Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.
Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...
Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami Istri Bohongan
Hening, tidak ada sepatah ataupun dua kata yang terucap diantara kami, aku hanya bisa curi-curi pandang wanita yang duduk disampingku dengan aroma bunga sakura yang datang darinya. Yups dia adalah Elisia, entah sebuah kebetulan atau apapun itu ternyata Esvalun adalah sepupu Elisia.
“E-Elisia”. Lidahku terasa kaku saat akan mengajak Elisia berbicara. Hening lagi, aku tidak tahu harus mengatakan apa, melihat tampangnya yang kesal, lagi-lagi aku menduganya sedang lelah.
“Kamu bertemu Esvalun dimana?”. Sontak aku membulatkan mata mendengar pertanyaan yang terlontar dari Elisia, aku hanya bisa menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
“Kakak itu baik Isia”. Timpal Esvalun, sialnya aku dipanggil kakak oleh bocah ini, aku harap Elisia tidak berpikir yang aneh-aneh.
“Kakak”. Gumam Elisia. Kemudian Elisia mendekat ke Esvalun, dan menatap gadis kecil itu dengan lembut.
“Esval why do you call him brother?”. Tanya Elisia, aku termangu mendengar suara lembutnya.
“Dia kakak tampan”. Celetuk Esvalun. Elisia mengangkat sebelah alisnya sembari berbalik menatapku, aku hanya menggidikkan bahu.
“Sudahlah Elis, yang penting dia selamat”. Tukasku.
“No, tidak bisa seperti itu aku harus tahu kejelasannya”. Ucap Elisia yang masih bersikukuh ingin tahu.
“Elisia aku...”. Belum usai aku melontarkan perkataan, tiba-tiba seorang pria paruh baya datang menghampiri, dia mengucapkan sesuatu yang mampu membuatku terdiam.
“Sepasang suami istri itu jangan bertengkar di tempat umum”. Ucap pria paruh baya itu, spontan kami berdua menutup rapat-rapat mulut kami, sesudahnya pria paruh baya itu melenggang pergi, mataku mengikuti arah pria itu pergi hingga tak terlihat.
“Woah, berarti Kak Isia istrinya kakak tampan ini, jadi kakak tampan ini kakakku”. Tiba-tiba Esvalun menimpali ucapan pria paruh baya tadi dengan diiringi tawa jahilnya. Dia tampak menggemaskan, akan tetapi apa yang ia ucapkan menjengkelkan.
“Esval, Kak Isia bukan...”. Belum usai Elisia mengucapkan ucapannya.
“Biarkan saja dia beranggapan seperti itu, dia masih kecil”. Aku menyekat ucapannya.
Elisia mendengus kesal, sepertinya ia semakin enggan berbicara denganku, aku memijat pelipisku. Lagi-lagi kami terdiam, kemudian aku beranjak berdiri dari kursi, Elisia hanya menatapku jengah.
“Baiklah Esvalun kamu sudah bertemu dengan keluargamu, tanggung jawabku untuk mencari keluargamu sudah usai, jadi aku pamit kepada kalian karena besok aku akan kembali ke Indonesia”. Ujarku yang diangguki oleh Elisia, namun sebaliknya bagi Esvalun.
“Aku ikut kakak tampan saja”. Mendengar ucapannya saja membuat Elisia menghela nafas pasrah, aku pun hanya menelan susah salivaku.
“Kak Isia juga harus ikut”. Imbuhnya, sontak Elisia mengerang frustasi, mungkin dia tak habis fikir dengan Esvalun. “Bocah tengik”. Gumam Elisia. Gadis berambut coklat itu menghiruo nafas dalam-dalam, serta menatap Esvalun dengan iringan senyum yang sulit diartikan.
“Esval, tiket pesawatnya sudah hab...”. Lagi-lagi aku menyekat ucapan Elisia. “Tidak habis”. Sekatku seraya memainkan ponsel.
Na’asnya aku terkena serangan cubitan dari Elisia di perutku, aku meringis kesakitan sebab disana ada luka yang belum kering.
“Kak Sia...”. Panggil Esvalun kepada Elisia.
“Kakak tampan itu perutnya sakit gara-gara menyelamatkan Esval”. Ucap bocah ber bola mata emerald tersebut. Kemudian Esvalun beranjak dari kursinya dan memutari aku dan Elisia layaknya seorang bos yang tengah memarahi anak buahnya.
“Kak Sia, Esval itu juga ingin ke rumah tante dan om, Esval mau ikut ke Indonesia, kalau dipikir ada baiknya Esval ikut kan disini Esval takut diincar orang-orang gila”. Jelas Esvalun, aku dan Elisia hanya menyimak apa yang ia katakan dan arah pandang kami mengikutinya kemanapun ia berjalan, aku tidak habis pikir, ada bocah dengan gaya bicara sebagus ini, dia sangat pantas untuk diikutkan debat.
“Ayolah Kak Sia”. Mohonnya sembari menggoyangkan lengan Elisia.
