Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ketemu ibu nanda
"Ibu tahu di mana ibu saya sekarang?" tanya Amira.
Ibu Juli mengerutkan dahinya.
"Katakan, Bu, jangan ragu."
"Tapi kamu jangan marah ya."
Amira menganggukkan kepala. Dadanya berdebar, pikiran buruk langsung bergelora. Dari kecil dia dan ibunya sering ribut. Dia takut ibunya memperlakukan Dewi dengan buruk.
"Aku sering lihat dia ngemis di lampu merah Kopo."
"Bersama Dewi?"
"Iya," jawab Ibu Juli.
"Aku pernah melarang dia untuk jangan ngemis, apalagi bawa anak. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana watak dari ibu kamu. Dia itu keras kepala dan susah diatur."
Dada Amira semakin sesak mendengarnya, membayangkan Dewi, anak kecil dari usia 1 tahun diajak mengemis oleh ibunya, dan sekarang pasti sudah usia 4 tahun. Pasti anak itu sangat menderita, masih hidup saja sudah untung.
"Kamu harus cepat menemukan anak kamu, Amira," Ibu Juli membuyarkan lamunan Amira.
"Ya, Bu, aku harus segera menemukan anak saya," bibir Amira gemetar, air mata hampir jatuh.
"Selama ini bagaimana ibu saya memperlakukan anak saya?" tanya Amira.
Ibu Juli menggelengkan kepala.
"Saya... saya tidak bisa menceritakannya. Lebih baik kamu lihat saja sendiri. Aku takut kamu terlambat, Mira."
"Terlambat bagaimana?" Amira semakin gugup.
"Ya, pokoknya kamu harus segera menemukan ibu kamu."
Amira menggenggam tangan Ibu Juli lalu berkata, "Baiklah, Bu, kalau begitu terima kasih."
Amira melepaskan genggaman lalu memeluk Ibu Juli. "Saya berangkat dulu, Bu. Terima kasih informasinya."
"Ya, sama-sama."
Amira menggenggam tangan Arjuna lalu berlalu meninggalkan Ibu Juli, melewati gang sempit. Pikirannya benar-benar kalut.
Penyesalan terbesar dalam hidupnya adalah menjadi TKI demi melunasi utang keluarga suami dan meninggalkan anak-anaknya.
Arjuna usia 7 tahun, tubuhnya kurus karena kurang makan.
Dan sekarang Dewi diculik oleh ibunya sendiri, dijadikan alat untuk mengemis. Sungguh Amira tidak memaafkan ibunya. Amira benar-benar merasa dunia mempermainkannya, punya suami yang memanfaatkan dirinya dan ibu yang kejam menjadikan cucunya sebagai alat mengemis.
Amira terus berjalan dengan hati yang gusar sampai di jalan besar.
Lalu kendaraan padat.
Matahari menyengat.
"Juna, mamah gendong ya," ucap Amira.
"Enggak usah, Mah," jawab Arjuna.
Melewati flyover, Amira menunggu angkot sebentar lalu naik angkot lagi.
Hatinya semakin gusar.
"Mah, Dewi tidak apa-apa kan?"
"Dewi baik-baik saja, sayang, tenang saja," jawab Amira tampak tenang, padahal hatinya gelisah bukan main. Dia bersumpah tidak akan memaafkan ibunya. Dulu dia diperlakukan buruk oleh ibunya, sekarang memperlakukan cucunya dengan buruk. Timbul sebuah penyesalan, "Tuhan, kenapa aku lahir dari rahim wanita jahat?"
Gigi Amira bergemeletuk, tangannya mengepal erat.
"Juna janji kalau Dewi ketemu akan Juna jaga."
Amira membelai rambut Arjuna.
"Ya, kita akan jaga dengan baik. Kamu anak pintar."
Setidaknya itu kata-kata yang sedikit menenangkan Amira.
Butuh waktu 15 menit, akhirnya Amira sampai ke lampu merah Kopo.
Mobil bus antarkota lalu lalang keluar masuk tol Jakarta–Cikampek.
Motor berseliweran.
Amira turun dari angkot.
Pandangannya mengedar ke semua tempat, melihat sosok ibunya.
Anak-anak seusia Arjuna, bahkan mungkin di bawahnya, sibuk berlarian sambil membawa lap dan sabun. Tiap kali ada mobil berhenti, mereka membersihkan kaca mobil dan meminta bayaran.
Ada juga yang ngamen, berjualan tisu.
Amira terus melihat ke arah lampu merah, namun tidak melihat sosok ibunya.
Hatinya semakin gusar.
Mulai meragukan perkataan Ibu Juli, namun dia harus bertanya.
Amira melangkahkan kaki mendekat ke lampu merah.
Bertanya pada anak-anak jalanan.
"Apa kalian tahu Ibu Nanda dan Dewi?"
Anak-anak menggelengkan kepala.
