Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.
Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...
Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~9 Duri di Istana emas
Berita tentang Ratu baru menyebar lebih cepat dari wabah.
“Dia menantang Raja di sidang pertamanya.” Ratu Yasmin istri pertama Raja Gustaf terlihat tidak senang.
“Dia menggunakan emas Candra untuk rakyat selatan.”
“Dia bahkan tidak menunduk saat berjalan melewati Raja.”
Di sayap timur istana, tempat permaisuri dan para selir tinggal, suasana panas.
Ruang tamu dipenuhi wewangian melati yang bercampur bau cemburu.
Permaisuri Pertama, Ratu Yasmin, duduk di kursi tertinggi. Umurnya 28 tahun, wajahnya masih cantik, tapi matanya tajam seperti belati.
Ia adalah putri Kerajaan Salira, kerajaan kecil yang tunduk pada Jaya Wijaya karena takut.
“Dia pikir siapa dirinya?” desis Yasmin, melempar cangkir porselen ke lantai.
“Baru sehari jadi ratu, sudah berani mengatur pajak?”
Selir Kedua, Dewi Kirana, mengipas pelan sambil tersenyum sinis.
“Mungkin dia pikir dengan cantik dan keras kepala, Raja akan melupakan kita semua.”
“Gustaf tidak pernah melupakan apapun,” sahut Permaisuri Kedua, Ratu Anaya. Suaranya dingin.
“Apalagi wanita yang berani menatapnya seperti dia ingin membunuhnya.”
Yasmin berdiri. “Aku tidak peduli apa tujuannya. Yang jelas, selama aku masih Permaisuri Pertama, tidak ada ratu baru yang bisa menginjak kepalaku.”
Ia menoleh ke pelayannya.
“Panggil juru masak istana. Aku ingin hidangan khusus dikirim ke kamar Ratu Layla malam ini.”
“Racun?” tanya Kirana pelan.
Yasmin tersenyum. “Racun terlalu cepat. Aku ingin dia sakit perlahan. Cukup untuk membuatnya malu di depan Raja.
__
Sementara itu, di kamar Ratu, Layla sedang membaca laporan pajak yang diam-diam dikirim menteri tua tadi pagi.
Ia tidak percaya pada siapa pun di istana ini. Tapi ia butuh sekutu, sekecil apa pun.
Tok. Tok.
Pintu diketuk.
“Masuk,” kata Layla tanpa menoleh.
Seorang dayang masuk, membawa nampan perak.
“Hidangan malam dari Permaisuri Yasmin, Paduka. Katanya untuk menyambut Paduka sebagai keluarga.”
Layla menatap nampan itu.
Sup daging, roti hangat, dan anggur merah. Semua terlihat sempurna.
Ia mengangguk pelan, lalu menyuruh dayang itu mencicipi dulu.
Dayang itu pucat, tapi tidak berani menolak. Ia menyendok sup, memakannya.
Lima menit berlalu. Tidak ada yang terjadi. Layla mengangkat alisnya. “Racunnya terlalu halus, atau memang tidak ada racun sama sekali?”
Dayang itu jatuh berlutut. “Maafkan hamba, Paduka! Hamba hanya disuruh mengantarkannya!”
Layla tidak marah. Ia malah tersenyum tipis.
“Katakan pada Permaisuri Yasmin… aku berterima kasih atas sambutannya. Dan besok, aku akan membalasnya.”
Dayang itu keluar dengan gemetar.
Layla menatap pintu yang tertutup.
Permainan harem dimulai lebih cepat dari yang ia kira. Bagus.
Semakin banyak musuh yang bergerak, semakin mudah melihat siapa yang bisa ia gunakan, dan siapa yang harus ia singkirkan.
__
Sore itu, Raja Gustaf datang ke kamar Layla tanpa diundang.
Ia melihat nampan yang belum tersentuh di meja.
“Yasmin mengirimmu hadiah?” tanyanya sambil mengambil anggur itu.
Layla tidak menjawab. Ia hanya duduk di tepi ranjang, mengamati Raja Gustaf.
Raja Gustaf mencium aroma anggur, lalu meletakkannya kembali. “Pintar,” katanya pelan.
“Kau tidak langsung memakannya. Kau tahu istana ini penuh racun.”
“Dan kau tahu itu, tapi tetap membiarkannya?” tanya Layla.
Gustaf tersenyum. “Karena aku ingin melihat siapa yang lebih cepat membunuhmu. Mereka, atau aku.”
Layla berdiri. “Kau lupa satu hal, Raja Gustaf.”
“Aku tidak berencana mati di tangan siapa pun. Kecuali aku yang memilihnya.”
