Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diajak menggalang dana : 08
“Kau mau ngajak anak orang menikah atau meminta sumbangan, hah?!” Dada Intan naik turun, dia seperti mendapatkan tempat melampiaskan segala emosi terpendam. Mengalihkan rasa kesedihan masih bergelayut di hati, sulit diusir pergi.
Seandainya saja Intan melihat, dia bakalan bertambah emosi. Anggara sedang berguling-guling di atas kasurnya seraya menggigit ujung sarung guling, lalu senyum-senyum tidak jelas.
Baru setelah bisa menetralkan detak jantung yang seperti bunyi tabuh bedug, Anggara duduk manis sambil menyilangkan kaki. “Kan katanya rezeki tak boleh ditolak, mumpung punya sanak saudara berpunya, ya sudah kita manfaatkan saja, Intan.”
“Kau saja, aku tak ikutan! Sana cari wanita yang mau kau ajak menggalang donasi!” nadanya masih tinggi, dia duduk bersila di atas kasur.
“Aku maunya samamu, gimana dong?”
Emosi Intan mencapai ubun-ubun mendengar suara seperti menantang, mengejek. “Bisa tak jangan ganggu aku?!”
Anggara memilin helaian rambut keritingnya. “Untuk sekarang bisa, sebab sudah larut. Intan Rasyid … kita bobok yuk, besok disambung lagi.”
“Terserah, terserah!” ia kehabisan kata-kata, kala mau mematikan ponsel, wajahnya mengetat mendengar celetukan di seberang sana.
“Tak apa-apa menangis, supaya hatimu sedikit lega meskipun pergolakan batin itu masih mendera. Intan … istirahatlah. Semoga esok ketika kau membuka mata, segala beban pikiran serta kegundahan enggan mengganggu agar air mata tidak lagi tumpah. Selamat malam, semoga Tuhan senantiasa menjaga lelapmu. Assalamualaikum.”
Intan termangu, ponsel masih digenggam dan ditempelkan ke daun telinga kanan. Air mata kembali turun satu persatu sampai lajunya saling berlomba-lomba. Tidak menyangka jika pria semenyebalkan Anggra Pangestu dapat mengenali suara parau dan sesekali bunyi napasnya tersedu-sedan.
“Walaikumsalam,” gumamnya pelan. Meletakkan ponsel di atas ranjang, dia kembali berbaring menyamping, menatap nakas yang mana ada pigura foto pertunangannya bersama Kamal Nugraha.
***
Pagi hari selepas sholat subuh diimami Ikram Rasyid … Intan, Sabiya, dan ibu mereka – mendengarkan kultum singkat, lalu ditutup dengan shalawat kepada Rasulullah Saw.
“Kak, jalan-jalan pagi yuk? Mumpung kak Intan belum balek ke Subussalam,” ajak Sabiya, gadis cantik berhijab menutup dada, saat ini sedang menempuh pendidikan kedokteran, bercita-cita menjadi dokter anak.
Intan melepaskan tali mukenanya. “Boleh. Mamak sama Ayah juga ikut, ya?”
Meutia Siddiq dan suaminya mengangguk antusias. Jarang-jarang bisa kumpul seperti ini, kendatipun tidak lengkap sebab kedua putra mereka sedang berada di pesantren.
Intan Rasyid anak sulung dari empat bersaudara. Dia memiliki adik perempuan bernama Sabiya Rasyid, terpaut umur tiga tahun darinya. Lalu Gauzan Rasyid, dan si bungsu Fayyadh Rasyid.
“Apa perlu bawa air minum, roti, dan camilan?” kepala keluarga masih sama seperti dulu, paling repot menyiapkan kebutuhan istri dan anak-anaknya.
“Yah, kita cuma jalan didekat sini saja, jangan bawa bekal macam mau tamasya,” tegur Intan.
Sabiya menimpali, dia tengah melipat mukena. “Macam tak kenal ayah saja, kalau bisa seisi rumah pun dibawa serta.”
“Itu belum seberapa, sewaktu mamak hendak melahirkan kak Intan, ayah kalian bawa karung lima puluh kilogram, isinya komplit – ada buah, roti, teh, gula, keripik pisang, singkong, sampai mie mentah pun ada,” Meutia terpingkal-pingkal membayangkan kenangan manis sekaligus mendebarkan di puskesmas dua puluh lima tahun lalu.
Meskipun sudah mendengar ratusan bahkan mungkin telah mencapai ribuan kali, Intan dan Sabiya tidak pernah tidak tertawa. Kisah kasih orang tua mereka sangat manis – berhasil keluar dari badai cobaan rumah tangga besar dengan tetap saling menjaga cinta suci itu.
Memiliki ibu yang sering menyumbang pahala lewat jalur istighfar, dan seorang ayah sangat penyabar, membuat tangki cinta Intan dan para adik-adiknya selalu penuh, tak pernah surut.
