Ini bukan sebuah Novel tentang Bos dingin menjadi bucin ataupun perjodohan antara si kaya dan si miskin,ini adalah sebuah Novel yang menceritakan kisah cinta antara sepasang manusia berbeda Negara, kisah cinta yang ringan dan dibumbui dengan komedi yang menghibur.
Indiana Khan seorang wanita cantik berhijab yang bekerja disebuah toko bunga tidak sengaja bertemu dengan Aiman Arsya Ady yang merupakan Pemilik Restoran ternama di Malaysia.
Indi dan Aiman tidak menyadari kalau pertemuan mereka yang tidak sengaja adalah merupakan awal dari kisah cinta mereka berdua.
Selain ingin mengembangkan usahanya, kedatangan Aiman ke Indonesia adalah untuk mencari adiknya yang hilang.
Akankah Aiman bisa menemukan adiknya dan menemukan cintanya di Indonesia?
Yuk, ikuti kelanjutan kisah mereka🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapakah Dia??
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
Indi berlari kedalam rumahnya dengan deraian air mata, bahkan Indi tidak menghiraukan Ibunya yang sedang memasak didapur.
"Lho Indi kenapa?" gumam Ibu Ninik.
Ibu Ninik mematikan kompornya dan melangkah menuju kamar Indi.
Tok..tok..tok..
"Indi Sayang, boleh Ibu masuk," seru Ibu Ninik.
Mendengar suara Ibunya, Indi segera bangkit dan dengan cepat menghapus air matanya.
"Masuk aja Bu."
Ibu Ninik masuk dan duduk disamping Indi, diusapnya kepala Indi dengan sayangnya.
"Kamu kenapa Nak, kok nangis?" tanya Ibu Ninik lembut.
"Tidak apa-apa Bu, Indi cuma kecapean aja."
"Kalau kamu merasa capek, sudah jangan bekerja lagi biar Ibu yang bekerja, Ibu mampu kok memenuhi kebutuhan kita berdua," ucap Ibu Ninik.
"Kenapa Ibu berbohong sama Indi?" tanya Indi.
"Berbohong apa Nak?"
"Ibu bilang kalau Ibu sudah membayar uang kontrakan tapi nyatanya tadi pagi Ibu Samsy menangih uang kontrakan kepada Indi bahkan nunggak sampai dua bulan," sahut Indi.
Ibu Ninik begitu gelagapan tidak tahu harus menjawab apa.
"Itu..itu Ibu---"
Indi langsung menggenggam tangan Ibunya.
"Bu, Indi adalah anak Ibu tolong Ibu jangan rahasiakan apapun dari Indi, jangan pendam rasa susah Ibu sendirian," ucap Indi dengan deraian air mata.
"Maafkan Ibu Nak, Ibu hanya tidak mau membuat kamu kepikiran dengan semua ini makannya Ibu berbohong sama kamu, maafkan Ibu," sahut Ibu Ninik dengan memeluk anak satu-satunya itu.
Cukup lama Indi dan Ibunya berpelukan, hingga akhirnya Indi melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Ibunya.
"Ibu harus janji ya jangan sembunyikan apapun lagi dari Indi, kalau Ibu merasa punya masalah tolong bilang sama Indi, kita hadapi bersama-sama."
"Iya Nak, Ibu janji tidak akan menyembunyikan apapun lagi dari kamu. Oh iya, Ibu sudah mengumpulkan uangnya Nak, nanti malam Ibu berniat mau memberikannya kepada Bu Samsy," ucap Ibu Ninik.
"Tidak Bu, kontrakan kita sudah lunas."
"Kok bisa? apa kamu yang sudah melunasinya Nak?" tanya Ibu Ninik.
"Bukan Bu, tapi Bang Azzam yang sudah melunasinya."
"Apa? Azzam yang sudah melunasinya?" seru Ibu Ninik dengan kagetnya.
"Iya Bu, Indi juga ga tahu tadinya Indi mau bicara kepada Bu Samsy untuk memberikan lagi waktu kepada kita tapi Bu Samsy bilang Bang Azzam yang sudah melunasinya," jelas Indi.
"Tapi dari mana Azzam tahu kalau kita belum bayar kontrakan?" tanya Ibu Ninik.
"Mungkin karena tadi pagi Bu Samsy menagih uang kontrakan saat Indi sedang beli buburnya Bang Azzam, dan kemungkinan Bang Azzam tahu waktu itu," jelas Indi.