***
Dua jam perjalanan yang sudah kutempuh untuk menuju ke Bandara Internasional Jerman, nyatanya aku tidak sendiri melainkan dengan Elisia dan Esvalun. Yah, kami bertiga layakmya keluarga yang terpaksa di cemarakan. Sesampainya di Bandara, sontak aku langsung Si Pemilik Mobil yang kukendarai, biarlah dia yang memngambil.
“Ayo segera ke Boarding Pass!”. Ajak Elisia.
“Buat apa?”. Timpalku sebelum akhirnya aku melangkah meninggalkan mereka berdua yang masih termangu, awalnya aku tidak tahu tapi aku merasa mereka masih diam, spontan aku berbalik.
“Ayo!”. Ucapku kemudian melangkah lagi sembari menanggalkan kaca mata hitam di pangkal hidungku.
“Apa maksudmu ini?”. Tanya Elisia yang sudah berada disampingku bersama Esvalun, aku melirik mereka sekilas.
Tak butuh waktu lama, akhirnya sudah sampai sebuah pesawat pribadi milik keluargaku, siapa lagi kalau bukan keluarga Pradipta, dengan nomor seri T-37, detik berikutnya aku berdiri disamping tangga.
“Welcome in my jet, nona dan nyonya”. Ucapku layaknya seorang pelayan yang tengah memeprsilahkan majikannya. Elisia melongo, tampak secercah tak percaya di kedua mata birunya.
“Aku masuk ya, kakak tampan”. Gemasnya seraya menaiki tangga.
“Apa kamu gila, ini sangat berlebihan”. Komentarnya siapa lagi kalau bukan Si Cantik Berambut Coklat, yah dia Elisia. Aku menghela nafas gusar mendengar keluhannya, kuambil sedikit rambutnya yang keluar dari kuncirannya.
“Hei cantik, untung bukan pesawat tempur yang kubawa”’. Tukasku sembari memainkan raku terkekeambutnya.
“Ck, Don’t touch me”. Ia menepis tanganku, sebelum akhirnya ia meninggalkanku masuk ke dalam jet, aku terkekeh nanar melihat sikapnya, aku berkacak pinggang seraya menaiki tangga.
“Gadis aneh”. Monologku.
“Tuan muda romantis sama kekasihnya”. Ucap salah satu asistenku secara tiba-tiba, hanya kurespn dengan senyuman miring.
“Yah, dia sangat dingn kepada kita”. Timpal co-pilot jet pribadiku.
Mereka membuatku sedikit percaya diri, mungkin seorang Elisia ditakdirkan untukku.
“Cih, tebar pesona”. Sarkas Elisia, aku hanya memalingkan muka, nyatanya Elisia sendiri membuatku tidak percaya diri, apakah aku jelek?. “Padahal aku tampan” Gumamku seraya menatap diriku dari pantulan cermin
Dua jam sudah pesawat pribadiku melayang di udara lepas, aku merasa sangat jenuh, akhirnya aku memutuskan untuk berkeliling di dalam pesawat pribadi. Samapai aku melihat Elisia tertidur di sofa jet pribadi ini tanpa mengenakan selimut, aku berbalik mnegambil selimut seadanya dan menyelimuti sebagian tubuhnya.
“Cantik”. Batinku sembari menatap nya intens yang sedang tertidur pulas. “Kamu lelah ya”. Aku seperti berbicara sendiri, yah memang berbicara sendiri, dan yang menjengkelkan adalah tanpa kusadari ternyata para asistenku mengintip apa yang sedang kulakukan.
“Tuan muda”. Panggil salah satu asistenku, aku menatap penuh tanya padanya.
“So sweet, kapan menikahnya?”. Aku menghela nafas pasrah, memang dasar laki-laki bermulut wanita, suka gosip.
“Kali ini suami istri bohongan, nanti suami istri secara nyata”. Gumamku. Namun aku hanya tertarik akan kehidupannya yang mungkin penuh kejutan seperti diriku, tapi entahlah apa kata waktu yang berjalan.
***
Suara nyaring jet pribadi mendarat usai terbang di ratusan lautan awan, aku dan Elisia keluar dari jet pribadi.
“Dimana taxinya?”. Tanya Elisia sembari berjalan keluar dari bandara diiringi Esvalun disampingnya.
“Why?, bukan gayaku, ada mobil pribadi untuk apa taxi”. Ucapku penuh dengan kesombongan, Elisia berdecih mendengar kesombonganku.
Yah, memang benar untuk apa juga memesan taxi, jikalau mobil berinisial ‘R’ sudah menunggu kami.
“Kak!”. Sentak Elisia seraya memukul bahuku.
“Eh, kaget cantik jangan begitu”. Ucapku dengan irama gombal yang entah kudapat dari mana.
“Ih kak, kamu itu selalu berlebihan”. Geram Elisia.
“Lho, memangnya salah memberikan yang terbaik untuk SANG ISTRI”. Timpalku sembari menekan ucapan ‘Sang Istri’, tatkala Elisia akan menimpaliku, ucapannya terhenti oleh Esvalun.
“Kak Sia, aku mengantuk”. Rengek bocah dengan bola mata emerald itu, aku menatap jahil Elisia yang telah pasrah menghadapiku.