Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Pagi hari
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar, menyinari butiran debu yang menari di udara. Suara kicau burung di pohon mangga samping rumah menjadi latar belakang pagi yang sibuk. Shakira baru saja keluar dari kamar mandi, aroma segar sabun dan sampo herbal menyeruak mengikuti langkahnya. Rambut panjangnya yang basah tertutup handuk putih yang ia gosok-gosokkan dengan gerakan cepat untuk mengurangi sisa air.
Wajahnya tampak segar meski tanpa riasan, hanya sedikit kemerahan alami di pipi setelah mandi air hangat. Ia melangkah menuju meja rias, berniat untuk segera bersiap. Hari ini ada jadwal tambahan di laboratorium tata boga—praktik membuat kue sus yang membutuhkan ketelitian tinggi—dan ia tidak boleh terlambat satu menit pun jika tidak ingin kena semprot dosen pengawas.
Namun, baru saja jemarinya hendak menyambar sisir kayu yang tergeletak di atas meja, sebuah tangan yang lebih besar dan berurat khas pekerja kasar mendahuluinya. Sisir itu seolah melayang ke udara, direbut dengan gerakan tangkas oleh pelakunya.
Shakira menoleh dengan napas tertahan. Zidan sudah berdiri di belakangnya, masih mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek, tampak jauh lebih segar dari biasanya setelah mandi subuh tadi.
"Aku mau nyisir rambut, Zidan. Kamu jangan mulai deh tengilnya," protes Shakira sambil berusaha meraih kembali sisirnya.
Zidan mengangkat sisir itu tinggi-tinggi, jauh dari jangkauan tangan Shakira. "Siapa yang mulai? Aku cuma mau bantu. Sini, kamu duduk."
"Nggak usah. Aku bisa sendiri, Zidan. Aku buru-buru, ada tugas tambahan pagi ini," tolak Shakira ketus.
"Duduk, Sayang," potong Zidan. Suaranya tidak keras, tapi ada nada perintah lembut yang membuat kaki Shakira seolah bergerak sendiri mengikuti instruksinya.
Shakira mendengus, namun akhirnya ia menurut dan duduk di kursi kursi meja rias. Ia menatap pantulan Zidan di cermin besar di depannya. Zidan mulai berdiri di belakangnya, memegang handuk yang melilit kepala Shakira, lalu membukanya perlahan. Rambut hitam pekat yang masih lembap itu tergerai jatuh ke bahu Shakira.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati—berbanding terbalik dengan caranya memegang kunci inggris di bengkel—Zidan mulai menyisir rambut Shakira dari ujung bawah agar tidak sakit saat ada yang kusut.
"Wangi banget," gumam Zidan tiba-tiba. Ia mendekatkan hidungnya ke helaian rambut Shakira, menghirup aromanya dalam-dalam. "Kamu pake sampo apa, Sayang?"
Shakira merasa tengkuknya meremang. Ia mencoba tetap tenang meski jantungnya mulai berisik. "Sampo biasanya... kenapa sih nanya-nanya? Nggak penting banget."
Zidan terkekeh pelan, tangannya terus bergerak menyisir rambut Shakira dengan ritme yang menenangkan. "Jutek banget sih istri aku. Padahal aku nanya baik-baik loh. Wanginya enak, bikin tenang. Rasanya mau aku cium terus rambutnya."
"Zidan!" tegur Shakira, wajahnya memanas. "Udah cepetan, keburu telat. Aku pagi ini ada tugas tambahan di lab. Kalau telat dikit aja, adonan sus aku bisa gagal gara-gara nggak konsen."
"Iya, iya, ini udah selesai," jawab Zidan. Ia meletakkan sisir itu kembali ke meja setelah memastikan setiap helai rambut Shakira tertata rapi.
Shakira menghela napas lega. "Nah, gitu dong. Makasih."
