Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
“Gue butuh istri, dan lo yang bakal bantu gue cari orang yang tepat buat itu.”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir seorang pria yang duduk bersandar santai di sofa kulit berwarna hitam pekat. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah-olah yang baru saja dia ucapkan bukanlah rencana mengikat janji suci pernikahan, melainkan hanya meminta secangkir kopi atau menandatangani sebuah dokumen bisnis biasa.
Elvano Praditya. Nama itu sudah cukup untuk membuat siapa pun menunduk hormat. Pria muda berusia 27 tahun itu adalah pemimpin dari Grup Praditya, salah satu konglomerat terbesar di negeri ini. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, kulitnya putih bersih, dan matanya yang berwarna gelap selalu memancarkan aura dingin dan menakutkan. Saat ini, dia sedang menatap lurus ke arah sahabatnya sendiri, Raka, yang kini sedang menganga lebar tak percaya.
Raka, yang sejak tadi sibuk memainkan ponselnya, langsung menghentikan aktivitasnya. Dia menatap Elvano lekat-lekat, mencoba mencari tanda-tanda kalau sahabatnya ini sedang bercanda. Namun, tatapan dingin Elvano sama sekali tidak menunjukkan niat bergurau.
“Lo… lo ngomong apa tadi, Van?” tanya Raka memastikan, suaranya sedikit terdengar gagap. “Gue gak salah denger kan? Lo mau nikah? You? Elvano Praditya yang paling anti sama yang namanya komitmen?”
Elvano menghela napas panjang, lalu mengambil gelas whiskey di atas meja kopi di hadapannya. Dia meneguk sedikit cairan berwarna kecokelatan itu, merasakan sensasi hangat yang mengalir masuk ke kerongkongannya, mencoba meredakan sedikit kekesalan yang dia rasakan saat ini.
“Gue nggak main-main, Ka,” jawab Elvano pelan tapi tegas. Matanya menatap langit-langit ruangan kerja yang luas dan mewah itu. “Orang tua gue udah mulai ngotot. Mereka mau gue segera menikah, katanya biar gue bisa lebih tenang ngurusin perusahaan dan mereka bisa segera punya cucu. Lo tahu sendiri kan Mama kalau udah ngomong soal ini, nggak ada habisnya.”
“Terus?” Raka masih belum mengerti arah pembicaraan ini. “Kalau mau nikah, kan banyak cewek yang ngantri buat jadi Nyonya Muda Praditya. Cewek cantik, dari keluarga terpandang, semuanya ada. Kenapa tiba-tiba ngomong sama gue?”
Elvano menolehkan kepalanya, menatap Raka dengan tatapan tajamnya. “Gue nggak butuh istri yang cuma cantik doang atau yang ngarepin harta gue, Ka. Gue butuh seseorang yang mau ngerti kondisi gue. Seseorang yang mau terima pernikahan ini apa adanya.”
“Maksud lo?” Raka mengerutkan keningnya, mulai merasa ada yang aneh.
“Pernikahan kontrak,” potong Elvano cepat. “Kita nikah cuma di atas kertas dan di depan keluarga. Hidup serumah, tapi kita punya aturan main sendiri. Gue bakal kasih apa pun yang dia mau. Uang, kemewahan, status. Tapi satu syarat mutlaknya, nggak ada cinta di sini. Dan setelah tujuan gue tercapai atau kontrak selesai, kita bisa berpisah dengan baik-baik tanpa drama.”
Bugh!
Raka sampai terpental mundur sedikit karena kaget. Mulutnya terbuka lebar, matanya membelalak menatap sahabatnya itu tak percaya.
“Gila lo ya, Van?! Pernikahan kontrak?! Serius lo ngomong ini?” Raka menggeleng-gelengkan kepalanya, tangannya menunjuk ke arah wajah Elvano. “Lo sadar nggak sih apa yang lo omongin ini? Pernikahan itu suci, bro. Bukan mainan buat nipu orang tua!”
