Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: SUMPAH DI BALIK KELAMBU
Kamar tamu utama di kediaman Al-Ghifari biasanya terasa dingin dan tak berpenghuni, namun siang itu, ruangan tersebut dipenuhi oleh aura yang sangat menyesakkan. Bau antiseptik dari peralatan dokter pribadi Zayn masih tertinggal di udara, bercampur dengan harum minyak telon dan aroma hujan yang belum sepenuhnya hilang dari sudut-sudut ruangan. Di atas ranjang besar dengan kelambu sutra yang menjuntai, Aaliyah Humaira terbaring lemah. Wajahnya yang seputih porselen kini mulai mendapatkan kembali rona kehidupan, meskipun bibirnya masih tampak pucat kebiruan.
Zayn Al-Fatih masih duduk di kursi kayu di samping tempat tidur. Ia belum mengganti pakaiannya yang lembap, membiarkan kemeja mahalnya menempel kaku di tubuhnya yang tegap. Matanya yang tajam, yang biasanya hanya memikirkan angka-angka saham dan strategi bisnis, kini tak lepas menatap wajah wanita di hadapannya.
(Zayn membatin: Ya Tuhan... bagaimana mungkin aku bisa begitu buta? Wajah ini... wajah yang selama berhari-hari kuhina sebagai wajah 'pencuri' dan 'wanita munafik', ternyata adalah wajah yang sama dengan yang ada di foto investigasiku. Aaliyah Humaira. Putri kesayangan Kyai Al-Azhar yang selama ini kucari untuk membalas dendam keluarga. Namun, melihatnya terbaring tak berdaya seperti ini, mengapa rasa dendam itu menguap dan digantikan oleh rasa perih yang begitu hebat? Mengapa dadaku terasa seolah dihantam godam saat menyadari bahwa akulah yang secara tidak langsung membantunya melompat ke ambang kematian?)
Zayn mengusap wajahnya dengan kasar. Ia teringat kembali momen di tepi kolam renang tadi—saat ia menarik kain niqab itu dan menemukan kebenaran yang menghancurkan logikanya.
(Zayn membatin: Sabrina... wanita itu benar-benar iblis. Dia tahu siapa Maryam sebenarnya, atau setidaknya dia tahu Maryam adalah ancaman. Dan aku? Aku malah membiarkan Sabrina berkuasa di rumah ini. Maafkan aku, Aaliyah... Maafkan pria bodoh yang terlalu lama dipelihara oleh kebencian ini. Aku bersumpah, mulai detik ini, siapa pun yang ingin menyentuhmu, mereka harus melewati mayatku terlebih dahulu.)
Aaliyah mulai menggerakkan kelopak matanya yang lentik. Sebuah rintihan kecil keluar dari bibirnya. Ia merasa kepalanya sangat berat, seolah air kolam renang masih tertinggal di dalam rongga kepalanya. Ingatannya kembali ke detik-detik saat ia didorong oleh Sabrina. Rasa dingin, rasa sesak, dan kegelapan yang mengepungnya.
(Batin Maryam menjerit: Ayah... apakah hamba sudah sampai di sisi-Mu? Apakah ini surga? Tapi mengapa bau ruangan ini begitu asing? Dan... tangan ini? Mengapa tangan hamba terasa begitu hangat?)
Perlahan, Aaliyah membuka matanya sepenuhnya. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang mewah dengan ukiran emas. Lalu, pandangannya beralih ke samping. Di sana, Zayn Al-Fatih sedang menggenggam tangannya dengan sangat erat, seolah-olah takut jika ia melepaskannya, Aaliyah akan menghilang kembali ke dasar kolam.
"Tuan Muda..." suara Aaliyah keluar sangat serak, hampir menyerupai bisikan angin.
Zayn tersentak. Ia segera menegakkan duduknya, matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa namun juga rasa bersalah yang mendalam. "Jangan banyak bergerak dulu, Aaliyah. Kau baru saja melewati maut."
Mendengar nama aslinya disebut dengan begitu jelas oleh Zayn, jantung Aaliyah berdegup kencang. Ia mencoba menarik tangannya, namun Zayn menahannya dengan lembut tapi pasti.
"Tuan Muda... Anda... Anda memanggil saya apa?" tanya Aaliyah, air mata mulai menggenang di sudut matanya yang indah.
(Batin Maryam menjerit: Dia tahu. Dia sudah tahu siapa aku. Habislah sudah. Penyamaranku terbongkar di saat aku belum berhasil membersihkan nama ayahku. Apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan menyerahkanku kepada Tuan Baskoro? Ataukah dia akan mengusirku dalam keadaan hina seperti ini? Ya Allah, lindungilah hamba... hamba tidak punya siapa-siapa lagi selain Engkau.)
