CEO GILA, begitu julukannya. Karena usianya yang 27 tahun dan belum menikah tapi super duper galak garang, suka memaki sembarang dengan kata-kata toxic nyelekit.
Namanya Andre Wiguna Dharma, seorang CEO Perusahaan Keramik Asia Tile.
Kehidupan yang menurutnya penuh kepalsuan jauh dari cinta tulus, membuatnya tidak percaya pada cinta. Ditambah lagi dia pernah mencinta seorang gadis di usia 17 tahun, tapi ternyata kandas sebelum kapal berlayar. Membuatnya hanya menganggap cinta seperti permainan.
Hingga suatu ketika, ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang ternyata telah menikah. Dan ternyata suami Naysila adalah seorang office boy di perusahaan besarnya.
Akankah permainan cintanya berhasil kali ini?
Atau... Andre harus gigit jari karena Naysila lebih memilih Rendra sebagai cinta sejatinya?
Ataukah Tuhan akan memberinya jalan agar Naysila menjadi Takdirnya di masa depan?
Mari kita ikuti kisah Sang CEO GILA : Mencintai Istri
🙏🙏🙏Mohon dukungannya, please🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 (Player Ketemu Pro)
Andre sengaja tidak meminta uang saku dari sang Mama Tiri pagi ini, karena Papanya mentranfer satu juta rupiah ke rekeningnya semalam.
Selain ia muak menemui Shernita, Andre juga tak pusing untuk jajannya di sekolah nanti.
Sebenarnya anak itu memiliki tabungan lain atas namanya juga. Tabungan uangnya dari hasil ngegame selama ini. Bahkan ia saat ini tengah membuat game sendiri untuk ditawarkan pada perusahaan game online.
Andre sendiri saat ini sudah tergabung dalam komunitas gaming. Dan sempat magang di industri gaming beberapa hari. Namun karena kesibukannya sekolah dan kegiatan ekstra kurikuler, membuatnya agak kesulitan membagi waktu memperpanjang magangnya.
Siang ini Andre juga ada les matematika khusus menghadapi ujian negara tahun depan.
Meskipun Andre adalah anak yang lebih memikirkan kebebasan hidup, namun ia juga memprioritaskan pendidikannya demi masa depan.
Otaknya telah jauh berfikir, ia takut esok hari kartu kemenangan ada ditangan Shernita sang Mama Tiri. Sudah pasti ia tidak akan mendapatkan apa-apa dari Papanya. Kalau ia tidak memiliki otak cerdas dan akal yang banyak, dipastikan masa depannya akan suram.
Dan itu sangat tidak Andre inginkan.
Pukul tiga sore akhirnya ia bisa bebas dari tugasnya sebagai seorang pelajar.
Sebuah mobil Toyota Alphard meluncur tepat dan berhenti dihadapannya.
"Andre!"
Yang dipanggil menoleh ke arah jendela kaca mobil. Perlahan tampak seraut wajah cantik tersenyum tipis padanya.
Bianca! Benar-benar cantik ternyata! Pantas saja kalau ia laris manis dipercaya menjadi beauty vlogger dan menyandang gelar selebgram terfavorit saat ini. Aslinya memang cantik jelita! Hm...
Pintu mobilnya terbuka. Andre dengan tenang memasukinya dan duduk manis setelah memberikan senyuman khas gigi gingsulnya pada Bianca.
"Kita ke butik dulu ya? Tempat biasa aku cari baju!" ucap Bianca dengan suaranya yang serak-serak basah.
Hm... suaranya menggoda telinga! Ternyata,... lumayan bikin si junior bangun dari tidur siang nih!
Andre berdehem sekali. Ia duduk dengan santai sembari sesekali melirik ke arah Bianca yang sibuk dengan gadgetnya.
"Sebentar ya, aku cancel dulu beberapa acara yang harusnya dikerjakan nih!" katanya pelan nyaris mirip gumaman.
"Silakan, kerjaan itu sangat penting untuk karier kamu pastinya!"
"Thanks ya, Andre!"
Andre mengangguk lengkap dengan senyuman.
"Yup, selesai! Hehehe...! Hai, Andre! Kamu lebih tampan dilihat dari dekat!"
