Warning!!
***
Mawar datang ke keluarga terpandang itu sebagai menantu yang sempurna.
Cantik, lembut, dan tampak penuh bakti.
Namun di balik senyumnya yang manis, tersimpan dendam yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.
Pernikahannya bukan tentang cinta.
Melainkan jalan untuk menghancurkan keluarga Black dari dalam.
Semua berjalan sesuai rencana… hingga satu hal mulai menggoyahkan tekadnya.
Suaminya.
Arestio Black mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga. Tanpa syarat.
Tetapi ketika kebenaran akhirnya terungkap, cinta berubah menjadi luka paling dalam.
***
“Apa selama ini… kamu hanya memanfaatkan ku, sayang ?” bisik Arestio, suaranya retak.
Mawar tersenyum tipis, mata-nya berkabut. “Jika iya… apa kamu masih ingin memeluk ku, suamiku ?”
Di antara hasrat, tipu daya, dan rahasia masa lalu,
balas dendam berubah menjadi permainan perasaan yang mematikan.
Karena terkadang… racun paling berbahaya bukanlah kebencian. Melainkan cinta yang tumbuh di tempat yang sala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Menjadi rebutan 3 pria
0o0__0o0
Ruang rapat kembali hening.
Ucapan Rison barusan seperti palu yang di ketukkan—final, tak terbantahkan.
Sorot mata Dresto menggelap. Rahang-nya mengeras, namun ia tetap duduk tegak. Profesional. Terkendali. Meski di dalam, amarah dan kegelisahan berputar liar.
"Keputusan ini tidak bisa di tawar lagi," lanjut Rison dingin. "Mulai minggu depan, kamu resmi menjabat sebagai CEO di Black Stone Developments."
Beberapa direktur langsung mencatat cepat. Sebagian lainnya hanya menunduk, enggan terlibat dalam ketegangan keluarga yang terasa jelas di udara.
Sementara itu, Ares perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Bibirnya melengkung tipis, nyaris tak terlihat.
"Sepertinya... posisi itu akhirnya jatuh ke tangan Lo juga," gumam-nya pelan, cukup untuk di dengar Dresto.
Tatapan Dresto langsung beralih tajam. "Apa kamu bilang ?" suaranya rendah, berbahaya.
Ares hanya mengangkat bahu santai. "Gue cuma bilang… jangan terlalu berat ninggalin sesuatu yang bukan punya lo sepenuh-nya."
Kalimat itu terdengar ringan, tapi menusuk tepat sasaran.
Dresto mengepalkan tangan di bawah meja.
Sial.
Bukan hotel itu yang berat untuk ia tinggalkan… tapi seseorang di dalamnya.
Bayangan Mawar melintas cepat di pikirannya—senyum dingin, tatapan menantang, dan cara wanita itu selalu berhasil memancing emosinya.
Dan sekarang… dia harus menjauh ?
Tidak.
Tatapan Dresto berubah dingin. Keputusan mulai terbentuk.
"Baik," ucapnya akhirnya. Tenang. Terlalu tenang. "Saya akan menerima posisi itu."
Semua orang sedikit terkejut dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba.
Namun belum sempat suasana mereda—
"Tapi," lanjut Dresto, matanya kini mengarah lurus ke Rison, "saya ingin membawa satu orang dari Black Shield Hotel untuk ikut bekerja di Black Stone."
Alis Rison terangkat tipis. Tertarik. "Siapa ?"
Senyum tipis, nyaris licik, terukir di bibir Dresto. "Mawar."
Hening.
Beberapa orang langsung saling pandang. Nama itu… tidak asing.
Ares yang tadi santai, kini langsung menegakkan tubuh. Tatapan-nya menajam. "Untuk apa kamu merekrut istri ku, Kak ?" tanyanya tajam.
Dresto melirik sekilas, lalu menyeringai tipis. "Karena dia… aset berharga."
Nada suaranya ambigu. Terlalu dalam untuk sekadar profesional.
Dan itu cukup membuat suasana berubah semakin tegang.
