"Ceraikan Rey, dan kembalilah padaku!"
"Aku tidak bisa." Ujar Amora dengan wajah datar.
Farhan menatap Amora dengan bingung.
"Kenapa? Bukankah kita sudah sepakat menjadikan Rey sebagai suami sementara agar kita bisa menikah kembali?"
"Aku mencintainya."
"Apa?"
"Kami saling mencintai dan sampai kapanpun kami tidak akan pernah bercerai. Terimakasih karena memilihkan Reyhan untuk menjadi suami sementara untukku. Tapi sekarang semuanya berbeda. Aku ingin dia menjadi suamiku selamanya. Dan maaf, aku tidak bisa kembali padamu."
Awalnya, Farhan memilih sepupunya yang bernama Reyhan untuk menjadi suami sementara bagi Amora sang mantan istri agar keduanya bisa rujuk kembali. Ia sudah menjatuhkan talak tiga, dan jika ingin kembali pada Amora maka Amora harus menikah dengan pria lain terlebih dahulu. Tapi siapa sangka, cinta tumbuh antara Amora dan Reyhan hingga mereka tak ingin berpisah. Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Republik Septy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bos mesum VS karyawan gatel
Amora merenggangkan kedua tangannya ke atas, guna merilekskan otot-ototnya yang tegang setelah berkutat selama kurang lebih tiga jam dengan benda pipih yang ada di hadapannya.
“Akhirnya ... Selesai juga. Ku kira malam ini aku lembur lagi.” Ucapnya lega. Ia sedikit memijit pelipisnya yang terasa pening. Semalam ia kurang tidur karena menangis, bahkan lingkaran hitam di bawah matanya semakin tampak jelas.
“Kau baru selesai?” Suara wanita terdengar tak jauh dari meja kerjanya.
Amora menoleh, netranya menangkap sosok wanita berperawakan tinggi putih di hadapannya. Dengan rambut panjang bergelombang tergerai sebatas bahu. Amora menatapnya datar, lalu memilih acuh tak menghiraukan. Ia segera membereskan barang-barang miliknya dan memasukkan ke dalam tas. Ia ingin segera pulang, bertemu dengan wanita ini hanya membuatnya ingin menelan orang hidup-hidup.
“Aku ingin berbicara kepadamu.”
Amora bergeming. Tak ada suara apa pun yang keluar dari mulutnya.
“Amora, aku minta maaf. Kami khilaf ... Dan tak sengaja melakukannya.”
Amora menghentikan kegiatannya, mengangkat kepala untuk melihat wanita yang ada seberang meja kerjanya. Amora mengangkat sudut bibirnya, tersenyum mengejek.
“Kau bilang khilaf?”
Wanita itu mengangguk.
“Khilaf tapi menikmati?” lanjutnya sembari berdiri. Amora melipat tangan ke depan dada, menatap wanita itu dengan tajam.
Wanita yang berada di seberangnya itu terdiam. Ia salah tingkah seraya menghindari tatapan tajam yang menghunusnya. Jemarinya memegang ujung rok span pendek sebatas paha yang ia kenakan.
Amora menatapnya dengan rasa yang tak bisa di jelaskan. Bagaimana bisa suami dan sahabatnya tega menghianati dirinya. Terlalu percaya pada seseorang ternyata tidak bagus juga.
Pintu ruangan yang berada di sebelah kiri Amora terbuka, tak lama muncul pria yang merupakan atasan Amora. Amora segera menundukkan kepala sebentar untuk menunjukkan rasa hormat pada atasannya.
“Sania. Sudah dari tadi?” tanya Pak Handoko sumringah. Ia menghampiri Sania dengan senyum yang lebar, matanya menjelajahi lekuk tubuh Sania yang berbalut rok span pendek dan kemeja ketat kekurangan bahan. Menyembulkan sesuatu yang tersembunyi.
“Belum lama kok, saya baru sampai.” Sania mengulas senyum manja, seraya malu-malu. Membuat Amora melebarkan matanya. Apa benar ini Sania sahabatnya? Baru kali ini ia melihat sisi dari Sania yang lain. Pantas saja mereka dengan mudah melakukan hubungan terlarang itu di belakangnya.
“Kita langsung pergi saja, saya sudah tidak tahan.” Bisik pria berkepala plontos itu di telinga Sania. Amora yang mendengar meski kurang jelas itu bergidik geli, ia ingin sekali muntah di depan wajah kedua manusia tak tahu diri ini. Perpaduan yang sangat cocok, Bos mesum VS karyawan gatel.
Apa mereka tidak malu bersikap seperti itu di depanku? Batin Amora dengan jijik.
“Amora, kamu kenapa? Cemburu ya?” tanya Pak Handoko tanpa Tedeng aling-aling yang membuat Amora melotot semakin lebar dan ingin benar-benar memuntahkan isi perutnya ke wajah bos mesum ini.
“A-apa? Cemburu?” Amora hampir saja tertawa keras jika tidak memikirkan posisinya yang hanya sekedar bawahan.
“Kenapa? Cemburu bilang saja. Kamu bisa menemaniku besok.” Pria itu mengedipkan sebelah matanya menggoda Amora yang sedang mati-matian menahan mual.
“Maaf, Pak. Saya harus pulang, karena pekerjaan saya sudah selesai. Terima kasih atas penawarannya, tapi maaf saya tidak berminat.” Ucap Amora sembari mengambil tasnya. Ia ingin sekali cepat pergi dari sana, karena takut tidak bisa menahan lagi rasa mulanya.
“Dasar sombong. Untung kamu cantik dan pintar, kalau tidak sudah saya ganti kamu.” Kata Pak Handoko kesal.
