Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbeda
Ziano beberapa kali mengedipkan matanya, gadis di depannya secepat kilat pergi begitu saja. Menatap ke atas membuatnya sadar jika dirinya masih berada di rumah Aki, pemandangan genteng tanpa plafon. Ia lantas berusaha bangun sambil memegangi kepala yang terasa berat campur kleyengan.
"Eh eh jangan bangun dulu Nono! tiduran aja." belum sampai duduk dengan posisi benar, Ambu datang sambil menuntun Lusi, dan di belakangnya ada gadis cantik berkerudung yang tadi ia tatap saat tersadar.
"Baring aja, *istirahatkeun (*istirahatkan) kata pak Matri Ano teh kecapean sama perutnya juga kosong. Tadi belum makan yah?"
"Makanya Ano makan yang banyak biar nggak sakit. Kayak Uci nih mam nya banyak." sambung gadis kecil yang membawa crayon warna kuning di tangan kanannya.
"Ambu ambilin makan dulu."
Ziano hanya diam, ternyata soal makan dimana-mana ibu-ibu itu sama saja, selalu maksa.
"Neng Ara temenin Ano bentar, ambu ambilin makan. Sekalian ambu ambilin buat neng juga." ucap Ambu yang pergi ke belakang diikuti Lusi. Gadis berusia empat tahun itu memang tak bisa jauh dari neneknya.
"Iya, Ambu." jawab Ara.
Ara melirik ke arah Ziano, sial matanya langsung bersitatap, rupaya lelaki itu juga tengah melihat ke arahnya, bahkan tak berpaling meski terang-terangan ketahuan, malah senyum tanpa dosa.
"Kenapa, A? ada yang aneh sama wajah aku?" tanya Ara. Setengah salting karena Ziano tak menjawab malah tersenyum tipis.
Ara mengambil ujung kerudungnya yang menjular guna menutup wajah, "jangan ngeliatin terus."
"Elara Seraphi Nareswari." Ziano membaca name tag yang terlihat saat kerudung yang semula menutup tersingkap.
"Ya." Ara refleks menjawab saat namanya disebut. "kenapa, A?"
Ziano menunjuk name tag nya, "gue cuma baca itu.."
Ara langsung menurunkan kerudungnya, "kirain manggil aku."
"Anggap aja gitu. Kelas berapa?" tanya Ziano sambil berusaha bangun. Tiduran terus juga rasanya nggak enak.
"Dua belas, A." jawab Ara, "Biar aku bantu, A." lanjutnya seraya membantu memegang lengan Ziano yang berusaha bangun.
"Aa!" Ara reflek mendorong Ziano gara-gara lelaki itu ambruk memeluknya.
"Aduh!" Ziano memegangi kepalanya. Udah kleyengan, berusaha bangun supaya mengurangi pusing malah ambruk dan kini malah terjungkal di dorong Ara.
"Maaf, A. Reflek." ucap Ara merasa bersalah dengan tatapan kikuk. Pertama kali baginya ada lelaki yang ambruk memeluk. Jika wanita pasti sudah Ara balas peluk dan membantunya duduk, tapi ini laki-laki, ia tak terbiasa. Soal tolong menolong jangan ditanya, PMR (Palang Merah Remaja) adalah salah satu ekktra kurikuler yang diikutinya di sekolah. Setiap upacara saja ia selalu berdiri di belakang untuk membantu anak-anak yang sakit,entah itu pusing atau pun pingsan sekali pun.
Ck! Ziano berdecak lirih. "Reflek tapi lo dorong gue sampe jatuh. Makin pusing kepala gue ini."
"Ya gimana abisnya Aa langsung meluk."
"Gue nggak sengaja, pusing."
"Sama atuh, aku juga nggak sengaja." balas Ara tak mau disalahkan, dirinya benar-benar tak ada niat mendorong Ziano.
Ambu datang membawa nampan berisi dua piring makanan, satu untuk Ziano satu lagi jelas untuk putrinya. Di belakangnya ada Lusi yang dengan hati-hati membawa botol air mineral satu koma liter dan gelas plastik.
"Pelan-pelan simpannya Uci.." ambu memberi instruksi. Dari pada di larang jadi ngambek, cucunya itu mending diberi tugas ala kadarnya saja.
"Kalian lagi ngobrolin apa? keliahatannya seru banget." lanjutnya bertanya pada Ara.
"Nggak ngobrolin apa-apa, Ambu. Ini si Aa tadi-" belum sempat mengadu, ucapannya sudah dipotong oleh Ziano.
"Ara ini kakaknya Lusi kah Ambu?" sela Ziano.
"Bukan, No. Ara ini anak bungsu Ambu, kalo Lusi incu (cucu)" jawab Ambu.
"Oh, mama Lusi kerja di luar kota kah, Ambu? kayaknya dari tadi pagi belum lihat mama nya Lusi?"
Ambu tersenyum miris, wajah ramah itu berubah murung. Tak menjawab justru memeluk cucunya.
"Aa mending kita makan aja sekarang." Suara Ara memecah keheningan.
"Ambu kayaknya itu ada yang beli, A Yudi sama Abah tadi masih repot nurunin barang, Ambu cek ke warung coba." lanjutnya.
Ambu dan Lusi beranjak pergi. Sementara Ziano jadi tak enak hati karena suasananya jadi beda. Gadis di depannya juga seketika jadi murung. Alih-alih makan Ara malah hanya menganduk makanannya.
Semenit, dua menit, Ziano ikut diam mengamati. Ia ikut senyum sendiri saat Ara menghela nafas pelan kemudian merubah ekspresinya dengan cepat.
"Ayo, A, dimakan makanannya." Ara mendorong piring ke arah Ziano.
"Sini aku bantuin buat duduk, tapi jangan ambruk lagi yah." Ara mengulurkan tangannya.
"Lusi ngambilnya malah air dingin. Aa mau minum air anget dulu? biar aku ambilin." lanjutnya.
Ziano menggelengkan kepala.
"Tapi perut kosong bagusnya minum air anget dulu, A. Aku ambilin bentar deh."
"Nggak usah." Ziano menatap makanan di depannya. Menu yang sama dengan tadi pagi. Gila saja orang sakit disuruh makan ikan asin, jengkol goreng, sambel dan tumis bihun campur cabe ijo.
Ziano mendorong piring itu jauh-jauh, "gue nggak mau makan beginian, bisa mati."
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Ara mengambil piringnya dan mulai menyantap nasi serta tumis bihun yang ia sisihkan potongan cabe ijonya.
Ara makan dengan lahap, tak sadar Ziano terus menatap ke arahnya. Perutnya minta diisi, setelah cape jalan ditengah terik matahari makanan sederhana juga terasa enak, bahkan enak banget. Tak butuh waktu lama, hanya potongan cabe ijo dan irisan tomat yang tersisa di piring Ara.
Melihat warna hijau di pinggir piring Ara, membuat Ziano mengingat adiknya yang selalu memindahkan potongan bawang daun ke piringnya.
"Enak?" tanya Ziano penasaran.
"Banget." jawab Ara yang baru menandaskan isi gelasnya. Ia bahkan mengisi gelasnya lagi namun mengurungkan niatnya untuk minum saat tak menyadari Ziano menatapnya.
Wajah Ara bersemu, "kenapa sih ngeliatin aku terus." protesnya.
Ziano terkekeh, "adanya cuma lo doang. Mau ngeliatin cicak kagak ada."
"Ngawur." ketus Ara.
"Ini makanannya beneran nggak mau dimakan? apa mau aku abisin aja sekalian." Ara mengambil piring Ziano dan mulai menyisihkan cabe ijo ke pinggir.
"Abisin aja gue nggak doyan makanan kayak gitu." jawab Ziano, tapi bibir dan perutnya tak singkron karena Ara bisa mendengar suara perut yang demo itu.
"Yakin nggak doyan? tapi cacing di perut Aa udah protes minta diisi tuh."
"Nggak, nanti cacing perut gue bisa pada sakit makan begituan."
Hah! Ara mendengus kesal. Ia benar-benar tak suka mendengar orang yang menghina makanan.
"Nggak usah rewel deh, A. Makan tinggal makan aja, sakit malah repot." tanpa persetujuan Ara menyuapkan nasi dan bihun dengan paksa.
Ziano dibuat melotot seketika. kesal? ya, tentu saja. Tapi saat ia mencoba mengunyah, rasanya tak buruk juga. Ziano menatap Ara yang sibuk dengan cekatan memisahkan potongan cabe, sambel bahkan jengkol goreng itu tak disentuh sama sekali. Hanya ada nasi, bihun tanpa cabe di sendok sambil terus ngomel-ngomel perkara dirinya yang sempat mencemooh makanan.
"Aa tau nggak? nasi ini buat jadi nasi melewati proses yang lama, perjuangan para petani, mereka hujan kehujanan, panas kepanasan demi panen bagus. Belum lagi abis panen harus di proses lagi sampe siap makan kayak gini."
"Ini juga cabe... " ucapnya seraya menyisihkan cabe.
"Maaf ya allah bukannya aku nggak ngehargain petani cabe tapi takutnya yang sakit makin sakit kalo makan pedes."
"Pokoknya cabe juga prosesnya nggak kalah sulit."
"Jadi Aa tuh jangan ngomong bisa mati segala kalo makan makanan ini, itu tandanya nggak bersyukur. Tinggal makan kok malah rewel!"
Ziano hanya menahan tawa mendengar ocehannya, mamanya saja di rumah nggak pernah ngoceh sampe ngebahasa perjuangan petani kalo adiknya pilih-pilih makanan, tapi gadis di depannya ini mamang beda. Tadi salting sendiri sekarang malah ngomel-ngomel ngalahin emak-emak. Lucu, menggemaskan.
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
ini gimana kak?🙏
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
diiih diih