NovelToon NovelToon
Melawan Mertua Julid

Melawan Mertua Julid

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Konflik etika / Romantis
Popularitas:106.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Christina

"Ayu gak punya uang, Bu. Kan ibu tahu sendiri, penghasilan Mas Bagas sebagai pemula baru dua juta. Setiap hari ibu minta di talangin terus, ya habis dong uangnya."

"Kamu ini, sama mertua pelitnya minta ampun. Udah sana belanja, gak usah banyak drama. Pakai dulu uang kamu, nanti ibu ganti."

Menyebalkan sekali. Tapi aku malas melayani ibu mertuaku lebih lama untuk berdebat.
Aku ikuti saja kemauannya. Tapi aku punya ide, supaya mertua ku kapok menyuruh ku belanja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Christina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagas Sakit

"Mas, makan dulu."

"Na-nanti, sayang."

Menjelang siang hari, kondisi suami makin tak karuan. Bibirnya pucat. Dia gunakan banyak selimut tetap tak meredakan rasa dinginnya. Makan dan minumnya pun susah.

"Ya Allah, Mas, makin panas aja. Tapi kaki kamu dingin kayak es batu. Kita ke rumah sakit yah."

"Ibu... bapak... Mbak Dita !" Teriakku panik. Mas Bagas tak bisa menolak lagi. Dia tampak lemas dan pasrah saat aku paksa membawanya ke rumah sakit.

"Kenapa sih, berisik banget kamu Ayu !"

"Mbak, Bu, kita harus bawa Mas Bagas ke rumah sakit. Badannya panas banget udah kayak di goreng."

"Ya Allah, Bagas. Ayo, bawa-bawa !"

"Kamu ini gimana sih, kalau tahu suami sakit bawa ke dokter dari pagi. Malah udah parah gini baru dibawa. Si Bagas emang gini dari kecil, kalau sakit gak dirasa. Bikin ribet keluarga. Harusnya pas udah kerasa kamu langsung ke puskesmas, Gas. Bikin susah aja."

"Mbak Dita, suamiku lagi sakit, malah nyerocos kayak radio rusak. Kalau gak mau nolong ya udah."

Keluarlah tanduk badak bercula satu milikku. Emang ya, kakak macam apa Mbak Dita ini ? Adiknya lagi sakit malah diomelin. Beginilah gambaran orang kalau isi kepalanya sudah di gadaikan separuh. Gak ada empatinya.

"Eh, bukan nyerocos. Dari kecil suami kamu emang suka bikin heboh. Udah gede kayak gini, harusnya lebih ngerti tubuh sendiri."

"Terserah mau ngomong apa. Mending Mbak cari serpihan isi kepala Mbak di tukang loak, biar genap isi kepalanya. Ayo, Bu, kita bawa Mas Bagas. Ibu tolong siapin bajunya, aku cari tumpangan mobil dulu."

"Iya Yu, buruan."

Bodoh amat Mbak Dita mau ngomong apa sampai berbusa pun aku tak peduli. Mas Bagas harus segera dilarikan ke rumah sakit. Kalau terus meladeni orang sinting, sampai lebaran monyet juga gak bakal selesai.

***

"Dok, gimana kondisi suami saya ?"

"Berdasarkan hasil lab, suami ini terkena tipes dan ada flek di paru-parunya. Untuk memastikan lebih lanjut nanti kita lakukan pemeriksaan Rontgen paru-paru. Untuk sementara waktu, Pak Bagas harus di rawat inap dulu."

"Ya Allah, Dok, tolong berikan perawatan dan pengobatan yang terbaik buat suami saya."

"Baik, Bu."

Dokter pamit. Aku segera mengurus administrasi, setelahnya suami sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Muka suamiku benar-benar layu. Aku sedih melihatnya. Hati ini seperti di penuhi rintikan hujan. Merasa jadi istri gak becus. Harusnya selama ini peka dengan kondisi suami.

"Gas, kamu ini baru nikah beberapa bulan udah kena penyakit paru segala. Si Ayu kayaknya gak becus ngurus kamu." Ujar Mbak Dita.

"Gak becus gimana, Mbak ? Aku selalu perhatian sama makanan dan kesehatan Mas Bagas."

