Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Dari luar sudah begitu panjang antrian orang-orang yang ingin masuk. Aku datangi staff Pak Gatot yang berdiri berdampingan dengan penjaga tiket. Setelah berada di dalam, staff yang memiliki perawakan tinggi besar lagi hitam pekat itu, aku minta untuk berhenti mengikuti. Sesampainya di dalam, aku layangkan pandangan ke beberapa deret bangku yang perlahan mulai terisi. Kupilih tempat duduk dibarisan belakang.
Lampu panggung mulai menampakkan keperkasaan. Sorot kuat cahayanya membuat pandangan sedikit silau. Dari arah belakang panggung, gema microphone pembawa acara terdengar lantang membuka acara.
"Apa kabar!!"
"Fantastis!"
"Tepuk tangan buat kita semua yang super fantastis!" gemuruh tepuk tangan rampak, penuh semangat.
Di tengah semangat para peserta seminar, tubuh alamiku tak kuasa untuk mencari pelampiasan. Aku bangkit dan segera melepas yang tertahan sepanjang perjalanan. Satu-persatu kulewati barisan tempat duduk dengan penuh kewaspadaan.
Aku masuk ke dalam bilik untuk meluruskan niat semula. Selesai dari sana, aku sempatkan bercermin, merapikan tatanan rambut yang tak lagi berbentuk. Sosok perempuan cantik, bertubuh semampai dengan gerai rambut panjang berwarna pirang kecoklatan bersama longdress merah pas bodi, tersenyum manis. Tersirat dari wajahnya menunjukkan usia yang masih muda. Ia mengangguk lembut, awal sapaannya. Kuberikan balasan dengan ekspresi sama.
"Sudah sering ikut seminar ini?" kataku ringan, sambil membersihkan tangan.
"Selalu. Baru pertama kali ikut?"
"Kebetulan lagi ada janji ketemuan dengan.."
Perkataanku cepat di sambar, "Dengar! Sudah ada Pak Gatot Purba!"
Aku terkesiap atas kepergiannya sambil terus meneruskan perkataanku, "Gatot Purba.."
Segera aku keluar. Dan.., "Sungguh fantastis!" Aku hujat seisi ruang yang dalam sekejap sudah penuh dari sebelumnya. Bahkan mereka yang tidak mendapat kursi, rela berdesak-desakkan sampai berada persis dihadapanku.
Di atas panggung ada Pak Gatot yang membawakan motivasi, "Masalah akan selalu datang silih berganti. Membiarkan masalah bertumpuk, sama dengan menutup masa depan kita. Benar apa benar!"
"Fantastis!!" kompak suara dari para peserta berseru.
Aku terus bergeser, melangkah maju, mencari posisi nyaman. Setelah mendapat sedikit ruang menghirup udara, pandanganku menyergap keberadaan sosok Id yang tengah duduk. Aku menyipitkan mata, mengusir keraguan. Tapi Id sungguh nyata ada di sana. Makin lama, semakin bertambah rasa penasaran, dan kudekati dirinya. Ketika berhasil sampai diantara barisan tempat duduknya, kuamati tiap gerak-geriknya yang seakan kerap kali mencari keberadaanku. Benar semua prediksiku selama ini. Dia memang suruhan dari pesaing Pak Gatot di pemilihan kepala desa.
"Aku musti laporkan kejadian ini!! Tapi sama siapa aku melapor! Pak Ben? Oh, tidak. Mana mungkin dia tahu-menahu dan mau tahu semua masalah ini. Yah! Sekarang juga!"
Kusingkap beberapa orang yang menghalangi aku melangkah. Tak mudah menembus barikade pejagaan ketat berlapis-lapis. Tapi nasib baik rupanya sedang berpihak. Lelaki dengan kulit hitam pekat yang tadi membawa masuk ke dalam acara, berhasil kutemukan. Berkat bantuannya, dengan mudah aku lewati sekuriti yang berjaga.
"Ibu tunggu disini, biar saya cari bapak!"
"Saya akan tunggu," kataku sambil melirik singkat ke sebuah identitas kecil berbentuk persegi panjang yang terdapat di atas saku kemeja safari.
Dari jauh Pak Gatot disusul Pak Ridwan datang mendekatiku. Ia berjalan dengan tergesa-gesa bersama air keringat yang membasahi wajahnya.
"Kristal! Kenapa kamu ketakutan seperti itu?" kami saling berjabat tangan, dia menunjuk ke ruang privasi yang telah disiapkan.
