Pernikahan yang di dasarkan oleh perjodohan, membuat Max tak pernah menganggap Monica sebagai istrinya. Ia selalu memperlakukan Monica dengan begitu kasar. Bahkan, tak tanggung-tanggung Max selalu membawa wanita bayaran nya ke apartemen nya dan Monica untuk memuaskan nya.
Suara desahan dari dalam kamar Max, membuat Monica terisak. Ia benar-benar merasa tak di hargai sebagai seorang istri. Sudah hampir setahun pernikahan mereka, namun Max masih belum juga berubah.
"Ceraikan putri ku sekarang juga!" ucap Juan.
Bagai tersambar petir di siang bolong, Max merasa tubuhnya begitu lemas saat mendengar ucapan Juan barusan. Kenapa di saat ia sudah mencintai Monica, Juan malah menyuruh nya untuk menceraikan Monica.
"Dad, ku mohon. Jangan pisahkan aku dengan Monica. Aku mencintai nya Dad. Aku sangat mencintai nya" ucap Max. Berlutut di hadapan ayah mertua nya. Namun, bukannya merasa iba, Juan malah menatap Max dengan sinis.
Bagaimana kah kisah nya? Akankah Max bisa mempertahankan pernikahan nya dengan Monica?
Yuk, simak ceritanya.
Update setiap hari senin-jumat!
Sabtu dan minggu libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 9
Berikan vote, coment, dan like ~
Satu minggu kemudian.....
Monica keluar dari kamar nya dengan menggunakan dress berwarna tosca. Hari ini ia ingin menghadiri pernikahan Andrew. Max dan Evelyn yang sedang duduk di sofa ruang tengah pun mengalihkan pandangan mereka pada Monica.
"Max aku pergi dulu" ucap Monica acuh. Tanpa menunggu jawaban dari Max. Monica pun segera keluar dari apartemen itu. Meninggalkan Max yang menggeram kesal. Karena baru hari ini Monica berbicara acuh padanya.
Kurang ajar. Ucap Max dalam hati.
"Ada apa Sayang" ucap Evelyn.
"Tidak ada. Kau pulang lah, aku ingin istirahat" ucap Max.
"Tapi, kita belum bercinta" ucap Evelyn.
"Aku sedang malas" ucap Max ketus. "Keluar" ucap Max lagi. Bangkit berdiri.
"Tapi....."
"Ku bilang keluar!" ucap Max. Sedikit meninggikan suaranya. Evelyn pun dengan kesal keluar dari apartemen.
Sementara di tempat lain. Monica menangis dalam hati saat Andrew dan pengantin wanita nya saling mengucapkan janji suci di atas altar. Madalyn yang berada di samping Monica pun mengelus lembut punggung kakaknya itu lembut.
"Jika kakak tidak kuat. Kita keluar saja" ucap Madalyn. Monica menggelengkan kepalanya.
"Kakak tidak apa-apa" ucap Monica.
"Yasudah" ucap Madalyn. Ia pun kembali menatap ke depan, dimana sang pengantin sedang berciuman di sana.
Saat acara pemberkatan nikah telah usai. Monica pun mendatangi Andrew dan pengantin wanita nya dengan tatapan sendunya. Andrew yang melihat Monica pun juga menatap wanita itu dengan sendu.
"Selamat. Semoga kalian selalu bahagia" ucap Monica. Mengulurkan tangannya pada Andrew. Sambil tersenyum kecut.
"Terima kasih karena telah hadir ke pernikahan ku" ucap Andrew. Membalas uluran tangan Monica.
Menjalin hubungan selama tiga tahun, bukan hal yang mudah bagi Monica dan Andrew untuk melupakan kenangan yang mereka buat. Jujur, saat ini mereka masih saling mencintai. Tapi, mereka juga akan tetap berusaha untuk saling melupakan. Dada Andrew sesak, saat melihat senyum paksa Monica.
"Aku Monica" ucap Monica. Mengulurkan tangannya pada pengantin wanita Andrew. "Kalau boleh tau, siapa namamu?" ucap Monica lagi.
"Namaku Liana" ucap wanita yang bernama Liana itu. Ia membalas uluran tangan Monica.
"Kak" ucap seorang laki-laki yang datang menghadiri ketiganya. Dengan menggunakan baju pilotnya
"Brian?" ucap Liana. Pada laki-laki itu.
"Maaf kak, aku terlambat. Aku baru saja mendarat di Paris" ucap Brian.
"Tidak masalah" ucap Liana.
"Selamat, sudah menjadi kakak ipar ku" ucap Brian. Mengulurkan tangannya pada Andrew. Andrew pun membalas uluran tangan Brian dengan senyuman khas nya. "Ini..... Kak, ini siapa" ucap Brian lagi. Beralih menatap ke arah Monica.
"Aku teman kakak ipar mu" ucap Monica. Brian mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Brian" ucap Brian. Memperkenalkan dirinya pada Monica.
"Monica" ucap Monica. Sambil tersenyum manis pada Brian.
"Apa kau datang kesini sendirian?" ucap Brian.