Rison memperhatikan kedua putranya bergantian. Instingnya sebagai pemimpin dan sebagai ayah langsung menangkap sesuatu yang tidak beres.
Ini bukan sekadar urusan bisnis.
Ada sesuatu yang lebih… pribadi.
Namun alih-alih menghentikan, Rison justru mengetuk meja sekali.
"Jika itu memang mendukung kinerja perusahaan, saya tidak keberatan," ucapnya tegas. "Tapi pastikan, Mawar menyetujui tanpa ada unsur paksaan."
Kalimat itu jelas peringatan.
Dresto hanya mengangguk. "Tentu."
Tapi di balik itu. Tatapan-nya gelap. Berbahaya. Karena satu hal yang pasti… Dia tidak akan melepaskan Mawar lagi.
Ares mengepalkan tangan-nya kuat. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan, sebelum akhirnya ia berdiri dari kursinya dengan gerakan kasar.
“Saya tidak setuju,” ucapnya tegas, suaranya dingin namun penuh tekanan.
Dresto tetap duduk santai, seolah tak terpengaruh sedikit pun. Senyum miring terukir di bibirnya saat melihat emosi adiknya mulai terpancing. Justru itu yang ia inginkan.
Sedikit lagi… dan semua reputasi Ares akan runtuh dengan sendirinya.
“Ares, jangan jadi pecundang. Aku tahu Mawar itu istrimu,” ucapnya tenang, seolah sedang memberi nasihat. “Tapi dia perempuan berpotensi. Cepat atau lambat, dia pasti naik jabatan. Aku hanya… mempercepat prosesnya.”
Ia berdiri perlahan, merapikan jasnya dengan gerakan elegan. Tatapan-nya beralih tajam ke arah Ares.
“Kamu, sebagai suami, seharusnya mendukung karier istrimu. Bukan malah menjadi penghalang.”
Lalu ia menoleh ke seluruh anggota rapat. “Benar, bukan ?”
Serentak, mereka mengangguk. Tak ada yang berani menentang.
Siapa yang tak mengenal Mawar ? Perempuan cantik, cerdas, dan kini menyandang status sebagai menantu keluarga Black, kombinasi sempurna yang membuatnya jadi incaran banyak pihak, termasuk lawan bisnis.
Ares terdiam.
Tatapan-nya menusuk ke arah Dresto, dingin dan penuh perhitungan. Ia tahu, melawan di sini hanya akan memperburuk posisinya. Namun tetap saja… ia tidak akan tinggal diam.
Ares melangkah mendekat.
“Jangan pikir gue gak tahu apa isi kepala lo, Kak,” bisiknya rendah, tajam. “Gue gak akan biarin istri gue dekat sama lo.”
Dresto tersenyum tipis, nyaris mengejek.
“Menuduh tanpa bukti itu namanya fitnah, Res,” balasnya santai. “Mawar itu istrimu. Semua orang tahu. Harusnya kamu percaya… tapi yang aku lihat, kamu justru meragukan-nya.”
Tepukan ringan mendarat di pundak Ares—terasa seperti hinaan.
“Kenapa ?” lanjutnya pelan. “Takut dia kepincut sama gue… lalu buang lo kayak sampah ?”
Kalimat itu seperti pemicu.
Dalam sekejap, Ares mencengkeram jas Dresto dengan kuat. Tatapan-nya menyala, penuh amarah yang nyaris meledak.
“Jangan pernah mimpi lo bisa ngerusak rumah tangga gue,” desisnya. “Selera istri gue bukan laki-laki brengsek kayak lo.”
Hening.
Udara di ruang rapat mendadak terasa berat.
Bisik-bisik mulai terdengar, namun tak ada yang berani ikut campur.
Dresto yang semula tenang kini ikut terpancing. Sorot matanya menggelap. Ia sadar jika dirinya brengsek dan tidak lebih baik dari kelakuan adiknya itu.
Namun tetap saja egonya merasa tersentil.
“Mau gue kasih tahu satu rahasia ?” ucapnya pelan.
