Asep seorang pemuda biasa saja, yang selalu tersisih dari kancah dunia percintaan, ditolak ciwi-ciwi karena selalu tongpes, bokek dan misquin.
Tiba-tiba suatu hari Asep ketiban Durian runtuh sepohon-pohonnya. Walhasil Asep dalam sekejap jadi OKB.
Yuk kita intip, apa yang membuat Asep bisa memperbaiki nasibnya... Hihihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Gadis Siapa Itu?
"Ooh jadi kamu mau buka kios Bapakmu lagi ini Sep?"
Tanya Wak Imah sambil melihat sekeliling kios.
Asep yang sebetulnya masih memikirkan ke mana Melati sebetulnya terlihat iya iya saja.
"Modalnya sudah ada Sep?"
Tanya Wak Imah.
Asep cengar-cengir.
"Ya ada Wak, di Emak nanti minta."
Ujar Asep.
Wak Imah menggelengkan kepalanya.
"Asep... Asep... Kamu itu sudah tahu Emak susah masih saja ditambahi beban lagi untuk modali usaha."
Kata Wak Imah.
"Tapi kan kalau nanti hasil Emak yang akan menikmati hasilnya Wak."
Wak Imah menghela nafas.
"Kira-kira butuh berapa kamu Sep? Biar Wak Imah saja yang pinjami, jangan repotin Emakmu terus."
Kata Wak Imah.
Asep cengar-cengir lagi.
"Ini Wak sengaja mampir karena dengar Marni mau ke Salatiga, tapi tidak kasih kabar lagi, Wak Imah pikir tidak jadi, di hubungi susah, jadi Wak mampir karena kebetulan ada teman mau beli mobil."
Kata Wak Imah.
"Mobil di depan itu Wak?"
Tanya Asep yang sepertinya merasa sangat terintimidasi dengan kehadiran pajero sport di halaman depan rumah Bik Marni.
"Iya tadi Bu Witha Wins pengin lihat langsung mobilnya, tapi sayangnya dia minta warna lain."
Wak Imah bercerita.
Asep menatap pajero sport yang terlihat sangat gagah.
Andai Asep sukses nanti, pasti mobil pertama yang akan Asep beli adalah pajero. Batin Asep berniat sungguh-sungguh.
"Ya sudah Fatih, kita pulang dulu, sekalian jemput dede Aisyah dari sekolah, kayaknya dia pengin makan di luar."
Ujar Wak Imah.
Fatih mengangguk mengiyakan Ibundanya, lalu keluar dari kios menuju mobil.
"Sep."
Wak Imah kembali melihat ke arah Asep.
"Besok kalau sudah tahu mau pinjam berapa buat modal hubungi Uwak, nanti Wak Imah kasih."
Kata Wak Imah.
"Modal awal ngga usah banyak-banyak Wak, kalau mau pinjamin Asep mah sepuluh juta saja."
Kata Asep.
"Cukup segitu?"
Tanya Wak Imah.
Asep mantuk-mantuk.
Wak Imah meraih hp nya.
"Mana nomor rekeningmu, Uwak transfer sekarang."
Ujar Wak Imah.
Asep tentu saja langsung senang bukan main, Asep pun langsung memberikan nomor rekeningnya yang saldonya tinggal tujuh puluh ribu.
Wak Imah terlihat serius memainkan jarinya di hp nya.
Tak berapa lama...
Ting...
Bunyi kebahagiaan itupun terdengar, Asep senyumnya langsung selebar pintu tatkala melihat rentetan angka yang masuk di pemberitahuan.
"Gunain yang bener, kalau nanti sudah ada kembalikan pada Uwak."
Ujar Wak Imah.
Asep mengacungkan ibu jarinya.
"Siap Wak."
Kata Asep.
Lalu Asep tampak menyalami Wak Imah, dan mencium tangan Uwaknya.
"Makasih ya wak... Makasih banget."
Asep terharu.
Ah selama ini Uwaknya kelihatannya galak dan bawel tak ketulungan, tapi nyatanya...
"Uwak sudah lama sebetulnya bicara pada Marni untuk membujuk Emakmu supaya menyuruh kamu nerusin usaha Bapakmu, syukurlah sekarang akhirnya terlaksana, pokoknya kelola sampai maju Sep."
Kata Wak Imah berpesan.
Asep mengangguk.
"Ya Wak."
Kata Asep.
Ya...
Sejak kemarin melihat pacar Anggita, entah kenapa rasanya Asep begitu panas dan terpacu untuk juga merasakan menjadi laki-laki sukses yang diterima ciwi-ciwi.
Asep rasanya benar-benar merasa kalah telak saat vespa bututnya disandingkan dengan Pajero sport milik pacar Anggita.