"Ya Alloh, Azzam baik banget. Ya sudah, besok kamu berikan uang Ibu kepada Azzam ya kasihan mungkin Azzam juga sedang membutuhkan uang."
"Iya Bu."
"Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu habis itu kita makan bersama."
Ibu Ninik pun meninggalkan kamar Indi dengan mencium kening Indi terlebih dahulu.
Setelah makan malam bersama, Indi pun kembali ke kamarnya. Indi tampak melamun dan tiba-tiba sekelebat bayangan Aiman muncul di benak Indi.
"Astagfirullah, kok Mas tampan itu muncul di pikiran aku sih?" gumam Indi.
"Tapi aku merasa bersalah banget waktu itu sudah membuat Mas tampan itu bersin-bersin, apa jangan-jangan Mas tampan itu alergi ya sama bunga? tapi kan aku ga tahu, tapi temannya yang satu lagi begitu marah saat melihat Mas tampan itu bersin-bersin, dia juga tampan sih tapi galak aku takut sama Mas yang satunya lagi, apa aku bakalan ketemu lagi sama Mas tampan itu?" gumam Indi dengan guling-guling diatas kasurnya.
***
Di kamar hotel Aiman pun sama sedang melamun dan membayangkan Indi.
"Wanita itu sungguh hebat, mampu menggetarkan hatiku yang sudah lama terkunci ini," gumam Aiman dengan menyunggingkan senyumannya.
Disisi lain, disebuah kontrakan sederhana...
"Kasihan Indi, pasti tadi dia kebingungan tuh nyari uang segitu, untung aku punya simpenan," gumam Azzam.
Tiba-tiba pintu kontrakan Azzam terbuka membuat Azzam terkejut.
"Astaga ngagetin aja lo curut," sentak Azzam dengan memegang dadanya.
"Kamu kenapa? lagi ngelamun? kaya orang aja melamun," ledek Fais.
"Memangnya kamu pikir aku apa kalau bukan orang?" tanya Azzam datar.
"Kantong kresek yang ga ada harganya, yang kalau di butuhkan di cari dan kalau ga dibutuhkan di buang begitu saja dijadikan sampah," ucap Fais dengan tawanya.
"Sialan kamu."
"Sudah jangan banyak melamun, kesambet baru tahu rasa kamu, nih kita ngopi aku bawakan kopi hitam kesukaan kamu," seru Fais.
"Wah, emang top dah punya teman pengertian kaya kamu," sahut Azzam.
"Giliran di kasih kopi aja bilangnya teman," cibir Fais.
Akhirnya Azzam dan Fais pun ngopi berdua di kontrakan Azzam. Mereka berdua memang sudah sahabatan sejak lama, selain kontrakannya yang bersebelahan mereka juga sama-sama mempunyai nasib yang kurang beruntung.
"Oh iya Zam, bagaimana rencana kamu? apa kamu sudah mendapatkan tempat yang bagus?" tanya Fais.
"Sudah sih, aku sudah menemukan bekas ruko yang saat ini sedang dikontrakan, aku sudah melihat-lihat dan tempatnya lumayan gede cukuplah sama buat kita tidur," jelas Azzam.
"Dimana tempatnya?"
"Di kampung xxx, disana aku sudah mengenal orang-orangnya dan pastinya aku sudah punya banyak pelanggan, lagipula aku memilih kampung itu karena selama aku dagang disana jarang banget ada yang jualan sayuran sementara kan semua orang membutuhkan sayuran buat makan sehari-hari, jarak kampung itu ke pasar lumayan jauh jadi kalau kita jualan sayur disana aku yakin kita bakalan laku keras," jelas Azzam dengan antusiasnya.
"Ya sudahlah, aku mah ikut kamu aja soalnya aku sudah bosen jualan nasi goreng terus kebanyakan rugi karena dagangan kita kan ga setiap hari laku."
"Sama Is, aku juga sudah capek tiap hari jualan ganti-ganti untung ga seberapa ruginya hampir tiap hari, kalau aku stay ditempat kan kita ga capek tinggal nunggu pembeli nyamperin kita tampa kita harus keliling dulu mendorong gerobak," sahut Azzam.
"Mudah-mudahan saja usaha kita kali ini berhasil."
"Amin."
Begitulah pembicaraan dua sahabat itu, meskipun mereka hidup serba kekurangan tapi mereka tak pantang menyerah bahkan mereka tidak merasa malu harus jualan keiling.
***
Keesokan harinya...
Seperti biasa, Ibu Ninik sudah berangkat berkeliling kerumah tetangga sementara Indi dia kembali beres-beres dan menyapu halaman sembari menunggu Azzam. Indi mau mengucapkan terima kasih dan mengebalikan uangnya Azzam.