Zayn menunduk, menatap jemari Aaliyah yang pucat. "Aku tahu segalanya, Aaliyah Humaira. Aku sudah melihat fotomu. Aku tahu siapa ayahmu, dan aku tahu skandal yang terjadi di pesantrenmu. Mengapa kau tidak mengatakannya padaku sejak awal? Mengapa kau membiarkan dirimu dihina sebagai pelayan rendahan di rumah ini?"
Aaliyah memalingkan wajahnya, membiarkan air mata itu jatuh membasahi bantal sutra. "Karena di mata dunia, saya sudah mati, Tuan Muda. Berita kematian saya mungkin sudah menjadi perayaan bagi musuh-musuh ayah saya. Jika saya mengatakan kebenaran pada Anda, apakah Anda akan percaya? Anda yang sangat membenci wanita bercadar... Anda yang menganggap semua orang religius adalah manipulator... apakah Anda akan mendengarkan pembelaan saya?"
Zayn terdiam. Setiap kata yang keluar dari mulut Aaliyah terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Ia teringat kembali semua hinaan yang ia lontarkan tentang "bau kemiskinan" dan "kemunafikan".
(Zayn membatin: Dia benar. Aku adalah hakim yang paling kejam baginya. Aku menutup pintu kepercayaan bahkan sebelum dia sempat mengetuknya. Bagaimana bisa aku begitu sombong dengan logikaku, sementara dia berjuang melawan badai sendirian di bawah atapku?)
"Aku salah," ucap Zayn pendek, namun penuh penekanan. Ia menatap Aaliyah dengan tatapan paling tulus yang pernah ia miliki. "Aku telah melakukan kesalahan besar padamu. Dan aku tidak akan memintamu memaafkanku sekarang, karena aku tahu perbuatanku tidak pantas dimaafkan hanya dengan kata-kata. Tapi satu hal yang harus kau tahu, Aaliyah..."
Zayn menguatkan genggamannya. "Aku tidak akan membiarkan Sabrina atau ayahnya menyentuhmu lagi. Di rumah ini, kau bukan lagi Maryam sang pelayan. Kau adalah tamu kehormatanku. Dan perisaimu."
"Tapi Tuan Muda... Sabrina... dia sangat berbahaya. Dia bekerja sama dengan Rian untuk menghancurkan Anda juga," isak Aaliyah.
"Aku tahu. Dan itulah sebabnya kita harus tetap bersandiwara untuk beberapa waktu lagi," jawab Zayn. "Dunia luar harus tetap percaya bahwa kau adalah Maryam yang teraniaya, atau bahkan mereka harus tetap percaya bahwa Aaliyah Humaira sudah tiada. Itu akan membuat mereka lengah."
Sementara itu, di luar pintu kamar yang terkunci, Sabrina berdiri dengan wajah yang memerah karena amarah yang meledak-ledak. Ia bisa mendengar gumaman suara di dalam, meskipun ia tidak bisa menangkap detail pembicaraan mereka. Kuku-kukunya yang dipoles merah darah mencengkeram gagang pintu hingga buku jarinya memutih.
(Sabrina membatin: Berani-beraninya! Zayn mengunci diri dengan pelayan itu! Kenapa dokter pribadinya bilang dia baik-baik saja? Seharusnya dia sudah mati! Aku sudah mendorongnya ke titik terdalam! Dan apa yang Zayn lihat tadi di kolam? Aku melihat niqabnya terlepas... apakah Zayn mengenali wajahnya? Tidak, itu tidak boleh terjadi! Jika Zayn tahu dia adalah putri Kyai itu, semua rencanaku dan Papa akan hancur total! Aku harus menyingkirkannya malam ini juga, apa pun caranya!)
Sabrina berbalik dengan cepat saat mendengar langkah kaki mendekat. Itu Bi Inah, yang membawa nampan berisi bubur hangat.
"Minggir, Tua Bangka!" bentak Sabrina, menyenggol bahu Bi Inah hingga wanita tua itu hampir terjatuh.
"Nyonya Sabrina... Tuan Muda berpesan agar tidak ada yang mengganggu Maryam dulu," ucap Bi Inah dengan suara gemetar.
"Maryam? Namanya pencuri, bukan Maryam! Dan ingat ya, Bi Inah, jangan merasa aman karena Zayn membelanya hari ini. Begitu aku jadi nyonya di rumah ini, kamu dan pelayan busuk itu akan aku tendang ke jalanan!" Sabrina melotot tajam, lalu melangkah pergi menuju kamarnya sendiri.
Di dalam kamarnya, Sabrina segera menelepon ayahnya, Tuan Baskoro.
"Papa! Kita dalam masalah besar! Zayn menyelamatkan Maryam, dan sepertinya dia mulai curiga padaku! Kita tidak bisa menunggu merger saham itu minggu depan. Kita harus menghancurkan Zayn sekarang juga! Gunakan kartu as kita tentang skandal Al-Azhar. Hubungi media, katakan bahwa buronan Aaliyah Humaira bersembunyi di rumah Zayn Al-Fatih! Biarkan polisi yang menggeledah rumah ini!"
