NovelToon NovelToon
Benang Yang Tersembunyi

Benang Yang Tersembunyi

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Anak Genius / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.

Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Invasi Mini di Menara M-Nexus

Pagi itu, Seoul masih berkabut saat bus sekolah kuning berhenti di depan apartemen. Chae-young—atau kini kita panggil Mommy—mencium kening si kembar dengan perasaan was-was yang luar biasa. Matanya sembab, rambut bronte waves-nya hanya diikat asal dengan terburu-buru.

"Belajar yang baik, ya? Nanti Mommy jemput tepat waktu. Kita... kita akan pergi jalan-jalan setelah pulang sekolah," bisik Chae-young, mencoba menyembunyikan rencana pelariannya dari Seoul.

"Oke, Mommy," jawab Chan-yeol datar, matanya yang ice blue menatap ibunya dengan sorot yang sulit dibaca.

"Hati-hati di rumah, Mommy," tambah Chae-rin sambil memberikan senyum manis yang menyimpan rahasia besar.

Begitu pintu bus tertutup dan bus mulai menjauh, si kembar tidak duduk tenang. Begitu bus berhenti di halte pertama dekat stasiun bawah tanah, Chan-yeol menarik tangan Chae-rin.

"Sekarang!" bisik Chan-yeol.

Mereka menyelinap turun di antara kerumunan orang dewasa yang sibuk. Dengan tas ransel kecil berisi botol minum dan tablet, kedua bocah berusia empat tahun itu melangkah dengan penuh percaya diri menuju stasiun. Chan-yeol membuka tabletnya, memeriksa rute subway yang sudah ia pelajari semalam.

"Kita naik jalur dua, lalu turun di Gangnam Station Exit 7," instruksi Chan-yeol. Suaranya yang teratur, benar-benar duplikat suara Daddy-nya.

Satu jam kemudian, lobi megah M-Nexus yang biasanya tenang mendadak gempar.

Seorang petugas keamanan bertubuh besar hampir menjatuhkan ponselnya saat melihat dua sosok mungil berjalan masuk melewati gerbang sensor. Bukan karena mereka anak kecil, tapi karena bocah laki-laki yang berjalan di depan memiliki aura, cara berjalan, bahkan tatapan mata yang identik dengan sang CEO.

"Maaf, anak-anak, kalian sedang mencari siapa?" tanya petugas itu dengan suara yang sangat sopan.

Chan-yeol berhenti, menatap petugas itu dari bawah ke atas. "Kami ingin bertemu dengan Matteo Adrian Reins Smith."

Petugas itu menelan ludah. "Apakah kalian sudah ada janji? Tuan CEO sangat sibuk."

Chae-rin maju selangkah, meletakkan tangannya di pinggang. Rambut ikalnya bergoyang saat ia mendongak dengan tatapan tajam.

"Katakan padanya, dua orang yang memiliki mata yang sama dengannya sedang menunggunya di bawah. Jika dia tidak mau turun, aku akan memberitahu semua orang di sini bahwa dia adalah Daddy yang tidak bertanggung jawab karena membiarkan anaknya naik bus sendirian."

Goncangan hebat terjadi di lobi. Para staf wanita yang lewat mulai berbisik-bisik, beberapa bahkan mengambil foto secara sembunyi-sembunyi. "Lihat matanya! Biru es! Itu benar-benar mata Tuan Matteo!"

Di lantai atas, Soo-hyun baru saja hendak masuk ke ruangan Matteo saat ponselnya berdering kencang dari bagian keamanan lobi.

"Ada apa? Aku sedang sibuk," ucap Soo-hyun dingin.

"Tuan... Tuan Kang! Anda harus turun ke bawah sekarang! Ada... ada dua 'Tuan Smith' kecil di lobi dan mereka mengancam akan membuat keributan jika tidak bertemu CEO!"

