Khalisa, harus rela bekerja pada keluarga kaya. Bukan sebagai pembantu rumah tangga melainkan merawat seorang pria yang bernama Adrian. Adrian adalah seorang pria muda yang di nyatakan stroke.
Meski pun Adrian sangat keras kepala dan memperlakukan Khalisa dengan sangat kasar. Khalisa tetap sabar menjalankan pekerjaan nya demi sang adik yang sedang sakit keras.
Dari rasa benci berubah ke rasa suka lalu berubah lagi pada rasa benci hingga pada akhirnya mereka saling mencintai. Banyak hal yang terjadi dalam hidup Khalisa, namun diri nya dengan sabar melewati kesedihan yang selalu datang dalam hidup nya.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Silahkan baca dan Jangan lupa Like, Rate, Vote and Coment 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08.Ke makam Ayah dan Ibu
Gadis cantik yang sedang menonton televisi itu di kagetkan dengan suara mesin motor kakak nya. Disa membuka pintu menyambut Khalisa pulang. Senang, satu kata yang tergambar dari wajah gadis yang berusia lima belas tahun itu saat melihat kakak nya pulang membawa beberapa bungkusan.
"Ini untuk Disa kak?" tanya nya riang.
"Iya, ayo masuk." ajak Khalisa namun maniak mata nya tak lekat memandang wajah pucat adik nya. "Disa, apa kau baik-baik saja?" tanya Khalisa khawatir.
Disa tersenyum, "Aku baik-baik saja kak." jawab nya "Padahal tadi aku baru saja muntah darah." batin Disa.
Khalisa pergi mandi, sedangkan Disa menikmati jajanan yang di bawa oleh kakak nya. Selesai mandi Khalisa langsung menghampiri adik nya yang masih asik menonton televisi.
"Disa, jika kau merasa sakit bilang pada kakak." ujar Khalisa yang masih khawatir.
"Iya...iya...Disa baik-baik aja." jawab bohong gadis itu. "Kakak sudah terlalu lelah, aku tidak ingin kakak sakit karena bekerja terlalu keras." batin Disa.
"Besok pagi-pagi kita ke makam ayah dan ibu ya." ajak Khalisa.
"Boleh, Disa rindu mereka." ucap nya senang.
Malam mulai larut, tubuh yang lelah mengharuskan Khalisa untuk tidur lebih awal. Sedangkan Disa, gadis itu terus menahan sakit yang sedang menghantam tubuh nya.
Disa meminum obat nya kemudian merebahkan diri. Gadis itu tertidur saat rasa sakit nya sudah mulai reda.
Pagi menjelang, dengan berboncengan mereka pergi ke makam yang berjarak lima ratus meter dari rumah. Menyusuri lekak lekuk makam yang tak berarturan.
Langkah kakak beradik itu berhenti tepat di depan makam kedua orang tua mereka yang berdekatan. Khalisa dan Disa memanjat kan doa untuk ayah dan ibu nya setelah itu mereka saling curhat namun di dalam hati masing-masing.
"Ayah ibu, Disa merasa waktu Disa sudah semakin dekat." batin gadis itu sambil menahan air mata nya. "Kasihan kakak, dia bekerja sangat keras demi biaya pengobatan Disa."
"Ayah ibu, Khalisa mohon jangan jemput Disa, karena dia satu-satu nya keluarga yang khalisa miliki sekarang." batin Khalisa juga menahan air mata nya. "Khalisa rela kerja banting tulang asal Disa tetap hidup dan sehat, tolong sampaikan pada nya jangan ambil adik ku."
Keheningan yang terjadi membuat suasana semakin haru, Disa yang sedari tadi menahan air mata kini tumpah di pelukan kakak nya.
"Disa rindu ayah dan ibu kak." ucap Disa dalam isak nya. Khalisa pun ikut menangis, bohong jika ia tidak merindukan ke dua orang tua nya. "Disa butuh ayah dan ibu." ucap nya lagi membuat hati Khalisa teriris perih.
"Sabar sayang kakak, doa kan ayah dan ibu masuk surga dan mendapat tempat yang layak di sisi nya. Jangan sedih, ayah dan ibu akan menangis jika melihat kamu menangis."
Semakin dalam tangis gadis itu, makam yang sunyi menjadi saksi pilu sebuah kerinduan yang tak akan kunjung jumpa. Khalisa yang masih membujuk adik nya agar lebih bersabar lagi sebenarnya sudah tak mampu berucap apa pun lagi.
"Lihatlah adik ku Tuhan, kau menguji nya dengan penyakit mematikan lalu kau ambil orang tua kami. Hilangkan sakit nya Tuhan, biarkan adik ku hidup lebih lama lagi tanpa sakit nya." batin Khalisa menjerit.
Cukup lama Khalisa membujuk adik agar mau pulang kerumah, karena wanita itu juga harus berangkat bekerja. Disa yang mengerti keadaan kakak nya menurut begitu saja, ia tak mau melihat kakak nya terpukul atas sikap Disa yang menurut nya begitu menyedihkan itu.