Salam dari author untuk pembaca 😊✨🙏
Putri Adelia yang biasa di panggil adel, usianya kini menginjak 24 tahun. Dia menjalani kisah cinta yang romantis dan begitu membuat iri orang-orang.
Kisah cintanya dengan devan alvano begitu indah dan tampak sempurna di mata siapa pun yang melihatnya.
Devan adalah sosok pria yang hampir tidak memiliki celah—tampan, mapan, dan selalu bersikap lembut pada Adel. Di hadapannya, Devan seperti pria yang hanya hidup untuk mencintai satu wanita.
Tapi tiba-tiba semuanya runtuh ayah adel memutuskan untuk menjodohkan nya dengan kakak Devan, yaitu Lucas yang usianya sudah 36 tahun terpaut jauh dari usia adel.
HEHEH SEMOGA SUKA YA SAMA NOVEL AKU 🙏😁✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tayanlee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 08.
Lucas tidak menjawabnya, Ia merebahkan tubuhnya di sofa dengan tangan yang ada di keningnya.
Melihat Lucas yang sudah mengambil posisi untuk tidur, Adel pun memalingkan wajah Ia merasa sangat bodoh sekarang.
Adel merebahkan tubuhnya di ranjang besar itu dengan menatap langit-langit kamar hotel, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar pelan dan detak jam yang semakin jelas di telinga Adel.
Gaun pengantin yang begitu berat seperti beban yang ada di hatinya, pikirannya dan hatinya berisik oleh nama seseorang yaitu Devan, langit-langit kamar menjadi satu-satunya yang Ia tatap.
bayangan Devan tidak pernah hilang, senyuman, cara bicaranya, dan perlakuan hangatnya yang membuat Adel tidak bisa melupakan nya begitu mudah.
Matanya mulai berkaca-kaca, tak terasa air matanya jatuh.
" aku harusnya berdiri... di sampingmu " Gumam Adel pelan, dengan suara yang tertahan.
Di sisi lain Lucas membuka matanya namun Ia tidak bergerak, tapi jelas dia mendengar suara itu.
" Apa kamu memikirkan nya?... di malam pernikahan kita " ucap Lucas.
Adel menoleh Ia tidak menyangka Lucas bisa mendengarnya.
" bukan urusan mu "
" ini bukan keinginan ku " cetus Adel.
" menurutmu ini juga keinginan ku? " jawab Lucas.
Jawaban itu membuat Adel terdiam, Ia tak lagi membuka percakapan, Ia duduk lalu bangun untuk mengganti baju.
Berjalan pelan melihat sekeliling apakah ada kopernya, tapi Ia tidak melihat ada tanda-tanda koper di sana.
Adel melihat ke arah Lucas yang sudah memejamkan matanya, dengan hati-hati Ia berjalan menuju lemari yang ada di dekat Lucas.
Ia membuka pintu lemari dengan hati-hati agar tidak membangunkan Lucas dan sesekali menoleh ke arah suaminya.
" Apa yang kau cari? " tanya Lucas tiba-tiba.
Adel terperanjat kaget Ia segera menoleh ke arah suara itu, dan benar saja Lucas membuka matanya dan melihatnya mengendap-endap seperti maling.
"Ak... aku " ucap Adel terbata-bata.
" Aku hanya mencari baju " ucap Adel dengan cepat.
" Buka saja lemarinya, di sana sudah ada barangmu " kata Lucas, Ia kembali memejamkan matanya mengabaikan Adel yang ada di depannya.
Adel segera berbalik dan membuka pintu lemari dan benar saja koper berwarna putih berdiri rapi di sana, Adel mengeluarkan koper tersebut dengan terburu-buru membuka kopernya dan mengambil baju ganti.
Lalu Adel dengan gaun beratnya Ia berlari kecil menuju kamar madu dan langsung menguncinya dari dalam, beberapa menit kemudian terdengar suara air mengalir.
Di sisi lain Lucas meskipun matanya tertutup rapat namun pikirannya sangat berisik, setelah beberapa menit terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Ia pun membuka matanya.
Adel keluar dengan langkah yang pelan agar tidak menganggu Lucas, Ia segera melemparkan tubuhnya ke atas kasur dan menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.
" Besok ada acara sarapan bersama dengan masing-masing keluarga, buatlah dirimu nyaman malam ini " ucap Lucas.
Adel tidak menjawab, Ia membalikkan tubuhnya dan memunggungi Lucas seakan tidak mendengar Lucas yang berbicara.
Devan...seandainya saja janji yang kita buat di taman menjadi kenyataan,!! mungkin aja kita sudah ada di ranjang yang sama.
Seandainya aja pa-pa merestui kita,.... kita tidak mungkin seperti ini, terpisah.
Malam itu Adel tidak bisa tidur dengan nyenyak, Ia bahkan beberapa kali terbangun dari tidurnya, pikirannya yang kacau membuatnya tidak bisa tidur.
Keesokan paginya Adel terbangun oleh suara berisik dari atas meja, Ia pun perlahan-lahan membuka matanya, Ia mencoba mengucek matanya agar terlihat jelas.
" Sebentar lagi sarapan, lebih baik kamu bangun sekarang " ucap Lucas dengan suara berat.
Lucas terlihat sudah rapi dengan kemeja biru tua yang pas di tubuhnya yang besar, lengan kemejanya di gulung hingga siku memperlihatkan garis-garis urat di tangannya.