Indi terus saja melihat kearah jalan, Rara yang saat ini berada diteras rumahnya yang sedang menunggu taxi online metapap sinis kearah Indi.
"Kalau nyapu ya nyapu aja ngapain ngelihatin terus ke jalan? lagi nungguin Bang Azzam ya," ledek Rara.
"Bukan urusanmu Rara," sahut Indi dengan dinginnya.
"Ya jelas urusan akulah, kemarin Bang Azzam sampai bela-belain ke rumah untuk bayarin kontrakan kamu, terus Bang Alex setiap hari boncengin kamu, apa sih yang sudah kamu berikan kepada cowok-cowok tampan itu sampai-sampai mereka care banget sama kamu," bentak Rara.
"Sudah cukup Ra, kali ini kamu sudah keterlaluan, aku tidak pernah memberikan apa-apa sama mereka berdua dan aku juga tidak pernah meminta kepada mereka untuk menolongku, mereka sendiri yang menawarkan bantuannya kepadaku," sahut Indi dengan nada yang sedikit tinggi.
"Alah, dasar munafik kamu Indi didepan semua orang kamu pura-pura polos dan sok suci tapi dibelakang orang-orang, kamu tidak lebih dari seorang perempuan penggoda," bentak Indi.
"Cukup Rara, aku bukan perempuan penggoda," bentak Indi yang langsung berlari masuk kedalam rumahnya.
Rara hanya mengangkat bahunya tanda tak peduli, sedangkan Indi melempar tubuhnya keatas kasur dan menangis sejadi-jadinya. Bukan salah Indi karena banyak yang menyukainya.
Cukup lama Indi menangis, hingga akhirnya dia tersadar kalau dia sudah menangis selama satu jam.
"Astagfirullah, ya Alloh kuatkanlah hati hamba untuk menjalani hidup ini," gumam Indi.
Indi pun beranjak dari tempat tidurnya dan pergi kekamar mandi untuk mencuci mukannya. Indi bersiap-siap untuk pergi bekerja.
"Lho, kok Bang Azzam ga ada, apa hari ini dia ga jualan ya," gumam Indi.
Karena sudah siang, akhirnya Indi memutuskan untuk berangkat kerja. Sementara itu, Aiman dan Joe sudah berada di lokasi pembangunan untuk Restoran baru Aiman.
Aiman tampak melihat jam yang melingkar di tangannya, 15 menit lagi waktu toko bunga itu buka dan Aiman sedang menunggu kedatangan wanita yang saat ini sudah menghantui pikirannya.
Tidak lama kemudian, sebuah angkot berhenti didepan toko bunga itu dan benar saja wanita yang sudah Aiman tunggu-tunggu turun dari angkot itu, tatapan Aiman tidak henti-hentinya melihat kearah Indi dengan senyumannya yang mengembang.
"Assalamualaikum Novi."
"Waalaikumsalam Kak Indi, wah Kak Indi seger banget pagi ini tambah cantik saja," puji Novi.
"Ah kamu bisa aja Nov, ya sudah aku langsung beres-beres didepan aja ya Nov," seru Indi.
"Ok Kak."
Seperti biasa dengan senyum ceria dan sedikit nyanyi-nyanyi kecil, Indi mulai menata tata letak bunganya dan itu tidak luput dari pantauan Aiman.
"Woi, dilihatin terus kalau berani sana samperin," ledek Joe.
"Kamu mau lihat aku kesakitan lagi Joe dengan mendatangi toko bunga itu," seru Aiman.
"Ya terus, kamu mau seperti ini terus setiap hari hanya bisa memperhatikan wanita itu dari kejauhan? kalau begini caranya bagaimana bisa kenal," sahut Joe.
"Ya terus bagaimana dong? aku ga bisa pergi kesana."
Aiman dan Joe tampak berpikir satu sama lain. Sementara itu disaat Indi sedang merapikan bunga-bunganya, tiba-tiba seseorang datang dibelakang Indi.
"Bunganya cantik-cantik seperti orang yang sedang menatanya," celetuk Azzam.
Indi langsung membalikan tubuhnya...
"Bang Azzam, kok ada disini?" tanya Indi dengan senyum sumringahnya.
"Abang rindu sama Indi."
"Abang jangan bercanda deh, ga bakalan mempan sama Indi mah."
"Iya..ya Abang lupa, Abang hanya kebetulan lewat sini aja."
