Nama adalah hal yang sakral di dunia Haochun, Nama adalah berkah Dewa, nama adalah kekuatan. Manusia tanpa nama bukanlah siapa-siapa, semua manusia yang tak bernama hanyalah orang-orang buangan dan kriminal.
Karena hak pada Berkah dan Nama mereka dicabut.
Mereka akan dipanggil dengan sebutan apapun yang orang inginkan. Meskipun mereka bisa membuat nama sendiri, tetap saja itu tak memiliki makna apapun.
Nama lahir adalah kehormatan mutlak di dunia ini. Dan inilah kisah tentang anak Klan Bangsawan kelas satu. Dia memiliki Inti Spritual yang sangat buruk. Saking buruknya, bahkan tidak seorang pun sebelum dia di dunia Kultivasi yang memiliki Inti spritual seperti itu.
Sehingga dia dianggap sebagai aib keluarga. Berkah namanya miliknya dicabut layaknya hukuman bagi
penjahat keji.
Dimulailah kisah anak buangan yang membawa nasib baik dan buruk bersamaan.
Berjuang tanpa kekuatan Berkah Nama seperti yang dimiliki orang lain. Huang Kai yang berganti nama menjadi Feng Yan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Sekte Bintang Abadi
Feng Yan baru beberapa langkah meninggalkan gerbang kota saat suara yang tidak asing memanggilnya.
"Adik Feng, langkahmu cepat sekali".
Ternyata Ya Fei yang menyusul pemuda itu.
"Ada keperluan apa kakak Ya Fei mengikuti-ku" Tanya pemuda itu penasaran.
"Ini permintaan kakakmu, ia meminta tolong padaku karena mencemaskanmu".
Feng Yan dengan napas berat memikirkan kakaknya yang terlalu mengkhawatirkan-nya.
"Aku sudah dengar mengenai masalahmu dengan keluarga Hui yang baru saja naik menjadi keluarga kelas tiga." Ya Fei menepuk-nepuk pundak pemuda yang usianya belum genap dua puluh tahun.
"Mau bagaimana lagi seperti nya masalah sudah menjadi margaku" ucap pemuda itu sambil meneruskan langkahnya.
"Adik Feng kau jangan salah paham, aku disini bukan untuk melindungimu. Kalau kita bertemu dengan orang-orang Hui kita harus
Segera pergi, apa kau mengerti?" Ya Fei berjalan sambil berjingkat, mungkin karena ia seorang yang periang.
"Selain itu kakakmu bilang kau juga cenderung polos dan bodoh. Kau bahkan menukar senjata dengan orang yang baru kau kenal. Aku juga tak percaya sebenarnya dengan ucapan kakakmu, tapi kau sudah mengejutkanku dalam banyak hal." Ya Fei bahkan belum yakin kalau teman seperjalanannya adalah sampah yang dikatakan oleh orang-orang.
"Kau seharusnya sudah mengerti kita hidup di dunia yang kejam, kita tidak akan tahu seseorang bisa saja menikam kita dari belakang"
"Kakak Ya Fei tenang saja, aku tidak akan membuat masalah jika orang lain tidak mengusikku. Dunia ini memang kejam tapi itu tidak cukup untuk merubahku." Pemuda bermarga Feng ini terlihat sangat tenang saat mengatakan hal itu.
Singkat cerita mereka berdua sudah dekat dengan gerbang bawah sekte Bintang Abadi. Namun ternyata beberapa orang keluarga Hui sudah ada disana menghadang langkah mereka.
"Akhirnya kalian muncul juga, kenapa lama sekali?" pertanyaan dari Fen Yan cukup membuat kesal orang-orang yang menghadang langkah mereka berdua.
"Adik Feng, apa mereka dari dari keluarga Hui, kalau benar ingatlah yang kukatakan sebelumnya?"
"Mereka bukan masalah buatku, kakak Ya Fei pergilah dulu ke gerbang bawah disana. Aku akan membukakan jalan". Feng Yan sudah memegang pedang balok di tangan kanannya.
"Bocah sampah, jangan berlagak di depanku hanya karena kau sudah membunuh ChongSu. Hari ini kau akan kupastikan mati dengan sangat menderita". Pria paruh baya yang tak lain adalah Hui Fan yang berada di ranah Raja tahap awal berbicara dengan penuh emosi.