“Gue tahu itu,” sahut Elvano dingin, suaranya tak bergeming. “Tapi ini satu-satunya cara biar mereka tenang dan nggak terus-terusan nyariin jodoh buat gue. Lo tahu sendiri kan gimana masa lalu gue? Gue nggak mau lagi terlibat hubungan serius yang berakhir sakit hati. Cara ini paling aman buat semua pihak.”
“Tapi…”
“Lagipula,” Elvano memotong lagi, “dengan cara ini gue nggak perlu repot-repot jatuh cinta atau pusing mikirin perasaan orang lain. Gue cuma butuh sosok istri yang bisa nemenin gue di acara keluarga, yang bisa dibilang baik sama tetangga, dan yang bisa bikin rumah ini terlihat seperti rumah yang dihuni keluarga bahagia. Itu aja.”
Raka mengusap wajahnya kasar, terlihat sangat kebingungan. Dia tahu betul bagaimana masa lalu Elvano. Pria ini pernah sangat mencintai seseorang, tapi berakhir dengan kekecewaan yang sangat dalam. Sejak saat itu, tembok tinggi dan tebal pun terbangun di sekeliling hati Elvano. Dia menjadi dingin, cuek, dan tidak pernah mau melibatkan perasaan dalam hubungan apa pun.
“Oke, oke. Gue ngerti posisi lo,” kata Raka akhirnya, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. “Tapi pertanyaannya, siapa cewek yang mau nikah sama lo dengan syarat sekejam itu? Siapa yang mau jadi istri palsu?”
Elvano tersenyum tipis, senyuman yang terlihat sedikit sinis. Dia meraih sebuah map tebal yang ada di atas meja kerjanya, lalu melemparkannya ke arah Raka.
“Baca ini. Gue udah punya kandidat.”
Raka segera mengambil map tersebut dan membukanya dengan rasa penasaran yang tinggi. Di halaman pertama, terdapat sebuah foto dan data lengkap seorang wanita.
Nama: Aira Maharani
Umur: 24 Tahun
Pekerjaan: Desainer Grafis
Wanita di foto itu terlihat sangat sederhana. Wajahnya cantik dengan ciri khas mata yang besar dan tatapan yang terlihat lembut. Tidak ada riasan tebal, tidak ada aksesoris mewah. Hanya senyum simpul yang terlihat tulus dan polos.
“Siapa ini?” tanya Raka sambil membalik-balik halaman dokumen itu. “Kenapa datanya lengkap banget? Lo udah introgasi dia apa gimana?”
“Dia anak dari teman baik Papa,” jawab Elvano santai. “Keluarganya baik-baik, sederhana, dan yang paling penting, dia orangnya kalem, nggak neko-neko, dan yang pasti… dia lagi butuh bantuan dana besar buat operasi ayahnya dan nyelamatin usaha keluarganya yang bangkrut.”
Raka mendongak cepat. “Butuh uang?”
“Ya. Kalau lo jadi dia, tawaran nikah sama gue dan dapat jaminan hidup mapan plus uang tunai yang banyak buat selamatin orang tua, apa lo bakal nolak?”
Raka terdiam. Dia mengerti sekarang. Ini adalah sebuah transaksi. Sebuah pertukaran yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Elvano mendapatkan istri untuk menutupi keinginan orang tuanya, dan gadis bernama Aira itu mendapatkan dana untuk menyelamatkan keluarga dan ayahnya.
“Gila… ini bener-bener rencana gila,” gumam Raka. “Terus, lo udah ngomong sama dia?”
“Belum.” Elvano bangkit dari duduknya, berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pemandangan gedung-gedung tinggi kota. “Gue mau lo yang temuin dia dulu. Atur pertemuan. Kasih tahu penawaran gue. Lihat reaksinya. Pastikan dia mau dan bisa jaga lisan.”
“Terus kalau dia nolak?”
“Gue yakin dia bakal terima,” kata Elvano yakin, suaranya terdengar dingin dan penuh percaya diri. “Karena saat ini, gue adalah satu-satunya harapan buat dia dan keluarganya.”
