--Lebih baik menyinggung Raja Neraka, daripada menyinggung Feng Yaorao--
Dunia mengenal Feng Yaorao, putri sulung keluarga Feng, sebagai gadis yang pemalu, lemah dan tidak berpendidikan. Mereka menganggapnya sampah tak berguna yang bisa ditindas sesuka hati. Namun, mereka tidak tahu bahwa setelah sebuah kemalangan merenggut nyawanya, jiwa gadis lemah itu telah digantikan oleh seorang Top Assassin berdarah dingin dari Abad ke -24.
Licik, kejam, dan pendendam. Feng Yaorao yang baru tidak akan membiarkan siapapun yang menyakitinya lolos begitu saja. Siapapun yang berhutang padanya, harus membayar dengan darah. Siapapun yang menghalanginya, akan berakhir di kuburan massal.
Mengandalkan insting membunuh yang tajam serta Ular Darah-- makhluk spiritual mistis di dalam tubuhnya yang bisa bertransformasi menjadi cambuk mematikan, dia siap membalikkan dunia kuno ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 - Kota Yang Aneh
Xia Wushang merasa sangat frustasi. Dia tak menyangka bahwa wanita ini bersedia menyelamatkannya justru karena identitasnya sebagai Kaisar.
"Namun, aku ingin memperjelas satu hal terlebih dahulu, syarat-syarat yang akan kau ajukan itu tidak boleh membahayakan kepentingan negara, juga tidak boleh melanggar prinsip dunia persilatan. Jika tidak, aku tidak akan pernah menyetujuinya," ucap Xia Wushang setelah menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.
"Baiklah, tenang saja. Aku tidak punya ambisi sebesar itu." Feng Yaorao menyetujui dengan santai.
"Kalau begitu, katakan padaku, apa saja syarat-syaratmu?" Xia Wushang mengajukan pertanyaan dengan lugas, namun ekspresinya tampak sangat suram, seolah-olah Feng Yaorao berhutang jutaan tael emas kepadanya.
"Aku belum memikirkannya sekarang. Nanti aku akan memberitahumu." Jawab Feng Yaorao tanpa terburu-buru. Kesempatan untuk mengajukan syarat kepada seorang Kaisar adalah hal yang sangat langka. Bagaimana mungkin dia tidak memanfaatkannya dengan baik?
"Kau tidak berniat mengambil liontin giokku dan kabur begitu saja, kan?" tanya Xia Wushang curiga.
"Untuk apa aku membutuhkan liontin giokmu? Salah satu dari ketiga syaratku itu jauh lebih berharga nilainya daripada benda ini," sahut Feng Yaorao dengan nada mencibir.
Xia Wushang terdiam, sungguh mustahil mendapatkan keuntungan dari wanita pemberani ini.
"Baiklah, kau terluka sekarang, ayo cari tempat untuk beristirahat. Jika kau mati, ketiga syaratku akan sia-sia." Ucap Feng Yaorao santai.
Mendengar kalimat terakhir yang sangat menyebalkan itu, Xia Wushang ingin sekali mencekiknya. Namun sayangnya, dia bahkan tidak memiliki tenaga untuk mengangkat tangan, apalagi mencekik orang lain.
Dengan kemampuan wanita ini, bahkan sebelum tangannya sempat menyentuh sehelai rambut dikepalanya, dia pasti sudah mati terlebih dahulu.
"Ada sebuah kota di depan sana. Kita akan tiba disana sebelum malam tiba," ucap Feng Yaorao.
Berdasarkan ingatan dari pemilik tubuh, dia tahu ada sebuah kota di depan sana. Saat ini, dengan penampilan dirinya yang berantakan dan penuh dengan lumpur yang bercampur darah, dia tak sabar ingin segera sampai disana untuk mandi dan berganti pakaian bersih.
Karena luka-luka Xia Wushang cukup parah dan membuatnya sulit berjalan sendiri, Feng Yaorao terpaksa membatu menopangnya di sepanjang perjalanan.