Saat Shakira hendak berdiri dari kursinya, kedua tangan Zidan tiba-tiba mendarat di pundaknya, menahannya tetap di posisi duduk. Shakira terpaku, menatap bayangan Zidan di cermin yang kini menunduk.
Cup.
Sebuah kecupan lembut dan hangat mendarat tepat di puncak kepala Shakira. Gerakan itu singkat, namun dampaknya luar biasa. Shakira mematung di tempatnya. Ia bisa merasakan sisa hangat bibir Zidan di kulit kepalanya yang masih sedikit lembap. Selama beberapa detik, dunia seolah berhenti berputar.
"Apaan sih!" teriak Shakira tiba-tiba setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya. Ia berdiri dengan cepat, mendorong tangan Zidan dari bahunya. "Nggak usah cium-cium! Bukan muhrim tahu!"
Zidan meledak dalam tawa yang sangat renyah, seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu tahun ini. Ia berkacak pinggang, menatap Shakira dengan tatapan jahil yang tidak ada habisnya.
"Loh? Bukan muhrim gimana maksudnya, Sayang?" goda Zidan sambil melangkah mendekat, membuat Shakira mundur satu langkah hingga terpentok meja rias. "Kemarin yang ijab qobul di depan bapak penghulu sama Papa itu siapa? Setan? Aku suami kamu loh. Enak aja dibilang bukan muhrim."
Wajah Shakira kini benar-benar sewarna tomat matang. Ia baru sadar betapa konyolnya ucapannya tadi. "Maksud aku... maksud aku itu belum terbiasa! Lagian main cium-cium aja, nggak izin dulu!"
"Oh, jadi harus izin dulu?" Zidan menaikkan satu alisnya. "Oke. Istriku yang cantik, Shakira Naomi, bolehkah suami gantengmu ini mencium keningmu sekarang?"
"ZIDAN! Gila ya kamu!" Shakira menyambar tas kuliahnya dan bundel laporan dengan panik. "Udah, aku mau berangkat. Jangan ganggu!"
Zidan tertawa melihat reaksi panik istrinya. Ia mengikuti Shakira yang berjalan cepat menuju pintu kamar. "Eh, tunggu! Salim dulu dong sama suaminya. Katanya mau jadi istri salihah?"
Shakira berhenti di depan pintu, berbalik dengan wajah cemberut. Namun, ia tetap mengulurkan tangannya. Zidan menyambut tangan itu, tapi bukannya membiarkan Shakira mencium tangannya, Zidan justru menarik tangan Shakira dan mencium punggung tangan gadis itu dengan lembut.
"Hati-hati di jalan. Belajarnya yang bener, jangan mikirin ciuman tadi terus ya nanti sus-nya bantet," bisik Zidan tepat di telinga Shakira.
"ZIDAN ARDIANSYAH! MATI AJA LO!" teriak Shakira sambil berlari keluar kamar, meninggalkan Zidan yang tertawa puas di dalam kamar.
Sambil menuruni tangga dengan jantung yang masih berdegup kencang, Shakira meraba puncak kepalanya. Bekas kecupan itu masih terasa nyata. Ia merutuki dirinya sendiri karena jantungnya tidak bisa diajak kompromi.
Dasar tukang bengkel sialan, batinnya. Bisa-bisanya dia bikin fokus gue buyar sepagi ini.
Di bawah, Mama Zidan yang sedang menyapu teras melihat menantunya lari terbirit-birit dengan muka merah. "Loh, Shakira? Kok buru-buru banget, Nak? Sarapan dulu!"
"Nggak usah, Ma! Shakira makan di kampus aja! Assalamualaikum!" teriaknya tanpa menoleh.
"Waalaikumsalam... ada apa sih sama anak-anak muda zaman sekarang," gumam Mama Zidan sambil menggelengkan kepala.
Sementara itu, di kamar atas, Zidan masih tersenyum menatap pintu. Ia mengambil sampo milik Shakira yang tertinggal di atas meja dan mencium aromanya lagi.