Gustaf mendekat. Hanya sejengkal dari wajah Layla.
“Lalu kapan kau akan memilih, Ratu Layla? Karena aku sudah bosan menunggu.”
Layla menatapnya tanpa berkedip. “Saat kau paling lengah.”
Ia mendorong dada Gustaf pelan, membuatnya mundur satu langkah. "Kau jangan pernah bermimpi bisa membuatku mati cepat Yang Mulia." Layla tersenyum seolah mengejek.
Raja Gustaf menatap Layla tajam, tangannya mengepal kuat, ia langsung keluar dari kamar Layla.
__
Undangan teh sore datang di tangan Layla. Kertas tebal berlapis emas, tulisan tangan Ratu Yasmin sendiri:
"Untuk menyambut Ratu Layla, teh sore di Taman Melati. Kehadiranmu sangat dinanti."
Layla membacanya sekali, lalu melemparnya ke meja. "Dia mau perang terbuka," gumamnya.
Layla langsung bersiap datang. Dengan gaun biru tua Candra, rambut dikepang satu, dan tatapan yang tidak memberi ruang untuk diremehkan.
Taman Melati sudah penuh. Permaisuri Yasmin duduk di tengah, dikelilingi Dewi Kirana, Ratu Anaya, dan beberapa bangsawati Jaya Wijaya.
Meja kayu ukir penuh kue, teh, dan buah. Semuanya sempurna. Termasuk racun yang tersembunyi.
"Selamat datang, Ratu Layla," kata Yasmin, suaranya manis tapi menusuk.
"Aku khawatir kau tidak berani datang setelah kejadian malam kemarin."
Layla tersenyum tipis. "Aku tidak takut pada teh, Ratu Yasmin. Aku hanya takut kalau tuan rumahnya tidak tahu cara menyambut tamu."
Gadis-gadis di sekitarnya menahan napas.
Yasmin mengertakkan gigi, tapi tertawa pelan. "Duduklah. Kita bicarakan bagaimana rasanya menjadi ratu tanpa cinta Raja."
Layla duduk. Ia mengambil cangkir teh, menghirupnya pelan. "Tehnya wangi melati. Sama seperti malam pernikahanku."
Layla kembali menatap Yasmin. "Sayang, melati juga bisa menyembunyikan bau busuk."
Yasmin berhenti tertawa. "Maksudmu?"
"Maksudku," Layla meletakkan cangkir itu pelan, "besok aku akan mengundangmu ke kamarku. Aku akan menyajikan teh yang sama. Tanpa dayang mencicipi dulu."
Ruangan membeku.
Itu bukan undangan. Itu ancaman.
Yasmin berdiri. "Kau pikir Raja akan membiarkanmu mempermalukanku?"
"Gustaf?" Layla berdiri juga.
"Gustaf hanya menonton siapa yang lebih dulu jatuh. Jadi pastikan itu bukan kau, Ratu Yasmin."
Ia membungkuk tipis, lalu pergi. Tanpa salam dan basa-basi.
Meninggalkan teh yang belum diminum dan wajah-wajah pucat di belakangnya.
__
Malam harinya, Layla berdiri di balkon kamarnya, melihat taman tempat ia baru saja meninggalkan bom waktu.
Besok, permainan harem baru akan dimulai. Layla menangis dalam diam, paginya ia berusaha tegar, malamnya ia menjadi seorang gadis malang.
Matanya menatap nanar pada pagar besar kerajaan Jaya Wijaya. Sesekali sesak di dadanya begitu terasa.
Amarah dan kecewa benar-benar mengebu di dalam dadanya. Ia ingin tahu satu alasan, namun seribu alasan berhasil menghalaunya.
Saat matanya penuh dengan air mata, ia melihat Pangeran Serasa sedang berlatih pedang di bawah sana.
Layla langsung datang menemui Pangeran Serasa.
"Serasa, ada hal yang mau aku tanyakan?" suaranya nampak berat.
Serasa menjawab namun masih lihat memainkan gerakan pedangnya. "Katakan saja kaka ipar."
"Saat hari pernikahan itu selesai, kemana perginya semua keluargaku?" Layla ingin kembali marah, namun ia juga butuh alasan.
"Mereka semua pergi kembali ke Candra, karena Raja Arta tidak setuju dengan pernikahan antara Candra dan Wijaya."
"Lalu apa yang Raja Arta lakukan?" Layla meremas tangannya gusar
"Raja Arta meminta perang, karena merasa Raja Batara telah berkhianat. namun kau tenang saja, suamimu Gustaf telah mengirimkan semua prajuritnya dan panglimanya untuk membantu Ayahmu."