_____
Saat malam mulai menyelimuti langit, Feng Yaorao dan Xia Wushang akhirnya tiba di kota tersebut. Kota itu terasa sangat sepi, dengan suasana yang suram dan mencekam di mana-mana.
Tidak banyak orang di jalan, bahkan mereka semua berjalan dengan tergesa-gesa, seolah-olah tidak ingin berlama-lama berada di luar rumah.
Terutama setelah melihat penampilan Feng Yaorao yang berantakan dan berlumuran darah, semua orang sangat ketakutan hingga lari terburu-buru, seperti melihat dewa wabah.
Sebenarnya, Xia Wushang juga berlumuran darah, tetapi karena pakaiannya berwarna gelap, noda darahnya tidak terlihat. Berbeda dengan Feng Yaorao yang mengenakan pakaian berwarna terang, sehingga noda darah di pakaiannya jelas terlihat bahkan dari kejauhan.
Melihat reaksi orang-orang itu, Feng Yaorao tanpa sadar menunduk menatap dirinya sendiri. Meski dia sendiri merasa jijik dengan penampilannya, dia tetap bergumam tidak senang, "Apakah penampilanku benar-benar semenakutkan itu?"
"Warga biasa pada dasarnya memang takut melihat pertumpahan darah," jawab Xia Wushang, meskipun Feng Yaorao tidak bertanya kepadanya. Nada suaranya terdengar seperti mendesah pelan.
"Kalian tahu bahwa warga biasa takut pada pertumpahan darah, tapi mengapa kalian sebagai penguasa masih berambisi menyatukan semua wilayah di bawah kekuasaan kalian? apakah kalian tidak tahu penderitaan seperti apa yang akan dialami orang biasa saat perang antar wilayah terjadi?" tanya Feng Yaorao sambil menatap Xia Wushang dengan tatapan sarkasme.
"...."
Xia Wushang melirik Feng Yaorao dengan ekspresi rumit, namun tidak mengucapkan sepatah katapun. Diamnya itu jelas merupakan sebuah pengakuan atas pertanyaan Feng Yaorao.
"Heh!" Feng Yaorao hanya mencibir melihat reaksinya itu. Dia tahu betul bahwa sejak zaman dahulu, penguasa mana yang tidak memiliki ambisi besar untuk menguasai segalanya?
Mengabaikan Xia Wushang, dia berjalan menuju penginapan di sebelahnya.
Xia Wushang ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya tidak mengatakannya. Dia bisa melihat bahwa Feng Yaorao mengabaikannya, atau lebih tepatnya mengabaikan identitasnya.
Berbeda dengan wanita lain yang setelah mengetahui identitasnya, akan menggunakan segala cara untuk mendekatinya, namun Feng Yaorao sama sekali tidak memperdulikan statusnya. Justru karena sikap unik dan berbeda inilah, ketertarikannya padanya semakin bertambah kuat.
Feng Yaorao yang hendak melangkah masuk ke dalam sebuah penginapan, tiba-tiba dihalangi oleh pemilik penginapan yang bergegas keluar.
"Maaf, Nona dan Tuan. Penginapan kami sudah tidak memiliki kamar kosong. Sebaiknya kalian mencari penginapan yang lain saja." Ucap pemilik penginapan itu dengan suara yang terdengar ketakutan, lalu langsung membanting pintu hingga tertutup rapat.
Wajah Feng Yaorao seketika berubah muram. Apa maksud ucapan pemilik penginapan itu? Apakah dia menganggapnya buta? Sikap yang ditunjukkannya jelas-jelas melarangnya masuk!
Bahkan sekalipun semua kamar sudah penuh, apakah perlu menutup pintu dengan terburu-buru seperti itu?
"Guk... guk..." Xiao Bai menggonggong beberapa kali, tidak senang melihat sikap pemilik penginapan itu.
"Sudahlah, ayo kita cari penginapan lain saja." Ucap Xia Wushang tanpa merasa marah karena ditolak. Namun, bagaimana mungkin orang sepintar Xia Wushang dan Feng Yaorao tidak menyadari ada sesuatu yang salah disini?