"Judesnya makin lama makin bikin gemas," gumam Zidan. Ia tahu, perjuangannya meruntuhkan 'Garis Khatulistiwa' masih panjang, tapi pagi ini, ia merasa sudah menang satu langkah. Ia bersiul kecil, siap berangkat ke bengkel dengan semangat yang meluap-luap.
***
Siang itu, bengkel "Ardiansyah Motor" sedikit lebih tenang dibandingkan kemarin. Udara panas Bekasi menyengat atap seng, menciptakan gelombang uap tipis di atas aspal. Zidan baru saja mengelap tangannya yang berlumuran oli mesin setelah berhasil menghidupkan kembali sebuah motor tua yang mati total. Dengan napas lega, ia melemparkan lap kotor itu ke atas meja kerja dan menghempaskan tubuhnya ke kursi kayu panjang yang ada di sudut bengkel.
Bobby, yang sedang sibuk membersihkan busi di dekatnya, melirik bosnya itu. "Tumben nyantai, Dan? Biasanya langsung sikat antrean berikutnya."
"Istirahat bentar, Bob. Mesin manusia juga butuh didinginin," jawab Zidan santai. Ia merogoh saku celana jinsnya, mengeluarkan ponselnya yang layarnya sedikit retak, lalu mencari nama kontak yang ia simpan dengan nama "Istri Galak <3".
Tanpa ragu, Zidan menekan tombol Video Call.
Di seberang sana, butuh waktu hampir satu menit sampai panggilan itu diangkat. Layar ponsel Zidan akhirnya menampilkan wajah Shakira yang tampak sangat serius. Rambutnya diikat asal-asalan, kacamata bertengger di hidungnya, dan latar belakangnya adalah tumpukan buku referensi kuliner serta laptop yang menyala.
"Lagi apa, Sayang?" sapa Zidan dengan suara yang sengaja dibuat serak-serak basah, lengkap dengan senyum miring yang paling mematikan.
Shakira mendengus, ia bahkan tidak menatap kamera sepenuhnya. "Apa sih? Lagi... ngerjain tugas. Lagian kamu nggak sibuk apa? Jam segini malah telepon-telepon nggak jelas."
Zidan menyandarkan kepalanya ke dinding bengkel yang kotor, menatap layar ponselnya seolah itu adalah pemandangan terindah di dunia. "Sibuk... sibuk mikirin kamu."
Uhuk! Uhuk!
Bobby yang kebetulan sedang meneguk air mineral dari botol besar langsung tersedak hebat. Airnya menyembur sedikit ke lantai, membuat ia terbatuk-batuk sampai mukanya merah.
"Gila lo, Dan! Garing banget sumpah! Kuping gue pedes dengernya!" protes Bobby sambil mengelap sisa air di dagunya.
Shakira di seberang sana juga menunjukkan ekspresi yang sama. Ia memutar bola matanya malas. "Denger tuh kata Bobby. Garing banget. Udah ah, aku matiin ya. Aku lagi fokus ngitung takaran bahan buat ujian besok."
"Eh, jangan dulu dong! Tega banget sih sama suami sendiri," cegat Zidan cepat. "Aku masih kangen nih. Efek tadi pagi kayaknya kurang, pengen nyium kamu lagi rasanya."
"ZIDAN!" teriak Shakira di layar ponsel, wajahnya yang semula pucat karena kelelahan mengerjakan tugas langsung berubah merah padam. "Mulut kamu mau aku lakban ya! Ada Bobby sama Indra di situ, nggak punya malu banget sih!"
Zidan tertawa terbahak-bahak, ia sengaja mengeraskan suara ponselnya agar seluruh bengkel bisa mendengar reaksi istrinya. "Kenapa malu? Mereka kan jomblo, biar mereka tau rasanya punya istri yang bikin kangen terus itu gimana."
"Gue denger ya, Dan! Awas lo!" teriak Indra dari kolong mobil pelanggan yang sedang ia cek.
