NovelToon NovelToon
Cinta Tak Ada Dalam Pasal

Cinta Tak Ada Dalam Pasal

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kiky Mungil

Shira adalah pengasuh ke-14 yang berhasil bertahan lebih dari dua bulan dan satu-satunya pengasuh yang berhasil membuat Lulu - gadis kecil pemurung yang diasuhnya - tersenyum. Ia menyukai pekerjaannya, karena dia setulus itu mengasuh Lulu. Sampai suatu malam, Ruan - ayah Lulu - yang sedingin es kutub, memberikannya tawaran kerjasama dengan gaji lima kali lipat dan bonus gaji setiap hari! Tawaran fantastis yang tidak bisa diabaikan oleh seseorang yang sedang membutuhkan suntikan dana darurat seperti Shira.
Masalahnya kerjasama itu berupa pernikahan kontrak dimana Shira harus berperan sebagai istri sungguhan di depan semua orang. Kontrak itu akan diatur dalam pasal-pasal tertulis yang disepakati bersama, salah satunya adalah "Tidak boleh melibatkan perasaan pribadi dalam menjalankan peran."
Tapi masalahnya, ketika sandiwara membuat peran terasa nyata, Shira menyadari perasaannya telah melanggar pasal. Ia tidak lagi bisa meneruskan, apa lagi ketika ibu kandung Lulu datang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 09. Bertemu Dengan Mama Ratna

Lulu terlihat kaget melihat Ruan sudah menunggunya bersama Shira. Senyum Ruan tercipta hanya untuk Lulu meskipun Lulu tidak membalas senyumannya.

Psikolog melaporkan hasil konselingnya pada Ruan dan Shira, pelan-pelan Lulu sudah menunjukkan lebih banyak perubahan, hanya saja psikolog terus meminta Ruan dan Shira bersabar dan tidak memaksa.

“Oh ya, Lulu juga bilang, katanya Kak Shira akan menjadi ibunya. Benar begitu?” tanya psikolog itu dengan senyuman melihat Ruan dan Shira bergantian.

Shira pun juga wajib menampilkan senyumannya dan menjawab malu-malu.

“Benar. Apakah itu baik untuk perkembangan Lulu?”

“Oh, sangat baik. Saya pikir, kehadiran seseorang yang bisa memahami dirinya dan menerima dirinya itu adalah yang sangat penting untuk perkembangannya. Apa lagi saya lihat, Lulu juga sangat menyukai Anda.”

Shira mengangguk dengan senyuman yang masih ditempelkan pada wajahnya. Meskipun dalam hati dia cukup was-was, takut psikolog di depannya itu bisa membaca pikirannya.

Setelah selesai, mereka menuju mobil yang sudah siap di depan pintu klinik, tentu saja dengan Faris yang sigap.

“Kita akan makan siang dengan Oma.” kata Ruan, dia bicara pada Lulu tapi yang seperti disambar petir adalah Shira.

“O-Oma?” Shira membeo.

“Mama saya. Baru tadi pagi landing dari London, dan langsung ingin bertemu dengan cucu juga dengan calon ibu sambung untuk cucunya.” jawab Ruan, setiap kata yang diucapkan Ruan seperti bara panas yang harus Shira tangkap dengan tangan kosong.

“Kenapa Pak Ruan ga kasih tau dari pagi?” Shira bertanya dengan nada cemas.

“Kenapa kamu cemas?”

“Iya lah, bagaimana kalau … kalau …” Shira ingin menjawab, tapi ada Lulu yang kali ini tidak tertidur. “Kalau Mamanya Pak Ruan ga suka sama saya?”

Ruan belum sempat menjawab, Lulu sudah lebih dulu menggerakkan tangannya. “Oma pasti suka sama Kak Shira. Karena Kak Shira baik.”

“Begitu, ya?” Suara Shira terdengar ragu.

Ruan melihat Shira, meminta terjemahan dari bahasa isyarat Lulu.

“Lulu bilang, Oma pasti suka sama saya karena saya … baik.” jawab Shira dengan nada suaranya yang terdengar sangsi.

“Selama kamu sungguh-sungguh menyayangi Lulu, Mama akan menerimamu.”

“Saya sungguh-sungguh sayang sama Lulu!” Shira menegaskan, ia menarik Lulu, menempelkan gadis kecil itu padanya.

Ruan mengulurkan tangannya mengusap kepala Lulu, tapi kemudian dia tertegun sejenak. Lulu membiarkannya tanpa mengelak atau pun menepis tangan Ruan.

