Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun di Balik Lemari
Briella berdiri terpaku di depan pintu lemari berjalan yang terbuat dari kayu mahoni gelap di dalam kamar mansion Geovani. Aroma kayu yang mahal dan harum lavender kering menyeruak saat ia menarik gagang pintunya. Namun, bukan bau itu yang membuatnya menahan napas, melainkan deretan gantungan yang kini kosong. Semua pakaian mahasiswi miliknya, kaus katun yang sudah mulai menipis, serta jins lama yang menjadi satu-satunya harta yang ia bawa dari asrama, telah lenyap tanpa sisa.
"Di mana semua pakaianku?" gumam Briella dengan suara bergetar.
Ia menyapu pandangannya ke sisi lain lemari besar itu. Sebagai gantinya, puluhan gaun berbahan sutra tipis dengan potongan yang sangat berani kini tergantung rapi. Warna-warnanya sangat menggoda, mulai dari merah anggur yang pekat, hitam legam yang mengilap, hingga krem yang nyaris menyerupai warna kulit. Briella menyentuh salah satu gaun berwarna perak. Kainnya begitu dingin dan licin, seolah-olah akan merosot jatuh hanya dengan satu sentuhan.
"Pakaian lamamu sudah dibakar. Aku tidak butuh kain kasar seperti itu menyentuh kulit subjek penelitianku," suara bariton Geovani menyambar dari arah pintu kamar.
Briella berbalik dengan cepat. Geovani berdiri di sana, masih mengenakan jas putih kedokterannya yang kontras dengan latar belakang kamar yang temaram. Pria itu menyilangkan tangan di depan dada, memperhatikan Briella dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau membakarnya? Itu semua milikku, Geovani! Kau tidak punya hak untuk membuangnya begitu saja!" pekik Briella dengan wajah yang mulai memanas karena amarah.
Geovani melangkah masuk, suara sepatunya yang mengilap beradu dengan lantai kayu dengan irama yang tenang namun mengintimidasi. Ia berhenti tepat di depan Briella, membuat gadis itu harus mendongak untuk menatap matanya.
"Di dalam gedung ini, hak adalah sesuatu yang hanya aku miliki, Briella. Pakaian lamamu adalah sampah yang penuh dengan kuman dari distrik bawah. Kau sekarang berada di bawah protokol medis dan estetikaku," ujar Geovani sambil meraih salah satu gaun sutra hitam.
"Ini bukan pakaian medis! Ini bahkan lebih mirip pakaian tidur yang tidak sopan! Bagaimana mungkin kau memintaku memakai ini?" tanya Briella sambil menunjuk gaun hitam yang memiliki belahan hingga ke paha atas itu.
Geovani mengangkat gaun itu, membiarkan cahaya lampu kristal memantul pada permukaan sutranya yang halus. "Potongan gaun ini dirancang agar aku bisa melakukan pemeriksaan fisik kapan saja tanpa harus membuang waktu dengan kancing atau ritsleting yang rumit. Aku ingin akses cepat pada setiap inci tubuhmu jika terjadi sesuatu pada janin itu."
"Kau hanya ingin menjadikanku pajangan yang bisa kau lihat sesukamu, bukan?" tuduh Briella dengan nada getir.
Geovani tidak membantah. Ia justru mendekat, aroma antiseptik yang tajam bercampur dengan parfum maskulinnya mengepung indra penciuman Briella. Ia menyisipkan helai rambut Briella ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat pelan.
"Pilih satu dan pakai sekarang. Atau kau lebih suka aku yang memakaikannya untukmu?" ancam Geovani dengan nada yang sangat datar.
Briella merasakan kekalahan yang menyesakkan di dadanya. Ia tahu berdebat dengan Geovani adalah hal yang sia-sia. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengambil gaun berwarna krem yang terlihat sedikit lebih tertutup dibandingkan yang lainnya. Ia berjalan menuju ruang ganti, namun langkahnya terhenti saat suara Geovani kembali terdengar.
"Ganti di sini. Aku harus melihat apakah ukuran yang kupesan sudah pas dengan perubahan hormonmu yang mulai memengaruhi bentuk tubuh," perintah Geovani.
"Aku bukan manekin, Dokter!" sentak Briella.
"Kau adalah milikku dalam setiap aspek, Briella. Jangan membuatku kehilangan kesabaran. Aku harus memastikan sirkulasi darahmu tidak terganggu oleh pakaian yang terlalu ketat atau terlalu longgar," Geovani duduk di kursi tunggal berlapis kulit yang ada di sudut kamar, melipat kaki, dan menunggu dengan tenang.
Briella merasa air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia membelakangi Geovani, perlahan melepas jubah mandi yang ia kenakan. Rasa dingin segera menusuk kulitnya saat ia mengenakan gaun sutra krem itu. Kainnya sangat tipis, nyaris transparan jika terkena cahaya langsung. Saat ia berbalik, gaun itu melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan lekuk pinggang dan payudaranya yang mulai terasa sedikit sensitif.
Geovani berdiri dan berjalan mendekati Briella. Ia mengitari tubuh gadis itu seperti predator yang sedang memeriksa mangsanya. Tangannya yang besar merayap ke punggung bawah Briella, merasakan tekstur kain yang bergesekan dengan kulit halus di bawahnya.
