NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Antara Maaf dan Luka

Tiga hari telah berlalu sejak Aisha mengetahui rahasia Arka tentang Sari dan anak yang meninggal. Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun. Aisha tidak menjawab telepon Arka, tidak membalas pesannya, bahkan menolak untuk bertemu. Ia hanya ingin sendiri, memikirkan semuanya dengan kepala dingin.

Baskara mulai bertanya-tanya mengapa Ayahnya tidak datang seperti biasa. Aisha hanya menjawab dengan alasan sederhana, “Ayah sedang sibuk, Nak.” Tapi Baskara tidak sepenuhnya percaya. Anak itu sudah cukup besar untuk membaca kegelisahan di mata ibunya.

Pagi ini, Aisha duduk di ruang tamu dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Matanya sembab, kepalanya pusing karena kurang tidur. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Arka, tentang Sari, tentang anak yang meninggal, tentang semua kebohongan yang selama ini disembunyikan.

Apakah Arka benar-benar pria yang selama ini ia kenal? Atau selama ini ia hanya melihat topeng yang Arka kenakan dengan sempurna?

Pintu bel rumah berbunyi. Aisha malas bangun, tapi suara Baskara yang berteriak dari kamar membuatnya beranjak. “Bu, aku bukakan pintu, ya!”

Sebelum Aisha sempat melarang, Baskara sudah berlari ke pintu. Aisha mendengar suara pintu terbuka, lalu suara Baskara yang ceria. “Ayah! Ayah datang!”

Arka.

Aisha berdiri, jantungnya berdegup kencang. Ia berjalan ke lorong, menemukan Arka berdiri di ambang pintu dengan wajah lelah, mata merah, dan tas ransel di punggung.

“Aisha, aku harus bicara denganmu,” kata Arka, suaranya serak.

“Baskara, kamu ke kamar dulu,” perintah Aisha.

“Tapi Bu, Ayah baru datang—”

“BASKARA, KAMAR!”

Baskara terkejut dengan nada suara ibunya. Anak itu tidak pernah melihat Aisha marah seperti itu. Ia menunduk, berlari ke kamarnya, dan menutup pintu.

Arka masuk, menutup pintu di belakangnya. Mereka berdua berdiri di lorong, berhadapan, dengan jarak yang terasa begitu jauh meski hanya beberapa langkah.

“Aisha, maafkan aku. Aku tahu aku salah. Aku tahu aku seharusnya jujur dari awal. Tapi tolong, dengarkan aku sebentar.”

“Apa yang ingin kau jelaskan, Arka? Bahwa kau punya anak dari wanita lain? Bahwa kau meninggalkan wanita itu ketika dia hamil? Bahwa kau menyembunyikan semuanya selama bertahun-tahun?”

“Aku tidak menyangkal, Aisha. Semua itu benar. Tapi aku ingin kau tahu cerita lengkapnya. Bukan hanya dari Mia.”

Aisha melipat tangan di dada. “Baik. Aku dengar.”

Arka menarik napas panjang. Mereka berjalan ke ruang tamu, duduk berhadapan. Aisha mengambil kopinya yang sudah dingin, meminumnya walau pahit.

“Sari adalah teman Mia di panti asuhan. Mereka berdua dijual oleh keluarga angkatku ke orang yang berbeda. Sari dijual ke Bandung, Mia ke Jakarta. Aku tidak tahu itu terjadi sampai bertahun-tahun kemudian.”

“Lalu bagaimana kau bisa bertemu Sari?”

“Aku cuti semester dari kuliah di luar negeri. Aku pulang ke Indonesia untuk mengurus dokumen warisan. Suatu malam, aku mabuk di sebuah bar di Bandung. Aku bertemu Sari. Dia... dia bekerja di tempat itu.”

Aisha menutup matanya. Ia tidak perlu bertanya lebih lanjut. Ia sudah bisa membayangkan.

