Madu itu manis namun berbeda dengan madu yang aku rasakan, rasanya sungguh pahit, membuat hati yang baik-baik saja menjadi terluka, membuat hati dilema antara bertahan atau menyerah hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan mengakhiri semuanya.
Dari sinilah aku menjadi wanita kuat karena harus berjuang untuk sang buah hati dan akhirnya aku bertemu dengan pria yang tulus mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Film Dewasa
Sakit, sembuh dan sakit lagi, ya begitulah yang aku rasakan, Reza benar-benar membuat aku bingung dalam menentukan sikap.
Hari ini mamanya datang ke rumah, meski sakit aku tetap berusaha tersenyum menyambut kedatangan mertuaku.
"Reza pergi kemana? sehingga mama disuruh kesini menemani kamu?" tanya Mama.
"Taiwan Ma," jawabku.
Aku membawa koper mama ke kamar tamu lalu membuatkan minum untuk ibu mertuaku.
"Diminum ma tehnya mumpung masih hangat." Aku meletakan teh di meja.
Mama menatapku dari atas ke bawah kemudian tersenyum sinis.
"Kamu itu seharusnya paras Melati, pakai baju bagus bukannya memakai daster seperti ini." Dari dulu sama saja, selalu menghina penampilan aku, lagian mau kemana sih sehingga harus memakai baju bagus, toh habis ini aku harus membersihkan kamar mandi dan juga cuci baju.
"Iya ma, nanti setelah mandi Melati pakai baju bagus, soalnya habis ini Melati mau cuci baju dan juga membersihkan kamar mandi." Meski kesal aku berusaha tersenyum.
Kami mengobrol banyak hingga mama Reza keceplosan bicara soal Viona, aku terkejut saat mama Reza menyebut nama Viona.
"Mama tau Viona?" tanyaku.
Awalnya mama mengelak namun akhirnya mama mengatakan yang sebenarnya padaku.
"Saat Ega berusia dua bulan, Reza membawa Viona ke rumah, saat itu Reza baru saja diangkat menjadi supervisor, Reza bilang pada mama kalau ingin menikahi Viona sebulan kemudian," ungkap mama.
Mataku berkaca mendengar ucapan mama mertuaku, jadi selama ini aku yang tidak tau apapun?
"Kenapa mama tidak bilang pada Melati? kenapa mama membiarkan Reza menikah lagi?" aku mengajukan pertanyaan pada mama mertuaku.
Mama Reza nampak bingung mau menjawab apa, memang dulu mama Reza tidak pernah menyukai aku, dia tidak pernah menganggap aku menantunya, namun setelah aku melahirkan Ega baru hatinya sedikit terbuka.
Dengan alasan ingin membersihkan kamar mandi aku pamit ke kamar, saat di kamar aku menumpahkan sakit hatiku dengan menangis, tak hanya suami tapi mertuaku juga sangat tega padaku, andaikan dulu mama Reza mau memberitahu aku tentu aku bisa melarang pernikahan mereka.
Tak ya sudahlah, mungkin takdir aku seperti ini disakiti oleh orang yang aku cintai.
Tak ingin pusing-pusing memikirkan Reza, aku pamit pada ibu mertuaku untuk keluar, aku juga menitipkan Ega padanya.
Bingung mau kemana aku memutuskan untuk pergi ke sebuah taman, aku berdiam diri disana sembari melihat orang berlalu lalang.
*******
Malam semakin larut, aku yang tidak bisa tidur memutuskan untuk mengambil ponsel, kulihat foto profil Reza sudah berubah, nampak dia dan Viona berpelukan di sebuah taman di negara Taiwan.
"Sekalipun kamu nggak pernah menggunakan foto kita untuk foto profil kamu mas." Air mataku merembes keluar.
Entah berapa kesakitan yang harus aku rasakan, bertahan sakit pergi tak mampu ya inilah yang aku alami saat ini.
Pagi berlalu dengan cepat, setelah masak aku pergi ke kamar Ega, kulihat bocah kecil ini memahamkan mata.
"Sayang bangun." Ku goyang tubuhnya supaya dia bangun.
Namun kelihatannya Ega malas bangun jadi aku membiarkannya. Saat akan pergi aku melihat sebuah majalah di sampingnya. Kulihat dan betapa terkejutnya aku melihat gambar keluarga utuh yang dilihat Ega.
