Maira, seorang gadis yang terpaksa menikah dengan iparnya, sepeninggal sang kakak.
Pernikahan siri itu banyak menimbulkan percikan api asmara, hingga keinginan untuk bercerai.
Bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan mereka? Apa yang membuat mereka harus menikah secara siri? Akankah mereka bercerai? Atau justru meresmikan pernikahan secara negara?
Baca kisahnya di sini ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Saat Maira sampai rumah, Reza mencercanya dengan banyak pertanyaan, hal itu lantaran Maira tak memberinya kabar karena terlambat pulang.
"Karyawanmu sendiri yang memintaku lembur, Mas. Bukan kah ini juga kewajibanku sebagai karyawanmu? Aku tidak memberikanmu kabar karena tak sempat, aku ingin segera menyelesaikan pekerjaanku dan pulang," jawab Maira bergegas menuju kamarnya.
"Salah siapa menerapkan jam lembur? Dia yang punya aturan, dia juga yang protes," oceh Maira sembari berganti baju.
Saat akan memakai baju, Reza masuk kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Ra, siapa yang menyuruhmu lem...."
Pertanyaan Reza terputus kala ia terkejut mendengar teriakan Maira yang berusaha menutupi tubuhnya dengan baju yang belum sempat dipakainya.
Sontak Reza kembali menutup pintu.
###
Keesokan paginya, Bu Intan sengaja ingin menginap di rumah anaknya. Ia rindu dengan Alisha. Tak ingin mamanya berpikir macam-macam, Reza meminta Maira tidur di kamarnya.
Benar saja, ketika memasuki kamar Alisha, Bu Intan kebingungan karena barang-barang Maira ada di sana.
“Itu, Ma. Maira sering ketiduran di sini,” jawab Reza berbohong.
“Lho, ya kamu temani kalau begitu, ‘kan kasurnya besar. Kalau sering tidur terpisah, bagaimana bisa saling cinta?” protes Bu Intan.
Mama Reza itu juga meminta agar ia saja yang menjaga Alisha malam ini, jadi Maira tak perlu berjaga di kamar Alisha. Ia juga menyuruh agar Maira dan Reza menghabiskan waktu berdua di kamar mereka. Mumpung neneknya di sini, biar ia saja yang menjaga cucunya kali ini.
Terpaksa, Maira memboyong barang-barangnya ke kamar Reza. Mereka pun seakan awkward di dalam kamar yang sama. Memang, selepas akad saat itu mereka tidur dalam 1 kamar karena mama Reza masih menginap di rumah. Tetapi, itu pun Reza juga hanya tidur di sofa kamarnya.
Di dalam kamar, Maira hanya diam dan bermain ponsel. Ia masih kesal karena perdebatan kala itu tentang keegoisan Reza. Begitu pun dengan Reza yang seakan tak tahu harus berbuat apa dan hanya bisa diam. Sesekali, Reza yang duduk di kasur bersandar headboard melirik ke arah Maira di seberangnya, yang juga duduk di kasur bersandar pada headboard yang sama.
“Ra, aku minta maaf soal kemarin.” Reza membuka mulutnya.
“Soal apa?” tanya Maira tanpa menoleh ke arah suaminya.
Reza kembali menjelaskan perihal dirinya dan Cantika yang tak menjaga jarak hingga menimbulkan prasangka buruk Maira selama ini.
“Semua karyawanmu sudah tahu kalau Cantika menyukaimu, Mas. Apalagi mereka tahunya sekarang kamu duda, ia semakin berusaha mendekatimu,” ujar Maira sembari terus memainkan ponselnya.
Reza mencoba mencerna ucapan istrinya. Ia memang baru tahu kabar itu. Reza seakan mengingat sesuatu.
Ah iya! Pantas saja akhir-akhir ini Cantika selalu ingin pergi bersamanya. Ada agenda yang seharusnya bisa tanpa Reza pun, Cantika seolah mengarang cerita agar bisa pergi bersama bosnya. Cantika juga tiba-tiba mengaku punya magh dan tidak bisa kelaparan. Hingga karena hal itu lah yang menyebabkan mereka beberapa kali sering makan bersama.