Di tempat yang berbeda, di sebuah rumah sakit besar, suasana terasa begitu hening dan mencekam.
Aira Maharani sedang duduk di kursi tunggu koridor, tangannya menggenggam erat sebuah hasil pemeriksaan medis dan surat perintah operasi dari dokter. Angka yang tertera di kertas itu begitu besar, membuat kepalanya terasa pusing memandangnya.
“Tuhan… gimana ini?” bisiknya pelan, matanya mulai berkaca-kaca.
Ayahnya baru saja divonis mengalami penyakit serius dan harus segera dioperasi minggu depan. Jika tidak, nyawa ayahnya bisa terancam. Tapi masalahnya, tabungan mereka sudah habis dipakai berobat selama ini, dan usaha ayahnya sedang mengalami kemunduran drastis. Aira sudah berusaha mencari pinjaman ke sana kemari, tapi hasilnya nihil. Semua orang seolah menghilang saat mereka sedang susah.
Seorang perawat mendekatinya dengan wajah prihatin. “Mohon maaf, administrasi menanyakan kapan pembayaran uang muka operasinya bisa diselesaikan? Karena jadwal operasinya sudah sangat mepet.”
Aira menelan ludahnya susah payah, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh di depan orang lain. “I… iya Sus, saya usahakan secepatnya. Tolong beri waktu sedikit lagi ya.”
Perawat itu mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan Aira yang kini merasa dunianya seakan runtuh. Dia menundukkan wajahnya, membiarkan bahunya bergetar menahan tangis.
“Papa… maafkan Aira ya. Aira nggak tahu harus cari dari mana lagi,” isaknya pelan.
Tiba-tiba, ponsel yang ada di tangannya bergetar. Nama yang tertera di layar membuatnya terkejut.
Nomor tak dikenal
Dengan tangan gemetar, Aira mengangkat sambungan itu.
“Halo…?”
“Selamat sore, apa benar ini Aira? Maaf mengganggu. Saya Raka. Apa kamu ada waktu sebentar? Saya dan Elvano ingin mengajak kamu bertemu membahas sesuatu yang sangat penting mengenai bantuan biaya pengobatan Ayahmu. Kita bisa bantu semuanya selesai.”
Aira terpaku. Darah seolah berhenti mengalir di tubuhnya. Matanya membelalak.
“B… beneran, kak? Kakak serius?” suaranya bergetar hebat.
“Tentu. Kita tidak main-main. Boleh kita bertemu sekarang juga di restoran Hotel Grand City? Kami tunggu di sana.”
“I… iya kak! Saya segera ke sana!”
Setelah panggilan diakhiri, Aira langsung berdiri. Ada harapan yang kembali menyala di matanya, meski rasa takut juga ikut menghantuinya. Apa yang sebenarnya ingin mereka tawarkan? Kenapa tiba-tiba orang selevel Elvano Praditya mau peduli dengan nasib keluarganya?
Tanpa pikir panjang, Aira berlari kecil menuju halte bus. Dia harus tahu apa rencana mereka. Demi ayahnya, dia rela melakukan apa saja.
Beberapa jam kemudian, di sebuah restoran mewah dengan pencahayaan yang redup dan romantis.
Aira duduk dengan sangat kaku di sebuah meja sudut. Di hadapannya sekarang duduk dua pria yang sangat berbeda auranya.
Di sebelah kiri ada Raka, yang terlihat lebih ramah dan senyum-senyum. Namun di sebelah kanan, ada pria yang sejak tadi hanya diam menatap lurus ke depannya. Tatapannya dingin, tajam, dan membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa takut dan kecil.
Itu adalah Elvano Praditya.
Jantung Aira berdegup sangat kencang, seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Dia tidak pernah menyangka akan duduk sedekat ini dengan pria yang selama ini hanya dia lihat di koran atau televisi.
“Jadi… begini situasinya, Ra,” Raka memulai pembicaraan, memecah keheningan yang mencekam itu. “Kita tahu kondisi kamu dan keluarga lagi susah banget kan? Biaya operasi, bayar utang usaha, itu semua beban berat ya?”
