Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.
Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.
Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.
Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agenda Baru Untuk Livia
Di saat pagi hari orang-orang memulai hari dengan sarapan, Livia justru memulainya dengan cara yang tak lazim, yaitu loncat-loncat di dalam kamar mandi yang luas dan berlapis marmer.
Bukan tanpa alasan ia melakukan aksi konyol yang menguras tenaga itu. Semua disebabkan karena semalam telah terjadi dua ronde berbagi kepuasan.
Meskipun Morenzo secara hukum adalah suaminya, Livia masih menyimpan keraguan besar untuk melahirkan keturunan pria itu. Dalam benaknya, mengandung anak Morenzo berarti mengikat diri selamanya pada kekuasaan yang gelap. Dan kini ia meloncat berkali-kali bagai vampir, berharap sisa-sisa pergulatan semalam yang berpotensi menjadi masa depan itu akan luruh dan keluar dari tubuhnya sebelum sempat tertanam di rahimnya.
Livia merasa aman melakukan ini karena saat terbangun tadi, ia tidak melihat lagi eksistensi Morenzo di sisinya. Seingatnya semalam setelah badai pergulatan selesai, Morenzo langsung pergi meninggalkan kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, alih-alih memilih tidur di sampingnya sebagai seorang suami pada umumnya.
Aksi loncat-loncat itu terhenti seketika saat terdengar ketukan tegas di pintu kamar mandi. Ketukan itu tanda bahwa jadwal pembersihan diri telah tiba. Livia merasa sangat memalukan jika para pelayan harus melihat sisa-sisa keganasan Morenzo. Ia segera membasuh dirinya, membersihkan jejak benih Morenzo di area intimnya terlebih dahulu.
Livia bergerak secepat kilat agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih lanjut. Saat pintu akhirnya dibuka, ia keluar menemui Lucia, sang kepala pelayan, beserta dua orang lainnya yang sudah menunggu dengan handuk dan berbagai botol perawatan.
Beberapa saat kemudian ritual mandi ala putri raja pun selesai.
"Nyonya, sarapan sudah siap. Sudah saatnya Anda bersantap," Agenda kegiatan selanjutnya sudah di seru Lucia.
"Baik."
Selama tinggal di istana milik Morenzo, Livia tidak pernah mengulur waktu. Jawaban seperti "sebentar lagi" atau "nanti dulu" adalah ancaman bagi keselamatan para pelayan. Morenzo adalah pria yang sangat menghargai presisi, dan keterlambatan Livia bisa berujung pada teguran keras atau bahkan hukuman bagi orang-orang di bawah kepemimpinannya.
Livia segera melangkah menuju ruang makan dengan anggun, meski kakinya masih terasa sedikit lemas.
Suasana sarapan di sana selalu terasa mati. Di atas meja makan yang megah, tersaji hidangan kelas atas, namun Livia selalu menyantapnya seorang diri. Ia tidak pernah tahu jam berapa Morenzo sarapan, atau apakah pria itu bahkan memiliki nafsu makan seperti manusia biasa. Sosoknya jarang menampakkan diri di jam-jam domestik seperti ini.
Selesai makan, Lucia maju mendekat sambil membawa sebuah nampan. Di atasnya berjejer sebuah pil.
"Nyonya, setelah makan, Nyonya harus meminum ini."
Livia mengerutkan kening, "Apa ini? Aku tidak sakit. Aku merasa sangat baik hari ini."
"Ini bukan obat, Nyonya. Ini vitamin yang harus diminum secara rutin atas instruksi khusus. Ada jadwal tetap setiap harinya," jelas Lucia.
Vitamin ya? Ataukah pelan-pelan aku hendak diracun? batin Livia.
"Kenapa baru sekarang diberikan? Kemarin-kemarin aku tidak pernah diminta minum ini," Tanya Livia lagi.
"Bukan kewenangan kami untuk menjawab pertanyaan itu, Nyonya. Kami hanya menjalankan perintah."
Jawaban klise itu lagi. Livia menggerutu dalam hati. Ia berusaha untuk menghindar.