"Ya, buktinya ? Lihat ini, adikku jadi kurus kering, kena penyakit segala. Makanya kamu jangan gedein badan doang. Ingat suami, rawat yang bener."

"Dita benar, kamu sih Ayu, sukanya foya-foya beli emas segala. Kesehatan suami gak diperhatikan. Anak ibu pasti kecapean punya istri yang tukang gaya kayak kamu."

"Astaghfirullah, Bu..."

"Bu, Mbak, jangan ngomong gitu sama istri Bagas."

Aku hanya bisa mengelus dada. Sudah tak kaget mendengar perkataan buruk dari mertua dan kakak ipar. Walaupun kali ini terdengar sangat menyakitkan di hati.

"Iya, Bu, aku foya-foya beli emas, tapi pakai tabunganku sendiri. Bukan selalu memeras uang Mas Bagas. Kalau soal kurus, dari sebelum menikah juga dia sudah kurus. Bakan dulu dia gak keurus, gak ada yang perhatiin makan, kesehatannya, cuma pada ingat sama duitnya doang."

"Ayu benar. Ibu dulu jarang sekali peduli sama Bagas. Cuma Mbak Dita yang nomor satu." Ujar suamiku berkaca-kaca.

"Istirahat, Mas. Jangan berdebat sekarang. Kesehatan kamu nomor satu."

Aku berusaha menahan kekesalan, tak mau sampai hilang akal dan mengamuk bagai hewan. Meski rasanya sakit di tuduh yang tidak-tidak.

"Kita pulang dulu aja, Bu. Ambil karpet buat nginap disini." ujar Mbak Dita mengalihkan topik, kemudian menarik tangan ibunya keluar dari ruangan ini. Ibu tampak sendu, mungkin ucapan ku berhasil membuatnya tertampar.

"Sayang, maaf yah, pasti biaya rumah sakit mahal. Besok Mas pulang aja yah."

"Ih, pulangnya nanti kalau udah disuruh dokter. Tenang aja, soal uang, aku ada kok, Mas."

"Uang dari mana, sayang ? Kita belum gajian. Simpanan kamu nanti habis, atau mungkin kurang.

"Simpanan kita udah ada lima jutaan, Mas. Ditambah tabunganku lima belas juta. Totalnya dua puluh juta. Uang untuk beli kamera itu, uang simpananku. Maaf waktu itu aku bohong. Yang penting uangnya udah balik modal dari gaji konten-konten kita.

"Kamu punya uang sebanyak itu dari mana ?"

"Uang hasil resepsi di rumah Mama. Untuk keperluan acara waktu itu Mama nambahin juga, dan dapat dari tamu undangan. Jadi uang dua puluh juta itu Mama kasih ke aku."

"Aduh!" Pintu terbuka. Kaget, Mbak Dita ternyata belum pulang. Dia kelihatan salah tingkah.

"Mbak mau ambil tas, ketinggalan."

Dia ambil tas di meja, lalu keluar. Aduh, sial ketahuan deh punya uang simpanan banyak. Niatnya hanya mau memberi tahu Mas Bagas agar tidak kepikiran soal biaya rumah sakit. Mbak Dita segala menguping. Semoga saja mereka gak menggunakan kesempatan untuk hutang lagi.

"Intinya Mas gak usah khawatir, sekarang kesehatan nomor satu. Kalau kamu sakit, aku kesepian nih Mas, gak ada yang ngajak ribut di ranjang."

Suamiku malah terkekeh. Aku usap kepalanya sambil berdoa semoga dia kembali sehat.

***

"Total pembayarannya tiga juta, Bu."

"Ini, Mbak."

Aku sodorkan uang merah berjumlah tiga puluh lembar. Disamping ku Mbak Dita keheranan. Meskipun terlihat bersikap biasa, tapi sorot mata kepo tetap kelihatan.

Hari ini waktunya Mas Bagas pulang, setelah tiga hari di rawat. Biayanya lumayan besar karena tidak pakai kartu sehat, di tambah obat paru untuk satu bulan.

"Jadi bener yah, uang kamu banyak."

"Ya, lumayan Mbak. Uang dingin, bukan uang panas."

"Maksudnya, semua uang kamu simpan di kulkas ? Sebelah mana ?"

Aku terkekeh geli dengan pertanyaan Mbak Dita. Ngaku pinter, disindir dengan kata kiasan malah menampakkan tampang kebingungan.