"Abang ga jualan ya pagi ini?" tanya Indi.
"Enggak Indi, Abang ada perlu jadi hari ini ga jualan dulu."
"Bang duduk dulu yuk, ada yang mau Indi bicarakan," seru Indi.
Akhirnya Indi mengajak Azzam duduk di kursi yang berada di luar toko bunga, sementara itu dari kejauhan Aiman tampak masih memperhatikan Indi.
"Nah lho, ternyata wanita itu sudah punya kekasih," ucap Joe.
Aiman hanya diam saja dan memutuskan untuk masuk kedalam mobilnya, Joe melihat raut wajah Aiman yang berubah memilih untuk meninggalkan Aiman karena Joe tahu kalau sudah seperti itu, Aiman ingin sendiri ga mau diganggu.
"Siapa laki-laki itu? benarkah wanita itu sudah punya kekasih?" gumam Aiman dengan masih memperhatikan Indi dan Azzam dari dalam mobilnya.
***
"Kamu mau membicarakan apa Indi?" tanya Azzam.
Indi segera berlari kedalam toko bunga dan membawa sebuah amplop.
"Ini Bang, Indi mau mengembalikan uang Bang Azzam yang sudah Abang pakai untuk membayar uang kontrakan Indi," seru Indi dengan menyodorkan amplop itu kehadapan Azzam.
"Tidak Indi, kamu simpan saja," Azzam kembali menyodorkan amplop itu kepada Indi.
"Bang, ini bukan uang sedikit lho pasti Abang juga membutuhkan uang ini, Abang sudah capek jualan keliling setiap hari dan sekarang uangnya malah dipakai untuk membayar uang kontrakan Indi," sahut Indi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Gapapa Abang ridho dan ikhlas, uang ini kamu simpan aja atau kamu bayarkan lagi ke Bu Samsy untuk dua bulan kedepan supaya kamu dan Ibu tenang," ucap Azzam dengan senyumannya.
Indi yang dari tadi menahan air matanya akhirnya lolos juga dari mata Indi, Azzam yang melihatnya langsung menghapus air mata Indi dengan tangannya.
"Hei kenapa menangis, sudah jangan menangis sudah Abang bilang Abang ikhlas, jelek tahu kalau nangis kaya gitu," ledek Indi.
Indi pun sedikit tersenyum...
"Makasih Bang, kenapa Abang baik banget sama Indi?"
"Karena Abang sudah menganggap Indi seperti adik Abang sendiri, jadi kalau kamu dan Ibu ada masalah cerita aja sama Abang, selama Abang bisa Abang akan membantu kalian," ucap Azzam tersenyum sembari mengusap kepala Indi.
Mendapat perlakuan seperti itu air mata Indi semakin deras keluar, Indi merasa terharu dan sedih karena Indi merasa ada yang menyayanginya dan Ibunya.
"Ah malah nangis lagi, malu dilihatin orang nanti disangkanya Abang nyakitin kamu lagi," ucap Azzam dengan nada bercandanya.
Dengan cepat Indi menghapus air matanya dan tersenyum kearah Azzam.
"Sekali lagi makasih ya Bang, semoga Alloh memberikan rezeki yang melimpah untuk Bang Azzam dan di mudahkan jodohnya juga," seru Indi.
"Amin..ya sudah kalau begitu Abang pergi dulu ya, biasa mau belanja dulu buat Abang jualan."
"Iya, hati-hati Bang."
Azzam berjalan dan melambaikan tangannya kearah Indi. Sementara itu didalam mobil Aiman melihat adegan demi adegan yang dilakukan Azzam dari menghapus air mata Indi sampai mengusap kepala Indi dengan penuh kasih sayang.
"Apakah benar laki-laki itu kekasihnya? sungguh memalukan aku mencintai wanita yang sudah mempunyai kekasih, dasar bodoh mana ada wanita secantik itu masih sendiri pasti sudah ada yang punya," gumam Aiman.
Tidak dipungkiri kalau hatinya begitu sakit melihat kenyataan wanita pertama yang dia cintai ternyata sudah ada yang punya.
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
Selamat pagi semuanya Reader-readerku yang cantik, tampan, dan manis, Author yang kece dan cetar membahana datang lagi ayo dukungannya sebanyak-banyaknya🙏🙏😘😘
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU💋💋💋
thor..aku penasaran ni,si azzam manggil indi 'buna',apa arti nya?...
tapi sayang ya yg menjadi tokoh Azzam dibuat meninggal saya jadi engk rela karena dia belum lama jumpa keluarga kandungnya