Aira mengangguk pelan, menundukkan wajahnya tak berani menatap mata Elvano. “I… iya, Kak. Saya dan keluarga benar-benar lagi butuh bantuan banget. Saya rela melakukan apa saja asalkan Papa saya bisa sembuh dan usaha keluarga bisa selamat.”
Raka menoleh sebentar ke arah Elvano, yang hanya memberi kode mata sedikit.
“Bagus kalau begitu,” kata Raka lagi. “Elvano bersedia tanggung semua biaya pengobatan Ayah kamu. Semua biaya rumah sakit, operasi, sampai modal buat bangkitin lagi usaha keluarga kamu. Semuanya ditanggung 100%.”
Mata Aira langsung membelalak lebar. Wajahnya seketika bersinar. “Ya ampun… beneran Kak?! Terima kasih! Terima kasih banyak! Aira janji bakal kerja keras banget buat balas budi sama Kakak dan Tuan Elvano!” Aira hampir saja ingin menunduk hormat karena terlalu bahagia.
“Tapi…” Raka mengangkat satu jari, membuat senyum di wajah Aira langsung pudar seketika. “Ada syaratnya. Syaratnya berat dan harus kamu terima tanpa protes sedikit pun. Nggak boleh ada penolakan.”
Aira menelan ludah. “Sy… syarat apa, Kak? Apa saja akan saya lakukan.”
Raka menarik napas panjang, lalu berkata dengan tegas,
“Kamu harus menikah dengan Elvano Praditya.”
GUBRAK!
Suara garpu yang tadi dipegang Aira jatuh mengenai piring, menimbulkan suara keras yang memecah keheningan. Aira sendiri terpaku sempurna, matanya terbelalak tak percaya, mulutnya terbuka tapi tidak bisa mengeluarkan suara apa pun.
“A… apa?” Aira berbicara dengan suara yang hampir tak terdengar. “Me… menikah?”
“Ya,” kali ini suara berat dan dingin itu terdengar. Elvano akhirnya bicara. Dia menatap lurus ke mata Aira, membuat gadis itu merasa lemas seketika.
“Nikah sama gue,” kata Elvano pelan tapi tegas, menggunakan bahasa lo-gue agar terlihat tegas. “Jadi istri gue di atas kertas, di depan keluarga, dan di depan hukum. Gue kasih semua yang lo butuhin. Uang, jaminan hidup, semuanya. Tapi ingat baik-baik, ini cuma pernikahan kontrak. Nggak ada cinta, nggak ada perasaan yang dilibatkan. Lo cuma perlu ada di sisi gue buat bikin orang tua gue senang dan urusan keluarga beres. Setelah waktunya habis, kita cerai baik-baik. Gimana? Deal?”
Aira tertegun. Otaknya seakan berhenti bekerja. Menikah? Dengan pria dingin ini? Sebagai istri palsu?
Ini gila. Ini benar-benar gila. Tapi… dia ingat wajah ayahnya yang terbaring lemah di rumah sakit. Dia melihat tagihan yang menumpuk. Jika dia menolak, siapa lagi yang akan menolong?
Dengan tangan yang gemetar hebat, Aira mengangkat wajahnya. Menatap mata tajam Elvano yang tak berkedip.
“Baik… saya setuju,” bisik Aira, air matanya jatuh tapi dia mencoba terlihat tegar. “Asalkan ayah saya selamat, saya mau menikah dengan Tuan Elvano.”
Elvano tersenyum tipis, senyuman yang tak bisa diartikan. Dia mengulurkan tangannya. “Pintar. Maka mulai detik ini, lo adalah calon istri gue. Besok semua urusan administrasi dan persiapan akan dimulai, jangan berharap bisa main-main sama gue.”
Aira menggenggam tangan itu. Dingin. Keras. Dan itu menjadi tanda dimulainya sebuah perjalanan hidup yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Sebuah pernikahan tanpa cinta demi nyawa ayahnya.