NovelToon NovelToon
Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Bertani
Popularitas:17.6k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.

Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.

Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.

Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]

[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]

[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]

[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]

Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.

. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26--KRL Dan Mbak-Mbak Galak

Suasana Di rel kereta KRL menuju pusat kota itu ramai, hiruk pikuk orang pada berkumpulan. Aris beruntung datang lebih cepat dan bisa mendapatkan fasilitas tambahan berupa tempat duduk yang sekarang penuh.

Ia menghela napas bukan karena lelah tapi penuh semangat. ‘skenario pesta sampah’ sudah tersusun rapi, begitu sampai dia bakal ambil sampah paling banyak dari suka relawan, mungkin bagi sebagian orang itu menjijikan tapi Aris dengan kemampuan sistem dan alat penyuling esensi cairan dewa dia bakal untung besar.

KRL berhenti dengan suara desis rem yang halus di Stasiun B. Gelombang penumpang turun dan naik menciptakan arus manusia yang padat. Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang gadis dengan kemeja putih tanpa cela dan kacamata hitam yang disematkan di atas kepala melangkah masuk. Model anak kota.

Aninda menghela napas, dia barusan ingin pulang dari universitas tapi malah mobil dia mogok terpaksa dia taruh di tukang untuk beberapa hari, dan dia harus pulang ke pusat kota naik KRL. Ia mengedarkan pandangan, mencari celah, dan matanya tertuju pada satu-satunya kursi kosong di deretan pojok yang bersebelahan dengan seorang pemuda berjaket flanel.

Tanpa pikir panjang, Aninda segera duduk di sana sebelum didahului penumpang lain.

"Permisi," gumam Aninda singkat, suaranya terdengar formal dan sedikit berjarak.

Aris hanya mengangguk tanpa menoleh. 

Ia masih sibuk menatap layar ponselnya, menghitung proyeksi botol Cairan Dewa yang bisa ia hasilkan dari event di kota nanti. Namun, indra penciuman Aris yang tajam menangkap aroma parfum yang sangat elegan dari arah sampingnya—bukan aroma bunga melati pasar, aroma kembang desa kaya Sari, melainkan aroma kelas atas yang menenangkan. 

Aroma tuan putri dari kayangan.

'Buset, anak kota pasti … wanginya menyerbak banget—-’ 

"H-hasyu!" Aris tiba-tiba bersin, badannya sedikit berguncang.

Aninda tersentak, refleks menjauhkan tas laptopnya.

 Ia melirik pemuda di sampingnya dengan tatapan tajam di balik kacamatanya. ‘Duh, mas-mas ini bersin gak aba-aba, jijik sama jorok banget ih. penampilannya kumal begini lagi, gue ketularan flu bisa gawat, masih banyak drama sama dosen gue.’ batin Aninda sinis.

"Kalau sakit, harusnya pakai masker, Mas. Udara di kereta ini sudah cukup menyesakkan tanpa tambahan virus," ucap Aninda ketus sambil mengeluarkan selembar tisu dari tasnya.

Aris menoleh, sedikit terkejut dengan serangan mendadak itu. Ia melihat gadis di sampingnya yang tampak sangat kontras dengan suasana KRL yang gerah. 

"Saya nggak sakit, Mbak. Cuma gatal hidung saja. Mungkin karena ada aroma yang terlalu menyengat di sekitar sini," balas Aris tak mau kalah, sengaja menyindir parfum mahal Aninda yang menurutnya terlalu mencolok untuk ukuran gerbong KRL.

Aninda mengernyitkan dahi. "Menyengat? Maksud kamu parfum saya? Sembarangan parfum wangi gini kok.”

"Nah, itu dia masalahnya. Justru saking wangi saya sampai batuk, kak. 

Aninda memicingkan mata. “Oh, jadi sekarang parfum mahal salah juga di mata Mas?”

“Bukan salah,” jawab Aris santai sambil menyandarkan kepala ke kursi. “Cuma terlalu niat buat naik KRL.”

“...” Aninda hampir tersedak. Bocah ini gemblung atau edan. Ini pertama kalinya ada cowok yang ngomong begitu ke dia tanpa jaim sedikit pun.

Biasanya kalau bukan sok akrab, ya malah salah tingkah, pemuda flanel entah berantah ini beda. Mukanya santai banget, kaya semacam buaya darat yang biasa deketin cewek.

'Fix ini pasti pemain.’

“Memangnya ada aturan orang wangi gak boleh naik KRL?” balas Aninda tajam.

“Gak ada. Sama kayak gak ada aturan orang kumal gak boleh duduk sebelahan sama anak kampus elit.”

Deg.

Aninda langsung terdiam sepersekian detik. Ia terasa kena damage, ia tadi memang sempat menghakimi penampilan Aris dalam hati, namun itu cuma refleks biasa, dia ga sampai bilang di depan mata. Dia masih sadar diri dan menjaga batasan normal.

Namun pemuda ini kayak paham pikiran dan bisa membaca. Kesimpulan Adinda makin kuat.

'Fix buaya darat. Pemain pasti.’

Namun sebelum suasana makin aneh, kereta mendadak berguncang cukup keras saat melewati tikungan rel.

Bruk!

Tubuh Aninda oleng ke samping. Secara refleks, tubuh Aninda condong dan menabrak bahu Aris dengan cukup keras. Tas laptop yang sejak tadi ia peluk hampir saja merosot ke lantai gerbong jika Aris tidak dengan sigap menahan lengan gadis itu.