Ares mengernyit. Cengkraman-nya makin kuat. “Apa maksud lo ?”
Namun sebelum jawaban itu keluar—
BRAKK!!
Suara gebrakan keras memecah ketegangan.
Rison berdiri, tangan-nya masih menekan meja, tatapan-nya tajam menyapu kedua putranya.
“Cukup!” suaranya tegas dan penuh wibawa. “Ini bukan tempat untuk kalian saling bersitegang.”
Hening seketika.
“Biar Mawar yang memutuskan sendiri,” lanjutnya dingin. “Dia mau pindah ke perusahaan itu… atau tidak.”
Ares dan Dresto saling bertatapan tajam. Tak ada yang mau mengalah, namun perlahan cengkeraman itu di lepas, di akhiri dengan dorongan kasar yang nyaris tak terlihat.
Rison berdiri tegak. “Rapat selesai. Kembali ke posisi masing-masing.”
Ares tidak langsung bergerak.
Rahangnya mengeras, napasnya naik turun menahan amarah yang masih bergolak di dada.
Tatapan-nya sekilas beralih ke arah pintu, lalu kembali lagi pada sosok Dresto yang kini tampak seolah tak terjadi apa-apa—rapi, tenang, dan… menyebalkan.
Sedangkan Dresto, pria itu justru menyeringai tipis. Matanya menyipit penuh arti, seolah perdebatan barusan hanyalah pemanasan kecil yang belum cukup memuaskan.
Para anggota rapat mulai berdiri satu per satu, bergegas keluar. Tak ada yang berani ikut campur. Atmosfer tadi sudah cukup membuat mereka paham—ini bukan sekadar urusan bisnis. Ini perang pribadi.
Langkah kaki Ares akhirnya bergerak. Namun bukan-nya pergi, ia justru mendekat lagi, berhenti tepat di samping Dresto.
Dekat. Terlalu dekat.
“Lo belum jawab pertanyaan gue tadi,” ucap Ares rendah, nyaris seperti desisan.
Dresto menoleh perlahan. Senyumnya miring. “Kenapa ? Lo penasaran ?” balasnya santai.
Ares menatap lurus ke mata kakaknya. “Jangan main teka-teki. Ngomong sekarang.”
Hening sejenak.
Lalu Dresto sedikit membungkuk, mendekat ke telinga Ares. Suaranya pelan, namun cukup untuk membuat darah siapa pun mendidih.
“Gue cuma mau lihat… sejauh apa istri lo bisa bertahan kalau terus gue dekati.”
DEG.
Ares membeku sesaat. Namun sebelum ia sempat bereaksi lebih jauh—
Dresto sudah menjauh, merapikan kembali jasnya seolah baru saja mengatakan hal biasa.
“Tenang aja,” lanjutnya santai. “Kalau Mawar setia, lo gak perlu takut, kan ?”
Senyum itu lagi.
Menusuk.
Memprovokasi.
Ares mengepal tangan-nya kuat. Urat di pelipisnya menonjol jelas. “Lo sakit jiwa,” desisnya dingin.
Dresto hanya tertawa pelan. “Dan lo terlalu emosional. Itu kelemahan lo, Res.”
Tanpa menunggu balasan, Dresto melangkah pergi lebih dulu. Langkahnya tenang, penuh kemenangan yang tak diucapkan.
Meninggalkan Ares sendirian di ruangan itu.
Sunyi.
Namun justru di situlah badai mulai terbentuk.
Ares menghembuskan napas kasar. Tangan-nya terangkat, mengusap wajahnya dengan frustrasi.
“Gue gak akan biarin lo mendapatkan cela sedikit pun…” gumamnya pelan, namun penuh tekad.
Matanya berubah gelap.
Keputusan sudah di buat.
Jika Dresto mulai bermain kotor. Maka kali ini, Ares tidak akan bertahan dengan cara bersih.
0o0__0o0
Black Shield Hotel
Para staf hotel berdiri rapi berjejer di lobi, menyambut kedatangan Rison dengan penuh hormat.