"Bisa saya bicara sebentar, Pak! Bapak kenal dengan seorang pemuda yang bernama, Id?" kataku pelan, memaksa.
"Hahaha!" Pak Gatot tertawa lepas mendengar nama yang kusebut, "Id! Lucu sekali nama itu! Saya sama sekali tidak kenal dengan dia! Ada apa memangnya dengan dia?"
"Aku rasa, proyek penulisan kita sudah bocor oleh pesaing bapak di pemilu! Jadi dia mengirim orang untuk mengikutiku!" tandasku dengan panik, diikuti deru napas yang terengah-engah.
"Ssstt! Jangan keras-keras bicara mangenai proyek kita itu!" memintaku mengecilkan suara.
"Sekarang kemana pun aku pergi, selalu dibuntuti. Bahkan dia berani masuk ke dalam apartemenku!"
"Apa? Mana mungkin itu! Sekarang juga kamu diikuti?"
"Betul, Pak! Dia sekarang sedang duduk di depan sana," aku menunjuk ke deret bangku peserta seminar, "Kita panggil saja sekuriti untuk menangkap pemuda itu, Pak!"
"Jangan! Acara ini bisa berantakan hanya karena seorang pemuda! Saya tidak mau predikat saya jadi buruk!" sanggahnya bernada kesal, "Begini saja, tunggu sampai saya selesai memberi semua materi. Sesudah itu kita datangi tempat duduknya!"
"Kalau tunggu sampai selesai. Aku takut dia sudah menghilang! Lebih baik sekarang saja kita temui orang itu?"
"Sekarang? Lima menit lagi, saya sudah harus kembali ke panggung, Kristal!"
"Terserah kalau begitu! Ini demi kelancaran proses waktu di PIL..." perkataanku disambar cepat.
"Iyah! Saya temani kamu ketemu dengan pemuda itu! Tapi tunggu disini, saya mau kasih arahan ke panitia dulu.
Detik berganti, menit pun menghilang. Aku sama sekali tak menyadari kalau dia itu ternyata Pak Gatot. Semua dikarenakan sebagian wajahnya tertutup masker. Setelan jas yang tadi dikenakan, berganti sweter hitam yang entah darimana bisa didapatkannya. Tapi aku tahu, itu sebuah cara menutup identitas sebenarnya. Pandanganku siaga menemukan keberadaan Id. Sedangkan host terus berusaha mencairkan suasana dengan komedi yang diciptakan.
"Yes! Kali ini kau akan aku tangkap, Id. Tidak bisa mengelak lagi kamu!" tandasku dengan yakin. Aku lebih percepat langkahku, bahkan sampai meninggalkan Pak Gatot dan Pak Ridwan. Dalam beberapa langkah lagi aku sudah berada dekat.
Aku semakin dekat dengan target, bahkan hanya dalam jangkauan sekitar dua langkah dengannya. Lantas aku tengok ke belakang, mencari keberadaan Pak Gatot. Ternyata mereka sedang dalam masalah besar. Gawat.
Sebagian mereka ada yang histeris, "Fantastis!!", bahkan ada yang menjerit, "Pak Gatot!!"
Semakin lama, terus berdatangan kerumunan massa dari berbagai sudut. Itu semua terjadi karena masker yang menutup wajahnya terlepas. Suasana berubah penuh sesak, dan hampir sebagian peserta tak lagi fokus pada acara di atas panggung.
Lewat celah kaki kerumunan massa, Pak Gatot dan Pak Ridwan berhasil merangkak, meloloskan diri, mendatangiku.., "Mana orangnya Kristal?"
"Kemana dia! Nah itu dia orangnya!!" seruku menggebu-gebu. Tanpa bertimbang lagi, aku raih kerah kaos pemuda itu lewat jemari tangan. Dia menoleh..
"Ada apa yah?" tuturnya lugu, mengangkat sebelah alisnya.
"Sial!!" ternyata tebakanku salah, "Oh, maafkan kalau saya salah orang! Sungguh sial!"
Melihat kejadian itu, Pak Gatot mendengus geram, "Seharusnya kamu pastikan dulu, sebelum kamu sampaikan ke saya! Sudah, lain waktu saja kita teruskan wawancaranya!" semprot Pak Gatot bernada kasar.
Mereka meninggalkan aku seorang diri. Mencerca, menyesali, marah dengan pemuda bernama Id. Di keramaian aku bagaikan sebatang pohon rapuh.