Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.
Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.
Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.
Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 Kepanikan Elvara
Ponsel di tangan Elvara hampir terlepas ketika mendengar suara Nira yang gemetar dari seberang sambungan. Ia baru saja membuka file presentasi baru dan mencoba memaksa diri fokus, tetapi satu kalimat itu membuat seluruh isi kepalanya kosong dalam sekejap.
"Bu Elvara, maaf... Rheon lepas. Saya cari ke mana-mana, tapi belum ketemu."
Darah di wajah Elvara seolah langsung surut. Kursi yang tadi terasa nyaman mendadak sempit dan menyesakkan.
"Lepas bagaimana maksudnya?" suaranya meninggi tanpa sempat ditahan.
"Tadi kami duduk di area tunggu lobby. Saya cuma berdiri sebentar ambil air minum. Waktu balik, Rheon sudah tidak ada."
Jantung Elvara berdegup keras sampai telinganya berdenging. Ia berdiri terlalu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang dan membentur meja partisi. Beberapa staf di divisi kreatif menoleh heran, tetapi tak satu pun masuk ke perhatiannya.
"Sudah cek toilet? Resepsionis? Pintu depan? Area parkir?"
"Sudah, Bu. Security juga bantu cari."
"Aku turun sekarang."
Ia mematikan sambungan tanpa menunggu jawaban lain. Tangan yang meraih tas bergetar cukup jelas sampai resleting beberapa kali gagal ditutup. Di kepalanya hanya ada satu nama yang terus berulang seperti alarm.
Rheon.
Ia berlari ke luar ruang kerja tanpa sempat menjelaskan apa pun. Tumit sepatunya berdetak cepat di lorong, napas mulai terputus-putus, sementara pikiran buruk berdatangan tanpa izin. Anak kecil keluar gedung sendirian. Salah naik lift. Menangis di sudut yang tak terlihat. Mengikuti orang asing karena diajak bicara baik-baik.
Lift terbuka, dan Elvara langsung masuk bersama dua karyawan dari divisi lain. Keduanya sempat menoleh melihat wajah pucatnya, tetapi ia tak peduli. Tombol lobby ditekan berkali-kali seolah itu bisa memaksa mesin bergerak lebih cepat.
Arah turun terasa lambat dan kejam. Setiap angka lantai yang berganti justru menambah panik di dadanya.
"Ya Tuhan..." gumamnya lirih sambil memejamkan mata beberapa detik.
Pintu lift akhirnya terbuka.
Elvara nyaris berlari keluar. Lobby sore itu ramai seperti biasanya, dipenuhi pegawai yang hendak pulang, tamu bisnis yang datang bergantian, serta suara langkah kaki yang saling bertumpuk di lantai marmer mengilap. Pintu otomatis membuka dan menutup tanpa henti, menciptakan arus manusia yang membuat pandangannya semakin sulit mencari satu kepala kecil yang paling dikenalnya di dunia.
Tidak ada.
"Nira!" panggilnya.
Babysitter itu muncul dari dekat meja resepsionis dengan wajah pucat dan mata hampir menangis. Rambutnya sedikit berantakan, jelas habis berlari ke sana kemari.
"Bu, saya sudah cari sampai luar..."
"Terakhir dia ke mana?"
"Ke arah tengah lobby. Tadi dia lihat air mancur kecil itu."
Elvara tak menunggu penjelasan selesai. Ia bergerak cepat menyusuri area duduk, dekat lift, sudut dekorasi, sisi kaca depan, bahkan memeriksa balik ke arah koridor restoran kecil di samping lobby. Napasnya makin pendek, telapak tangannya dingin.
Lalu langkahnya berhenti mendadak.
Beberapa meter di depan, dekat pilar marmer besar, Rheon berdiri sambil memegang robot birunya.
Dan di hadapan anak itu, berjongkok sejajar dengannya, adalah Zayden Alvero.
Seluruh tubuh Elvara seolah membeku. Suara lobby mendadak menjauh, menyisakan pemandangan yang terasa mustahil itu saja.
Rheon tampak sedang bicara antusias. Tangannya bergerak ke sana kemari menjelaskan sesuatu, sementara Zayden mendengarkan dengan perhatian yang tak biasa. Bahkan dari jarak itu, Elvara bisa melihat sudut bibir pria tersebut sedikit terangkat.
Senyum tipis.
Hal yang selama ini lebih sering menjadi rumor daripada kenyataan.
Beberapa pegawai di sekitar pura-pura sibuk melihat ponsel atau merapikan berkas, padahal jelas diam-diam mengamati. Wajah mereka memantulkan keterkejutan yang sama.
Elvara merasa lututnya hampir lemas.
Bukan hanya karena Rheon ditemukan.
Namun karena dari semua orang di gedung ini, anaknya justru berada di dekat satu orang yang tak boleh terlalu dekat dengannya.
Ayahnya sendiri.
Ia memaksa kaki bergerak.
"Rheon!"
Suara itu keluar lebih tinggi dari biasanya. Panik, lega, dan takut bercampur menjadi satu.
Bocah itu menoleh lalu langsung berseri-seri.
"Mommy!"
Ia berlari kecil menghampiri. Elvara segera berlutut dan memeluknya erat sampai Rheon terkekeh karena terlalu sesak.
"Mom, aku cuma lihat air mancur."
"Kamu pergi tanpa bilang."
"Maaf."
Nada tegas di suara Elvara membuat Rheon langsung diam. Ia menarik anak itu sedikit menjauh lalu memeriksa wajah, tangan, dan lututnya dengan cepat. Tidak ada luka, tidak ada bekas jatuh, tidak ada air mata. Hanya wajah bingung melihat ibunya setegang itu.
Barulah ia berani berdiri dan mengangkat kepala.
Tatapan Zayden sudah tertuju padanya.
Pria itu kini berdiri tegak. Sosok CEO dingin kembali utuh dalam sekejap, lengkap dengan postur tenang dan aura yang membuat sekitar ikut menjaga jarak. Namun matanya jelas sedang mengamati, bukan sekadar melihat.
"Pak," ucap Elvara cepat sambil berusaha menstabilkan suara. "Terima kasih. Maaf sudah merepotkan."
Zayden tidak langsung menjawab. Pandangan gelap itu turun pada Rheon yang kini berdiri di sisi ibunya sambil menggenggam tangan Elvara, lalu naik kembali ke wajah Elvara.
Sekali.
Dua kali.
Bergantian.
Seolah sedang membaca dua halaman berbeda yang ternyata memakai tulisan serupa.
Elvara menahan napas.
Rheon justru mengangkat robotnya dengan bangga.
"Om tadi kasih nama baru."
Zayden mengangkat alis tipis. "Kamu bicara terlalu banyak."
"Bukan aku. Om yang nanya terus."
Salah satu resepsionis spontan menunduk menahan senyum.
Elvara ingin menghilang saat itu juga.
"Rheon," tegurnya pelan.
"Apa? Itu benar."
Zayden masih menatap keduanya. Sorot matanya kini lebih tajam, seperti seseorang yang mulai menyusun bagian-bagian teka-teki dan tak suka jika ada potongan hilang.
"Anak Anda cerdas," katanya pada Elvara.
"Dia hanya suka bicara."
"Dan berani."
"Dia belum paham takut."
Rheon mengerutkan dahi. "Aku paham takut. Aku takut brokoli."
Beberapa orang di sekitar gagal menahan tawa kecil. Bahkan Zayden terlihat menahan perubahan ekspresi di wajahnya.
Elvara makin putus asa.
Ia menggenggam tangan anaknya lebih erat. "Sekali lagi, terima kasih, Pak. Kami permisi dulu."
Ia baru berbalik setengah langkah ketika suara pria itu menahannya.
"Bu Elvara."
Punggungnya menegang. Ia menoleh perlahan.
"Ya, Pak?"
Zayden menatap Rheon sesaat sebelum kembali padanya.
"Usia anak Anda berapa?"
Jantung Elvara menghantam tulang rusuk begitu keras sampai ia nyaris tak bisa bernapas.
Pertanyaan itu sederhana. Sangat wajar. Namun dari mulut pria ini, terdengar seperti ujung pisau yang disentuhkan perlahan ke kulit.
"Lima," jawabnya singkat.
"Sudah sekolah?"
"Daycare."
"Hm."
Hanya satu suara pendek, tetapi matanya belum lepas dari wajah Rheon.
Bocah itu justru balas menatap tanpa gentar. Bahkan ia melangkah setengah langkah ke depan dan bertanya penuh rasa ingin tahu.
"Om bos besar, ya?"
"Katamu tadi begitu."
"Kalau bos besar bisa bikin pintu lobby lebih seru enggak? Terlalu polos."
Resepsionis di meja depan sampai menunduk sambil menutup mulut.
Zayden menjawab datar, "Saya urus perusahaan, bukan dekorasi pintu."