Aura pria itu langsung mengubah suasana.
Dingin. Tegas. Mendominasi.
Laki-laki itu datang bukan sekadar berkunjung, melainkan membawa kendali.
Kedatangan-nya ke hotel ini awalnya hanya untuk pengecekan. Namun perdebatan antara Ares dan Dresto sebelumnya… justru membuat-nya semakin tertarik pada satu orang.
Mawar.
"Selamat datang, Pak Rison," ucap para staf serempak.
Rison hanya mengangguk tipis. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi berlebih. Namun tatapan matanya langsung mengunci pada satu sosok.
Mawar.
Wanita itu berdiri sedikit di belakang barisan, diam… namun tidak terlihat lemah.
Menarik.
"Mulai sekarang, hotel ini akan saya pimpin untuk sementara."
Suara Rison terdengar tegas, tanpa ruang untuk bantahan.
Para staf langsung saling melirik. Bisik-bisik kecil mulai terdengar, meski mereka berusaha menahan-nya.
Keputusan mendadak.
Dan janggal.
Sementara itu, Mawar tetap diam. Tidak ikut berbisik, tidak bereaksi berlebihan.
Namun pikiran-nya bekerja cepat.
Untuk apa ?
Seorang seperti Rison… turun langsung mengurus hotel ini ?
Padahal jelas laki-laki itu memiliki perusahaan yang jauh lebih besar untuk di tangani.
"Dresto akan menjabat sebagai CEO di salah satu perusahaan saya," lanjut Rison, seolah menjawab kegelisahan yang tak terucap.
"Lalu saya akan membimbing Ares secara langsung. Sampai dia siap menggantikan posisi saya."
Kali ini para staf mengangguk paham.
Penjelasan itu masuk akal.
Namun tetap saja… ada sesuatu yang terasa lebih dalam dari sekadar keputusan bisnis.
Rison melirik jam tangan-nya. "Sudah waktunya istirahat. Kalian boleh bubar."
Serentak, para staf menunduk hormat sebelum satu per satu meninggalkan tempat itu.
Lobi yang tadinya penuh… kini perlahan sepi.
"Mawar."
Suara itu menghentikan langkah wanita tersebut.
Mawar yang tadi hendak ikut pergi bersama staf lain, langsung membeku.
Rison menoleh sedikit. "Ikutlah makan siang dengan ku."
Deg.
Mawar terdiam. Untuk sesaat, ia bahkan tidak yakin apa yang baru saja ia dengar.
Ini pertama kalinya Rison datang ke hotel ini.
Dan… ini juga pertama kalinya pria itu mengajaknya makan bersama.
Mawar berbalik perlahan. Langkah-nya mendekat, meski ragu masih jelas terlihat. Ia sempat melirik ke sekitar, memastikan keadaan benar-benar sudah sepi.
"Papa… serius mau makan siang sama aku ?" tanyanya pelan, memastikan.
Rison menatap-nya.
Tatapan itu… tajam, namun tidak sepenuh-nya dingin seperti biasanya.
"Kenapa ?" tanyanya datar. "Kamu keberatan ?"
Sontak Mawar langsung menggeleng cepat. Tangan-nya ikut bergerak refleks.
"Bukan begitu, Pa," jawabnya terbata.
Ia menunduk sebentar, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan.
"Aku cuma… pikir tadi salah dengar dan bukankah papa selalu sibuk."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun cukup membuat Rison terdiam sesaat.
"Aku memang sibuk," jawabnya akhirnya. Nada suaranya tetap tenang. "Tapi bukan berarti aku tidak punya waktu untuk menantu ku."
Jantung Mawar berdetak lebih cepat.
Ada sesuatu dalam kalimat itu.
Sederhana… tapi terasa berbeda.
Tanpa menunggu respon, Rison berbalik dan berjalan lebih dulu.
"Mau makan di luar, atau di restoran hotel ?" tanyanya singkat.
Mawar segera menyusul.
"Terserah papa saja," jawabnya cepat.
Rison mengangguk.
0o0__0o0
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