SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Malam dan Rahasia yang Tertinggal
Suara dengkur halus Sasha mulai terdengar di sisi kanan tempat tidur, sementara Jelita sudah terlelap dengan posisi kaki yang hampir menendang nakas lampu. Lulu, sang pemilik rumah, juga sudah hanyut ke alam mimpi setelah sesi ghibah panjang yang menguras energi.
Namun, Aruna masih terjaga. Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi stiker bintang *glow in the dark*. Pikirannya berkelana, menyusun kembali setiap kejadian yang terjadi dalam seminggu terakhir.
Semangkuk mi instan tadi masih menyisakan aroma gurih di udara kamar yang dingin karena AC. Aruna teringat bagaimana mereka tertawa sampai tersedak hanya karena membahas ekspresi Kak Adrian yang tampak "patah hati" saat ditolak pulang bareng.
*"Kak Adrian tuh kayaknya butuh kursus cara jadi manusia biasa, bukan jadi pangeran berkuda putih terus,"* kata Sasha tadi sambil mengunyah kerupuk.
Aruna tersenyum kecil mengingatnya. Selama ini, ia selalu melihat Adrian sebagai sosok mentor, pelindung, dan standar kesempurnaan. Namun, malam ini, berkat sahabat-sahabatnya, ia mulai menyadari bahwa kesempurnaan itu justru terasa mencekik.
Adrian memperlakukannya seperti sebuah piala yang harus selalu berkilau. Di sisi lain, ada Aska—cowok yang penuh oli, kasar, dan menyebalkan—tapi entah kenapa, di depan Aska, Aruna merasa lebih seperti "Aruna" yang nyata.
Ia bangkit pelan, berusaha tidak membangunkan Lulu, lalu melangkah menuju balkon kamar yang luas. Udara malam di balkon rumah Lulu terasa segar. Dari sini, ia bisa melihat kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang tidak pernah benar-benar tidur.
Aruna menyandarkan lengannya di pagar balkon. Ia mengeluarkan ponselnya, berniat melihat jadwal latihan olimpiade untuk hari Senin, namun jarinya justru berhenti di sebuah aplikasi pesan. Ia melihat grup kelas yang ramai dengan foto-foto tanding basket tadi sore yang dikirim oleh teman sekelasnya.
Ada satu foto yang menarik perhatiannya. Foto *candid* Aska saat sedang beristirahat di pinggir lapangan. Cowok itu sedang menenggak air mineral, tetesan air mengalir di lehernya yang berkeringat, dan matanya menatap tajam ke arah lapangan. Tidak ada kesombongan di sana, hanya ada kelelahan yang jujur.
"Kenapa gue jadi mikirin dia terus?" gumam Aruna pelan, segera mematikan layar ponselnya.
---
Keesokan paginya, Minggu pagi di rumah Lulu dimulai dengan bau aroma roti panggang dan kopi yang semerbak. Aruna terbangun karena suara berisik Sasha yang berebut selimut dengan Jelita.
"Gila ya lo, Jel! Tendangan lo semalem hampir bikin gue pindah alam!" omel Sasha sambil mengucek matanya.
Jelita hanya terkekeh tanpa dosa. "Sori, sori. Gue kan kebawa mimpi lagi latihan karate."
Mereka berempat kemudian turun ke bawah untuk sarapan. Orang tua Lulu sedang tidak ada di rumah karena urusan bisnis, jadi mereka merasa bebas menguasai meja makan yang besar itu. Di meja makan, obrolan semalam berlanjut, tapi kali ini lebih santai.
"Eh, besok Senin lho. Siap-siap ketemu realita," ujar Lulu sambil mengoles selai stroberi ke rotinya.
Aruna mengangguk. "Gue harus fokus lagi. Simulasi tingkat kota udah deket."
"Tapi janji ya, Na," Sasha menatap Aruna serius. "Jangan biarin Kak Adrian atau siapa pun bikin lo jadi robot lagi. Kalau lo capek, bilang. Kalau lo nggak mau, tolak. Lo yang sekarang itu jauh lebih keren."
Aruna tersenyum tulus. "Iya, Sha. Gue janji."
---
Hari Senin pun tiba. SMA Cakrawala Bangsa kembali riuh. Aruna berjalan di koridor dengan perasaan yang jauh lebih siap. Benar saja, baru sampai di depan kelas, ia sudah dicegat oleh Adrian.
"Aruna, bisa bicara sebentar? Di ruang OSIS?" tanya Adrian. Wajahnya tampak lebih serius dari biasanya. Tidak ada senyum ramah yang biasanya selalu menghiasi bibirnya.