Soo-hyun hampir saja menjatuhkan dokumen yang ia pegang. Ia langsung berlari menuju lift tanpa mengetuk pintu Matteo terlebih dahulu. Begitu pintu lift terbuka di lobi, pemandangan yang ia lihat membuatnya merasa dunianya terhenti.

Di tengah lobi yang luas, Chan-yeol sedang duduk dengan tenang di sofa kulit sambil mengoperasikan tabletnya, sementara Chae-rin sedang berdiri di depan meja resepsionis, memarahi staf karena tidak memberinya jus apel.

"Uncle?" panggil Chan-yeol saat melihat Soo-hyun. Ia mengenali asisten itu dari pertemuan di butik Mommy kemarin.

Soo-hyun mendekat dengan langkah gemetar. "Kalian? Bagaimana kalian bisa sampai ke sini?"

"Naik bus dan kereta. Tidak sulit jika karena kami punya otak," jawab Chan-yeol datar.

Soo-hyun memijat pelipisnya. Ini bencana. Sekaligus keajaiban. "Ikut Uncle. Sekarang. Sebelum ada wartawan yang datang ke sini."

Soo-hyun membawa mereka ke lift privat. Di dalam lift, Chae-rin menatap pantulan dirinya di cermin lift yang mengkilap. "Apa Daddy sangat galak, Uncle?"

Soo-hyun tertegun mendengar kata Daddy. "Tidak, Daddy kalian sangat baik."

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai 50. Matteo sedang berdiri di depan jendela, membelakangi pintu. Ia tampak kacau, jasnya tersampir di kursi dan lengan kemejanya digulung. Ia masih memikirkan Chae-young dan bagaimana cara mendekati wanita itu lagi.

"Soo-hyun, aku bilang jangan ganggu aku kecuali ini soal Park Chae-young," ucap Matteo tanpa berbalik.

"Tuan, ini bukan soal Nona Park secara langsung," suara Soo-hyun bergetar. "Tapi ada tamu yang memaksa bertemu."

Matteo berbalik dengan wajah dinginnya yang legendaris, siap untuk memarahi siapa pun yang berani mengganggunya. Namun, kata-katanya tertelan kembali di tenggorokan.

Di depan pintunya, berdiri dua bocah kecil. Chan-yeol menatapnya dengan tatapan menantang yang sangat familiar, dan Chae-rin menatapnya dengan tatapan selidik.

"Annyeong, Uncle," ucap Chae-rin dengan suara nyaring yang membuat seluruh ruangan terasa bergetar.

Matteo mematung. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang Titan dari M-Nexus tidak tahu harus berkata apa. Ia menatap Chan-yeol, lalu ke Chae-rin, dan akhirnya ke arah Soo-hyun yang hanya bisa mengangkat bahu pasrah.

"Kalian..." Matteo melangkah maju, suaranya serak. "Bagaimana bisa?"

"Kami kabur dari sekolah," potong Chan-yeol tenang. Ia berjalan mendekati meja kerja Matteo yang besar dan meletakkan tabletnya di sana. "Kita perlu bicara, Uncle. Soal kenapa Mommy menangis semalam, dan soal kenapa Uncle punya wajah yang sama denganku tapi tidak pernah ada di foto keluarga kami."

Matteo merasakan dadanya sesak oleh campuran rasa bangga dan bersalah yang meledak-ledak. Ia menatap dua nyawa kecil di depannya, lalu menatap pintu lift yang tertutup.

"Soo-hyun," panggil Matteo, matanya tidak lepas dari si kembar.

"Ya, Tuan?"

"Kunci lantai ini. Jangan biarkan siapa pun masuk. Dan pesankan dua porsi makan siang paling enak dan jus apel yang paling mahal di Seoul."

Matteo kemudian berlutut di hadapan si kembar, menyamakan tingginya dengan mereka. "Baiklah, Chan-yeol. Chae-rin. Mari kita bicara."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!