“Kami bicara, dia bercerita tentang masa lalunya, tentang panti asuhan, tentang bagaimana ia dijual. Aku kasihan padanya. Kami bertemu beberapa kali. Lalu suatu malam, dalam keadaan mabuk, kami... kami melakukan kesalahan.”

“Kesalahan? Kau menyebutnya kesalahan?”

“Apa pun namanya, aku menyesal. Aku tidak seharusnya melakukan itu. Aku tahu Sari dalam keadaan rentan, dan aku memanfaatkannya.”

Aisha menggigit bibir. “Lalu?”

“Aku kembali ke luar negeri. Aku tidak tahu Sari hamil sampai Mia memberitahuku bertahun-tahun kemudian. Ketika aku tahu, aku sudah menikah denganmu, dan Baskara sudah lahir. Aku terlalu takut untuk mengakui semuanya.”

“Jadi kau memilih diam. Membiarkan Sari menderita sendirian, membiarkan anakmu meninggal tanpa pernah kau kenal.”

Arka menunduk, air matanya jatuh. “Aku tahu aku pengecut, Aisha. Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan. Tapi aku ingin kau tahu, aku menyesal. Setiap hari aku menyesal.”

“Penyesalanmu tidak akan mengembalikan Sari. Tidak akan mengembalikan anakmu.”

“Aku tahu. Tapi aku tidak bisa mengubah masa lalu. Yang bisa aku lakukan hanyalah memperbaiki masa depan.”

“Masa depan siapa? Masa depan kita? Apa kau yakin kita masih punya masa depan setelah semua ini?”

Arka menatap Aisha. Matanya merah, penuh luka. “Aku tidak tahu, Aisha. Tapi aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak ingin kehilangan Baskara.”

“Kau seharusnya memikirkan itu sebelum kau berbohong padaku selama bertahun-tahun.”

Mereka berdua terdiam. Suara detak jam dinding terdengar jelas, mengisi keheningan yang mencekik.

---

Setelah beberapa lama, Arka berdiri. “Aku akan pergi, Aisha. Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku. Tapi tolong, jangan jauhkan Baskara dariku. Dia satu-satunya yang aku miliki.”

“Kau masih punya Mia, Arka.”

“Mia punya hidupnya sendiri. Aku tidak bisa bergantung padanya.”

Arka berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh. “Aisha, aku mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Tapi jika kau memutuskan untuk tidak mau melihatku lagi, aku akan mengerti.”

Pintu tertutup. Aisha duduk di sofa, menangis dalam diam.

---

Baskara keluar dari kamarnya, berlari ke Aisha. “Bu, kenapa Ayah pergi? Kenapa Ibu marah sama Ayah?”

Aisha memeluk Baskara. “Bukan marah, Nak. Ibu hanya... Ibu hanya kecewa.”

“Ayah salah lagi, Bu?”

Aisha tidak bisa menjawab. Ia hanya memeluk Baskara lebih erat.

---

Seminggu berlalu. Aisha tidak menghubungi Arka, dan Arka tidak berani menghubungi Aisha. Baskara menjadi murung. Ia sering bertanya tentang Ayahnya, kenapa tidak pernah datang, kenapa tidak pernah menelepon.

Aisha akhirnya memutuskan untuk membawa Baskara ke psikolog, bukan untuk terapi, tapi untuk sekadar berbicara. Dokter Andini menerima mereka dengan hangat.

“Bu Aisha, ada yang ingin Ibu ceritakan?” tanya Dokter Andini setelah Baskara selesai bermain di sudut ruangan.

Aisha menceritakan semuanya. Tentang Sari, tentang anak Arka yang meninggal, tentang kebohongan yang disembunyikan selama bertahun-tahun.

Dokter Andini mendengarkan dengan saksama. Setelah Aisha selesai, ia berkata, “Bu Aisha, saya tidak akan mengatakan bahwa apa yang dilakukan Bapak Arka benar. Tapi saya ingin Ibu bertanya pada diri Ibu sendiri: apakah Ibu masih mencintai Bapak Arka?”