"Maksudnya uang simpanan, Mbak. Bukan uang hutang yang panas bikin pusing kedepannya.

"Nyindir ?"

"Siapa yang nyindir ? Mbak nanya, ya aku jawab."

"Oh. Udah buruan pulang. Capek tiga hari di rumah sakit terus. Harusnya kamu kasih upah bolak-balik rumah sakit. Seratus atau dua ratus gitu."

"Potong aja dari hutang, Mbak."

"Ih, Ayu ! Apa-apa potong hutang. Apa susahnya kasih Mbak uang. Uang kamu kan banyak."

"Iya, dan akan lebih banyak lagi kalau hutang Mbak di bayar. Aku duluan."

"Ayu !"

Bodoh amat Mbak Dita teriak, tak aku pedulikan. Benar-benar menguras emosi punya kakak ipar seperti dia. Otaknya sangat pintar, pintar mikirin duit orang.

Suka heran deh, sudah punya suami, masih aja minta sama adiknya. Harusnya sebagai kakak, dia yang bantu. Kami baru dapat musuh sakit, dia malah minta duit.

"Istirahat, Mas. Aku udah buat alarm jadwal minum obat. Jangan sampai telat yah."

Sesampainya di rumah, aku suruh suamiku untuk istirahat. Mencium keningnya sebagai suntikan motivasi.

"Makasih yah, Sayang. Mas janji bakal ganti uang simpanan kamu."

"Gak usah mikirin itu, Mas. Kalau kamu mau aku senang, harus nurut. Minum obat yang teratur biar cepat sembuh."

"Siap komandan."

"Gitu dong. Aku ke dapur dulu yah, mau masak buat kamu. Katanya bosan makan bubur. Nanti aku masakin sup yah."

"Kalau kamu capek, beli aja bubur buat Mas. Kamu juga pasti capek bolak-balik rumah sakit." Ujar suamiku sendu.

Dia memang paling tidak mau aku capek, apalagi kesusahan. Mukanya menampakkan raut tak enak dan kurang nyaman.

"Selama ini Mas manjain aku banget. Sekarang gantian. Jangan protes, atau gak aku gigit nih."

Aku tunjukkan gigi putihku yang mengkilap.

"Hahaha, kayak kucing aja." Suamiku terkekeh.

Aku tersenyum lebar, bergegas ke warung Bu Ijah membeli bahan masakan. Lalu mulai mengeksekusi sayuran menjadi makanan yang lezat.

1
Ayu Rizka
ko gk ada kelanjutannya kak udah nunggu lama banget
Veni Damayanti
Luar biasa
Fatmah Abujahja
bagus ceritanya bisa jadi pembelajaran
Duda Fenta Duda
waduh suamimu ayu dakda tegasnya
vi
cerita nya 👍
Maulida Hayati
Luar biasa
Er Ropah
ska nih klo critanya menanntu bar2.....😄
sweetpurple
Luar biasa
Ritmaridu
kesel banget dgn org kayak mbak Dita,selalu nyalahin org atas takdir dia,padahal dia yg buat kesalahan,org kayak mbak Dita enaknya di apain ya😡😡
Norizah Mat Isa
Biasa
novita setya
yowes itu buah dari perbuatanmu dita. nikmati jalani..sukur2 sambil bertobat
novita setya
ciee ngarep banget siii..maap2 aja y gus fatih ga doyan sm lea..bukan muhrim
R. Kamal
pasti bekum nyesek tu jantung... msh luassssss heee
novita setya
sing salah bakale seleh..tuhkaaan kaaan disimpan serapat apapun ttp ketahuan..wuhuuu bakal dinikahin sm siapa nih..
R. Kamal
penyakit ngeyel dan pikun dipelihara akhirnya ketahuan juga ada janin...
novita setya
hasil tespek hoax tuh😄urine melia yg dipake. gus fatih udh ancang2..
R. Kamal
lanjutkeunnnn
novita setya
panggung part 2 digelar..pemeran utama princes lele dan ratu lelel. keknya 11-11,5 sm induk lelel
novita setya
td lea dan dita dipanggilin odong2 aja..
novita setya
usilnya ayu nurun ke kiara. si lea bener2 setan kw kelakuannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!