“Tak salah juga kalau Cantika mendekatimu karena dia tahunya kamu duda,” lanjut Maira.
Mendengar pengakuan Maira, Reza merasa tak enak hati. Ia tak tahu jika sampai begini kondisinya. Ia juga tak pernah menyadari bahwa Cantika menyukainya, bahkan sedang mendekatinya. Padahal, di kantor ada istrinya yang selalu bisa melihat kedekatan mereka setiap saat.
Reza kemudian menegaskan bahwa ia tak ada perasaan apa pun pada sekretarisnya itu. Meskipun banyak yang tahu Cantika menyukainya, tapi ia tak pernah merespon perasaannya, bahkan saat Nindy masih ada. Makanya, Nindy juga dulu tak pernah protes karena selain Nindy tak tahu bahwa Cantika menyukai suaminya, juga karena Reza tak sesering ini pergi bersama sekretarisnya. Benar kata Maira, bahwa Cantika mendekatinya karena menganggap bosnya duda.
“Kalau begitu aku minta maaf atas semuanya,” lanjut Reza kembali meminta maaf.
Maira hanya meliriknya. “Tak apa-apa, tak ada yang salah, tak perlu minta maaf. Aku sudah bilang, tak masalah jika kamu mau dekat dengan siapa pun, aku justru senang kalau Alisha segera punya ibu sambung.”
Reza tak dapat berkata-kata lagi mendengar ucapan terakhir Maira.
Beberapa menit kemudian, Maira menunjukkan ponselnya. “Nah, ini ada yayasan baby sitter terpercaya. Langganannya artis-artis dan para pejabat. Dari testimoninya sih mereka bisa bekerja dengan baik dan benar, awet juga kerja ikut majikannya, tak banyak drama apalagi kecerobohan fatal seperti waktu itu.”
Bukannya memandang ponsel Maira, Reza justru memandangi Maira.
“Apa kamu sudah tidak ingin merawat Alisha lagi? Ra, boleh aku tanya tentang perasaanmu dalam pernikahan ini?” tanya Reza begitu serius.
Maira pun menjelaskan bahwa bukan karena ia tak ingin mengurus keponakannya, bahkan ia sudah sayang pada Alisha dan tak tega sebenarnya jika Alisha diasuh sepenuhnya oleh baby sitter. Hanya saja, seperti yang Reza katakan di awal, bahwa pernikahannya hanya sampai jika Reza sudah menemukan pengasuh yang tepat untuk anaknya.
“Bukan kah itu yang kamu mau? Aku hanya ingin kamu menikah dengan yang kamu cinta. Denganku, kamu tak ada perasaan ‘kan? Kamu sendiri yang bilang aku tak boleh melewati batas dan cerewet, karena kamu hanya menganggapku sebagai pengasuh Alisha. Soal perasaanku, aku pernah bilang kalau aku menganggapmu dan menghargaimu sebagai suami dari awal pernikahan kita, bahkan aku sering marah dan protes juga karena apa kalau bukan karena aku mulai jatuh cinta? Tapi, setelah ucapanmu waktu itu, aku merasa tak seharusnya bermain perasaan dalam pernikahan ini. Aku harus sadar diri siapa aku dan apa tujuan kamu menikahiku, terbukti juga dengan kamu yang memintaku tidur di kamar Alisha,” ungkap Maira dengan jujur.
Reza kembali merenung. “Aku sedang berusaha mencintaimu, Ra, menerima pernikahan ini yang tak mudah bagiku. Beri waktu aku 3 bulan, aku akan berusaha mencintaimu. Bukan kah kata orang cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa?"
“Mulai malam ini kamu tidur di sini,” ucap Reza sembari melayangkan kecupan mesranya di bibir Maira.
Maira sempat menghempaskan tangan Reza, namun Reza dengan lembut menarik tubuh Maira dan mencium bibirnya lagi begitu lama, hingga ponsel Maira terjatuh di kasur.
...****************...
""' nyesss 😭