NovelToon NovelToon
Brine Dan Marine Garis Takdir

Brine Dan Marine Garis Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjara di atas samudera

Clara Marine merasa dunianya seolah ditarik paksa dari bawah kakinya. Kesadaran itu datang perlahan, diawali dengan rasa mual yang mengocok perut dan aroma garam laut yang tajam. Saat matanya terbuka, ia tidak menemukan langit-langit beton hotel atau kamar kosnya yang sederhana di Jakarta. Ia menatap langit-langit kayu mahoni yang dipoles mengkilap, memantulkan cahaya lampu redup yang bergoyang mengikuti irama gelombang.

Ia mencoba bangkit, namun kepalanya berdenyut hebat. Efek obat bius itu masih tersisa di aliran darahnya, membuat setiap gerakannya terasa seperti bergerak di dalam lumpur.

"Jangan dipaksa. Kau butuh waktu sekitar satu jam lagi agar penglihatanmu kembali normal."

Suara itu berat dan tenang. Clara menoleh dengan cepat, mengabaikan rasa sakit di lehernya. Di sudut ruangan, duduk di sebuah kursi kulit yang tampak kokoh, Nikolai Brine sedang memperhatikan sebuah peta digital di tabletnya. Ia telah menanggalkan perlengkapan taktisnya. Kini ia hanya mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung, memperlihatkan tato samar di lengan bawahnya yang berotot.

Clara mencoba bicara, tapi tenggorokannya kering. "Di mana... aku?"

Nikolai meletakkan tabletnya dan berdiri. Langkah kakinya di atas lantai kayu terdengar mantap, tanpa suara berdecit. Ia mengambil sebuah gelas berisi air putih dari meja nakas dan menyodorkannya pada Clara.

"Kau berada di atas The Leviathan. Kapal kargo dengan bendera Panama, namun di bawah kendali penuh keluarga Brine," jawab Nikolai. "Kita sudah berada di perairan internasional. Jauh dari jangkauan polisi air Indonesia, dan yang lebih penting, jauh dari tangan dingin kakakmu."

Clara menepis gelas itu hingga airnya tumpah ke seprai sutra. "Kau menculikku. Lagi. Setelah semua kekacauan di hotel itu!"

Nikolai tidak marah. Ia hanya menatap air yang tumpah itu dengan datar, lalu meletakkan gelas yang kosong kembali ke meja. "Aku tidak menculikmu, Clara. Aku menyelamatkanmu dari pernikahan kontrak yang menyedihkan. Kau pikir Julian Tide bisa melindungimu? Pria itu bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri dari satu hantaman gagang pistol."

"Silas melakukannya untuk melindungiku!" teriah Clara, meski suaranya parau.

Nikolai terkekeh, suara yang terdengar mengejek. "Silas melakukannya untuk melindungi aset ayahnya. Dia baru saja memberitahumu soal dokumen ilegal Arthur Ocean, bukan? Dia menggunakanmu sebagai tumbal agar sejarah kotor keluargamu tidak terendus Interpol. Dia memberikanmu pada Julian seperti memberikan kado pada pelayan yang setia."

Clara terdiam. Kata-kata Nikolai menghujam tepat di bagian hatinya yang paling rapuh. Pengakuan Silas di hotel tadi masih terngiang jelas. Kakak kembarnya, orang yang paling ia percayai, ternyata memegang kendali atas hidupnya demi bisnis.

"Kenapa kau begitu peduli, Nikolai?" tanya Clara dengan nada menantang. "Kau juga menginginkan sesuatu dariku. Jangan berlagak seolah kau pahlawan."

Nikolai mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa senti. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Clara, mengurung wanita itu di atas tempat tidur. Aroma tembakau mahal dan parfum maskulin yang tajam memenuhi indra penciuman Clara.