(Sabrina tertawa licik dalam hati: Ya! Itu rencana yang sempurna! Jika polisi datang dan menemukan Aaliyah di sini, Zayn akan dituduh menyembunyikan buronan kelas kakap. Zayn akan hancur, perusahaannya akan jatuh ke tangan Papa, dan aku... aku akan tetap menjadi pemenangnya. Selamat tinggal, Aaliyah. Kamu tidak akan pernah bisa merebut Zayn dariku!)
Kembali ke dalam kamar tamu, Aaliyah sudah mulai tenang. Ia menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal. Zayn telah memberinya segelas air hangat yang dicampur madu untuk memulihkan tenaganya.
"Tuan Muda... ada sesuatu yang harus Anda ketahui tentang dokumen di meja Anda kemarin," ucap Aaliyah perlahan. "Yayasan Al-Azhar tidak pernah melakukan pencucian uang. Ayah saya dijebak melalui sistem digital. Seseorang meretas server yayasan dan membuat transaksi fiktif yang seolah-olah ditandatangani oleh ayah saya. Dan orang itu... dia menggunakan algoritma yang sangat mirip dengan yang digunakan Rian saat menyerang perusahaan Anda."
Zayn mengernyitkan dahi. "Maksudmu, dalang di balik fitnah keluargamu adalah orang yang sama dengan yang mencoba menghancurkanku?"
"Saya yakin itu, Tuan Muda. Mereka ingin mengambil tanah yayasan untuk proyek properti besar, dan mereka butuh dana segar dari Al-Ghifari Group untuk membangunnya. Itu sebabnya mereka menyerang dari dua sisi. Mereka menghancurkan kehormatan keluarga saya untuk mendapatkan tanahnya, dan mereka mencoba menjatuhkan Anda untuk mendapatkan modalnya."
Zayn berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Rahangnya mengeras. "Baskoro. Dia dalang di balik semua ini. Dia ingin membangun Smart City di atas tanah pesantren ayahmu. Dan dia menggunakan Sabrina untuk masuk ke dalam hidupku."
Zayn berhenti di depan Aaliyah, menatapnya dengan penuh determinasi. "Aaliyah, bisakah kau membantuku sekali lagi? Bukan sebagai pelayan, tapi sebagai partner? Aku punya akses ke pusat data Baskoro, tapi keamanannya sangat ketat. Aku butuh kemampuan 'H_Zero' milikmu untuk menembusnya."
Aaliyah menatap Zayn. Ada keraguan di matanya. "Anda ingin saya... meretas lagi?"
"Bukan untuk kejahatan, tapi untuk menjemput kebenaran. Kita butuh bukti rekaman pembicaraan mereka atau data transaksi asli sebelum mereka menghapusnya." Zayn berlutut di samping tempat tidur, menyamakan tingginya dengan Aaliyah. "Aku akan menjagamu. Aku akan memberikan fasilitas terbaik. Dan setelah semua ini selesai, aku sendiri yang akan berdiri di depan media untuk membersihkan nama baikmu dan ayahmu."
(Batin Maryam menjerit: Ya Allah... apakah ini jalan yang Engkau bentangkan untukku? Pria yang dulunya kuanggap musuh, kini menawarkan tangan untuk memulihkan kehormatanku. Apakah aku boleh menyerahkan kepercayaanku sepenuhnya pada Zayn? Tatapan matanya... terasa sangat berbeda sekarang. Tidak ada lagi kedinginan, yang ada hanyalah ketulusan yang membara. Ayah... Aaliyah akan berjuang. Dengan bantuan pria ini, Aaliyah akan membawa kembali cahaya ke Al-Azhar.)
"Saya setuju, Tuan Muda," jawab Aaliyah mantap.
Zayn tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sangat jarang terlihat, namun sangat mempesona. "Panggil aku Zayn saat kita sedang berdua, Aaliyah. Mulai sekarang, tidak ada lagi sekat antara majikan dan pelayan di antara kita."
Malam itu, di kediaman Al-Ghifari yang tampak tenang dari luar, sebuah persekutuan rahasia telah lahir. Aaliyah mulai bekerja dengan laptopnya di bawah pengawasan Zayn. Namun, mereka tidak menyadari bahwa di luar sana, sirene polisi mulai mendekat atas laporan anonim dari Sabrina. Badai yang sesungguhnya baru saja akan menerjang pintu depan mereka.
(Zayn membatin: Biarkan mereka datang. Mereka tidak tahu bahwa singa yang mereka bangunkan kini sudah memiliki sayap. Aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi, Aaliyah. Tidak akan pernah.)
Sinetron kehidupan ini telah mencapai titik di mana cinta dan strategi perang mulai berjalin menjadi satu. Akankah Zayn berhasil melindungi Aaliyah dari serbuan polisi, ataukah penyamaran Aaliyah akan berakhir di balik jeruji besi?
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji