Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Emosi
Angin di area latihan perlahan mereda. Namun ketegangan yang tersisa… masih terasa.
Tanpa banyak bicara, Reyd menggenggam tangan Lein.
“Ayo kita pergi dari sini.”
Nada suaranya pelan, namun tegas.
Ia menarik Lein menjauh dari tempat itu. Meninggalkan Nessa. Meninggalkan tatapan orang-orang.
Lein tidak menolak. Namun langkahnya terasa berat. Ia mengikuti Reyd dalam diam.
Koridor istana kembali sunyi. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar.
Beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Reyd akhirnya berhenti di sebuah taman kecil di dalam istana. Tempat itu cukup sepi. Hanya ada suara angin dan dedaunan.
Ia menoleh pada Lein.
“Tenang dulu, ya.”
Lein tidak langsung menjawab. Ia menunduk sedikit. Tangannya masih mengepal.
“Aku tidak suka…”
Suaranya pelan.
“Cara dia bicara dengan menuduhku sebagai orang jahat.”
Reyd menghela napas kecil.
“Aku tahu itu.”
Lein mengangkat wajahnya. Matanya masih menyimpan emosi.
“Dia menuduhku seolah aku melakukan sesuatu yang tidak benar.”
Reyd menatapnya.
“Dia hanya tidak mengerti.”
Jawabnya tenang.
Lein terdiam. Namun jelas, ia masih kesal.
“Aku hanya…”
Ia berhenti sejenak.
“Ingin selalu berada di sampingmu.”
Kalimat itu sederhana. Namun jujur.
Reyd melangkah sedikit lebih dekat. Ia mengangkat tangannya dan mengecup tangan Lein.
“Kamu memang di sampingku.”
Nada suaranya tenang.
“Tidak perlu membuktikannya pada siapa pun.”
Lein menatapnya. Perlahan… emosinya mulai mereda.
Angin tipis berhembus di taman itu.
Lein menghela napas pelan.
“Aku akan mencoba tenang.”
Reyd mengangguk.
“Itu sudah lebih dari cukup.”
Mereka berdiri dalam diam sejenak. Menikmati ketenangan yang akhirnya mereka dapatkan… jauh dari tatapan dan konflik.
---
Area latihan kembali lengang. Debu sudah mulai menghilang.
Seseorang masih berdiri di sana.
Tatapannya mengarah ke tempat Reyd dan Lein tadi pergi. Ekspresinya tidak lagi tenang. Ada sesuatu yang tertahan: kesal, namun juga tidak terima.
Tangannya mengepal pelan.
“Dia pergi begitu saja.”
Ia bergumam lirih.
Cara Reyd menarik Lein. Cara ia melindunginya. Semua itu jelas terlihat.
Itu cukup membuat hatinya tidak nyaman.
Ia menghela napas panjang. Berusaha menenangkan dirinya. Namun bayangan itu tetap ada.
Tepat saat ia hendak pergi… suara langkah berat terdengar dari belakang.
DUM! DUM!
“Oi.”
Suara familiar terdengar.
Nessa tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa itu.
Pria besar itu berjalan mendekat sambil menyeringai.
“Jarang sekali aku lihat kau dengan wajah cantikmu seperti itu.”
Tidak ada jawaban.
Kegiant berdiri di sampingnya. Dia melirik sekilas.
“Apa habis dimarahi si bodoh itu?”
Nada bicaranya santai.
Nessa langsung menatapnya dingin.
“Diam.”
Jawabnya singkat.
Kegiant tertawa kecil.
“Hahaha, jadi benar ya.”
Ia menyandarkan palunya di bahu.
“Sepertinya Pangeran kedua sudah punya pilihan.”
Kalimat itu… membuat ekspresi Nessa sedikit berubah. Namun ia segera menutupinya.
“Itu bukan urusanku.”
Jawabnya cepat.
Kegiant mengangkat alis.
“Oh ya? Padahal dulu kau selalu mengejarnya.”
Nessa tidak menjawab. Ia hanya berbalik. Melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Kegiant menghela napas sambil tersenyum tipis.
“Kau masih keras kepala seperti biasa.”
Ia melihat ke arah Nessa pergi. Lalu ke arah lain—tempat Reyd dan Lein menghilang.
“Hmm…”
Kegiant bergumam pelan.
“Ini bakal jadi drama menarik.”
---
Nessa terus berjalan di koridor istana. Langkahnya cepat. Namun pikirannya jauh lebih cepat.
Ia tidak peduli pada ejekan Kegiant. Tidak juga pada tatapan orang lain.
Yang ia pikirkan hanya satu: Reyd.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?