NovelToon NovelToon
Become Mafia Family

Become Mafia Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Teen
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: nanastar

Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!

Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

This is the end?

...Happy Reading💗...

...🍓💗🍓💗🍓💗🍓...

Lili dengan hati-hati menjatuhkan tubuhnya. Beruntung Austin cepat tanggap untuk segera menangkap tubuh mungil milik Lily hingga ia tepat berada dalam pelukannya. Austin terdengar mendesis ketika mencium aroma manis stobery dari tubuh milik gadis cantik itu. Seakan ia menikmati posisi intim yang tak berjarak diantara keduanya. Jujur, ini pertama kalinya Austin terlalu dekat dengan seorang perempuan. Kenapa rasanya senyaman itu?

Lalu, Austin mengulas senyumnya tipis menatap wajah sang gadis yang dari tadi menatapnya tajam memintanya untuk dilepas.

"Gue suka wangi tubuh lo" Ucapnya yang membuat Lily merasa merinding. Saat Lily meronta ingin lepas, suara nampan jatuh mengejutkan mereka berdua.

"Lily?!"

"Eh maksud simbok non Lily? Non gak papa kan?!" Ucapnya dengan hawatir dan cepat-cepat menghampirinya.

"Simbok! Kirain kak Zevan! Kaget!" Lily celingukan tidak jelas. Wajahnya pucat pasi. Ingatanya memutar kembali pada novel yang menceritakan bahwa ia akan mati ditangan kakaknya sendiri. Ia pikir kematiannya akan datang lebih cepat, tapi sepertinya ia salah. Ia harus lebih berhati-hati dan harus menjauhi asal muasal masalah dari kematiannya itu. Austin, sang calon kekasihnya.

Lily beralih menatap Austin yang sedang diam-dian terus memperhatikannya dengan cukup lekat. Netranya seakan terhipnotis oleh kecantikan yang di miliki Lily.

"Kak, kak Austin mendingan pulang aja deh! Pintu biarin aja gak papa"

"Gue ganti, kok. Tenang aja, oke! Tidur yang nyenyak ya sayang, sebenarnya pangeranmu ini masih kangen sama tuan putrinya, tapi tuan putrinya harus segera istirahat. Jadi ketemu besok di sekolah aja, ya!" Austin berjalan pelan menuju kearah Lily dengan bibir yang melengkung manis. Lalu diam saat telah dihadapan sang gadis pujaannya itu. Ia menatapnya lembut dan merapihkan surai milik sang gadis pujaan dengan penuh kasih sayang. Lalu ia mendekatkan wajahnya pada wajah Lily.

"Muachhh!"

Dayna melototkan matanya saat ia merasakan pipinya dikecup begitu saja oleh Austin. Ini gila! Dan Lily tidak menyukainya! Harusnya tidak seperti ini! Ini salah! Lily terus saja berusaha untuk sadar dari lamunannya.

"Eh- " Lily sedikit mundur guna menjaga jarak dengan Austin.

"Lho kok ngejauh? Malu sama simbok ya? Oke gak papa! See you besok, ya!" Austin pun melenggang pergi keluar rumah Lily dengan berseri-seri.

'Akhirnya lo jadi milik gue, Lily' Batinya dengan memasang senyuman penuh arti namun di saat yang bersamaan berubah menjadi muram.

"Aduh simbok jadi malu ihihi" Mbok Hanur pun segera bergegas membereskan makanan berserakan dilantai yang dibawanya untuk Lily.

"Uh simbok! Simbok jangan bilang-bilang kak Zevan, ya!"

"Siap non! Simbok dukung lah! Cowoknya ganteng banget non, ehehehe" Mbok Hanur pun pergi meninggalkan Lily yang hanya terdiam menanggapinya.

"Ck!" Lily terus-menerus berdecak kesal. Ia pun merebahkan tubuhnya pada ranjang king sizenya. Ia menatap langit-langit kamarnya seperti biasa. Kenapa hidupnya malah tidak tenang? Bukankah Lily hanya seorang figuran? Tapi kenapa hati Lily merasa hidupnya bisa saja berakhir kapan saja? Apa yang sebenarnya terjadi?

"Kak Zevan pasti tau sesuatu!" Selidiknya tanpa pasti. Ia cukup ragu pada semua orang disekitarnya. Mengingat kembali bahwa keluarga Zevan adalah keluarga mafia terkuat diwilayah sini. Memungkinkan untuk banyak musuh yang mengincar nyawa keluarganya.

"Tapikan keluarga Zevan juga jarang diceritain, kan kak Zevan cuman tokoh penghalang hubungan antara tokoh utama perempuan dan laki-laki"

Lily terus saja memikirkan kembali isi novel yang ia baca dulu. Mungkin saja ada setitik cahaya untuknya. Mengingat kembali semua alur dalam novelnya. Tapi apalah daya, Lily tipikal orang yang tak pernah terlalu serius ketika membaca novel. Ia sering menskip beberapa lembar dari part cerita. Ah kalo saja Lily tahu ini akan terjadi, mungkin ia akan lebih teliti lagi.

"Teruntuk para pembaca novel, jangan kayak saya yang bacanya banyak di skip ya!" Lily pun pasrah untuk segera tidur saja dan melupakan kejadian yang menimpanya tadi.

•••••

"Non, non Lily"

Seseorang menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan.

"Hmmmmm bentar lagi" Cicitnya dengan malas.

"Anu non, tuan muda..."

Mendengar itu disebut sontak saja membuat sang gadis langsung terbangun duduk.

"Hah kenapa mbok!?"

"Tuan muda mau non keruang pribadinya non"

Gadis itu nampak heran. Keningnya mengerut tak mengerti. Lalu pandangannya beralih pada pintu yang sudah utuh kembali.