Tidak menjawab ucapan lawan, Feng Yan justru menderu dengan pedang balok ke tengah kumpulan orang yang menghadangnya. Baru saja orang-orang itu menghindar tangan pemuda itu sudah ditarik oleh Ya Fei.
"Kakak Ya Fei apa yang kau lakukan?" pemuda itu sangat kesal saat Ya Fei menarik
Tangannya hingga sampai ke gerbang bawah sekte.
"Kau harus menuruti ucapan kakakmu, aku tidak tahu dari mana keberanianmu itu berasal. Ingatlah kau hanya pemuda dengan inti pecah lima, menghadapi orang-orang yang terlihat kuat itu apa yang bisa kau lakukan". Ya Fei terlihat lebih kesal, sekarang dia tahu kenapa Yun Zhi sangat mengkhawatirkan adiknya.
"Bocah, jangan kira kau sudah aman hanya karena memasuki gerbang sekte. Kau hanya mengulur waktu untuk kematianmu!" Tetua Hui Fan sudah memerah wajahnya karena amarah. Ia tidak menyangka kalau serangan tadi hanya untuk pengalihan.
Feng Yan mau tidak mau terpaksa mengikuti Ya Fei setelah mendapat izin dari penjaga gerbang bawah.
"Merepotkan sekali, padahal ada kesempatan untuk melemahkan keluarga bodoh itu" Sepertinya Feng Yan menyesali keberadaan Ya Fei saat ini.
"Tetua, apa yang harus kita lakukan berikutnya? Apa kita ikut masuk kedalam sekte Bintang Abadi." tanya salah seorang dari
anak buah tetua Hui.
"Apa kau bodoh, kau pikir sekte sebesar mereka akan membiarkan keributan terjadi di tempat ini."
Akhirnya mereka putuskan untuk menunggu Feng Yan tidak jauh dari sana.
Sesampainya mereka di aula pelatihan sekte, Feng Yan di sambut oleh dua orang murid yang berada di ranah master.
"Ada keperluan apa dua saudara pendekar ke sekte kami?" dua orang murid ini sangat sopan sembari memberi hormat.
"Kami kemari ada keperluan dengan Yuan Yu Ri, putri dari raja kota Yuan Kong" membalas salam Feng Yan mengutarakan maksud kedatangannya.
"Rekanku segera kembali setelah menyampaikan pesan pada saudari Yuan, kalian tunggulah sebentar di pendopo yang telah disediakan". Murid itu segera pergi setelah menunjukkan tempat untuk beristirahat pada kedua tamu muda itu.
"Ternyata murid dari sekte besar cukup ramah" Ya Fei mengajak bicara Feng Yan yang terlihat masih kesal.
Baru saja mereka bercakap-cakap beberapa murid terlihat berbisik-bisik tidak
Dalam sekte" Feng Yan memahami maksud dari pemuda yang menghinanya.
"Adik Feng, sebaiknya jangan menambah masalah lagi. Kita berada di sekte Bintang abadi saat ini, kau harus ingat itu!" Ya Fei sangat kesal karena ia melihat Feng Yan sudah memegang pedang balok nya.
"Ternyata pemuda ini memang biang masalah, tahu begini aku enggan untuk ikut" batin Ya Fei menyesali keputusannya untuk menemani pemuda yang ia anggap cukup gila.
"Bisakah senior memberiku sedikit petunjuk, bisa berlatih dengan murid sekte Bintang Abadi merupakan sebuah kebanggaan tersendiri" Ya Fei benar-benar tak percaya dengan ucapan yang ia dengar dari mulut Feng Yan. Belum lama saat ia memperingatkan pemuda itu, tapi ia benar-benar tidak bisa dikendalikan.
"Hahaha Tentu saja itu juga yang kuinginkan, aku akan menghajarmu agar kau terbangun dari mimpimu. Orang sepertimu tidak pantas untuk junior Yuan."
"Orang yang aneh, kenal juga tidak" pikir Feng Yan. "Atau adik Yuan cerita tentangku disini?"
Pemuda yang terlihat sangat arogan itu melompat ke arena pertarungan murid sekte untuk berlatih. Ia mengacungkan pedangnya pada Feng Yan." Bukankah kau ingin 'berlatih' dengan murid sekte kami, kemarilah akan kutunjukkan seperti apa kekuatan murid sekte Bintang Abadi."