Aruna menatap teman-temannya sebentar. Sasha memberikan jempol rahasia sebagai dukungan.
"Bisa, Kak. Tapi aku nggak punya banyak waktu, jam pertama mau mulai," jawab Aruna.
Di ruang OSIS yang sunyi, Adrian berbalik menatap Aruna. "Soal hari Sabtu kemarin... aku dengar kamu jalan-jalan sama teman-teman kamu? Sampai menginap?"
Aruna mengernyit. "Iya. Kenapa, Kak?"
"Na, aku cuma khawatir. Kita ini sedang membawa nama sekolah. Aku harap kamu bisa lebih bijak mengatur waktu. Bersenang-senang itu boleh, tapi kalau sampai mengganggu fokus..."
"Kak," potong Aruna. Suaranya tenang tapi dingin. "Hari Sabtu itu hari libur. Dan aku sudah menyelesaikan semua target belajar aku minggu lalu. Aku nggak merasa fokus aku terganggu. Malah, aku merasa jauh lebih segar sekarang."
Adrian tampak terdiam, kaget karena Aruna memotong bicaranya dengan begitu berani. "Aku cuma nggak mau kamu salah pergaulan, Na. Apalagi aku lihat belakangan ini kamu sering terlihat berinteraksi dengan Askara. Kamu tahu kan dia itu seperti apa?"
Aruna tersenyum miring. Kali ini, senyum itu bukan untuk keramahan. "Aska? Dia nggak seburuk yang Kakak pikirkan. Dan soal pergaulan aku, aku rasa aku sudah cukup dewasa untuk menentukan siapa teman-teman aku. Makasih atas perhatiannya, Kak, tapi aku harus ke kelas sekarang."
Aruna berbalik dan berjalan keluar tanpa menunggu balasan dari Adrian. Di luar ruangan, ia menarik napas lega. Dadanya terasa plong. Ia baru saja membela dirinya sendiri, hidupnya sendiri.
---
Saat jam istirahat, Aruna sedang berjalan menuju kantin ketika ia melihat Aska berdiri di dekat mading, tampak sedang membaca sesuatu dengan kening berkerut. Aruna berniat lewat begitu saja, tapi Aska tiba-tiba menoleh.
"Oi, Anak Pintar," panggil Aska.
Aruna berhenti. "Apa?"
"Lu... nggak bareng si pangeran?" tanya Aska, matanya memicing seolah mencari keberadaan Adrian di sekitar Aruna.
"Gue bareng temen-temen gue. Kenapa? Lu kangen denger gue gertak?" balas Aruna dengan nada menantang yang kini terasa alami.
Aska tertawa kecil, tawa yang kali ini terdengar lebih santai. "Enggak. Gue cuma denger kabar burung kalau si pangeran lagi bete berat hari ini. Katanya ada yang mulai berani ngelawan."
Aruna hanya mengangkat bahu. "Orang punya batas kesabaran, Ka. Termasuk gue."
Aska melangkah mendekat, sedikit lebih dekat dari biasanya, hingga Aruna bisa mencium aroma parfumnya yang segar bercampur aroma sabun. "Gue suka gaya lu yang sekarang. Lebih... berisik. Jangan balik jadi pendiem lagi, ya. Nggak seru kalau nggak ada yang bisa gue ajak ribut."
Aruna menatap mata tajam Aska. Untuk sesaat, suasana koridor yang ramai seolah menghilang. "Gue nggak bakal balik lagi ke yang dulu, Ka. Jadi, lu juga harus siap-siap. Karena mulai sekarang, gue nggak bakal diem aja kalau lu ganggu."
Aska menyeringai, memberikan hormat dua jari yang santai. "Gue tunggu, Na. Gue tunggu."
Aska berjalan pergi menuju arah lapangan, sementara Aruna melanjutkan langkahnya menuju kantin di mana Sasha, Jelita, dan Lulu sudah melambai-lambaikan tangan.
Aruna tahu, perjalanannya masih panjang. Masih ada olimpiade yang harus ia menangkan, masih ada Adrian yang harus ia hadapi, dan masih ada teka-teki bernama Askara yang harus ia pahami. Tapi satu hal yang pasti: Aruna tidak lagi takut. Ia telah menemukan suaranya, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun membungkamnya lagi.
Di bawah terik matahari sekolah, Aruna merasa benar-benar hidup. Dunia sainsnya kini tidak lagi hanya hitam dan putih; ada warna-warna baru yang muncul, warna yang ia temukan dari semangkuk mi instan, tawa sahabat, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri.
---
nyesek didada rasanya
lanjut thor
👍🏻