“Jangan marah, Pak. Ayo kita pergi, saya tidak sabar mau belanja.” Ujar Sania merayu. Ia menarik lengan bosnya.
“Untung ada kamu, bisa-bisa kolesterol saya naik berhadapan dengan Amora yang sok suci ini.” Ujarnya seraya melangkah meninggalkan Amora yang dengan susah payah menahan diri.
“Bapak duluan aja, nanti saya menyusul.” Kata Sania pelan.
“Baiklah, saya tunggu di mobil.” Pria itu berjalan meninggalkan Amora dan Sania. Suasana kembali hening, keduanya sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Hanya terdengar deru napas Amora yang menahan emosi.
“Aku minta maaf, aku tidak bermaksud ....”
“Tidak perlu minta maaf,” potong Amora dengan cepat.
“Aku ingin kamu pergi dari hidupku! jangan pernah menampakkan diri di hadapanku lagi. Nikmati pekerjaan sampinganmu yang sangat menyenangkan itu. Kamu bukan sahabat aku lagi!” ujar Amora geram. Ia segera berjalan meninggalkan Sania, baru beberapa langkah ia menghentikan langkahnya.
“Oh ya, aku Cuma mau bilang. kamu dan Pak Handoko sangat serasi sekali. Bos mesum VS karyawan gatel. Cocok banget, aku harap tidak sampai di bunuh sama Ibu Bos ya. Semoga beruntung.” Ejek Amora, ia kembali melanjutkan langkah.
Sania segera menyusul, menghentikan langkah Amora yang tergesa-gesa.
“Amora, tunggu!”
Amora terus berjalan tanpa menoleh, saat ini ia benar-benar ingin muntah.
“Amora tunggu, aku! Aku hanya ingin minta maaf!”
Amora terpaksa berhenti. Ia menolehkan kepalanya, menatap sahabatnya itu dengan nanar.
“Apa lagi? Kau mau aku memaafkanmu? Begitu?”
Sania menunduk, entah ia benar-benar menyesal atau hanya merasa bersalah.
“Aku sudah memaafkanmu, puas?” ujar Amora dengan lantang. Suaranya menggema di lorong kantor yang mulai sepi. Karena karyawan yang lain pasti sudah pulang, setengah jam yang lalu jam kantor berakhir. Sania menatapnya dengan sayu.
Tak butuh waktu lama, Amora membalikkan tubuhnya melanjutkan langkah yang terjeda. Menatap ke depan tanpa mau menoleh lagi meski Sania memanggilnya. Urusan mereka sudah selesai. Amora tidak ingin berurusan lagi dengan orang yang telah menyakitinya terlanjur dalam.
Amora tidak langsung keluar gedung perkantoran, ia masuk ke dalam sebuah toilet. Ia memuntahkan makan siangnya. Ia benar-benar muntah. Ia segera mencuci wajah dan mengelap ujung bibirnya, lalu terduduk di atas kloset dengan lemah.
Menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis sejadi-jadinya, menumpahkan kekesalan dan rasa sakit yang terus menggerogoti hatinya.
Semuanya berkelebat dalam ingatannya, bagaimana suami dan sahabatnya bergairah bersama menikmati permainan dewasa yang mereka ciptakan. Bagaimana kebersamaan mereka memasak bersama lalu makan malam bersama di dalam apartmentnya. Bahkan tidak jarang pula Sania menginap di Apartment nya. Ia kecolongan, ia terlalu percaya dengan mereka. Hingga tak menyadari mereka menjalin hubungan di belakangnya.
Amora memukul dada, berharap bisa meredam rasa sakit yang menyesakkan. Ini sering ia lakukan, ketika ia menangis.
Entah berapa lama Amora menangis di dalam toilet, hingga setelah tenang ia baru keluar. Ia merapikan penampilannya sebentar, mengeringkan wajahnya yang terlihat kacau karena air mata.
Setelah selesai, ia segera keluar meski jejak air mata tak sepenuhnya hilang. Kantor ini sepi, hanya ada beberapa office girls yang terlihat.
“Kenapa baru keluar?” seorang pria menghampirinya dengan khawatir.
Amora hanya berdiri mematung. Tak menyahut ataupun menanggapi. Ia hanya menatap kosong ke depan.
🌱🌱
Hai Zheyeng 😘
Gimana nih kabarnya? Author harap kalian semua baik-baik aja di manapun kalian berada.
Tetap semangat dan jaga kesehatan ya.
Karena jatuh sakit itu tak seindah jatuh cinta😂
Makasih yg udah mendukung karya recehku, dukungan kalian merupakan moodbooster buat author.
Sekali lagi terimakasih 😘
i love you all
amora - evan = amora masih menunjukkan sikap baik saja, masih canggung menunjukkan sikap nyeleneh nya, masih tidak bebas berekspresi
amora - reyhan = disini amora merasa tampa bebas menunjukkan semua sikap, amora merasa bebas dan nyaman berekspresi apapun, jadi tampa sadar amora merasa nyaman berhubungan dengan reyhan yang akhirnya menimbulkan benih cinta
sampai episode ini sebenarnya aku masih tidak suka sikap amora yang tidak sadar statusnya dan kayak tidak menghargai dan menjaga harga dirinya sebagai seorang istri dia masih menunggu pria lain dan gampang berinteraksi berduaan dengan pri lain, tapi setelah episode ini aku suka sifat amora yang belajar dari kesalahan lalu dan belajar menjadi istri yang sesungguhnya dan menghargai suaminya dan satu lagi, amora wanita tanggu yang berani mengaku salah dan berjuang untuk dapat kesempatan
tampa kitasadarir sebenarnya novel ini sangat bagus karena teori sebab akibat terjadi di novel ini