Shira dapat melihat perubahan ekspresi pada Ruan, pria itu tersenyum! Bukan senyum penuh sandiwara. Tapi senyum yang seperti muncul dari hatinya. Dia melihat tangan Ruan yang masih mengusap kepala Lulu dan Lulu yang membiarkannya. Hatinya yang sedang was-was dan kesal karena pemberitahuan yang serba digoreng dadakan ini berubah menjadi haru.

Setelah hampir satu jam perjalanan, mereka tiba di sebuah restoran. Shira menggandeng Lulu sambil terus merayu jantungnya agar berdegup lebih santai. Pikirannya melayang membayangkan bagaimana penampilan Mamanya Ruan, mengingat anaknya selalu tampil formal dan rapi, Shira yakin Mamanya Ruan pasti tipikal ibu-ibu sosialita yang berpenampilan mewah, apalagi beliau tinggal di luar negeri. Tapi, pikiran itu terpatahkan saat Ruan berhenti pada meja yang ditempati oleh seorang wanita berambut panjang bergelombang dengan warna gradiasi marun, pakaiannya sangat kasual. Loose jeans dengan paduan blouse hitam oversize yang diikat bagian ujungnya dan sneakers limited edition, bahkan aksesoris yang digunakan bukan lah gelang diamond, atau kalung emas yang mencuri perhatian publik, hanya smart watch dan gelang rajut! Sekali lagi, gelang rajut!

“Lulu cucu Oma tersayang!”

Yang lebih membuat Shira tercengang adalah, Lulu yang lebih dulu memeluk Omanya, sangat terlihat kerinduan yang besar.

Setelah puas menciumi pipi, rambut dan tangan Lulu, Mama Ratna langsung mengangkat Lulu untuk duduk di atas pangkuannya, setelah itu barulah beliau melihat Ruan dan Shira yang berdiri bersisian dan Faris yang berdiri lima langkah di belakang mereka.

“Faris kamu jangan berdiri di sana, kamu seperti malaikat pencabut nyawa saja, mengikuti kemana pun Ruan melangkah.” titah Mama Ratna yang sekali lagi membuat Shira melongo.

Faris segera pindah dari tempatnya dengan patuh.

Mata Mama Ratna akhirnya fokus melihat Ruan dan Shira, matanya seperti memberikan penilaian penuh pada Shira, dari atas ke bawah. Jujur saja, itu membuat Shira salah tingkah. Tapi yang masih membuat Shira terkejut adalah, setiap kali Ruan tiba-tiba menggenggam tangannya.

“Apa pun penilaian Mama, aku akan tetap menikah dengannya.” Ruan buka suara. Tanpa basa-basi, tanpa sapaan rindu, tanpa pelukan hangat lebih dulu. Benar-benar culture shock bagi Shira.

Mama Ratna berdecak. “Duduk dulu kalian, leherku sakit.”

Ruan menarikan kursi untuk diduduki Shira. Wah, sikap yang hanya dimiliki oleh seorang gentleman, tapi sayangnya pria yang baru saja melakukan itu sedang menjelma menjadi seorang aktor ibu kota.

Mama Ratna kembali melihat Shira, tangannya terus bergerak mengelus rambut Lulu yang ikal.

“Jadi, kamu perempuan yang membuat Ruan menolak gadis-gadis pilihanku?” Matanya menatap dengan tatapan biasa saja, namun nada suaranya jelas dia tidak percaya pada Shira.

“Saya …”

“Ga perlu mengintimidasi-”

“Sst! Diam! Mama ga tanya ke kamu, Mama lagi tanya ke calon pilihanmu. Jadi kamu diam saja kalau Mama ga tanya.” balas mama Ratna saat Ruan hendak menyela interaksi antara Mamanya dan Shira.

“So, apa yang kamu lakukan sampai-sampai cowok es batu kayak dia bisa memilihmu?”

Shira tersenyum kecil, ternyata bukan hanya dia yang melihat Ruan sebagai es batu. “Sejujurnya, waktu baru mulai bekerja sebagai pengasuh Lulu, saya takut pada Mas Ruan. Dia terlalu dingin, sampai rasanya menegur pun saya ga berani.”

Mama Ratna melirik tajam pada Ruan, lalu kembali pada Shira. “Lalu apa yang membuat dia memilihmu dan kamu menerimanya?”

Aduh! Aku lupa cerita fiksinya!

Tapi Shira harus tetap tenang, meskipun keringat dingin sudah mengalir pada tulang belakangnya.