"Kok, pintu kamarnya bagus lagi?!" Tunjuknya tak percaya pintunya telah rapi kembali.

"Anu, non Lily sekarang lagi dikamar tuan muda"

"APA!!!?" Gadis itu melototkan matanya tak percaya. Ia juga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Kok, bisa?!". Gadis itu terheran lalu melihat keselilingnya dengan panik. Ia juga mendapati bajunya telah ganti.

"Anu, non ditunggu tuan muda".

Gadis itu menghela nafasnya panjang. Ia mengangguk faham lalu keluar dari kamar Zevan dengan takut.

'Katanya, ini ruangan pribadi kak Zevan yang gak boleh dimasuki siapapun'. Batinya dengan menatap pintu hitam diujung ruangan. Ruangan terpencil yang terletak diatas kamar Zevan sendiri. Gadis itu perlahan membuka gagang pintu.

Krieet

Pintu terbuka perlahan. Lalu ia mendapati sebuah tangga menuju keatas. Pasti disana ada pintu lagi. Dengan tanpa ragu, ia pun melangkah masuk kedalamnya. Sempat ia berfikir, mungkin saja ada banyak ruangan tersembunyi dirumah ini. Dan ia harus mengetahui semuanya. Ya, semua rahasia yang tersimpan rapat itu harus ia ketahui.

Grep!

Seseorang mengagetkan gadis itu dengan menyentuh pundaknya secara tiba-tiba dari belakang.

"Ih kaget!" Gadis itu nampak menoleh cepat kebelakang dan mendapati Zevan yang sedang menatapnya tanpa ekspresi.

"Ngapain?" Tanyanya dengan nada seakan tidak suka.

"Bukanya kak Zevan..."

"Tau gak sekarang jam berapa?"

"Hah?" Cengo sang gadis lalu menatap jam arlojinya. Lalu ia pun menepuk jidatnya tanpa ampun.

"Mampus! Aku Kan harus sekolah!" Dengan cepat ia malah lari balik kebawah dan segera bersiap untuk sekolah. Zevan hanya menatapnya dengan penuh selidik.

"Duh gimana dong, secepat kilat pun aku siap-siap kalo waktunya tinggal 15 menit gak bakalan keburu!"

Ia mengemasi semua alat-alat sekolahnya dengan cepat. Ia juga asal memasukan buku pelajaran yang tak sempat ia jadwalkan semalam. Ini semua gara-gara si Austin sialan itu. Lily tak mau lagi kena hukum apalagi jika harus berlari mengelilingi lapangan sepak bola. Itu sangat melelahkan baginya.

"Kak Zevan aku berangkat duluan, ya!" Teriaknya sembari berlari menuju halaman rumahnya.

"Duh supir aku mana, sih?" Celinguknya ketika melihat sekitaran garasi mobilnya kosong. Biasanya pak supirnya pasti sudah menunggunya disana.

"Yok!" Tiba-tiba Zevan datang dan membukakan pintu mobil untuknya.

"Lho, pak Bayu mana?"

"Sakit" Singkat jelas dan padat. Ya, Zevan memang digambarkan seperti itu. Dingin, kejam dan tidak peduli.

"Kalo pak feri?"

"Cuti"

"Oh oke" Lily pun segera masuk kedalam mobil.

"Mulai hari ini, gue yang nganterin lo sekolah"

Lily menoleh heran. "Kenapa?"

"Gak boleh?" Zevan malah menatapnya tajam membuat Lily memalingkan wajahnya takut.

"Gak gitu maksud ku, kak. Kak Zevan kan kuliah"

"..." Zevan tak menjawab apapun.

"Kak Zevan kenapa?"

Tiba-tiba saja mobilnya direm dadakan. Dan tentu saja hal itu membuat kepala Lily terantuk. Ia lantas menoleh kesamping dengan kesal.

"Ih kak Zefan kok gak hati-hati!" Gerutunya sembari mengusap keningnya yang terasa berdenyut.

"Siapa laki-laki semalam?"

Pertanyaan sederhana yang tak bisa Lily jawab. Ia menelan salivanya berat. Apakah ini waktunya dia mati? Apa yang akan terjadi bila Zevan tau Austin adalah kekasihnya suatu saat nanti? Meskipun sebenarnya Lily tidak mengakui bahwa Austin adalah calon kekasihnya.

"Jawab, Lily" Penekanan yang terdengar sangat memaksa. Zevan mengeratkan genggaman tangannya pada setir mobil. Ia menoleh menatap netra coklat milik Lily dengan menusuk.

"I-itu..."

"Lo pikir, lo siapa berani bawa laki-laki ke dalam kamar?"

Keringat dingin mulai membasahi keningnya yang mulus. Sekarang Lily pasrah jika harus ditembak mati sekarang. Alurnya jadi lebih cepat ketika ia berusaha ingin mengubahnya. Zevan nampak mengambil sesuatu dari dalam saku celana belakangnya. Lily pasrah, ia memejamkan matanya. Ia juga tak bisa menjawab apapun. Karena apapun jawabanya pasti akan tetap salah.

"Gue udah ngasih lo kesempatan buat jelasin, tapi lo nyia-nyiain"

Saat itu juga, Lily merasakan ada sesuatu yang menempel pada keningnya. Ia pun membuka matanya dan terkejut bukan main. Pistol itu tepat menempel pada keningnya. Cairan bening pun turun mengalir pada pipi chubbynya. Ia tidak bisa menahan air matanya.

"Siapapun yang telah menghianatiku, berhak mati!"

Lily menutup matanya kuat. Dan...

BERSAMBUNG

See you♥️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!