Hana Wanita yang di Hamili mantanya, namun dia menikah dengan anak SMA yang patah hati di tinggal nikah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
"Iya, Mama," jawab Aldo lalu berdiri dan melangkah menuju pintu.
Pintu kamar terbuka. Aldo menatap ibunya yang berdiri di depannya. Ibunya berbicara, mengajak Aldo makan bersama sebelum berangkat sekolah. Mereka pun menuju dapur. Di kursi meja makan, ayahnya sudah duduk dan menikmati sarapan. Aldo ikut duduk, dan ibunya juga mendudukkan dirinya.
Mereka pun makan bersama. Sambil menikmati makanan, Aldo berbicara kepada ayahnya.
"Pa, Ma, Aldo mau menikah sama Hana," ucap Aldo.
Ayahnya sempat terdiam dan menatap Aldo dengan tatapan tajam, lalu berbicara.
"Malu, Nak. Kamu tidak mampu apa-apa. Hana bukan orang dari kalangan kita. Kita hanya masyarakat biasa. Hana juga tidak akan menyukai kamu, Nak. Lebih baik fokus sekolah," ucap ayahnya lalu berdiri dan pergi menuju kamar.
Aldo menatap heran kepergian ayahnya. Dia tidak menghabiskan makanannya, melainkan berdiri. Ibunya berbicara kepada Aldo sebelum dia melangkah pergi.
"Nak, kenapa tidak dihabiskan makanannya?" ucap ibunya.
Aldo terhenti saat ditanya oleh ibunya, lalu dia menjawab, "Aldo sudah kenyang, Ma."
Aldo pun pergi berangkat menuju sekolah, meskipun harus berangkat sendirian. Di depan rumah, setelah menyalakan motornya, Aldo pun pergi. Saat melaju, Aldo sempat berpikir tentang ucapan ayahnya. Dia belum sempat berbicara, tetapi ayahnya sudah pergi. Tak terasa, Aldo sudah sampai di gerbang sekolah. Dia terus melaju hingga sampai di parkiran.
Saat siang, Aldo masih di dalam kelas. Dia duduk terdiam. Ingatannya kembali teringat ucapan ayahnya. Namun, Aldo tidak putus asa. Dia mencoba mengambil telepon genggamnya dari dalam saku. Saat tangannya memegang telepon genggam, dia mulai mengirimkan pesan kepada Hana untuk meminta solusi terbaik. Namun, saat Aldo sedang mengetik pesan, tiba-tiba Lexy masuk ke dalam kelas untuk menemuinya.
"Aldo, lagi apa? Alex sudah menunggumu di belakang," ucap Lexy sambil mendekat ke arah Aldo.
Lexy pun duduk di samping Aldo sambil menatap Aldo yang masih melanjutkan mengirim pesan kepada Hana.
"Lagi apa, sih, Al? Kok kayak sibuk banget?" tanya Lexy.
Setelah Aldo selesai mengirim pesan kepada Hana, menceritakan apa yang dia dapatkan, Aldo pun berbicara kepada Lexy.
"Enggak ada, kok. Cuma lagi nge-chat Hana," ucap Aldo.
"Emm... ya sudah, kita ke belakang. Alex sudah menunggu," ucap Lexy lalu berdiri. Aldo pun mengangguk.
Mereka berdua melangkahkan kaki bersama-sama untuk menemui Alex yang sedang nongkrong di teras belakang sekolah. Di belakang, mereka duduk bersama. Saat Aldo duduk, Alex bertanya kepadanya karena dia melihat sikap Aldo yang begitu bingung.
"Aldo, kamu sedang ada masalah apa? Sampai seperti itu. Coba cerita. Siapa tahu kita bisa selesaikan masalah yang kamu dapat," ucap Alex.
"Enggak ada, kok, Lex," ucap Aldo, mencoba menutupi masalahnya.
"Mending bicara saja, Do. Pasti kita selesaikan bareng-bareng," ucap Lexy ikut berbicara.
"Emm... ya sudah, deh. Jadi, aku mau menikah dengan Hana, tapi ayahku melarangnya. Sedangkan aku sama Hana saling suka," ucap Aldo.
"Wih, gue dukung! Eh, kan kamu masih sekolah, kok sudah kepikiran nikah, sih, Do?" ucap Alex.
"Ceritanya panjang. Aku enggak bisa ceritakan semuanya, karena ini untuk kebaikan Hana. Aku takut terjadi sesuatu sama Hana. Kalian tahu kan kemarin Hana diculik? Hana diculik sama mantannya. Makanya aku akan menikahinya," ucap Aldo.
"Terus rencananya gimana?" tanya Lexy.
"Justru itu aku sendiri bingung. Tapi aku akan mencoba mengajak Hana biar bisa mengobrol bareng sama ayahku. Kalau ini enggak main-main," ucap Aldo.
"Nah, betul itu. Tenang, kita akan ada di belakang lo agar pernikahan kalian berjalan sempurna," ucap Alex.
"Nanti pulang sekolah kita obrolin lagi saja, gimana? Sambil mencari solusi terbaik," ucap Lexy.
"Boleh, tuh. Kalian mau pada ke kantin enggak?" ucap Aldo.
"Ayo, ke kantin. Aku juga belum makan, sih, tadi berangkat dari rumah," ucap Alex.
Mereka pun berdiri bersama-sama, lalu melangkah menuju ke kantin. Aldo merasa tenang karena mendapatkan dukungan terbaik dari teman-temannya. Meskipun Aldo pernah menjadi sasaran bagi Alex, Lexy, dan teman lainnya, Aldo merasa begitu bahagia karena sikap mereka berbeda dari sebelumnya.
Dia merasakan lega, bahkan ketika ada masalah pun, Aldo merasa ada sebuah pertolongan. Meskipun Aldo mencari keduanya, dia masih merasakan hal yang sama dengan mereka. Bahkan, Aldo tidak menganggap dirinya sendiri tinggi seperti langit.
Hingga di kantin, mereka pun memesan makanan untuk mengisi perut. Jam istirahat selesai, Aldo kembali masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan belajarnya. Hari mulai menjelang sore, jam pelajaran pun selesai. Namun, Aldo tidak langsung pergi dari kelasnya. Dia melihat telepon genggamnya. Hana sudah lama membalas pesan dari Aldo.
"Aku tahu, penolakan itu menyakitkan, Al. Tapi aku enggak tahu harus bagaimana lagi. Rasanya aku tidak mungkin untuk mencari dalam waktu beberapa hari. Aku takut perut ini semakin besar," pesan dari Hana.
"Jangan mencari yang lain, Hana. Aku akan terus mencoba membujuk ayahku. Aku butuh solusi darimu. Bagaimana kalau kita bersama-sama untuk bicara kepada orang tuaku?," pesan dari Aldo.
"Terima kasih, Aldo, aku begitu terharu dengan sikapmu yang tidak mudah menyerah," pesan dari Hana.
"Iya, sama-sama. Kita bisa bertemu sekarang enggak, Hana?," pesan dari Aldo.
"Kita mau bertemu di mana?," pesan dari Hana.
"Kamu tunggu di taman saja. Aku langsung ke sana," pesan dari Aldo.
Aldo pun berdiri, mengambil ranselnya, dan pergi menemui Hana. Saat Aldo menuju ke tempat parkir, dia sempat dipanggil Lexy dari belakang.
"Jadi, kan, kita kumpul bareng?" tanya Lexy.
"Kayaknya enggak, deh, Lex. Aku mau membicarakan masalah ini agar cepat menemukan jalan keluarnya," jawab Aldo.