Melihat akan ada pertunjukan menarik, banyak dari murid-murid sekte berkumpul di sekitar arena. Sementara Ya Fei hanya bisa menggerutu setelah Feng Yan tidak mengindahkan ucapannya. Pemuda itu malah turut melompat ke dalam arena pertarungan.
Feng Yan telah bersiap dengan pedang balok di tangan kanan, dua orang dalam arena itu berjalan saling memutari.
"Apa yang terjadi? Dimana kakak Feng Yan?" putri raja kota Yuan baru saja datang bersama tetua Hai dan juga master sekte. Ia bertanya pada murid yang tadi pergi mengabarkan dua orang yang datang mencarinya.
"Saudari Yuan, pemuda itu ada disana" ia menunjuk ke arah arena pertarungan.
"Guru tolong hentikan pertarungan mereka" gadis itu memohon pada gurunya yang tak lain tetua Hai. Ia melihat dua orang
Pemuda di tengah arena sedang berhadap-hadapan.
"Tidak perlu, biarkan saja mereka saling bertukar pengalaman." kali ini master sekte yang berbicara.
Trang
Dua senjata saling beradu, hanya saja pedang di tangan murid sekte tidak cukup kuat untuk menahan tekanan dari beratnya pedang balok, hingga pemuda itu terdorong hingga beberapa langkah ke belakang.
"Sial, kenapa dengan senjata bocah ini?
Aku seperti membentur logam keras" tak mau kalah pemuda itu kembali menyerang, namun kali ini ia tidak berniat beradu senjata dengan lawannya.
Saat pemuda itu menebaskan pedang ke arah kepala, Feng Yan justru membungkuk sambil menyapukan senjatanya ke kaki lawan.
Duak
Masih melayang diudara pemuda itu, Feng Yan sudah kembali memberikan pukulan tapak pada dada murid sekte hingga dia terpental hingga ke pinggir arena.
"Bagaimana mungkin senior Huang bisa
Ditekan sejauh ini? Pemuda itu dalam bahaya. Senior pasti akan membalasnya berkali-kali lipat." pembicaraan murid sekte bintang abadi di pinggir arena pertarungan.
"Bagus bocah, kau berhasil membuatku HUANG CHUN bertarung dengan serius."
"Oooh, ternyata kau dari keluarga hina yang membuang keluarga seperti penjahat."
"Kurang ajar, akan kurobek-robek mulut kotormu!"
"Jurus gelombang pedang!" dengan amarah pemuda itu menyerang dengan membabi buta.
Pedang pemuda itu terus bergerak dengan cepat tanpa henti, sembari menghindari balok besar di tangan lawannya.
"Hahaha kau sangat lambat, apa hanya segini kemampuanmu bocah"
Feng Yan memutar tubuh dan juga pedang besarnya, namun dengan mudah dihindari pemuda yang ternyata bermarga Huang.
Terjadilah pertarungan sengit antara orang yang dulunya masih satu keluarga.
Merasa terus tertekan Feng Yan akhirnya menebaskan pedang hingga mengeluarkan
Energi seperti bulan sabit yang menderu ke arah Huang Chun.
Melihat energi pedang tepat ke arahnya pemuda itu bersalto ke udara. Tidak disangka oleh pemuda itu sebuah pedang besar berputar ke arahnya. Baru saja akan menghindar, dari belakang Feng Yan sudah menyiapkan pukulan Taring Naga.
"Ini Bahaya! Tetua Hai tersadar kalau muridnya akan celaka bila terkena pukulan telak taring Naga"
Duaarr
Feng Yan terlempar dan bersalto ke belakang saat master sekte yang telah menangkis pukulannya.
Huang Chun yang tidak terima dengan kekalahan bergegas untuk menyerang Feng Yan.
"Jangan kira kau sudah menang!"
"Hentikan Huang Chun!" Kali ini tetua Hai sudah berdiri di hadapan pemuda itu.
"Salam master dan tetua sekte" Feng Yan membungkukkan badan memberi salam.
"Sial, bocah gila ini ternyata sangat kuat" Ya Fei yang sedari tadi mengamati
Pertarungan sangat takjub dengan kemampuan pemuda yang ia anggap gila.
"Ternyata adik dan kakak sama-sama kuat"
"Hahaha, Namamu Feng Yan bukan?" yang bertanya adalah tetua Hai.
"Dan kau Huang, pergilah obati luka-lukamu." pemuda bernama Huang itu tidak bergeming, ia masih saja menatap Feng Yan dengan tajam.