Aisha terdiam. “Saya tidak tahu, Dok.”

“Coba Ibu renungkan. Cinta tidak selalu tentang kesempurnaan. Kadang, cinta adalah tentang menerima kekurangan orang lain, termasuk kesalahan masa lalu mereka.”

“Tapi dia berbohong, Dok. Selama bertahun-tahun.”

“Apakah Ibu juga tidak pernah berbohong kepada Bapak Arka?”

Aisha menunduk. Ia ingat perselingkuhannya, kebohongannya, semua rahasia yang ia sembunyikan.

“Ibu juga pernah melakukan kesalahan, Bu Aisha. Tapi Bapak Arka memaafkan Ibu. Bukan karena Ibu pantas, tapi karena ia memilih untuk memaafkan.”

“Jadi saya harus memaafkan dia?”

“Itu pilihan Ibu. Saya tidak bisa memutuskan untuk Ibu. Tapi ingat, memaafkan bukan berarti melupakan. Memaafkan adalah melepaskan beban kebencian dari hati Ibu, untuk ketenangan Ibu sendiri.”

---

Pulang dari psikolog, Aisha duduk di teras belakang. Ia memandangi bunga-bunga yang mulai mekar, kupu-kupu yang beterbangan, dan langit yang cerah.

Pikirannya melayang ke Arka. Pria yang pernah ia cintai, yang pernah ia khianati, yang kini meminta maaf dengan tulus.

Apakah ia siap memaafkan? Apakah ia siap melupakan semua kebohongan?

Aisha tidak tahu. Tapi ia tahu bahwa ia lelah membenci. Ia lelah menyimpan amarah. Ia lelah menjadi korban dalam ceritanya sendiri.

Ia mengambil ponselnya, menekan nomor Arka.

“Aisha?” suara Arka di seberang sana terdengar terkejut.

“Arka, aku ingin bertemu. Bawa semua bukti tentang Sari dan anakmu. Aku ingin melihat semuanya.”

“Baik. Kapan?”

“Sekarang.”

---

Setengah jam kemudian, Arka tiba di rumah Aisha. Ia membawa sebuah map cokelat tebal berisi foto-foto, surat, dan dokumen.

Mereka duduk di ruang tamu. Arka membuka map itu satu per satu. Foto Sari—wanita muda dengan rambut panjang dan senyum yang mirip dengan Mia. Foto anak perempuan kecil dengan mata bulat dan pipi tembem. Surat-surat yang ditulis Sari untuk Arka, yang tidak pernah sampai karena Arka berganti alamat.

“Sari menulis surat ini ketika anak kami lahir,” kata Arka, suaranya bergetar. “Dia ingin aku tahu bahwa dia melahirkan seorang anak perempuan. Dia menamainya Cahaya.”

Aisha memegang surat itu, membacanya perlahan.

*“Arka,*

*Aku melahirkan anak kita kemarin. Seorang anak perempuan. Aku menamainya Cahaya, karena dia adalah cahaya dalam kegelapan hidupku. Aku tidak tahu apakah kau akan membaca surat ini. Tapi aku ingin kau tahu, aku tidak menyesal. Meskipun kau pergi, meskipun kau tidak pernah kembali, aku bersyukur karena kau memberiku Cahaya.*

*Cahaya sakit-sakitan, Arka. Dokter bilang dia punya kelainan jantung. Aku takut. Aku takut kehilangan dia. Tapi aku tidak punya uang untuk berobat. Aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa.*

*Arka, jika suatu hari nanti kau membaca surat ini, tolong datang. Jangan untukku, tapi untuk Cahaya. Dia butuh ayahnya.*

*- Sari”*

Aisha menangis. Ia membayangkan Sari, seorang wanita sendirian, berjuang membesarkan anak yang sakit, tanpa siapa pun.

“Sari meninggal ketika Cahaya berusia satu setengah tahun,” kata Arka. “Kanker, sama seperti yang diderita Mia. Cahaya meninggal enam bulan kemudian. Tidak ada yang merawatnya setelah Sari pergi.”

