NovelToon NovelToon
Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.

Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Salah satu alasan mengapa Iselda tidak terlalu meributkan masalah pengawalan menuju Myrval adalah karena kepercayaan diri dalam penggunaan sihir. Dia berpikir melumpuhkan satu monster atau sejumlah bandit bukanlah tindakan sulit. Namun, setelah menempuh separuh perjalanan menuju ibukota kekaisaran, dia harus menelan kembali keberanian dan kepercayaan diri tersebut saat kereta kudanya dikepung oleh tujuh bandit dan tiga dari mereka mampu menggunakan ener dalam bentuk penguatan fisik. Daya serang mereka berkali-kali lipat dari manusia pada umumnya. Itu tampak ketika mereka mengayunkan kapak dan merobek permukaan tanah, tetapi tidak seorang pun dari mereka mampu menyentuhnya. Padahal, Iselda telah bersiap melesatkan proyektil sihir dari kedua tangan, tapi kakaknya maju lebih dulu dan menghajar para bandit menggunakan tangan kosong.

Iselda menautkan tangan di depan dada tanpa melepaskan pandang dari Ilyar yang telah berjongkok di hadapan para bandit yang sudah dibuat babak belur kemudian menarik salah satu dari mereka yang diyakini pemimpinnya.

Bandit tersebut tidak berdaya dalam posisi tengkurap, tapi malah diseret dan dijenggut rambutnya oleh Ilyar kemudian sembari merundukkan kepala sedikit lebih dekat pada wajah bandit yang terpaksa didongakkan, Ilyar bertanya pelan pada si bandit, nyaris seperti bisikan penuh kecaman. "Siapa yang menyewa kalian?"

Masih angkuh, si bandit mengulas senyum sarkas. "Kamu pikir aku akan memberit-argh!"

Belum sempat menyelesaikan kalimat, satu tinju dihantamkan ke wajahnya. Si bandit segera meraung sementara rekan-rekannya yang tergeletak tidak berdaya di sekitar langsung menelan ludah ketakutan.

"Padahal ini waktu yang tepat menggunakan mulut. Haruskah kupotong lidahmu?" Ilyar mencengkeram kuat rahang bandit tersebut, menatap ke arah mulut dan berpikir untuk memotong lidahnya jika masih keras kepala.

Ada begitu banyak cara menyiksa tahanan supaya buka mulut. Ilyar telah menyaksikan Solomon mengintrogasi sejumlah tahanan keras kepala di awal, tapi mengemis pengampunan diakhiran. Mereka berpikir bisa menahan tekanan, tapi kepercayaan diri semacam itu hanya menyiksa.

"Pak tua itu kejam, tapi apa yang dia perlihatkan padaku punya banyak kegunaan, "komentar Ilyar dalam hati.

Selama lima tahun terakhir setelah dipindah ke lantai sebelas, kegiatan hari-hari Ilyar lainnya adalah mengekori Solomon secara sembunyi-sembunyi. Seperti menyamar sebagai sipir dan ikut ambil peran dalam menangani tahanan pembangkang, sisanya berlatih.

"Kamu tidak akan benar-benar melakukannya," kata si bandit seraya melirik ke belakang kepala Ilyar, di mana Iselda berdiri dengan raut wajah cemas.

Ilyar tersenyum lalu tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit tipis bergerak untuk melesakkan dua jari secara paksa ke dalam mulut bandit, menjepit lidah lalu ditarik kasar seiring tangan bebas lainnya mengambil belati yang terselip di saku jubah.

"Apa kamu lupa bahwa aku seorang Valgard?"

Sepasang mata bandit bergetar ketakutan.

Rambut merah identik dengan sosok penguasa Tyraven. Dia tidak menduga bahwa ada dua Valgard dalam kereta dan sosok itu jauh lebih mengerikan. Padahal jelas-jelas wanita yang datang menemuinya mengatakan target mereka hanya seorang Valgard lemah yang hanya tahu menggunakan sihir.

Apa kami ditipu? Jalang itu menipu kami?!

Raungnya tidak terima sementara Ilyar telah bersiap memotong lidahnya yang ditarik keluar.

