Novel ini mengandung bawang🤧 siapkan tissu terlebih dahulu.
"Pernikahan kita terjadi karena kesalahan, jadi jangan berharap aku akan mencintaimu!" Dimas Fahrian.
"Aku memang bukan istri Dimas, tapi akulah yang selalu Dimas prioritaskan!" Sila Derkain.
"Akulah istri rasa simpanan." Renata Lusiana.
"Dan aku yang akan meratukan mu, Renata!" Reza Argantara.
Pernikahan yang terjadi karena kesalahan satu malam yang mengharuskan Dimas menikahi Renata tanpa rasa cinta, karena hati nya telah berpaut pada wanita lain.
Apakah Renata bisa mempertahankan rumah tangga nya bersama Dimas atau memilih pergi dan membangun hidup baru dengan orang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sendi andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 IRS
Dua hari berlalu sudah, tapi Renata dan Dimas masih kompak saling mendiamkan. Dia hanya akan bicara pada Reza atau teman-teman yang lain, tapi tidak menanggapi apapun yang di katakan Dimas atau Sila.
Dia sadar ini sudah berlarut-larut, jika di antara kedua nya tidak ada yang mengalah, pasti masalah ini akan semakin memanas. Karena pria itu seperti tak berniat untuk meminta maaf atau membujuk Renata lagi, entah sudah putus asa atau pasrah, tapi Rere tahu ternyata pria itu tak ada usaha nya sama sekali.
Kemarahan seorang wanita bisa saja luluh dalam waktu singkat itu tergantung usaha pria nya, jika tak ada usaha sama sekali pasti masalah akan semakin runyam nantinya.
Hari ini weekend, biasanya Dimas akan berkunjung ke kost an, tapi tidak dengan hari ini. Pasti pria itu lebih memilih berkunjung ke apartemen Sila.
Iseng, Renata membuka aplikasi chat berwarna hijau lalu mengirimkan pesan. Dia sudah memikirkan ini matang-matang, ya tentang perasaan nya dia akan mengatakan nya pada Dimas.
Apapun tanggapan pria itu dia tak peduli, dia hanya ingin merasa lega.
"Dimana Dim? Bisa ke rumah gue gak? Ada yang mau gue omongin." Isi pesan Renata, langsung centang dua berwarna biru, tanda nya pria itu sudah membaca nya kan? Dan beberapa detik kemudian, muncul tulisan mengetik di atas.
"Gue otw ke rumah Lo, sekarang." Jawab nya, Renata hanya menghela nafas. Entah kenapa tiba-tiba saja dia merasa gugup, padahal bertemu dengan Dimas sudah biasa baginya.
Renata menghembuskan nafas nya kasar, lalu beranjak dari kursi ruang tamu dan masuk ke kamar nya untuk membersihkan diri. Dia bersiap dengan memakai pakaian paling cantik yang dia punya, menyemprotkan parfum dan memoles bibirnya dengan sedikit lip tint agar tak terlihat pucat.
Tak lama kemudian, suara deru mesin motor terdengar, jantung Renata terasa berhenti berdetak saat itu. Dia kesulitan mengambil nafas, lalu berhasil setelah mencoba menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan.
Renata membukakan pintu, Dimas tersenyum manis saat gadis itu membuka pintu.
"Haii Re, cakep banget. Mau kemana Lo?" Tanya nya, Renata salah tingkah hingga menggaruk tengkuk yang padahal tak gatal sama sekali.
"Enggak, lagi pengen aja. Masuk,"
Kedua nya duduk di kursi yang berhadapan, Renata memilih ujung dress nya, dia gugup setengah mati. Ternyata mengungkapkan perasaan itu begini ya rasanya, bahkan disaat kita sudah terbiasa dekat dengan pria yang di taksir, tapi saat begini tetap saja rasanya canggung.
"Gue mau ngomong!" Kompak, keduanya barengan mengeluarkan suara nya setelah beberapa menit hanya ada keheningan.
"Lo duluan." Ucap Dimas.
"Lo aja, gue siap dengerin." Jawab Renata, meski hatinya sudah merasa tak enak tapi mau bagaimana pun dia harus mendengarkan, menerka kira-kira apa yang akan di ucapkan oleh Dimas, Renata masih menunggu.
"Gue…" Dimas sengaja menggantung perkataan nya membuat Renata gemas.
"Apaan sih, gue penasaran nih."
"Sebelum nya gue mau minta maaf tentang awal dari masalah kita, Re. Gue bener-bener nyesel, gue harap Lo maafin gue!" Sesal Dimas.
"Yaudah gapapa kok, tapi sebisa mungkin kabarin biar gue gak nunggu lama. Emang bagus sih berjemur di bawah sinar matahari di pagi hari, tapi tetep aja nih kaki pegel berdiri di depan gerbang selama 2 jam gara-gara nunggu Lo." Ucap Renata mengutarakan unek-unek nya selama ini.
"Hehe okey, maaf ya Re. Jadi…"
"Apa?"
"Gue udah jadian sama Sila."
Jederr…
Bagai di sambar petir di siang bolong, Renata tak mampu berkata-kata, hatinya terasa sangat sakit, inikah rasanya patah hati? Bahkan sebelum dia mengatakan tentang perasaan nya pada pria itu.
"Gue bahagia banget Re, gue harap Lo gak bersikap ketus lagi sama Sila ya."
"O-oh ya, selamat ya kalo gitu Dim. Semoga langgeng." Ucap Renata dengan menahan sesak dan nyeri yang terasa menyerang ulu hatinya. Sakit sekali di tikung teman sendiri, padahal Sila tahu kalau dia mencintai Dimas, bahkan orang awam pun tahu kalau dia punya perasaan lebih pada pria itu. Apalagi Sila yang sudah dia beri tahu waktu Dimas masih di rawat di rumah sakit.
"Makasih Re, terus Lo mau ngomong apa? Keknya tadi penting amat."
"Eemm gak jadi Dim, sebaiknya Lo balik aja, mendadak gue gak enak badan mau istirahat aja." Ucap Renata, gadis itu mendorong tubuh Dimas ke luar dari kost an nya dan langsung menutup pintu nya, tak lupa mengunci nya dari dalam.
Tentu saja hal itu membuat Dimas keheranan, ada apa dengan Renata? Tingkah nya terlihat sangat aneh.
"Rere kenapa ya? Aneh banget deh, tadi nyuruh kesini tapi pas udah disini malah di usir, ada-ada aja." Gerutu Dimas sambil geleng-geleng kepala, pasalnya tadi dia sedang asik bermain gitar di balkon rumah nya lalu datang pesan dari Renata yang meminta nya datang.
Dimas dan Sila memang sudah resmi pacaran semingguan ini, pantesan aja keduanya lengket kayak perangko, nempel aja terus. Sampe-sampe pindah kursi di kelas, dan bodohnya Renata tak menyadari hal itu.
"Bodoh, Renata bodoh!" Rutuk Renata sambil memukuli kepala nya, dia menangis sendirian di kamar. Tak ada tempat nya untuk berbagi, dulu dia memiliki Dimas yang selalu ada untuknya di situasi apapun, tapi sekarang? Pria itulah sumber penyakit nya saat ini, Renata tengah di landa penyakit patah hati akut.
"Kenapa sesakit ini? Sakit banget, Dimas!" Renata menepuk dada nya, masih saja terasa nyeri padahal dia sudah meluapkan nya dengan menangis tapi rasa sakit yang menghantam dada nya malah semakin terasa.
Beginikah sakit nya mencintai sepihak?
.....
🌷🌷🌷🌷