Dea."

Bu Bambang tersenyum miring. "Pinter lo! Nggak sia-sia lo belum kawin sampai umur segini kalau otaknya berguna."

Ada pisau yang menancap dalam di dadaku, lalu berputar 180 derajat. Pisau itu tercabut, lalu kembali menikam berulang kali.. Tapi, aku nggak boleh mengeluh. Aku nggak bisa menjerit dan minta tolong. Aku juga nggak boleh marah. Saat ini, tetap saja aku yang salah.

Aku salah karena nggak bisa mendidik adikku jadi anak yang sopan dan nggak kasar. Aku salah karena nggak perhatian pada adikku. Aku salah karena terlalu fokus pada karir sampai nggak peduli dengan keluargaku. Aku salah karena belum menikah sampai sekarang.

Aku salah. Semua salahku.

Bu Bambang meminta uang lima juta saat ini juga sebagai pengobatan. Harganya terlalu banyak untuk sekadar pengobatan luka tamparan. Tapi, aku nggak mencoba menawar. Aku cuma ingin semuanya segera selesai.

Begitu Bu Bambang pergi, aku nggak mampu menahan diri lagi. Kutarik lengan Cia yang sejak tadi melingkari pinggang Ibu.

"Mbak," panggil Ibu, tapi aku nggak peduli.

"Kamu apa-apaan, sih?" bentakku. "Ngapain kamu kasar gitu? Masih kecil udah kasar mau jadi apa? Nggak bisakah kamu diem dan sekolah tanpa bikin masalah sama sekali?"

Cia menangis sambil berusaha membebaskan lengannya dalam cengkeramanku. Sayangnya, tangisnya sama sekali nggak membuatku luluh. Bocah ini harus tahu kalau tingkahnya menyebabkan masalah.

"Lihat, kan?" Aku menunjuk pintu depan yang sudah terkunci rapat. "Lihat apa yang harus Mbak kasih buat kelarin masalah yang kamu bikin? Seneng kamu, Mbak harus repot lagi? Seneng kamu buat masalah begini? Ha?"

"Mbak, udah!" pinta Ibu sambil menarik tanganku. "Adiknya udah nangis itu. Lepasin, ya!"

Aku memang menuruti perintah Ibu. Tapi, aku belum membiarkan Cia tenang. Dia harus tahu sikapnya ini salah dan nggak mengulang kesalahan lagi.

"Mbak nggak mau tahu kamu bikin masalah lagi. Diem dan jangan buat ulah! Ngerti nggak?" bentakku.

"Mbak ngomongnya nggak usah kenceng gitu." Ibu menyembunyikan Cia di belakang tubuhnya.

Aku tertawa. Satu-satunya lelucon di sini cuma pengorbananku yang tetap saja kurang bagi keluarga ini.

"Ibu terlalu manjain Cia sama Tama. Sekarang, mereka jadi nakal dan aku yang harus tanggung jawab atas kenakalan itu." Aku mengusap wajah dengan kasar. "Aku nggak pernah minta bantuan kalian. Aku cuma mau kalian nggak bikin ulah dan nambah masalah. Sesusah itukah? Kurang berat apa bebanku selama ini, sih?"

Aku melangkah cepat menuju kamar. Kubanting pintu kamarku. Tangisku pecah saat kepalaku sudah bersembunyi di balik bantal.

Aku lelah, tapi nggak ada yang mengerti. Aku nggak sanggup. Tapi, tetap saja aku harus terus berjuang tanpa berhenti sama sekali.

Aku kurang apa lagi buat keluargaku?

1
Shofia Hadi
tinggalin aja udah dari pada makan hati
Nurjannah Rajja
Iya ada orang yg suka banget bohong, ngutang juga alasannya bohong...tapi kok hidupnya tenang aja ya. Herann...
mimief
elah..otot
kalau lelah istirahat tinggalin
kalau mau bertahan,hajar orangnya. omongin ke leo apa yg mau dan ga mau
buat aku ga masuk diotak ku
yg mau nya sat set 🤣
mimief
mestinya Leo belajar jgn bawa kerjaan kerumah
rumah.. rumah
kerjaan yg ditempat kerja
dan..buat si mba ini. hati hati kadang temen curhat buka celah buat selingkuh
dan yg kau perbuat itu lebih parah dari dira
tutiana
gimana klo mba prita belajar sedikit2 ttg gaming,,, biar ga insecure terus2an
mimief
kau tau..apa yg lebih menyakitkan dari pada omongan,luka fisik yg ditimbulkan dr orang lain.
bukan.. bukan itu semua
yg paling menyakitkan adalah...kita tidak m
bisa memenuhi ekspektasi kita sendiri
itu sebabnya, berdamai lah sama diri sendiri
jangan tekan diri sendiri terlalu keras
ayooo...mulai sayangi diri sendiri
mimief
yah begitulah romantis nya berumah tangga
tapi prit...
kau juga harus belajar bisa mempertahankan diri
orang bertindak sesuai kita bertindak
hargai diri kita terlebih dahulu,MK orang akan segan kepada kita
ga perlu lah kita merasa rendah diri
kalau kita memandang diri kita rendah
maka orang lain akan mudah merendahkan kita
kapanpun, dimana pun
mimief
hiss mami omongan nya nyentil ginjal aku🤣🤣
mimief
wkwkwkwk
kok mami tau si
ihhh aku fans nya mami deh
mimief
ayolah prit
ga perlu kyk gitu banget
setiap orang punya passion masing-masing
kl mang Leo naksir Dira,udah lama mereka jadian
kan gak...
capr capein aj mikir yg gak gak
sryharty
Leo ini bener2 aneh,dulu aja ngejar2 Prita dan dia dulu yg mati2an bantu keluarga Prita
kenapa sekarang jadi berubah yah
apa gara2 ada cinta lama yg bakalan bersemi kembali bersama Dira
dan saat itu kamu bakalan menyesal leo
Franciarie: Anu, sejak sebelum nikah Dira juga udah ada. Itu Dira hadir di pernikahan Prita dan Leo, kok. Kira-kira kenapa Leo jadi berubah, yok? 🤭🤭🤭
total 1 replies
Siti Rofiatin
ceritanya bagus
Franciarie: Terima kasih, Kak ❤
total 1 replies
tutiana
susah kali jd mba prita ini,,,
kalo krisis kepercayaan diri melanda,,, auto nething terus bawaannya
tutiana: kan jd sakit sendiri ya Thor
total 2 replies
tutiana
astaga Thor jd nangis terus ini😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭
tutiana
cerita mba prita ini membuat aq menangis di banyak bab 😭
tutiana
keep strong buat semua anak pertama,,,
wiwik
Jangan pesimis dong mbk Prit..Dira sm Leo cuma cocok d dunia bisnis klo prcintaan mbk Prita juara'y..smangatt yaaaa
wiwik
Ayo up Kak..makin pnasaran 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!