“Kenapa kau tidak datang ketika kau tahu, Arka? Kenapa kau tidak mencari mereka?”

“Aku takut, Aisha. Aku takut kau akan tahu. Aku takut kehilangan keluarga yang sudah aku bangun. Aku egois. Aku tahu.”

Aisha meletakkan surat itu di atas meja. Ia menatap Arka, matanya basah.

“Arka, aku marah. Aku kecewa. Aku sakit hati. Tapi aku juga lelah. Aku lelah membenci, lelah menyimpan amarah, lelah menjadi korban.”

“Aisha, aku—”

“Dengar dulu. Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu sekarang. Tapi aku tidak ingin kehilanganmu sebagai teman. Baskara butuh ayahnya. Dan aku... aku butuh seseorang yang bisa aku percaya.”

“Kau bisa percaya padaku, Aisha. Aku tidak akan berbohong lagi.”

“Kau sudah bilang itu sebelumnya, Arka.”

Arka menunduk. “Aku tahu. Tapi kali ini sungguh. Aku tidak akan mengulanginya.”

Aisha menghela napas panjang. “Kita coba lagi, Arka. Tapi tidak untuk hubungan kita. Untuk Baskara. Untuk menjadi orang tua yang baik baginya.”

“Itu sudah lebih dari cukup, Aisha. Terima kasih.”

Mereka berdua diam. Tidak ada pelukan, tidak ada janji manis. Hanya kelegaan yang sederhana, bahwa badai ini mungkin bisa mereka lewati bersama.

---

Baskara keluar dari kamarnya, berlari ke Arka. “Ayah! Ayah datang!”

Arka memeluk Baskara erat-erat. “Iya, Nak. Ayah datang. Ayah kangen kamu.”

“Aku juga kangen Ayah. Kenapa Ayah lama sekali tidak datang?”

“Ayah ada urusan, Nak. Maaf ya.”

“Ayah jangan pergi lagi, ya. Aku janji tidak akan nakal.”

Arka tersenyum, mengusap rambut Baskara. “Ayah tidak akan pergi lagi, Nak. Ayah janji.”

Aisha memandangi mereka berdua, ayah dan anak yang saling memeluk. Hatinya terasa hangat, meski masih ada luka yang belum sembuh.

Mungkin ini yang terbaik untuk sekarang. Tidak memaksakan hubungan, tidak memaksakan pernikahan, hanya fokus pada Baskara. Biarkan waktu yang menyembuhkan luka-luka yang tersisa.

---

Malam harinya, setelah Arka pulang dan Baskara tidur, Aisha duduk di teras belakang. Langit malam cerah, bintang-bintang bertaburan. Ia memandangi bulan yang bersinar terang, seolah tersenyum padanya.

Ia teringat pada Sari dan Cahaya. Dua nyawa yang hilang karena ketakutan dan kebohongan. Dua nyawa yang tidak akan pernah kembali.

Aisha berdoa dalam hati untuk mereka. Semoga mereka tenang di alam sana. Semoga mereka memaafkan Arka, meskipun ia sendiri masih berusaha memaafkan.

Ponselnya berdering. Arka.

“Aisha, aku sudah sampai di apartemen. Terima kasih untuk hari ini.”

“Sama-sama, Arka.”

“Aisha, aku ingin bertanya sesuatu.”

“Apa?”

“Apa kau masih mencintaiku?”

Aisha terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya rumit.

“Aku tidak tahu, Arka. Aku masih bingung. Tapi aku tahu, aku tidak ingin kehilanganmu. Mungkin itu sudah cukup untuk saat ini.”

“Itu sudah lebih dari cukup, Aisha. Terima kasih.”

Panggilan berakhir. Aisha memegang ponselnya, menatap langit malam.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak takut.

Karena ia tahu, apa pun yang terjadi, ia tidak sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!