Justru karena mereka menyadari ada sesuatu yang salah pada sikap warga kota disini, mereka memilih untuk tidak memperpanjang masalah ini, agar tidak membuat pihak yang mencurigakan menjadi waspada terhadap keberadaan mereka.
Tanpa banyak bicara, keduanya berjalan mencari penginapan lain, tetapi sebelum mereka mendekat, pelayan penginapan buru-buru menutup pintu rapat-rapat.
Kejadian serupa terus berulang berkali-kali dari penginapan ke penginapan lainnya, membuat amarah Feng Yaorao semakin memuncak. Pada penginapan berikutnya, tepat sebelum seorang pelayan sempat menutup pintu sepenuhnya, Feng Yaorao bergerak sangat cepat dan mendobrak pintu itu hingga kembali terbuka lebar. Pelayan itu terpental ke lantai sambil mengerang kesakitan.
"Ada apa ini? apa yang terjadi?" terdengar suara pemilik penginapan yang berlari tergesa-gesa dari balik meja pelayanan.
Saat pemilik penginapan itu melihat penampilan Feng Yaorao, dia menjadi sangat ketakutan dan segera berkata, "Tamu yang terhormat, penginapan kami sudah penuh. Silahkan pergi ke tempat lain saja!"
Setelah mengatakan itu, pemilik penginapan segera menutup pintu kembali.
Namun, Feng Yaorao bukanlah orang yang bisa diusir begitu saja.
Dengan susah payah menahan amarah yang berkobar di dadanya, Feng Yaorao tiba-tiba tersenyum sangat ramah. Namun, senyumannya itu justru membuat punggung pemilik penginapan terasa merinding.
"Pemilik penginapan yang baik, apakah aku pernah mengatakan ingin menginap di tempatmu?" suaranya terdengar sedingin es di daratan bersalju.
"Eh... itu..." Pemilik penginapan terdiam, tidak berani menatap langsung ke mata Feng Yaorao.
Sebagai seseorang yang sudah bertahun-tahun mengelola usaha penginapan dan bertemu dengan berbagai macam orang, dia bisa merasakan aura kemuliaan dan kekuatan yang tak terbantahkan dari pria dan wanita di hadapannya ini. Dia tidak berani menyinggung perasaan mereka, namun masalahnya, dia jauh lebih takut jika membiarkan mereka tetap disini.
"Kenapa kau diam saja? apakan penginapanmu sudah tidak menjual makanan dan minuman lagi?" tanya Feng Yaorao masih dengan nada dingin, sementara aura di sekelilingnya terasa semakin membekukan suasana.
"Tuan dan Nona yang baik, sebaiknya kalian pergi ke tempat lain saja! Tempat kecil kami sungguh tidak mampu menampung kehadiran kalian!" Pemilik penginapan merasa sangat tertekan oleh aura dingin yang dipancarkan Feng Yaorao hingga seluruh tubuhnya terasa lemas. Dengan wajah yang tampak sedih, dia memohon agar mereka segera pergi.
"Apa alasannya?" Xia Wushang melirik pemilik penginapan itu dengan acuh tak acuh, suara tenangnya mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
"Kalian belum mengetahui keadaan disini, bukan? Kami warga Kota Pinghe sejak dahulu sangat membenci warna merah. Apapun benda atau makhluk yang berwarna merah, terlebih lagi jika ada seseorang yang berpakaian merah, kami percaya hal itu akan mendatangkan malapetaka. Pakaian Nona Muda ini penuh dengan noda darah, kami benar-benar tidak berani membiarkan kalian tinggal disini! Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk kepada kalian di tempat saya, bagaimana nasib usaha saya nantinya?" pemilik penginapan itu berbicara hampir sambil menangis ketakutan.
semangat 💪💪💪 Ditunggu updatenya❤❤
ini baru dirimu yg sesungguhnya tegas, disiplin dan harus kejam tanpa ampun pd musuh 💪💪💪
lanjut..... lanjut lagi seruu bingit
semangat yaorao💪💪💪