“Saya pada akhirnya memilih untuk menjaga jarak saja dengan Mas Ruan,” Shira mulai mengarang cerita, mengandalkan jiwa seninya untuk membuat cerita cinta dengan berbekal drama-drama China yang sering muncul pada akun media sosialnya saat dia menunggu Lulu di psikolog. “dan hanya fokus pada Lulu. Untuk awalnya, saya ga peduli dengan sikap Mas Ruan, yang saya pedulikan hanya perkembangan Lulu, bagaimana saya bisa membuat Lulu percaya pada saya, mencari cara untuk merayu Lulu, karena …”

“Karena dengan mendapatkan kepercayaan Lulu, tentu kamu bisa mendapatkan hati Papanya?” Pertanyaan itu lebih terdengar seperti tuduhan yang Shira maklumi, tapi juga membuat Shira was-was takut salah bicara. Apa lagi genggaman tangan Ruan menjadi lebih erat, Shira yakin Ruan sadar bahwa apa yang diucapkan Shira melenceng jauh dari cerita yang sudah dia buat.

Shira menggeleng sebagai tanggapan. “Karena melihat Lulu seperti melihat diri saya yang masih kecil. Ketakutan, kesepian, dan ditinggalkan oleh seseorang yang saya panggil ibu.” Shira memilih untuk mengandalkan sedikit cerita hidupnya. Setidaknya, alasan yang dia buat bukan fiksi.

Genggaman tangan Ruan terasa mengendur, kepalanya bahkan ikut menoleh pada Shira, tapi Shira tetap dengan posisinya dan ekspresinya yang terus menampilkan senyuman di depan Mama Ratna.

“Saya hanya merasa, saya dan Lulu mempunyai kemiripan, bahkan melihat Lulu yang ternyata dekat dengan Tante, juga mengingatkan saya dengan Nenek saya. Nenek yang mengasuh saya ketika ibu saya pergi meninggalkan saya.”

Ruan masih terus melihatnya dengan sorot mata yang tidak Shira mengerti.

“Karena itu, saya bertekad agar Lulu ga merasakan apa yang pernah saya rasakan. Saya ingin Lulu mendapatkan kasih sayang yang besar. Meskipun saya bukan ibunya, setidaknya saya ingin memberikan kasih sayang saya sebagai orang yang mengasuhnya. Saya ingin Lulu tau, meskipun ibunya meninggalkannya, dia masih memiliki banyak orang yang menyayanginya.”

Tatapan penuh tuduhan tadi dari mata Mama Ratna perlahan-lahan berubah, menjadi lebih lembut pada Shira, meskipun tatapannya kembali sinis saat melihat Ruan.

“Jadi, kamu memilih Shira karena dia menyayangi Lulu? Bagaimana jika ada wanita lain lagi yang juga menyayangi Lulu? Apa kamu akan berpoligami?”

“Itu bukan satu-satunya alasan aku memilih Shira, Ma.”

“Oh ya?” Mama Ratna terdengar skeptis.

“Karena kepribadian Shira yang membuatku jatuh hati.”

Ah! Itu dia kelanjutannya! Shira baru ingat cerita selanjutnya dari yang sudah ditulis oleh Ruan.

“Dia gadis yang jujur, apa adanya, yang semenjak kehadirannya membuatku merasa nyaman dan yakin bahwa aku menginginkannya.”

Mama Ratna hanya berdesis, tetap tidak percaya. Lalu kembali pada Shira.

“Dan kamu langsung percaya pada omong kosongnya?”

“Ini bukan omong kosong, Ma.” ucap Ruan.

“Diam, Mama ga tanya ke kamu.” Mama Ratna melirik tajam.

“Awalnya engga,” Shira memiliki ide yang lebih oke untuk merevisi paragraf terakhir dari cerita yang sudah dituliskan Ruan sebelumnya. “Tapi, melihat bagaimana Mas Ruan yang langsung meminta ijin ke Nenek saya untuk menikahi saya, saya yakin kalau Mas Ruan sungguh-sungguh. Jadi saya bertekad, demi Lulu, saya akan memberikan kesempatan untuk Mas Ruan membuktikan kesungguhannya.”

Mata Shira dan Ruan bertubrukan, dengan subtitle yang hanya bisa dibaca oleh Shira dan Ruan.

“Kamu mengubahnya?”

“Lebih meyakinkan, kan?”

.

.

.

Bersambung

1
Humaira izzatunisa
luar biasa
ms. S
up lagi kak. ceritanya seru lho
Anonim
😍😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
/Drool/
Anonim
Lanjut thor cerita nya fresh beda dengan yang lain😍😍😍
Oksy_K
lanjut kak.... penasaran kisah selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!