"Aku tidak pernah bilang aku orang baik," bisik Nikolai di depan wajah Clara. "Tapi aku punya aturan. Aku tidak menggunakan wanita sebagai alat tukar politik. Jika aku menginginkan sesuatu, aku akan mengambilnya secara langsung. Dan aku menginginkanmu bukan karena namamu adalah Marine, tapi karena kau adalah satu-satunya orang yang berani menatap mataku tanpa rasa takut di perpustakaan berdebu itu."

Clara mencoba memalingkan wajah, tapi Nikolai mencengkeram rahangnya dengan lembut namun tidak bisa dibantah. Mata biru pria itu seolah menguliti rahasia di dalam jiwa Clara.

"Lepaskan aku," desis Clara.

"Kau lihat ini?" Nikolai menarik pergelangan tangan kanan Clara. Di sana melingkar sebuah gelang rantai perak tipis yang terlihat elegan namun memiliki lampu indikator merah kecil yang berkedip setiap lima detik. "Ini bukan perhiasan. Ini adalah tracker sekaligus pengunci. Jika kau mencoba keluar dari radius kapal ini, atau mencoba menyabotase sistem navigasi, aku akan tahu. Dan percayalah, kau tidak ingin tahu apa yang terjadi jika lampu ini berubah menjadi warna biru."

Clara menatap gelang itu dengan ngeri. "Kau benar-benar monster."

"Aku adalah monster yang jujur, Clara. Berbeda dengan kakakmu yang berpura-pura menjadi pelindung padahal dia adalah sipir penjara emasmu."

Nikolai berdiri tegak kembali. "Pintu kamar ini tidak dikunci. Kau boleh berkeliling kapal, makan di ruang makan utama, atau melihat laut di dek. Tapi jangan coba-coba mencari bantuan. Awak kapal ini tidak bicara bahasa yang kau mengerti, dan mereka hanya patuh pada satu perintah: perintaku."

Nikolai melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak. "Satu hal lagi. Silas sudah menghubungi bawahanku. Dia menawarkan uang yang sangat besar untuk kepalamu, hidup atau mati. Tampaknya dia lebih suka melihatmu tewas daripada berada di tanganku dan membocorkan rahasia keluarga Marine. Pikirkan itu baik-baik sebelum kau merindukan rumahmu."

Pintu tertutup dengan bunyi klik yang dingin.

Clara jatuh terduduk di atas tempat tidur. Ia merasa terjebak di antara dua singa yang lapar. Di satu sisi, kakaknya yang tega menjualnya demi nama baik keluarga. Di sisi lain, seorang mafia blasteran yang terobsesi padanya dengan cara yang gila.

Ia berjalan menuju jendela bulat kapal. Di luar sana, hanya ada hamparan laut hitam yang luas di bawah sinar rembulan. Tidak ada daratan. Tidak ada pelarian. Ia harus bertahan hidup di dalam sarang Nikolai Brine, setidaknya sampai ia menemukan cara untuk menghancurkan kedua pria yang mencoba mengatur hidupnya itu.

Di dek utama, Nikolai berdiri menatap ombak. Sebastian Reef, yang kakinya sudah dibalut gips akibat tembakan Nikolai sebelumnya, mendekat dengan bantuan kruk.

"Tuan, Silas Marine sudah mengerahkan tentara bayaran dari Singapura untuk mengejar kita," lapor Sebastian dengan suara rendah.

Nikolai menyalakan cerutunya, bara apinya menyala merah di tengah kegelapan malam. "Biarkan mereka datang. Aku ingin melihat seberapa jauh Silas berani melangkah untuk 'adik tercintanya'. Siapkan persenjataan berat di buritan. Jika mereka mendekat, tenggelamkan tanpa peringatan."

Nikolai mengembuskan asap cerutunya ke udara malam. Permainan ini baru saja dimulai, dan kali ini, ia tidak berencana untuk kalah.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Mega Maharani
lanjut thor ditunggu update bab selanjutnya
olyv
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!