​Sentuhan itu terasa singkat, namun Aninda bisa merasakan betapa kerasnya otot lengan pemuda di balik jaket flanel tersebut. Bukan tipe otot gym yang dibentuk protein mahal, tapi otot fungsional hasil kerja kasar yang nyata.

​"Hup! Pelan-pelan, Mbak. Keretanya emang lagi semangat, jangan ikut-ikutan oleng," ucap Aris sambil melepaskan pegangannya begitu posisi Aninda kembali stabil.

“S-sorry.”

“Santai aja, Mbak. Gratis kok.”

“Siapa juga mau pegangan lama-lama.”

“Lah tadi nempel sendiri.”

Aninda mendecih pelan sambil memalingkan wajah ke jendela. Nyebelin.

Tapi entah kenapa… obrolan absurd ini malah bikin kepalanya yang biasanya penuh revisi skripsi terasa lebih ringan sedikit.

Sementara itu Aris diam-diam memperhatikan gadis di sampingnya.

Bersih, rapi, kulit putih, wajahnya cantik, sepatu branded, fix anak kota level atas. Beda dunia sama Aris. Namun justru itu yang bikin menarik.

Tapi paling jos adalah, buntalan dua aset milik Adinda. Itu besar, terlihat lebih berisi apalagi Aninda membuka kancingnya satu, sehingga menampilkan belahan yang segar dan menggoda untuk dilihat.

Layar sistem bahkan kasih informasi [32D] wow itu angka yang gede, setara sama melon. Aris gak munafik, dia secara diam-diam melirik, apalagi tadi pas dia menyelamatkan Adinda, buat itu bergoyang-goyang.

Aris berdehem yang dia lakukan untuk menjaga suasana agar makin enak.

“Oh ya, omong-omong  Mbak dari Fakultas Pertanian ya?"

​Aninda tersentak. Ia menatap Aris penuh curiga. "Kok tahu? Kamu menguntit saya?"

​ Aris menunjuk ke arah gantungan kunci di tas laptop Aninda yang memperlihatkan logo fakultas dengan simbol tanaman yang sangat ikonik. "Itu simbolnya jelas banget. Lagipula, bau pakaian Mbak itu ada sisa-sisa aroma laboratorium mikrobiologi. Tipis banget sih, tapi hidung saya udah terlatih."

Aris memang putus kuliah, namun dulu dia juga kuliah di jurusan yang sama dengan Aninda, maka dari itu hidung dia peka. Walau gak sampai dua semester dia langsung putus karena gak ada duit, tapi semangat belajar aris yang tinggi buat dia sering diam-diam masuk laboratorium itu.

​ Aninda tertegun. Hidung macam apa yang bisa membedakan aroma parfum mahal dengan sisa sterilisasi lab? 

"Ternyata pengamatan kamu lumayan tajam untuk ukuran... mas-mas flanel."

Mendengar itu Aris ngakak tujuh turunan. mas-mas flanel sungguh panggilan yang lucu sekali.

​"Hahaha, panggil aja Aris Biar nggak terlalu formal," Aris mengulurkan tangannya yang sedikit kasar namun bersih.

​Aninda menatap tangan itu ragu sejenak. Ia adalah putri gubernur, biasanya orang-orang akan membungkuk atau bersikap sangat sopan padanya. Tapi di sini, di atas KRL yang berisik, dia hanyalah mahasiswi yang sedang berdebat dengan seorang pemuda asing yang menarik.

Lalu seketika Adinda terkejut. ‘A-aris jangan bilang dia mas Aris dari desa sukacita!’ ia lansung mematung, memperhatikan wajah Aris.

Namun dia menggelengkan kepala. Gak gak mungkin dia mas Aris yang dia cari! Mas Aris di gambarannya itu super jenius, seperti profesor yang bisa kasih semangka jadi hasil penelitian gila.

Gak mungkin mas-mas flanel yang kelihatan playboy gini mas Aris yang dimaksud. Fix cuma kebetulan nama sama.

Aninda menarik napas lega setelah meyakinkan dirinya sendiri. Benar, nama Aris kan pasaran banget. Di satu kecamatan mungkin ada sepuluh orang yang namanya Aris. Nggak mungkin kebetulan sesempurna ini.

​"Aninda," jawabnya singkat tanpa membalas jabatan tangan itu. Ia lebih memilih merapatkan tas laptopnya, kembali ke mode pertahanan diri tsundere-nya. Gak mungkin orang nyebelin kaya dia mas aris yang dimaksud!

1
Mamat Stone
/Casual//Casual//Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Ngeju Aroma
tigaa
Mamat Stone
👻🤣👻
Mamat Stone
🤣👻🤣
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/💥💥
Mamat Stone
/CoolGuy/💥💥
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
tetap semangat dan Jaga kesehatan /Good/
Manusia Biasa: amin walau otaknya udah agak eror

terimakasih sudah membaca kak🤣
total 1 replies
Mamat Stone
sehat selalu Thor /Ok/
Hajir Pemburu
di tunggu kelanjutanya thor.
Manusia Biasa: baik tunggu besok ya ka. kemungkinan up 4-5 bab
total 1 replies
ラマSkuy
wah Thor masih banyak typo ya dan kadang ada juga penamaan karakter yang kebalik contohnya di bab ini di akhir
Manusia Biasa: waduh baik tak koreksi kak. garap dua novel sekaligus emang resikonya gini/Sob/🙏
total 1 replies
Mamat Stone
Jagoan Neon /Casual/💥💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!