Asep kini akhirnya bertekad, akan berusaha menjadi laki-laki sukses yang tidak akan tertolak oleh ciwi manapun.
Bahkan Asep ingin hanya melirik saja mereka akan mengekor dengan sendirinya.
Wak Imah akhirnya pamit pada Asep, karena sebentar lagi sekolah Dede Aisyah anak bungsunya masuk jam pulang.
Asep mengantar Wak Imah sampai ke depan, bahkan Asep sampai sigap membukakan pintu mobil untuk Uwaknya.
Wak Imah masuk ke dalam mobil.
Fatih menyalakan mesin mobil, tepat saat Fatih mulai memakai kacamata hitamnya dan baru akan memundurkan mobil, tiba-tiba tanpa sengaja ia melihat ke spion mobil ada gadis berambut panjang berdiri di seberang jalan memandangi mereka.
Fatih langsung melongok dari jendela untuk melihat ke arah jalan namun tak tampak apapun di sana.
"Ada apa Fatih?"
Tanya Wak Imah.
Fatih terdiam, ia hanya menatap Ibunya dan terlihat wajahnya sedikit berubah agak takut.
Asep sibuk membantu Fatih membawa mobilnya ke arah jalan seperti tukang parkir.
Fatih mengikuti aba-aba Asep.
Begitu akhirnya sampai di jalan, Fatih pun segera tancap gas agar bisa cerita pada Ibunya.
"Bu."
Panggil Fatih pada Ibunya yang mulai sibuk membalas pesan beberapa orang dan karyawan yang menanyakan soal mobil di showroom nya.
"Ya Fatih."
Sahut Wak Imah tanpa menoleh dan tetap fokus pada pesan-pesan di hp nya.
"Ibu tadi tidak lihat ada gadis pakai gaun putih di jalan? Rambutnya panjang lihatin kita."
Kata Fatih.
Mendengar itu Wak Imah langsung menoleh ke arah Fatih di belakang kemudi.
"Apa sih? Kamu ngarang apa bagaimana."
"Duh Ibu, suer Bu, Fatih tadi lihat ada gadis rambutnya panjang pake gaun putih berdiri di jalan."
Kata Fatih.
Wak Imah yang mendengar cerita Asep jadi merinding.
Ya...
Tentu saja merinding, yang diceritakan tanpa mereka sadari sekarang duduk di kursi mobil belakang.
Gadis cantik berambut panjang dengan gaun putih itu tersenyum mendengar pembicaraan mereka.
Asep di kios terlihat begitu semangat dan benar-benar senang.
Ah berarti ia harus mandi, lalu segera pulang ke rumah Emak untuk ambil pakaian ganti sekaligus cerita tentang Asep yang akan membuka kios Bapak nya lagi.
Asep menutup rolling door kios milik Bapaknya itu kembali, lalu bergegas menuju rumah Bik Marni, menutup pintunya untuk kemudian langsung ke kamar mandi.
Hantu Nenek Asep yang duduk di kursi goyang terlihat berdiri dan melayang mengikuti Asep ke belakang.
Asep yang jalannya sambil muter-muter karena bahagia membuat hantu Neneknya gemas ingin memukul kepala Asep dengan sapu.
Asep masuk kamar mandi dan seperti biasa melakukan konser di kamar mandi.
Hantu Nenek sampai kepalanya berdenyut-denyut saking pusingnya mendengar suara Asep.
Asep masih asik bernyanyi, manakala tiba-tiba saja Asep ingat sosok Melati yang mendadak menghilang.
Setelah tiba-tiba muncul, entah kenapa gadis itu tiba-tiba pergi tak pamit sama sekali.
Ah nanti Asep akan coba mampir ke rumah Melati.
Bagaimanapun Melati sudah membantunya membereskan kios, Asep akan mengiriminya dan keluarganya sekotak martabak.
Asep sambil cengar-cengir akhirnya menyelesaikan acara mandinya, lalu segera keluar dan bersiap pulang ke rumah Ibunya lebih dulu.
Asep sambil bersiul berjalan menuju pintu utama, yang tanpa sadar melewati hantu Neneknya yang terus mengikutinya.
"Melati... Melati... tunggu Babang sayang... Ihiiir..."
Asep bernyanyi tanda nada.
Hantu Neneknya yang mengikuti di belakangnya menggelengkan kepalanya.
"Dasar Asep, masih saja tidak sadar Melati bukan orang."
Hantu Nenek terkekeh-kekeh.
**--------------**
Bismillahirrahmanirrahim
izin maraton thor . . . .
Aq mampir nih...
sukses buat penulisnya karya yg bagus