"Kami tidak tahu! Tapi dia seorang wanita dan ada tahi lalat di sudut bibirnya! Dia memberi uang lebih banyak karena kami tidak bertanya lebih jauh latar belakangnya!" anak buah si bandit berseru.

Wanita bertahi lalat di sudut bibir?

Ya, siapa pun dia untuk saat ini bukanlah sesuatu yang penting. Sekarang, dia harus melanjutkan perjalanan ke Myrval. Sudah terlalu banyak waktu terbuang karena bandit-bandit ini.

"Hm... aku tidak bisa membiarkan kalian begitu saja." Ilyar lantas berdiri setelah melepas sarung tangan yang terkena liur si bandit, membuangnya lalu menyarungkan kembali belati di balik jubah.

"A-apa yang mau kamu lakukan?" Suara bergetar dan wakah pucat mereka membuat seringai Ilyar tercetak jelas.

***

Ilyar bersenandung kecil ketika sudah memasuki pedesaan. Masih terbilang jauh untuk sampai ke Myrval. Biasanya memakan waktu sampai berhari-hari, tapi karena itulah mereka bisa menikmati perjalanan dengan santai. Akan tetapi, bukan hal tersebut yang membuat Ilyar gembira melainkan karena dua kantung kulit besar berisi kepingan emas bergelantung di ikat pinggangnya.

Iselda mengerutkan dahi dan menatap dua kantung yang sedikit berselindung di balik jubah kakaknya. "Kakak mau menggunakannya?"

"Tentu saja. Ada masalah?"

"Bukankah itu sama saja hasil curian?"

Ilyar tertawa pelan. "Tentu saja agak berbeda. Uang-uang ini, kan diberikan pada mereka untuk memburumu dan karena gagal, uang ini seharusnya tidak jadi milik mereka. Lagi pula mereka harus bayar ganti rugi karena menghambat perjalanan kita."

"Benar juga." Iselda mengerutkan dahi, mencari letak masuk akalnya lalu mengangguk-anggukan kepala.

Senyum Ilyar mengembang. "Kita bisa memberi sais bayaran lebih, dia pasti terkejut karena situasi tadi."

*Sais/Kusir: Orang yang menjalankan kereta kuda. Bisa kendaraan lain seperti dokar, andong, dan sebagainya)

Iselda tidak lagi bicara, sedangkan Ilyar kembali bersenandung kecil sambil melipat tangan depan dada. "Apa dia sudah mengantar orang-orang itu ke sana?"

Dan di waktu bersamaan, tepatnya di garnisun dekat benteng kota, para prajurit yang bertugas di sana terkejut dan nyaris pingsan mendapati kedatangan Vyr.

Rubah merah yang sebelumnya sempat menggegerkan di Aula Istana Tinggi saat sidang pembuktian itu hadir sambil melempar tujuh bandit bertubuh besar yang dibelit tali sihir dari giginya.

Tanpa banyak bicara, Vyr langsung berkelebat karena Ilyar hanya memerintahnya untuk membawa para bandit ke penjara terdekat Tyraven agar segera ditangani alih-alih melepaskan mereka begitu saja.

"Pasti Putri pertama yang melakukan ini."

Komandan garnisun luar menelan ludah setelah merasa lega atas kepergian Vyr.

"Seret mereka ke penjara!" serunya.

"Baik, Komandan!"

Di sisi lain, Ilyar menghentikan perjalanan dan memilih untuk bermalam di pedesaan yang terletak tidak terlalu jauh dari benteng kekaisaran. Menyewa satu kamar di sebuah penginapan sederhana, Ilyar duduk di kursi sembari memperhatikan Iselda duduk di tepi ranjang sambil memainkan benang-benang sihir tipis di kedua tangannya.

"Sihirmu sangat indah," puji Ilyar.

Benang-benang tipis yang terlihat amat halus serta dihias partikel-partikel cahaya biru berpadu emas tersebut terlihat sangat cantik. Terlebih alirannya bermain dengan menyelinap di setiap sela jemari Iselda yang ramping dan lentik.

Iselda tersenyum tipis. "Ini semua berkat Kakak," jawabnya sampai membuat Ilyar mengangkat sebelah alis bingung.

"Aku?"

Iselda menoleh pada Ilyar. Tidak langsung menjawab, dia malah mengulas senyum lebih lembut.