Apa Ega tau masalah orang tuanya?
Apa dia merasakan kalau orang tuanya tidak baik-baik saja?
Aku menangis di samping tempat tidur Ega hingga tangisanku membangunkannya.
"Mama kenapa?" tanyanya.
Belum sempat aku menjawab tangan mungilnya membuka mataku dan perlahan bibirnya meniup mataku.
Bukannya diam aku malah menangis, apa selama ini dia tau kalau aku berbohong.
"Ega tau mama tidak kelilipan tapi mengapa mama selalu bilang kelilipan? kata Bu guru berbohong itu tidak baik ma." Katanya bak anak panah yang langsung melesat tepat di jantungku hingga aku tak bisa membuat alasan.
Tangisku semakin pecah lalu kupeluk Ega dengan erat.
"Maafkan mama," kataku lirih.
Setelah mandi dan makan, Ega memilih bermain dengan mama Reza, meski tidak suka padaku namun mama sangat mencintai Ega, apapun yang Ega minta pasti dituruti.
Aku yang boring membuka laptop suamiku, biasanya Reza menyimpan banyak film di laptop jadi aku ingin melihatnya.
Saat aku buka folder dalam laptopnya kulihat begitu banyak film dewasa disana, aku heran padanya kenapa menyimpan begitu banyak film dewasa toh jika ingin dia bisa langsung main tanpa harus melihat film dewasa.
Saat aku perhatikan, tokoh dalam film dewasa tersebut nampak tidak asing dan benar saja itu Reza sendiri.
Sejak kapan dia ikut casting film dewasa? tapi saat aku lihat itu adalah Viona jadi mereka setiap berhubungan selalu direkam, untuk apa? dokumentasi?
Tak cuma satu video namun ada puluhan bahkan ratusan video bercinta mereka. Entah mengapa hatiku sungguh kuat sekali melihat beberapa video, pantas Viona mengejek aku kalau aku tidak pernah memuaskan Reza la gaya bercinta mereka seperti gaya bercinta yang ada di film dewasa orang barat.
Hatiku lambat laun melemah sehingga aku tidak kuat lagi melanjutkan menonton video dewasa Reza dan Viona.
Seusai melihat video tersebut, baru aku menangis, Reza dan Viona sungguh keterlaluan memperlakukan aku seperti ini.
"Perlu kamu ingat mas, doa istri yang membuat kamu seperti ini dan doa istri yang kamu zalimi akan menjadi Boomerang untuk rejeki kamu," ucapku.
Tiba-tiba aku merasakan kram di perutku, tak ingin terjadi apa-apa aku segera pergi ke rumah sakit dengan menggunakan jasa taksi online.
Dengan tertatih-tatih aku pergi menuju ruangan dokter kandungan, nampak sepi karena memang jam praktek telah usai.
Aku duduk di depan ruangan dokter kandungan karena tak kuat lagi berdiri dan saat bersamaan keluarlah David dari dalam.
"Melati." Dia memanggilku dengan berteriak mungkin karena kaget melihat aku yang ada di depan ruangannya.
"Dokter perut saya sakit," kataku dengan memegang lengannya.
Karena aku tidak kuat berdiri dari menggendong aku ala bridal dan membaringkannya di bed pasien.
Dia segera mengecek perutku.
"Maaf Melati aku harus membuka celana kamu," David langsung saja membuka celanaku.
Dia memakai sarung tangan dan memasukan jarinya ke dalam bagian terlarang milikku.
Nampak banyak darah saat dia mengeluarkan tangannya.
David segera mengambil obat, dengan pelan dia memasukkan ke dalam bagian belakang aku.
Setelahnya dia melakukan USG, wajah serius kini berubah jadi lebih rileks setelah melihat calon bayi aku di layar.
"Syukurlah, masih bisa diselamatkan." Dia mengusap peluh yang ada di dahinya.
Rasa sakit yang aku rasakan lenyap sudah, aku bahkan tak berani menatapnya. Sungguh aku sangat malu padanya karena telah melihat bagian terlarang aku.
"Astaga kenapa aku malu begini,"
Sehat dan semangat berkarya author...
Good job 😘😘