"Sayang sekali."
Elvara merasa hidupnya sedang diuji.
"Rheon, kita pulang sekarang."
"Bye, Om Tinggi."
"Namanya Zayden," koreksi pria itu tenang.
Rheon berpikir sejenak. "Om Zayden."
Lalu ia melambaikan robotnya lagi seolah mereka teman lama.
Elvara buru-buru menarik anak itu menjauh sebelum percakapan lain muncul. Langkahnya cepat, hampir menyeret Rheon yang masih menoleh ke belakang dengan rasa penasaran besar.
"Mom, Om itu lucu."
"Diam dulu."
"Dia tadi enggak marah waktu aku tabrak."
"Rheon."
"Oke."
Mereka hampir sampai pintu kaca ketika suara tumit mendekat dari belakang. Nira menyusul dengan wajah penuh bersalah.
"Bu Elvara, maaf sekali. Saya benar-benar cuma sebentar..."
"Nanti saja," potong Elvara pelan. "Sekarang ikut ke mobil."
Ia terlalu kacau untuk membahas apa pun di tengah lobby.
Namun sebelum keluar, nalurinya memaksa menoleh sekali lagi.
Zayden masih berdiri di tempat semula.
Tidak bicara.
Tidak bergerak.
Hanya memandang ke arah mereka dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan.
Tatapan itu bukan milik pria yang sekadar membantu anak tersesat.
Itu tatapan seseorang yang sedang menghitung kemungkinan.
Di dalam mobil, begitu pintu tertutup, Elvara akhirnya mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Tubuhnya terasa lemas mendadak setelah adrenalin perlahan turun.
Rheon duduk di kursi belakang sambil memainkan robot Sentinel yang baru dinamai.
"Mommy marah?" tanyanya pelan.
"Aku takut."
"Aku kan baik-baik saja."
"Itu bukan alasan pergi sendiri."
Rheon menunduk. Bahunya mengecil.
"Maaf."
Nada kecil itu langsung meluluhkan sisa emosinya. Elvara menoleh dan meraih tangan mungil anaknya dari sela kursi.
"Mommy cuma takut kehilangan kamu."
"Aku juga enggak mau hilang."
Ia tersenyum lemah. Mata mulai terasa panas, tetapi ia menahannya.
Mobil berjalan meninggalkan gedung, namun pikirannya tertinggal di lobby.
Ia melihat lagi cara Zayden menatap wajah Rheon. Cara matanya bergerak dari anak itu ke dirinya. Cara pria itu bertanya usia dengan nada terlalu tenang.
Zayden bukan orang bodoh. Ia terbiasa membaca orang, membaca celah, membaca kebohongan kecil yang disembunyikan orang lain.
Dan sekarang ia mulai membaca sesuatu yang seharusnya tak pernah ia lihat.
"Mom," panggil Rheon dari belakang.
"Hm?"
"Kenapa Om Zayden mirip aku?"
Dunia seperti berhenti sesaat.
Elvara menoleh cepat ke kaca spion. Rheon sedang menatapnya polos, sungguh hanya bertanya tanpa beban.
"Mirip dari mana?"
"Mata."
Ia memalingkan wajah ke depan. Jalanan sore tampak kabur beberapa detik.
"Itu cuma perasaanmu."
"Enggak. Tadi aku lihat di kaca pintu."
Anak kecil kadang melihat hal yang orang dewasa berusaha abaikan mati-matian.
Sesampainya di apartemen, Elvara memeluk Rheon lebih lama dari biasanya. Bocah itu protes karena sesak, tetapi ia tak peduli. Ia hanya ingin memastikan anak itu benar-benar ada dalam pelukannya.
Di sisi lain kota, di lantai tertinggi gedung Alvero Group, Zayden berdiri di depan jendela ruangannya sambil memegang berkas data personal yang baru dikirim HR. Lampu kota mulai menyala satu per satu di bawah sana, tetapi fokusnya tertahan pada beberapa baris singkat.
Status: single parent.
Memiliki satu anak laki-laki.
Usia lima tahun.
Rahangnya menegang perlahan.
Ia teringat mata kecil yang menatapnya tanpa takut. Cara bocah itu mengangkat alis saat bertanya. Nada bicara tenang yang anehnya terasa akrab.
Semakin ia mencoba menganggap itu kebetulan, semakin kuat satu pikiran datang dan menolak pergi.
Anak itu terlalu mirip seseorang yang ia kenal baik.