"Semakin indah dan jelas tampilannya, maka semakin kuat daya serangnya." Iselda lantas mengubah pergerakan tangannya, dari gemulai menjadi lebih bertenaga. Membuat benang-benang lemah tadi memadat dan membentuk sebuah energi beku berbentuk kepingan hexagonal tipis mengilap yang tampak tajam.

Sepasang mata Ilyar terbelalak, kagum. Namun, sihir itu tidal bertahan lama, memudar dalam hitungan detik. "Aku belum mampu menggunakan sihir sebagai media penyerangan. Jika Kakak tidak ikut bersamaku, mungkin aku hanya bisa melindungi diri sampai bala bantuan tiba. Yah, itu pun jika ada yang datang," katanya diakhiri nada sedih dan raut wajah berubah agak kecut.

Ilyar mengembuskan napas lalu berpindah posisi, duduk di samping Iselda. "Iselda."

"Ya, Kakak?"

"Jadilah kuat agar tidak menyulitkan dirimu terlebih dahulu dan dengan begitu kamu baru dapat mencemaskan orang lain."

Sepasang mata Iselda bergetar pelan. "Apa maksud Kakak?"

"Jangan terburu-buru. Kamu bisa istirahat.

Bukankah melelahkan bekerja keras akhir-akhir ini?"

Perkataan Ilyar segera membuat mata Iselda berkaca-kaca. Yah, benar. Dia sangat lelah dan ketakutan selama delapan tahun terakhir untuk bisa sampai di titik ini.

Ilyar tersenyum tipis lalu mendorong pelan sepasang bahu Iselda, menuntunnya untuk berbaring. Ilyar menarik selimut hingga sebatas dada adiknya lalu berkata, "Tidurlah lebih awal karena kita akan melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbit."

Ilyar lantas meninggalkan ranjang. Hendak pergi keluar, tapi Iselda menyahut dengan posisi setengah terduduk.

"Kakak mau ke mana?"

"Keluar sebentar. Kamu di sini saja bersama Vyr." Ilyar menjawab seiring ekor mata bergerak ke arah jendela. Di mana Vyr baru saja tiba dalam wujud kecil, duduk sambil menjilat-jilati kuku tangan.

Kini, Vyr dan Iselda saling pandang sementara Ilyar telah pergi keluar penginapan. Bergerak di kegelapan malam untuk memburu para pembunuh bayaran yang tampaknya telah menunggu kedatangan mereka di pedesaan.

Tak cukup tujuh bandit, mereka juga menyewa seorang pembunuh bayaran elit. Mereka sangat serius demi memastikan Iselda tidak kembali hidup-hidup.

"Kali ini aku bisa tahu siapa penyewa mereka," kata Ilyar diiringi seringai. Mata kelabunya tampak berkilat di kegelapan tatkala satu persatu pembunuh bayaran yang telah bergerak mengintai mereka tertangkap pandangannya.

1
Mila Sari
Thor upnya yg banyak donk,,
Iry: malam ya beb
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
Diam...mengamati...berakhir EKSEKUSI😐😐😐
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya tambah seru aja thor..
Iry: hehehe iya beb
total 1 replies
Firniawati
ayo kak up lagi yg banyak 😍
Iry: sabar yahhhh, mungkin malam
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
intrik..ambisius & haus akan valisldasi disebuah kerajaan..memang sangat membagongkan..baik didunia nyata maupun cerita❤️❤️❤️❤️
Gesang
seruuuuu👍👍👍
Firniawati
sangat bagus ceritanya seru tidak monoton dan membosanka,,terus semangat ya kk othor 🥰
Iry: waaaahhh makasih banyak❤
total 1 replies
Firniawati
kak kapan update lagi?
Iry: aku update hari ini
total 1 replies
EL MARIA
kok sama kaya yg di fizo yaa.... yg di fizo udh tamat dari lama ini autor nya sama kah
CaH KangKung,
👣👣
𝐀⃝🥀Weny
lanjut lagi thor.. ceritamu yang ini tambah seru dan penuh tantangan😊
𝐀⃝🥀Weny: yeeey.. thanks thor❤️❤️❤️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!