Pria paruh baya masih gagah dan bijaksana tersenyum bangga. Sama sekali tidak malu, dia senang dan merasa jadi pemenang dikarenakan berhasil membahagiakan para orang tercintanya.
***
“Alhamdulillah ya, udara di sini masih sama seperti kita kecil. Sejuk, bebas polusi. Sejauh mata memandang, melihat hijaunya hamparan pohon padi, burung Bangau mencari ikan-ikan kecil di sawah belum ditanami.” Intan memejamkan mata, duduk ditepi jalan, mencelupkan kakinya pada parit air irigasi.
“Embun pagi juga segar sekali.” Sabiya menyentuh buliran bening di ujung rumput.
Sepasang suami istri tengah menikmati keindahan alam seraya bergandengan tangan, berjalan menuju jembatan berair jernih, lalu duduk di sana. Berjarak sedikit jauh dari kedua putri mereka.
“Kak Intan,” Sabiya berbisik, sang kakak menoleh kearahnya. “Semoga kita bisa seperti ayah dan mamak ya, menua bersama kekasih halal.”
Intan mengangguk, netranya menatap kumpulan burung menarik-narik sesuatu dari tanah basah. ‘Apa mungkin? Sedangkan hatiku meragukan rasa ini cinta atau hanya menganggapnya seorang kakak? Dan dia pun masih menyimpan satu nama yang hingga kini melekat kuat dalam sanubarinya.’
“Assalamualaikum. Aku boleh ikutan menikmati menatap sang fajar tak, ini?” Lanira terlihat cantik sekaligus anggun dengan baju terusan polos hitam dan hijab pink.
“Walaikumsalam. Duduk sini.” Sabiya bergeser dari papan yang dijadikan jembatan penghubung. “Suamimu kemana, Lira?”
Lanira duduk disamping sahabatnya, ikut mencelupkan kaki. “Bang Fatan mendapatkan panggilan darurat dari rumah sakit, jam lima tadi dia pergi.”
“Apa sering terjadi seperti itu?” sesuatu menggelitik rasa penasaran Intan.
“Bisa dibilang sering, tapi tidak setiap hari. Ya beginilah jadi istri seorang dokter, Kak. Harus rela ditinggal-tinggal demi menyelamatkan nyawa orang lain.” Lanira terlihat ikhlas, mendukung penuh profesi suaminya.
Intan mengangguk, merasa tidak pantas bertanya lebih mendetail. Dia menghirup udara segar, sambil mengayun-ayunkan kaki dalam air.
“Assalamualaikum. Aku cari ke rumah, ternyata kau ada di sini.” Pria mengenakan celana training, kaos putih pas badan, rambut cepak nya terlihat belum kering, duduk berjarak dari sang tunangan.
“Walaikumsalam,” jawab mereka bersamaan.
“Lagi ingin bernostalgia,” kata Intan jujur.
"Aku dengar dari bapak, katanya sebentar lagi bang Kamal lulus magister, ya?” Lanira bertanya, netranya tidak menatap si pria.
Kamal memandang atas kepala sahabat masa kecilnya. “Kalau semuanya lancar, tak sampai enam bulan lagi sudah meraih gelar Magister Pertanian. Lira … apa kau bahagia dengan pernikahanmu?”
Intan langsung melihat wajah tertunduk Lanira, telinganya menangkap nada janggal dari pertanyaan lumrah.
“Alhamdulillah,” jawabnya singkat.
“Alhamdulillah.” Kamal mengangguk, lalu terdiam.
Sabiya memecah keheningan dengan bertanya hal yang membuat sang kakak melototinya. “Aku punya teman baru saja melakukan foto prewedding, hasilnya bagus-bagus betul. Kalau semisal kak Intan dan bang Kamal berminat, nanti ku pinta nomor ponsel fotografernya.”
"Abang ngikut kakakmu saja, kalau nya sudah siap tinggal lakukan. Mau dimana, konsepnya seperti apa, biar Intan yang memutuskan.”
Sabiya memicingkan mata, nadanya sedikit menaruh curiga. “Pernikahan itu dijalani oleh dua orang yang pasti memiliki dua pemikiran, serta berbeda keinginan. Kenapa semua hal diserahkan ke kak Intan, apa bang Kamal tak mempunyai gambaran pernikahan impian?”
.
.
Bersambung.
Tetap Semangat
Maturnuwun sudah bertahan di sini membersamai kami para Emak² reader 🫶🏻🥰 .
Sukses terus buat kak Cublik 🥰
lega rasa nya denger kabar nya kak cublik,semoga sistem bisa lebih tau lebih menghargai karya yang memang itu bagus.❤️
siap selalu jadi pembaca yang tertib kak😄
manusia kayak kamu Nuha cuma bisanya bikin ulah dengan dalih membantu tapi aslinya racun buat semua orang...
hajar Ajja ayah tua anak tereek mu itu yg tak tau diri 🤣🤣