"Sutra ini sangat cocok untukmu. Ini akan meminimalkan iritasi pada kulitmu yang sensitif," Geovani berbisik di dekat telinga Briella.
"Kenapa kau melakukan ini? Kenapa harus sespesifik ini?" tanya Briella dengan suara yang nyaris hilang.
"Karena aku ingin kau selalu siap, Briella. Siap untuk diperiksa, siap untuk dipantau, dan siap untuk menyambut kehadiranku kapan saja aku masuk ke kamar ini. Aku tidak suka hambatan," jawab Geovani sambil menarik sedikit bahu gaun itu untuk melihat luka lebam di bahu Briella yang mulai memudar.
"Kau gila," bisik Briella.
Geovani terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar dingin dan tanpa emosi. "Mungkin. Tapi kegilaanku adalah satu-satunya hal yang membuatmu tetap hidup di puncak bukit ini, sementara saudari tirimu di bawah sana sedang mencari celah untuk membunuhmu."
"Prilly tidak akan berhenti, Geovani. Kau tahu itu," ujar Briella sambil menatap pantulan dirinya di cermin besar.
"Itu sebabnya kau harus tetap di sini, di balik lemari dan pintu yang terkunci. Pakailah gaun-gaun itu. Jadilah subjek penelitian yang patuh, maka aku akan memastikan Prilly tidak akan pernah menyentuh seujung rambutmu pun," Geovani meletakkan tangannya di atas perut Briella yang masih rata, memberikan tekanan lembut yang protektif namun mendominasi.
"Apakah ini akan berlangsung selamanya?" tanya Briella.
"Sampai kau memberikan apa yang aku inginkan," sahut Geovani singkat.
Pria itu kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh. "Jangan mencoba menyembunyikan apa pun di balik gaun-gaun itu. Aku akan tahu jika ada sesuatu yang tidak pada tempatnya saat aku melakukan pemeriksaan medis nanti malam."
Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang tegas, meninggalkan Briella sendirian di tengah kemewahan yang terasa seperti kutukan. Ia menatap deretan gaun sutra di balik lemari itu dengan perasaan hancur. Geovani telah merampas identitasnya sebagai mahasiswi kedokteran dan menggantinya dengan sosok wanita simpanan yang dibungkus dalam dalih medis.
Briella berjalan menuju jendela, melihat butiran salju yang mulai turun lebih lebat di luar sana. Ia merasa seperti burung di dalam sangkar emas yang sayapnya telah dipatahkan. Sutra yang ia kenakan terasa seperti duri yang menusuk harga dirinya. Namun, di balik rasa terhinanya, ada api kecil yang mulai menyala di matanya. Jika Geovani ingin menjadikannya objek penelitian, maka ia akan menjadi objek yang paling berbahaya bagi pria itu.
"Kau pikir kau bisa mengontrolku hanya dengan gaun-gaun ini, Geovani?" batin Briella.
Ia menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari. Ia tahu bahwa ia harus mengikuti permainan ini untuk sementara waktu. Nutrisi yang dipaksakan, pemeriksaan medis yang intim, dan sekarang pakaian yang merendahkan martabatnya hanyalah rintangan yang harus ia lalui. Ia akan menunggu saat yang tepat, saat di mana Geovani mulai lengah karena obsesinya sendiri.
Briella kembali menatap lemari itu. Ia mengambil sehelai gaun sutra berwarna merah darah dan meremasnya di tangan. Teksturnya yang halus mengingatkannya pada darah yang tumpah di gudang keluarga Adijaya. Ia tidak akan lupa mengapa ia ada di sini. Ia ada di sini untuk bertahan hidup, dan ia akan menggunakan setiap sutra dan setiap kemewahan yang diberikan Geovani sebagai senjata untuk menghancurkan mereka semua di akhir nanti.
Malam mulai turun menyelimuti mansion di bukit itu. Briella duduk di pinggir ranjang, menunggu suara langkah kaki Geovani yang akan kembali untuk pemeriksaan malamnya. Ia kini tidak lagi takut, melainkan waspada. Di balik gaun-gaun sutra yang indah itu, tersimpan tekad seorang wanita yang sudah kehilangan segalanya dan tidak takut untuk mempertaruhkan nyawanya sekali lagi.
"Datanglah, Dokter. Periksa aku sesukamu ... tapi jangan pernah berpikir kau sudah menang," bisik Briella ke arah pintu yang tertutup.
Keheningan di kamar itu terasa sangat tegang, seolah-olah udara sendiri sedang menahan napas menunggu badai yang akan datang. Briella tahu, setiap malam di bawah pengawasan Geovani adalah langkah menuju kehancuran atau kemenangan. Dan ia lebih memilih untuk menghancurkan seluruh kasta Upper-Chrome daripada harus menjadi boneka sutra Geovani selamanya. Sutra krem yang ia kenakan bergoyang lembut saat ia bernapas, menjadi saksi bisu atas awal dari transformasi Briella yang lebih gelap di dalam sangkar emas tersebut.