"Di sini jarang tahu nama aslinya, Bu," jawab seorang remaja. "Harus tahu nama julukannya. Kayak saya, nama saya Kodok 1, adik saya Kodok 2. Itu bukan nama asli saya."
Amira mengerutkan dahinya. Dia sama sekali tidak tahu nama julukan ibunya.
"Ciri-cirinya gimana?" tanya anak itu.
"Ibu saya tinggi, sama seperti saya, kulitnya putih, matanya agak sipit, dan orangnya agak galak."
"Enggak ada orang kayak gitu, Bu. Di sini rata-rata kulitnya cokelat. Lihatlah matahari itu, penyebabnya," jawab anak itu dramatis.
"Apa punya fotonya?"
Amira menggelengkan kepala. Semua foto ada di HP yang lama, dan Amira tidak punya media sosial, tidak punya akun Facebook dan Instagram, jadi tidak menaruh foto secara online.
"Ya susah kalau begitu, Bu. Tapi saya nanti coba tanya deh satu-satu teman saya, ada enggak yang namanya Nanda."
"Baik, terima kasih," jawab Amira.
Tenggorokan Amira terasa terbakar. Dia melangkahkan kaki ke warung pinggir jalan tempat orang menunggu bus.
Sambil belanja, Amira tak lupa menanyakan keberadaan ibunya, dan jawabannya sama. Harus tahu nama julukannya. Jarang ada yang tahu nama aslinya, atau memang itu sudah aturan di jalanan. Mereka seolah kompak harus tahu nama julukan, menandakan kalau mereka itu satu kelompok.
Amira lelah. Dia mengajak Arjuna ke musala dekat pos polisi. Sempat terpikir akan lapor polisi, tapi Amira berpikir dua kali.
Lapor polisi?
Seharusnya begitu. Tapi polisi kadang tak begitu antusias jika yang melapor orang yang tak punya uang. Daripada menghamburkan uang, Amira lebih baik mengadu pada Allah.
Waktu Zuhur tiba. Amira salat Zuhur.
Lalu berdoa dengan khusyuk.
Sambil mengingat entah sudah berapa lama dia meninggalkan salat.
Setelah menyesali semua kelalaiannya dan mencurahkan semua isi hatinya, hati Amira mulai lega.
Amira keluar dari musala.
Sekarang dia hanya bisa pasrah. Hidup harus terus berjalan. Kalau tidak ketemu Dewi, dia harus mengurus Arjuna dengan baik.
Amira melangkahkan kaki menuju lampu merah.
Dan sekarang, dengan jelas dari kejauhan, dia melihat sosok ibunya bersama anak kecil kurus kering dan kulitnya cokelat.
Ibunya tampak mengamen dan anak kecil itu mengemis.
Yang paling memilukan, jarak ibunya dengan anak itu jauh, seolah tidak mengabaikan keselamatan anak itu.
Dengan amarah yang membuncah, Amira melangkahkan kaki. Arjuna sampai terseret-seret.
"Kamu tunggu di sini, jangan nyebrang ya. Duduk saja di pos ini. Kalau Juna sayang mamah, Juna harus nurut."
Arjuna menganggukkan kepala.
Amira sedikit berlari mendekati lampu merah lalu menggendong anak kecil yang sedang mengemis.
Hati Amira semakin getir. Anak itu begitu ringan.
Amira mendekati ibunya yang sedang mengamen dan mencengkeram tangan ibunya dengan kuat lalu menariknya.
Nanda tampak kaget dan langsung marah.
"Mira, apa-apaan kamu, ha?"
"Ikut aku, Bu!" Amira menarik tangan ibunya menyeberang.
Setelah di pinggir jalan dekat pos tempat Arjuna tadi tinggal, barulah Amira melepaskan tangan ibunya.
"Tega ya, Bu... benar-benar tega. Kenapa ibu jahat sama cucu sendiri, Bu?" tatapan Amira begitu tajam.
"Lihatlah Dewi sampai kurus begini, Bu."
"Kamu yang tega! Selain tega, kamu itu bodoh. Mau-maunya kerja keras untuk keluarga Rudi biadab itu dan mengabaikan anak-anak kamu, ha? Dan sekarang kamu langsung marah-marah sama ibu. Harusnya kamu marahi tuh suami mokondo kamu itu!"
Amarah Amira membuncah melihat wajah anak kecil tirus, bau, tak terurus. Benar-benar ibunya tidak punya perasaan, dan sekarang malah menyalahkan dirinya.
"Plak!" Amira menampar pipi ibunya.
"Ibu kurang ajar! Kenapa ibu tega sama anak saya, Bu?"
"Bugh!" punggung Amira terasa nyeri. Seseorang memukulnya dengan keras menggunakan kayu.
Amira menoleh.
Seorang anak perempuan, tubuhnya gemuk, kulitnya kuning, matanya sipit, pipinya chubby, menatap Amira dengan tajam.
"Jangan pukul nenekku!" ucapnya dengan suara cempreng. Dia marah, namun menggemaskan.
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
yg ada di tindas terus
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