"Aku tidak bisa menelan butiran pil sebesar ini. Tenggorokanku sempit, harus dihaluskan dulu menjadi bubuk."
Namun Lucia sepertinya sudah sangat siap menghadapi alasan Livia. Ia mengambil sebuah tablet digital dari pelayan di sampingnya lalu memperlihatkan sebuah video singkat. Di sana, terpampang rekaman masa lalu Livia yang sedang meminum obat berbentuk pil dan kapsul dengan mudahnya saat ia sedang sakit flu berat.
Jantung Livia mencelos. Ia ingat momen itu. Itu adalah masa di mana ia sakit dan Axel yang pada saat itu masih jadi kekasihnya justru pergi menghampiri Elena setelah menerima telepon, meninggalkan Livia sendirian dalam kesakitan. Mengapa rumah Morenzo bisa memiliki memori seprivat itu?
Seketika Livia menyadari kenyataan yang mengerikan. Privasinya telah dibidik, direkam, dan dikumpulkan oleh Morenzo jauh sebelum ia menyadari pengkhianatan Axel dan Elena di belakangnya. Morenzo sepertinya sudah memantaunya sejak lama, menyimpan arsip tentang setiap detail hidupnya.
Tenggorokan Livia mendadak kering, sulit mereguk saliva. Dia harus menelan pil tersebut di depan kepala pelayan dan juga yang lainnya sekarang juga!
Livia meminum pil-pil tersebut sambil membaca do'a keselamatan dalam hatinya. Mau disembunyikan, tapi rasanya sulit karena Lucia betul-betul memperhatikannya sampai selesai. Pil masih bermuara di rongga mulut, mengambang bersama air.
"Maaf Nyonya, saya bantu untuk bisa menelannya."
Lucia dengan gerakan halus mendongakkan dagu Livia.
Glek
Semua pilnya tertelan. Total ada 3 butir.
Habis tertelan, rupanya Lucia dan lainnya tak langsung pergi. Jangan harap mereka pergi karena tugasnya memang mengurusi Livia. Apalagi saat ini, Livia baru saja selesai sarapan dan minum yang katanya vitamin. Agenda selanjutnya pemilihan aksesoris, tas, dan penunjang penampilannya lainnya. Nyonya Morenzo harus tampil berkelas.
Sudah rapi semua, Livia baru sempat membuka ponsel. Disana pemberitahuan informasi masuk dimana acara Killian Grup terlaksana hari ini. Acara ulang tahun perusahaan, yang biasanya membahas pencapaian, juga terkadang ada sebuah pengumuman. Livia sudah siap bermain-main di sana.
Ini adalah pesta yang kutunggu.
Bersambung.
Epilog.
Waktu bersamaan dengan Livia di kamar mandi dimana wanita itu loncat-loncat, Morenzo melihat aksi itu di tab yang menghubungkan dengan kamera tersembunyi yang ada di sudut kamar mandi tersebut. Livia benar-benar tidak memiliki privasi di mata seorang Morenzo setelah menjadi Nyonya Morenzo.
"Kurang ajar! Dia tidak mau melahirkan keturunanku." Umpat Morenzo, namun bibirnya tersenyum, air mukanya bahkan seperti menahan gemas.
Ia menjentikkan jari dengan angkuh. Dalam sekejap, sang asisten pribadi sudah berdiri tegak di sampingnya. Dengan suara bariton yang berat dan penuh wibawa, Morenzo memberikan instruksi baru.
"Tambahkan agenda harian baru untuk Nyonya mulai detik ini. Pastikan dia meminum vitamin penyubur dengan dosis terbaik setiap pagi tanpa absen. Awasi secara langsung, jangan biarkan satu butir pun terbuang, disembunyikan, apalagi dimuntahkan kembali. Aku ingin memastikan semuanya berjalan sesuai rencanaku."
jika melompT di pagi hari bisa menggugurlan kecebong 🤣🤣🤣🤭🤭
apakah Livia pernah menolongmu
betapa sakitnya diabaikan dan di lupakan🤭🤭