Memperlihatkan kesan santai namun terlihat berwibawa, rambutnya sudah tertata rapih, wajahnya kembali menunjukkan ekpresi dingin dan mendominasi.
Adel mengerjapkan matanya berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya kembali, Ia melihat jam di atas meja samping ranjang.
" Kenapa tidak membangunkan ku lebih awal " tanya Adel dengan suara serak khas bagun tidur.
" Aku sudah membangunkan mu tadi!... kau saja yang tidurnya seperti kerbau " ucap Lucas, Ia memasang jam tangannya tanpa memperdulikan Adel yang terlihat sedang kesal.
".... pagi-pagi bikin sebel aja!! " gerutu Adel, Ia turun dari ranjang, dengan langkah gontai Ia berjalan menuju kopernya.
Adel mengambil pakaian yang sekiranya cocok untuk sarapan bersma keluarga besar.
Lucas melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 07:00 pagi.
" Waktu mu hanya 20 menit, jika tidak selesai dalam waktu itu aku akan meninggalkan mu di sini sendiri " ucap Lucas dengan dingin dan tegas
Adel menoleh Ia terkejut dengan apa yang di ucapkan Lucas tentang waktu.
" Apa?..." pekik Adel, dengan suara serak khas bangun tidur, Ia langsung menoleh ke arah Lucas dengan tatapan tajam.
" Aku tidak suka mengulang kata-kata ku " jawab Lucas dengan dingin, tanpa perduli dengan tatapan tajam Adel.
" Kau pikir aku bisa bersiap-siap dalam waktu 20 menit?.... " tanya Adel, Ia berdiri berjalan menghampiri Lucas yang tengah berdiri di samping sofa besar.
" Aku tidak akan berdebat, waktumu terus berjalan " ucap Lucas, Ia melihat jam tangan Rolex nya yang mahal itu.
" Sialan!!..... " Gumam Adel memaki, Ia segera berlari menuju kamar mandi dengan cepat.
Di sisi lain, tuan mahendra dan tuan Raditya sudah ada di restoran yang mereka sewa, mereka berdua tengah berbincang soal bisnis dan kerja sama.
Dua pria itu membicarakan tentang keuntungan masing-masing yang mereka dapat setelah anak-anak mereka menikah.
Ibu indah hanya duduk diam di samping suaminya taun Raditya, Ia memikirkan kehidupan putrinya setelah ini.
\* Di suatu tempat terlihat laki-laki yang terkapar di kamar hotel dengan pakaian yang berantakan, kancing yang terbuka dan rambutnya yang acak-acakan.
Di meja depan ranjang penuh dengan minuman keras, botol-botol yang berserakan dan ada beberapa yang pecah.
" Hahaha...!! " suara tawa yang hambar, terasa sangat kosong di dalamnya, tak lama terdengar suara isakan dari laki-laki itu.
" Hahah...hikss...hikss!! "
" Adel... hahah... bahkan kau begitu cepat berpaling dari ku " Gumamnya.
Devan pria yang tengah putus ada itu terus bergumam memanggil nama Adel sang pujaan hati, yang kini menjadi kakak iparnya istri dari kakaknya Lucas Arthur.
Devan perlahan bangun dari ranjang dengan tenaga yang tersisa Ia tertatih-tatih berjalan menuju meja, matanya merah bukan hanya karena alkohol tapi juga karena amarah yang tidak bisa Ia pendiam.
Tangannya gemetar saat meraih botol yang tersisa di meja, Ia meneguknya tanpa ragu, lalu melemparkan nya pada dinding hingga pecahannya berhamburan kemana-mana.
" Adel, sampai kapanpun kamu adalah milikku!... milik Devan Alvano... selllamanya.... " gumam Devan sambil tertawa kosong.
" Kita... akan bahagia bersama nanti!! "
" Aku... ya... Aku akan menyingkirkan ka Lucas, ya.. Lucas " Devan menjatuhkan dirinya di lantai.
" dia... dia adalah penghalang, bagi... kita " gumam nya.
" Heheheh... "
Ruangan itu kembali sunyi setelah kata-kata itu keluar, Devan merebahkan tubuhnya di lantai dengan posisi miring, matanya mulai terpejam sambil membayangkan wajah Adel yang tersenyum tipis namun penuh kehangatan.
Adel bukan hanya kekasih biasa, Ia adalah sosok wanita yang membuat Devan merasa nyaman dan hangat.
Hidup di keluarga kaya raya tidak menjamin hidup Devan bahagia, Ia selalu di tuntut untuk sempurna oleh ayahnya.
Kesalahan kecil saja bisa menjadi omelan panjang, bahkan hukuman yang membuatnya merasa tak pernah cukup baik.
Lu doyan ma perempuan kaga sih 🙄🙄🙄🙄
a elaaaaaaah lu lambat banget jadi cwo.
Readers kecewa nih 😒😒😒
Reader : elu nyesel khan Cas, yg begitu lu anggurin.
Udeh buruan lu tubruk deh...udah halal juga khan
Lu gimana sih Lucaaaaaasss, masa iya lu diem aja dibilang laki ga normal.
Harusnya tuh lu tunjukin ke Adel...kasih paham ke Adel, kl lu laki tulen
Hanya Othorlah pemegang kendali atas segalanya
Tunjukkan kl kamu ga terpengaruh ocehan Karina, biar Karina tidak memandangmu remeh.