Andre tersipu. Lumayan gede rasa, dia jadinya dipuji cewek cantik sekaliber Bianca. Tapi segera ia bersikap normal kembali dengan menunduk seolah malu.
"Kamu cewek cantik, tenar dan terkenal! Aku yang minder jadinya nih, bisa ketemuan dan jalan bareng kamu!"
"Ah, kamu ini, bikin aku ge'er dengar pujian kamu!"
Andre dan Bianca tertawa kecil.
Andre sudah bisa memilah dan membedakan tipe-tipe serta karakter cewek-cewek. Bianca pastinya beda dengan Wirda. Yang langsung klepek-klepek mendengar pujiannya.
Bianca cewek nyaris sempurna. Terbiasa dengan pujian. Bahkan bisa jadi dia akan illfeel jikalau Andre ikut melontarkan pujian yang berlebihan. Akan sangat terlihat wajah fake nya.
Itu sebabnya Andre menahan diri untuk tidak berkata yang berlebihan dihadapan gadis cantik, berkelas dan mapan dihadapannya ini.
"Mau makan dulu ga?" tanyanya santai pada Bianca.
"Kenapa? Lapar ya?" Bianca balik tanya.
"Iya. Belum makan siang. Aku harus turun dulu makan nasi. Baru fikiranku waras kembali!"
"Hahaha... betul, betul! Orang Indonesia belum berasa makan kalau belum nemu nasi. Iya khan, Ndre?"
"Smart girl!"
Bianca tersenyum. Manis sekali.
Bibirnya mungil, tapi tebal sehingga sangat menggiurkan mata Andre yang mengkhayal bisa menciumnya saat ini juga.
Andre hanya mengalihkan pandangan. Sadar kalau kelakuannya menatap terus ke arah bibir Bianca akan terlihat otak mesumnya.
Namun tiba-tiba,...
Grep
Tangan mungil nan lentik milik Bianca tiba-tiba telah berada didagu lancipnya.
Gadis itu menatap dalam riak pandangan Andre.
"Kenapa terlihat manis dengan sikap malu-malunya sih?"
Darah Andre berdesir. Jiwa mudanya terbangkitkan. Ternyata Bianca tak seperti yang difikirnya.
Aslinya jauh lebih berani ternyata.
Andre mencoba melawan tatapan syahdu gadis cantik itu.
Ia menyapu pelan keseluruhan wajah Bianca yang agak kearab-araban.
Hidung yang bangir, dua bola mata yang besar berwarna coklat, alis tebal tapi keren dan asli indah terbentuk dari lahir sepertinya.
Bulu mata lentik, pipi agak chubby berwarna kemerahan. Dan... mata Andre kini tertumpu pada bibir Bianca yang sangat memikat.
Bibir yang imut namun memiliki ketebalan yang benar-benar menarik hati. Padahal saat ini di atas bibir itu dipenuhi keringat kecil karena cuaca sore yang cukup gerah udaranya.
Namun wajah Bianca membuat matanya tak mau berkedip.
Tanpa sadar, jakun Andre turun naik. Dan...
Cup.
Bianca tiba-tiba mengecup bibir Andre.
Wow wow wow... gadis yang sangat berani rupanya!
"Kenapa kamu manis sekali?" puji Bianca dengan suara serak.
Andre hanya diam tak menjawab. Kini sepasang matanya hanya bisa menatap kedalaman bola mata Bianca.
Gadis dihadapannya ternyata juga seorang player. Yang sedang mencoba menerbangkannya setinggi langit.
Dan entah mengapa, rasa sukanya pada Bianca seolah menguap. Antara jijik juga takut.
Andre lalu tertawa menyeringai. Lebih cenderung menertawai dirinya sendiri.
"Mau kemana kita, Bi?"
"Ke butik langgananku, Ndre! Sabarlah, sebentar lagi kita sampai! Kenapa?"
"Setelah ke butik?"
"Seperti yang aku bilang di chat, aku mau ngajak kamu kefamily gathering komunitasku."
"Maaf, aku ga bisa ikut kamu!"
Bianca terkejut. Kini ia menatap Andre dengan sayu.
"Kenapa?"
"Ada yang harus aku kerjakan, Bi!"
Bianca menunduk lesu.
"Urgent ya?"
"Iya. Maaf, ya Bi! Aku ga bisa mengantarmu! Kamu bisa turunkan aku di jalan itu!"
"Hhh... Banyak cowok yang sangat ingin menjadi bayanganku. Malah sampai namaku ditag, di spill, supaya aku menoleh dan memperhatikan. Tapi sekalinya aku suka seseorang, aku malah ditolak!"
"Bukan begitu, Bi! Aku ada urusan keluarga. Dan ini penting. Bokapku masih diluar kota. Adikku satu laki-laki, kelas 4 SD. Nyokap juga belum pulang kerumah. Jujur aku agak waswas meninggalkan adikku sendirian di rumah sampai malam. Kamu faham khan maksudku?" Andre melancarkan aksi menarik simpatinya.
Bianca mengangguk-angguk.
Ternyata Player pro itu bisa juga ditipu dengan kepolosan.
Cerita Andre memang benar adanya. Meski sesungguhnya agak sedikit didramatisir untuk membuat Bianca makin tersihir.
Pesona Andre memang membuat beauty vlogger itu tambah kesemsem.
"Aku dingin dan kejam pada cowok lain. Tapi setelsh ketemu kamu, aku rela melakukan apapun yang kamu inginkan. Aku akan menuruti permintaanmu, even itu kita harus ketemuan di hotel sekalipun."
Wanjim...! Player Pro ternyata ni cewek! Walau belum kelas kakap, tapi Bianca juga bukan kelas teri! gumam hati kecil Andre.
Lelaki berumur 17 tahun itu hanya tersenyum simpul. Lengkap dengan senyuman andalan gigi gingsul kirinya yang menaklukan hati Bianca.
"Bolehkah aku menciummu?" bisik Bianca sebelum Andre turun dan keluar dari mobil mewahnya.
Andre mencoba berakting. Seolah itu adalah ciuman bib*r pertamanya. Ia layaknya pemuda cupu yang kikuk dan malu-malu.
Membuat Bianca semakin berani dan kian beringas ******* bibir sens*al Andre Wiguna Darma.
Mereka bercium*n cukup lama juga. Ditengah deru mesin mobil yang halus terdengar. Bahkan lebih nyaring suara detak jantung masing-masing.
"I love you, Andre!"
Andre menunduk. Tersenyum lebar namun dalam hati bersorak kesenangan.
"Jangan lupa, kamu masih hutang pertemuan ya sama aku!" kata Bianca mengingatkan Andre sebelum pemuda itu keluar dari mobilnya.
"Nanti aku kabari lagi, Bi!"
"Aku menunggu!"
"Hehehe... Lagu dangdut Roma Irama apa lagu Tanpa Batas Waktu Ade Govinda, nih?" goda Andre membuat Bianca ngakak.
"Hahaha... Iiih, kapan-kapan kita karaokean ya? Janji? Suwer?"
"Hahaha... Oke, tapi nanti ya?" jawab Andre sengaja menarik ulur perasaan Bianca.
"Bye, BabyBoy!"
"Bye, myBianca!"
"Aaah, sweet!!!"
Bianca memekik gemas. Jemarinya masih menggenggam erat jari jemari Andre. Rasa tak ingin cepat melepas meskipun pemuda dihadapannya itu sudah turun dari mobil.
"Nice to meet you!"
Kalimat manis terakhir yang Andre ucapkan membuat Bianca tersenyum bahagia.
Bianca merasa mendapatkan mainan yang sesuai harapannya, kali ini.
Dimatanya, Andre itu seperti pemuda tampan yang lugu dan masih malu-malu. Pemuda yang manis tak banyak menggoda apalagi merayu. Tak seperti mantan-mantan lainnya yang geragas. Mata keranjang dan suka sekali menatapnya dengan pandangan buas seolah hendak menelannya bulat-bulat.
Namun ternyata player pro bisa juga terkecoh oleh player sejati.
Ck ck ck...
Andre melenggang dengan senyum puas penuh kemenangan.
Sorry, Bi! Aku ga mau terlalu dalam bermain denganmu. Diriku bukan juga player cap kadal. Yang main masuk ke sembarang lubang! Hehehe... Belum saatnya bagiku untuk melakukan praktek yang sebenarnya. Aku ga mau ambil resiko terlalu tinggi. Gumam hati kecil Andre penuh tekad.
...BERSAMBUNG...