Shakira menutup wajahnya dengan sebelah tangan, merasa sangat frustrasi. "Zidan, sumpah ya, kamu itu makin lama makin nggak ada remnya. Aku lagi pusing, jangan ditambahin pusing sama gombalan receh kamu itu."
"Siapa yang gombal? Ini fakta lapangan, Sayang. Tadi pagi pas aku cium puncak kepala kamu, wanginya masih nempel di hidung aku sampe sekarang. Bau oli di sini aja kalah sama wangi sampo kamu," ujar Zidan, nada bicaranya mendadak berubah menjadi sangat tulus, meski tetap ada nada jahil di sana.
Shakira terdiam sejenak. Ia melirik kamera ponselnya, melihat wajah Zidan yang kotor terkena noda hitam oli di pipi, tapi matanya menatapnya dengan binar yang sangat jujur. Ada rasa hangat yang tiba-tiba menyusup ke dadanya, mengalahkan rasa kesalnya.
"Itu... itu kan cuma sampo," gumam Shakira pelan, suaranya melunak.
"Bukan cuma sampo, Ra. Itu kamu. Semuanya tentang kamu itu bikin aku nggak fokus kerja," Zidan memajukan wajahnya ke arah kamera. "Coba deketin mukanya ke layar, aku mau liat mata kamu lebih deket."
"Nggak mau! Apa sih, Zidan!" Shakira menjauhkan ponselnya. "Udah ya, aku mau lanjut. Kalau aku nggak lulus gara-gara kamu gangguin terus, aku nggak mau masakin kamu pecel lele lagi selamanya."
"Eh, jangan! Itu ancaman paling kejam yang pernah aku denger," Zidan pura-pura ketakutan. "Ya udah, lanjutin tugasnya. Tapi janji ya, nanti malem pas aku pulang, 'Garis Khatulistiwa'-nya digeser dikit?"
"NGGAK! Tetap di tengah!" tegas Shakira.
"Yah... ya udah deh. Semangat ya, Istriku yang cantik. Jangan lupa makan siang. Kalau capek, istirahat. Aku sayang kamu."
Shakira tertegun mendengar kalimat terakhir Zidan. Kalimat itu diucapkan dengan begitu santai tapi terdengar sangat berat maknanya. Sebelum ia sempat membalas, Zidan sudah memberikan kecupan jauh (kiss bye) ke arah kamera dan mematikan sambungannya.
Shakira menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "Dasar tukang bengkel sinting," bisiknya pelan, tapi kali ini dengan senyum kecil yang tulus menghiasi bibirnya.
Di bengkel, Zidan menyimpan ponselnya kembali ke saku dengan perasaan puas. Ia bangkit berdiri, merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
"Gimana, Dan? Udah kenyang dapet asupan dari bidadari?" goda Bobby yang sudah selesai dengan urusan businya.
Zidan menyambar kunci inggrisnya kembali. "Kenyang banget, Bob. Tenaga gue udah seratus persen lagi sekarang. Ayo, kita selesain sisa antrean hari ini!"
"Bucin mah bebas," gumam Indra sambil kembali masuk ke kolong mobil.
Zidan mulai bekerja lagi dengan semangat yang berkali-kali lipat lebih besar. Baginya, setiap tetes keringat dan bau oli yang ia rasakan hari ini adalah langkah untuk membangun masa depan yang lebih baik bersama Shakira. Ia tahu Shakira masih malu-malu, masih judes, dan masih memasang guling pembatas di antara mereka. Tapi bagi Zidan, selama ia masih bisa mendengar suara Shakira yang memarahinya, itu sudah cukup untuk membuat harinya sempurna.
"Tunggu aku pulang, Ra. Aku bakal bikin kamu lupa sama guling pembatas itu pelan-pelan," batin Zidan sambil mulai membongkar mesin motor berikutnya dengan siulan riang yang menggema di seluruh sudut bengkel.
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo