NovelToon NovelToon
GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.

Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.

Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.

Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Kuat Akan Selalu Menindas

Melody melangkah masuk ke ruang makan. Suasananya jauh lebih mewah dan bersih dibanding sekolah negeri tempat dia dulu bersekolah.

Bahkan baunya pun berbeda. Tercium aroma masakan yang segar, bukan bau daging beku yang aneh seperti hasil rekayasa laboratorium.

"Wih, ini sekolah atau restoran bintang lima?" gumamnya dalam hati.

Makanan di sini jauh lebih layak dibanding apa yang biasa dia dapat di panti asuhan. Dulu, Melody bahkan harus pintar-pintar mengolah sisa makanan supaya perutnya tidak keroncongan.

Dia memilih duduk di salah satu meja panjang. Matanya mulai mengamati setiap sudut ruangan.

Di sana ada kelompok atlet dengan jaket tim, lalu pemandu sorak yang mudah dikenali dari bros kapten di baju salah satu dari mereka. Di sebelah kanannya, ada sekelompok anak bergaya emo.

"Grup-grupnya jelas banget ya," batinnya.

Namun, perhatian Melody tertuju pada satu sosok cowok yang duduk sendirian di pojok. Kepalanya tertunduk dalam, makan dengan sangat tenang seakan dunia di sekitarnya tidak ada.

Melody meletakkan nampan makanannya di hadapan. Sebenarnya dia tidak lapar sama sekali.

Pikirannya masih terus memutar kejadian di kelas tadi. Dia tidak percaya bertemu orang itu lagi.

Adden.

"Gila ... beneran dia?"

Secara logika memang mungkin, tapi Melody sama sekali belum siap mental. Tatapan mata gelap cowok itu tadi terasa begitu tajam, membuat jantungnya berdegup kencang tak karuhan.

Kakinya gemetar hebat saat melihat lengan berotot Adden yang penuh tato. Tubuh cowok itu bahkan tampak terlalu besar dan kekar untuk kursi biasa.

"Gimana caranya dia bisa dapat izin buat tato gitu sih?"

Adden berubah drastis. Dia kini terlihat keren, dan misterius.

"Tapi tatapan tadi..."

Yang membuat Melody tercekat adalah cara Adden menatapnya. Itu bukan tatapan rindu, melainkan tatapan penuh kebencian. Atau setidaknya itulah yang Melody rasakan.

"Kenapa dia liat aku kayak gitu?"

Dia yakin Adden pasti mengenali wajahnya, dan cowok itu pun sadar Melody juga ingat siapa dia. Pikiran Melody langsung terbang ke masa lalu, mengingat surat perpisahan yang dia tinggalkan bersama bunga kering di dalam buku.

Itu satu-satunya cara yang Melody tahu untuk pamit waktu itu. Dia harus pergi karena terluka dan ketakutan, meski sebenarnya dia tidak ingin kehilangan Adden.

"Aku gak punya pilihan waktu itu, Adden..."

Melody tak pernah menyangka Adden akan semarah ini. Kecewa mungkin iya, tapi sebenci ini?

Adden adalah satu-satunya orang yang benar-benar mengerti dirinya. Dialah alasan Melody bisa bertahan hidup sampai sekarang.

Namun, sikap dingin Adden tadi membuatnya sadar. Perasaan cowok itu mungkin sudah berubah total.

"Orang emang bisa berubah gitu ya..."

Melody sendiri pun sadar dia tidak lagi sama seperti dulu. Dia hanya berharap perubahan Adden adalah untuk yang lebih baik. Dia berharap Adden bahagia.

Saat melihat cewek di sebelah Adden menatap cowok itu dengan tatapan manja, ada rasa cemburu yang menyelinap cepat.

"Aku gak berhak cemburu. Sudah lama banget kita gak kontak," ucapnya mencoba menenangkan diri.

Tapi entah kenapa, di hati kecilnya, Melody selalu merasa Adden adalah miliknya. Kenangan mereka dia simpan rapat di hati sebagai penyemangat untuk bertahan hidup setiap hari.

Dulu dia berjuang dengan harapan ada seseorang yang menunggunya di ujung jalan. Tapi sekarang? Mimpi itu seakan hancur.

"Mungkin emang gak ada yang bakal nungguin aku..."

Melody mencoba mengalihkan pikiran dengan memainkan ponsel barunya. Ini pertama kalinya dia punya HP sendiri, jadi dia masih belajar cara pakainya.

"Pelan-pelan juga bisa lah. Yang penting bisa chat dan telepon," pikirnya.

Suasana di ruang makan tiba-tiba berubah hening saat Adden masuk bersama kakak tiri Melody dan cowok lain yang dia lihat di kelas tadi. Cowok yang tadi masuk bareng cewek-cewek sombong yang menertawakannya.

Melody memperhatikan penampilan Adden. Rambut hitamnya rapi, baju pollonya pas di badan, menonjolkan otot-ototnya yang kekar.

Adden menyapa para atlet itu dengan akrab. Melody melihat temannya, Messy, membawa jaket tim, tapi anehnya Adden tidak memakainya.

"Berarti dia bukan pemain bola ya? Dulu dia juga gak pernah bilang suka olahraga," batinnya mencoba menghubungkan fakta.

Melody sendiri sebenarnya suka menari, khususnya gaya Hip-hop. Dia menyukainya saat tinggal di keluarga asuh yang punya delapan anak. Mereka mengajari Melody banyak gerakan tarian selama setahun.

Sampai akhirnya pasangan suami istri itu menunjukkan sifat asli mereka yang jahat dan kejam. Saat itulah Melody mulai terpaksa "meminjam" barang demi bertahan hidup dan memberi makan anak-anak lain.

"Aku harus lakuin itu. Mereka gak boleh kelaparan," bisiknya mantap.

Matanya kembali tertuju pada piring. Melody mulai melahap makanan seakan itu adalah makan terakhirnya. Kebiasaan lama sulit hilang, terutama saat ia pernah merasakan kelaparan.

Baru saja suapan terakhir masuk, tiba-tiba,

Wuuuush!

Sebuah bola kertas terbang melesat kencang.

Benda itu tepat mengenai dahi cowok pendiam yang duduk di sebelah kirinya. Bola itu jatuh ke piring, tercebur di saus tomat, dan percikannya mengenai ujung hidung cowok malang itu.

"WHAHAHA!"

Seluruh ruangan langsung meledak tertawa. Melody menoleh dan melihat para pemain bola di meja depan yang paling keras bersorak.

Matanya mencari sosok Adden. Dan yang membuat dadanya sesak ... Adden ikut tertawa lebar bersama mereka.

"Bego banget sih!" umpat Melody kesal dalam hati.

Cowok yang kena lempar itu kaku seperti patung. Dia tidak punya tisu, dan rambut cokelatnya menutupi wajahnya, enggan mengangkat kepala.

Melody mengerti perasaan itu. Malu dipermalukan di depan umum rasanya memang ingin menghilang dari muka bumi.

Sebagai mantan anak panti, Melody paham betul rasanya di-bully setiap hari. Mereka yang terpinggirkan biasanya akan bersatu, bahkan sering kali berakhir masuk geng karena merasa tak punya pilihan lain.

Sistem sering kali gagal melindungi anak-anak sepertinya. Tapi Melody sadar, menyalahkan sistem saja tidak cukup, karena yang paling bertanggung jawab tetaplah orang tua yang membawa mereka ke dunia ini.

"Anjing banget sih. Tiap tahun sama aja," gumam cowok di depannya pelan, tapi cukup jelas terdengar.

Melody mengerti perasaan itu. Ia mengambil tisu bersih dari nampannya lalu menyodorkan ke seberang meja. Cowok itu mendongak kaget dan menerimanya.

"Ma-makasih," ucapnya sambil buru-buru membersihkan noda saus di bajunya.

"Hei Enno! Udah aku bilang jangan tinggalin tamponmu di kamar mandi, dasar aneh!"

Melody menoleh. Seorang cowok pirang duduk di meja atlet, tertawa mengejek dengan wajah menyebalkan. Melody memutar mata malas.

Pandangannya beralih ke Messy. Cowok itu hanya diam memperhatikan, tak berniat menegur temannya sedikit pun. Dasar anak orang kaya yang kekanak-kanakan dan sombong.

"Ngapain kamu lihat lihat, Curut? Denger-denger kamu cuma mau numpang makan gratis ya? Gak heran sih kamu duduk sama si Enno itu," ejek si pirang lagi.

Brengsek.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!