"Tidak. Aku datang kesini bersama dengan adikku" ucap Monica. Brian kembali mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kau sudah menikah?" ucap Brian. Saat melihat cincin pernikahan Monica di jari manis nya. Monica menganggukkan kepalanya. "Sayang sekali. Padahal aku ingin menjadikan dirimu kekasih ku" ucap Brian. Menggoda Monica.
"Brian" ucap Liana. Memukul bahu adiknya.
"Bagaimana jika aku menjadi selingkuhan mu saja" ucap Brian. Menaikturunkan satu alisnya.
"Brian!" ucap Liana. Sedikit meninggikan suaranya. "Jangan dengarkan kata-katanya" ucap Liana lagi. Pada Monica.
"Hahaha. Aku hanya bercanda" ucap Brian tertawa. Saat melihat Monica yang salah tingkah.
...*****...
Hari berganti minggu. Minggu pun berganti bulan. Kini, sudah lima bulan usia pernikahan Monica dan Max. Selama lima bulan ini pun, tidak ada yang berubah. Max masih memperlakukan Monica dengan kasar dan selalu membawa wanita lain yang berbeda-beda ke apartemen mereka.
"Monica! Kenapa kau lama sekali!" ucap Max. Berteriak dari luar kamar Monica. Sambil menggedor-gedor pintu kamar Monica.
Ceklek!
"Apa kau tidak tau arti sabar?" ucap Monica. Dirinya sudah sedikit berani untuk melawan Max. Dan hal itu tentu saja membuat Max bertambah geram. Hingga memperlakukan nya dengan kasar.
"Kau! Semakin hari kau semakin berani padaku. Kau ingin aku menghukum mu. Hah?!" ucap Max. Menatap tajam pada Monica.
Tanpa menjawab ucapan Max. Monica malah melangkahkan kakinya keluar dari apartemen itu. Membuat Max semakin marah.
"Berani sekali kau" ucap Max. Saat ia berada di dekat Monica. Max mencengkram pergelangan tangan Monica kuat. Hingga, membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Max, sakit" ucap Monica. Berusaha melepaskan tangan nya dari Max.
"Ikut aku!" ucap Max. Menarik tangan Monica dan membawa nya kembali masuk ke apartemen.
"Max. Bukankah, tadi kau menyuruh ku cepat? Kita bisa terlambat datang ke pertunangan nya Tuan Kenzie" ucap Monica. Membuat Max menghentikan gerakan nya.
"Ini semua karena dirimu" ucap Max. Menunjuk wajah Monica. Setelah mengatakan itu Max pun keluar dari apartemen.
Saat keduanya sudah tiba di tempat acara. Semua kamera pun langsung tertuju pada Monica dan Max yang sedang berjalan sambil bergandengan tangan. Di luar, mereka memang terlihat seperti suami istri pada umumnya. Keduanya masuk kedalam gedung tempat acara itu. Dan Max pun mulai berbincang-bincang bersama dengan rekan bisnis nya yang hadir disana.
Dua jam kemudian.....
Monica yang sedang duduk tidak jauh dari tempat Max berbincang-bincang dengan teman bisnisnya pun. Terus mendengus kesal. Karena sudah dua, namun acara pertunangan itu belum juga di mulai. Sementara, Max. Ia melangkahkan kakinya menghampiri Kenzie yang daritadi menatap Sarah dari kejauhan.
"Hai Tuan Kenzie" ucap Max. Menepuk bahu Kenzie. Kenzie pun mengalihkan pandangan nya pada Max.
"Tuan Max" ucap Kenzie. Saat melihat Max, rekan bisnis nya.
"Daritadi saya melihat anda yang sedang menatap calon tunangan anda. Anda benar-benar pintar ya mencari pasangan, Nyonya Sarah terlihat sangat cantik dan juga sexy" ucap Max. Menatap ke arah Sarah dengan tatapan yang sulit di artikan.
Kenzie yang mendengar ucapan Max hanya tersenyum paksa. Bahkan kecantikan Sarah tidak sebanding dengan kecantikan Laura.
"Zie" ucap Sarah. Menghampiri Kenzie dan Max.
"Ada apa" ucap Kenzie.
"Acara akan segera di mulai, ayo kita ke sana" ucap Sarah, menunjuk ke arah tempat ia dan Kenzie saling memasangkan cincin nanti.
"Baiklah, ayo" ucap Kenzie. Ia duluan melangkahkan kakinya meninggalkan Sarah dan Max. Sarah menatap ke arah Max dengan tatapan nakal nya.
"Jangan lupa selesai acara Honey" ucap Max mengedipkan satu matanya pada Sarah.
"Kau tenang saja" ucap Sarah tersenyum nakal. Ia pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan Max disana dan menghampiri Kenzie.
"Max, sepertinya aku harus pulang duluan" ucap Monica. Menghampiri Max.
"Pulang lah, aku tidak peduli! Dan jangan menunggu ku, karena setelah ini aku ingin bersenang-senang" ucap Max. Ia melangkahkan kakinya meninggalkan istri nya.
saya mampir lg thor
menang dasar,,,,, cerita ini Tdk ada mencerminkan adab yg baik.